
Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!
Sesampainya di kantor polisi daerah Jakarta Pusat, hari sudah menunjukkan pukul 17:24 di layar ponsel Haz. Dan, dia sendiri sedang memperkirakan waktu diculiknya Nich.
Keadaan yang buruk, pikir Haz. Bisa saja mereka membunuh Nich juga. Sampai saat itu tiba, mungkin aku adalah orang yang paling kasihan karena harus bertanggung jawab atas kesalahanku dalam mengambil langkah. Aku akan merasa sangat bersalah.
Whisk sesekali melirik ke arah Haz, hanya untuk sekadar mengecek keadaan si wanita, tentu saja. Dia tahu kalau Haz selalu memiliki suatu sindrom, yang akan membuatnya menyalahkan dirinya sendiri dalam semua keadaan buruk yang terjadi.
"Selamat datang di Polres Metro Jakarta Pusat, ada yang bisa kami bantu?" tanya seseorang. Dia mendekati Haz dan Whisk yang tampak seperti orang linglung serta kehilangan arah.
"Ah," gumam Haz yang tersadar dari lamunannya tentang "keadaan buruk yang akan menimpa Nicholas Qet Farnaz".
Haz menatap polisi yang bertanya kepadanya, mungkin juga kepada Whisk, kemudian menjawabnya dengan bertanya tentang keadaan Nich, "Selamat sore, Pak. Apakah Bapak Nicholas Qet Farnaz ada di tempat? Kami sudah membuat janji dengan beliau."
"Membuat janji" kata Haz? Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan, untuk bisa mengecek keadaan Nich yang sebenarnya. Walau begitu, sedari tadi firasatnya memanglah sudah buruk. Semoga saja pikiran buruknya dapat dipatahkan.
Whisk sebenarnya berniat menyenggol bahu Haz untuk memperingatkan kepada si wanita betapa berbahayanya berbohong kepada seorang polisi, kurang lebih seperti yang dilakukannya saat ini. Namun, dia mengurungkan niatnya dan tetap membisu.
Whisk tahu kalau Haz tidak akan senang dengan kelakuannya yang menyebalkan seperti itu. Dia cukup sadar diri. Dan, jujur saja, dia juga sama penasarannya serta sama khawatirnya pada keadaan Nicholas Qet Farnaz, seperti Haz. Walaupun dia tidak akan senang jika dirinya dan sang Polisi harus berebut untuk memiliki wanita idaman mereka.
"Komisaris Nicholas? Sedari tadi dia berada di ruangannya. Belum keluar sama sekali. Biasanya dia juga selalu seperti ini. Jika tidak ada keperluan, atau tidak ada orang yang mencarinya, atau dia sendiri tidak memiliki rencana dan niatan untuk keluar, dia bisa seharian penuh menetap di ruangannya," Polisi di hadapan Haz dan Whisk menjelaskan, sekaligus menatap curiga ke arah mereka—walau Haz sudah berkata, yang merupakan kebohongan, kalau dirinya dan Whisk sudah membuat janji dengan Nich.
Tentu saja tidak akan ada yang percaya jika tak ada bukti konkritnya! Sudah menjadi hukum alam.
Namun, sepertinya Whisk lebih pandai dalam mengelabui orang lain; dia sudah mempersiapkan sesuatu yang tidak diduga-duga, chat dengan Nicholas Qet Farnaz! Dan, tentu saja yang tidak dibuat-buat. Meskipun itu sudah sekitar beberapa hari yang lalu, mungkin sekitar tiga atau empat hari.
Whisk memperlihatkan percakapan itu kepada si Polisi. Dan, alhasil dia dan Haz diizinkan untuk bertemu dengan Nicholas Qet Farnaz.
Percakapan Whisk dengan Nich itu juga menampilkan tanggal pertemuan yang sudah dijanjikan. Lebih hebatnya lagi, tanggal yang mereka janjikan adalah tanggal hari ini! Sudah seperti ramalan yang akurat saja.
"Bagaimana kalian bisa berjanji bertemu pada tanggal hari ini?" tanya Haz berbisik pelan. Dia penasaran.
"Tidak ada alasan khusus, Hazelia Lify. Kami hanya asal mengusulkan tanggal ini saja," Whisk berbisik membalas pertanyaan Haz. Dia terlihat tidak meyakinkan dan tampak seperti sedang berbohong.
