Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 162 : Nicholas Qet Farnaz Diculik



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


"Aku sudah mengirimkan data-data Hassan kepada Nicholas Qet Farnaz. Aku sudah lelah. Padahal kamu adalah detektif terkenal yang memiliki otoritas di berbagai belahan dunia. Kenapa kamu tidak ikut andil dalam Kantor Kepolisian saja sih?" gerutu Haz sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Whisk. Yang ditatapnya pun hanya terdiam dan menghela napas panjang.


Untuk beberapa saat kemudian, Whisk tidak kunjung menjawab pertanyaan Haz dan berkutat di dalam pikirannya saja.


Aku hanya tidak ingin kamu terluka, Hazelia Lify. Jika saja aku bekerja di Kantor Kepolisian, aku jadi tidak memiliki waktu untuk mengenalmu lebih baik. Juga, aku tidak akan bisa menjagamu jika ada bahaya yang menghampirimu, pikir Whisk.


Tentu saja Whisk tidak bisa mengatakan kepada Haz kalau itu adalah alasannya. Bagaimana pun juga, setelah dilihat-lihat dari awal sampai sekarang, si wanita berambut panjang gelombang sudah menjaga dirinya sendiri dengan amat baik.


"Apa aku keterlaluan, ya? Apa aku harus membuka blokir kontak Nich?" gumam Haz, bertanya kepada dirinya sendiri—atau mungkin, juga bertanya kepada Whisk. "Tapi, dia sangat menyebalkan. Dia sangat batu dan keras kepala! Sama sepertimu!"


Whisk langsung menatap ke arah Haz yang juga sedang menatap ke arahnya. Dia mendengus keras. Dia tidak suka disamakan dengan seorang Nicholas Qet Farnaz. Dia itu Whisky Woods, Fanolize Rosewood! Eh, tunggu sebentar… kenapa dia mengakui bahwa dia adalah bagian dari Rosewood?


Sepertinya dorongan Haz untuk meyakinkan Whisk bahwa identitas asli tidaklah seburuk yang dibayangkan itu berhasil. Si pria bersurai kemerahan merasa sedikit malu menyandang Rosewood dalam namanya. Namun, dia berpikir kalau itu adalah takdirnya. Takdir yang tak dapat dihindari.


"Sekarang kamu sangat membosankan ya, Fanolize Rosewood," gumam Haz sambil memainkan bulu-bulu halus di bantal yang dipeluknya. "Kamu menjadi sangat pendiam hanya karena aku memanggilmu dengan nama aslimu."


Bukan seperti itu, Haz, pikir Whisk. Dia ingin mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, kegelisahan menguasainya hingga dia tak dapat mengatakan apa pun, apa lagi yang ada di dalam pikirannya.


"Hei, Fanolize," panggil Haz hingga si pimilik nama menoleh dan jarak antara wajah mereka hanya tinggal sejengkal saja.


Baik wajah Haz maupun wajah Whisk langsung bersemu kemerahan. Mereka langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah, secara bersamaan pula. Mereka tampak seperti sepasang remaja yang baru pertama kali merasakan rasanya jatuh cinta—dalam arti yang sebenarnya, tentu saja.


"Apa, Hazelia Lify?" Whisk akhirnya membuka suara juga. Hal itulah yang sedang ditunggu-tunggu oleh lawan bicaranya.


Haz sedikit tertegun karena raut wajah Whisk mulai melunak ketika dirinya memanggil nama aslinya. Biasanya wajahnya akan tampak sangat kecut, lebih kecut dari wajah orang yang memakan buah ceper.


"Kapan kamu akan berangkat ke negara lain?" tanya Haz secara asal. Dia tidak tahu kenapa dirinya memanggil Whisk. Dan, hanya pertanyaan itulah yang terlintas di dalam kepalanya.


Whisk terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia menjawab, "Mungkin setelah semua ini selesai? Aku sudah hampir dua bulan berada di sini. Lagi pula, visaku akan bertahan selama satu tahun di satu negara."


Haz hanya membentuk mulutnya menjadi huruf O besar. Dia terlihat tenang, tapi juga menyiratkan kesedihan? Apa lagi yang diharapkan olehnya setelah semua ini berakhir? Apakah dia berharap kalau Whisk akan menepati janjinya untuk selalu ada untuknya? Dia tidak boleh egois, dia tahu itu.