Haz memicingkan matanya. Dia tahu kalau Whisk sedang menyembunyikan sesuatu, akan tetapi sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun.
Whisk awalnya tersenyum gugup ketika Haz menatap tajam ke arahnya. Namun, dia menghela napas lega karena si wanita berambut panjang gelombang tidak menanyakan lebih lanjut. Ya, benar, dia memang sedang menyembunyikan sesuatu.
Tiga hari yang lalu.
Walaupun sedikit tidak menyukai Nich karena mereka adalah rival dalam memperebutkan perhatian Haz, Whisk tetap mengatakan apa yang sedang dirasakannya kepada si Polisi.
Obrolan itu tidak dibalas maupun dibaca oleh Nich hingga selang beberapa waktu berlalu.
Kemudian, Whisk mendapatkan balasan dari Nich setelah dua puluh lima menit telah berlalu. Wajar saja, Nich itu seorang polisi dan mungkin saja dia sedang sibuk.
Nicholas Qet Farnaz : Apa maksudmu dengan firasat buruk, Sir? Apakah kamu sedang mendoakan sesuatu yang buruk terjadi kepadaku?
Whisk dengan cepat membaca pesan itu. Dan, tanpa menunggu lama, dia segera membalasnya.
Whisky Woods : Aku bukannya mendoakan. Kamu tahu, ya… mungkin firasat seorang detektif?
Nicholas Qet Farnaz : Seharusnya, aku beritahukan sesuatu kepada kalian semua.
Percakapan tersebut mulai melenceng ke arah lain dan Whisk mulai merasa aneh akan hal itu. Si pria bersurai kemerahan kemudian berusaha menarik Nich untuk mengatakan "sesuatu" yang dimaksudnya.
Whisky Woods : Apa yang kamu maksud dengan memberitahukan sesuatu kepada kami? Apa yang kamu sembunyikan, Nicholas?
Whisk awalnya ragu untuk mengirim pesan tersebut.
Apakah ini akan cukup untuk membuatnya bicara jujur? Ah… mungkin saja ya, juga mungkin saja tidak. Tapi…. Oh, ayolah Whisky Woods! Kenapa kamu menjadi orang yang memikirkan posisi orang lain? Padahal kamu membenci Nicholas Qet Farnaz. Em? Membencinya? Mungkin juga tidak… ah! Sudahlah! Bukan saatnya bimbang seperti ini. Kirim saja! pikir Whisk panjang.
Akhirnya, Whisk pun mengirim pesan yang berisi pertanyaan itu—yang mungkin saja Nich tidak akan membalasnya.
Di luar dugaan, ternyata Nich malah menjawabnya. Mungkin gugup, mungkin juga dengan santainya? Whisk tidak tahu. Dia tidak melihat ekspresi Nich. Dia juga bukan seorang peramal hebat seperti Sherlock Holmes, atau yang paling dekat: Hazelia Lify.
Whisk sedikit kaget ketika melihat pernyataan Nich. Tapi, hal itulah yang membuatnya tidak begitu kaget ketika mendapati Nich jujur kepada Haz dan komplotannya—tepat dua hari setelahnya.
Nicholas Qet Farnaz : Aku sebenarnya mengenal salah seorang dari Keluarga Hassan dan sedang menjalin hubungan dengannya. Aku juga pernah tidak percaya kepada kalian atas apa yang telah dia dan keluarganya perbuat. Tapi, demi apa pun, Whisky Woods, demi apa pun! Sekarang, jika kamu bertanya apakah aku lebih percaya dengan kalian, atau lebih percaya dengannya, aku lebih memilih untuk lebih percaya kepada kalian.
Whisk memijat keningnya secara perlahan. Vertigo tiba-tiba saja menyerangnya, membuatnya mual dan sakit kepala, serta membuat pandangannya sedikit menggelap.
Jadi, selama ini keluarga Hassan telah mengetahui apa yang kami rencanakan? Hebat sekali! Apakah aku harus mengatakan ini dengan jujur kepada Hazelia Lify? Whisk bertanya di dalam hati.
Pada akhirnya, Whisk memutuskan untuk tidak ikut campur dan berpura-pura tidak tahu.
Whisky Woods : Aku tidak tahu harus berkata apa, Nicholas. Tapi, aku menyarankan agar kamu bisa jujur juga kepada mereka yang telah kamu bohongi. Lebih tepatnya, kamu duakan.