Whisk melirik ke arah Haz yang memasang tampang wajah datar melalui ekor matanya. Dia sedikit kecewa karena Haz tidak menunjukkan raut bersedih atau menyesal sedikit pun—hanya saja dia tidak tahu apa yang benar-benar dirasakan oleh si wanita berambut panjang gelombang.


Dua insan yang tak bisa saling jujur, tak bisa saling terbuka satu sama lain dikarenakan pernah merasakan rasa sakit akibat ditinggalkan, dikhianati, dan dicampakkan. Itulah Hazelia Lify dan… Fanolize Rosewood.


Dan, di tengah-tengah ketegangan antara Haz dan Whisk, tiba-tiba saja ponsel si pria bersurai kemerahan berdering nyaring. Nama NICHOLAS QET FARNAZ tercetak jelas di layar.


Haz sudah terlalu malas untuk menanggapi polisi yang satu itu, jadi dia akan melemparkan semua masalah—yang berhubungan dengan Nich—kepada Whisk.


Whisk menghela napas panjang dan menatap ke arah Haz, menunggu si wanita memberikan arahannya kepadanya: untuk mengangkat ataupun mengabaikan telepon itu. Dia tidak ingin Haz marah dengannya—untuk kesekian, mungkin ke berapa puluh kalinya?


Pada akhirnya, Haz hanya diam saja, benar-benar melemparkan urusan Nich untuk Whisk seorang diri. Dia sudah terlalu lelah dsn sudah terlalu malas untuk menanggapi Nich. Dia sedikit tidak menyangka kalau Nich menyembunyikan sesuatu dari mereka. Mau cerita itu benar atau tidak, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menjauh dari orang seperti itu.


Telepon berhenti berdering tanpa ada seorang pun yang mengangkatnya.


Whisk paham apa yang diinginkan oleh Haz dalam diamnya. Dia tidak memiliki sedikit inisiatif pun untuk mengangkatnya. Dia memprioritaskan perasaan Haz di atas segalanya—dan, dia bersungguh-sungguh melakukannya.


Telepon berdering untuk kedua kalinya dan saat itu juga Haz meneriaki Whisk, "Angkat telepon sialan itu! Aku ingin tahu apa lagi yang akan dikatakan oleh orang itu sebelum akhirnya membantu orang-orang bergelar Hassan."


Whisk mengembuskan napas perlahan, kemudian dia pun mengangkatnya—walaupun di dalam hatinya terselip sedikit ketidakikhlasan.


"Halo?" sapa Whisk malas.


Dan, sapaan Whisk hanya dibalas menggunakan bisikan-bisikan tidak jelas yang terdengar seperti angin yang saling bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, ketidakjelasan itu diperparah dengan tawa keras seseorang yang menggunakan alat perubah suara.


Haz dan Whisk saling bertatapan. Mereka langsung memahami kalau itu adalah kode untuk mereka: bahwa Nicholas Qet Farnaz sudah diculik! Entah siapa penculiknya yang berani-beraninya mengisengi mereka seperti ini.


Telepon pun ditutup.


"Sialan… Aku rasa sekarang kita harus pergi ke Kantor Polisi untuk mengecek keberadaan Nicholas Qet Farnaz. Aku memiliki firasat yang amat buruk tentang ini," sosor Haz, tepat setelah telepon dimatikan oleh si penelepon yang menggunakan ponsel milik Nich.


"Apakah kamu yakin akan keluar dalam keadaan seperti ini? Kita tidak tahu jebakan apa saja yang sudah terpasang di depan pintu keluar," kata Whisk. Tumben saja dia bisa berpikir jernih dan waras. Biasanya dia tidak akan memusingkan hal-hal kecil seperti itu.


"Tidak ada yang bilang kalau kita harus lewat dari pintu depan, Fanolize…," kata Haz sambil menyeringai lebar. Otaknya sudah berputar dan menyarankan beberapa hal. "Sebelum itu, aku akan bertanya kepadamu, Fanolize. Tanpa matras, kamu bisa bertahan jatuh dari ketinggian berapa?"