Lady Sherlock - Hazelia Lify

Lady Sherlock - Hazelia Lify
Eps. 172 : Hazelia Lify x Nirvana Kenziro



Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!


Haz mengetuk pintu ruang SECURITY, dia bisa mendengar suara seorang pria di dalam sana berkata, “Masuk!”


Saat masuk ke dalam, betapa kagetnya Haz dan pria itu. Ternyata pria yang bermalam di ruang SECURITY adalah Nirvana Kenziro, salah satu sahabat dari si Kembar Vinzeliulaika.


“Aku tidak ingat kalau kamu bekerja sebagai penjaga CCTV di Rumah Sakit ini,” kata Haz curiga. Dia memicingkan matanya dan tampak seolah sedang berusaha menginterogasi Nirvana.


“Dan, aku tidak perlu mengatakan tentang pekerjaanku kepadamu, kan?” Nirvana jelas tidak menyukai Haz. Sedari awal dia dan si wanita berambut panjang gelombang tak bisa akur sama sekali. “Lagi pula, ini adalah pekerjaan sampinganku. Shift-ku di sini tidak padat, seminggu paling tidak hanya tiga sampai empat kali.”


Haz tidak begitu peduli tentang penjelasan oleh Nirvana. Dia bertanya, “Apakah empat hari yang lalu kamu memegang shift di sini?”


Nirvana tampak berpikir selama sesaat, kemudian dia menjawab, “Tidak. Itu adalah shift orang lain. Memangnya ada apa?”


“Apakah rekaman CCTV masih bisa dibuka?” Haz berdoa agar Nirvana menjawab sesuai harapannya. Jika tak bisa pun, ya sudahlah, dia hanya bisa pasrah.


“Tergantung CCTV-nya. Jika rusak, ya apa boleh buat.” Nirvana langsung menarikan jemarinya di atas keyboard. Dia membuka file CCTV empat hari yang lalu sesuai dengan permintaan Haz. Di luar dugaan, ternyata dia bisa akrab dengan si wanita muda, jika saja mereka sama-sama tak keras kepala.


Haz melirik ke arah Nirvana yang sedang fokus ke layar komputer. Dia tidak seburuk yang aku pikirkan, batinnya.


“Apakah kamu bisa melihat semua CCTV secara sekaligus jika dipercepat hingga maksimum?” tanya Nirvana.


“Aku harus mencobanya lebih dulu. Terakhir kali aku melakukannya adalah saat aku berada di bangku SMA,” jawab Haz. “Lakukan saja. Aku tidak akan merepotkan dirimu atau memintamu mengulangi rekaman CCTV.”


Nirvana mengangkat sebelah alisnya. “Kau yang bilang. Aku benar-benar tak akan mengulangi rekaman ini walaupun kamu memintanya.”


Haz hanya tersenyum tipis.


Ah, sudah lama sekali aku tidak melakukan hal ini. Apakah aku masih bisa melakukannya? tanya Haz kepada dirinya sendiri. Dia sedikit gugup dan takut kalau-kalau kemampuannya untuk melihat banyak hal secara cepat dan tepat berkurang drastis.


Tanpa aba-aba, Nirvana memulai rekamannya dan Haz hanya bisa mengumpat kesal di dalam hati.


Sial sekali dirimu, Nirvana Kenziro! Jika saja ada kesempatan untuk menjebakmu, aku akan melakukannya! umpat Haz dalam hati, kesal dengan kelakuan Nirvana.


Ada empat layar besar di hadapan Nirvana dan Haz. Di setiap layar tertampang puluhan CCTV yang mengarah ke setiap tempat yang berbeda-beda. Dan, Haz harus melihat semuanya tanpa terkecuali.


“Berhenti!” Haz memerintah. Dia ingin melihat dengan jelas suatu hal. “Hah….” Dia tersenyum penuh kemenangan. Memang ada yang dia perlukan di sana.


“Ini.” Haz menunjuk ke salah satu rekaman di layar. “Apakah bisa kamu memfokuskan dan memperbesarnya?”


Nirvana memfokuskan dan memperbesar rekaman itu sesuai dengan permintaan Haz. Di sana, dia bisa melihat seseorang dengan warna rambut pirang yang mencolok dan mengenakan hoodie berwarna hijau gelap. Orang itu sedang menyembunyikan sesuatu di saku hoodie yang dikenakannya.


Nirvana memperbesar gambar di layarnya dan menemukan bahwa orang itu menyembunyikan sebuah pisau di dalam saku hoodie-nya. Dia bukan kaget karena pisau yang disembunyikan itu, melainkan kaget karena Haz bisa menemukan hal aneh itu di puluhan rekaman yang sedang bergerak di layar.


“Apakah kamu bisa mengirimkan rekaman ini untukku?” tanya Haz. “Kemudian, aku ingin melihat kelanjutan rekamannya lagi. Aku yakin masih ada sesuatu di sini.”


“Baiklah,” balas Nirvana. Dia malas berdebat dengan Haz sekarang. Terlebih lagi, dia tidak memiliki energi yang tersisa untuk melakukan hal yang tidak berguna.


Nirvana menyambungkan ponselnya dan CPU. Dia memotong rekaman itu menjadi tinggal sepuluh detik dengan bagian “orang ber-hoodie menyembunyikan pisau” yang sudah diperbesar.


Tanpa diberitahu pun, Nirvana seolah bisa membaca pikiran Haz dan si wanita berambut panjang gelombang suka dengan orang cerdas yang mengerti keinginannya tanpa perlu dia ucapkan—sebenarnya Whisky Woods termasuk salah satunya, tapi terkadang si pria bersurai kemerahan berpura-pura tak paham dengan keinginannya.


Nirvana mencari kontak Haz di dalam grup Whatsapp mereka. Dia sama sekali tidak menyimpan nomor Haz dan Whisk karena dirasanya tak penting. Haz dan Whisk juga melakukan hal yang sama.


“Kirimkan saja ke tempat Whisky Woods.”


Nirvana memutar bola mata malas. Dia sudah masuk ke dalam ruang chat di nomor Haz.


Kena dirimu, Nirvana Kenziro. Siapa suruh kamu sangat menyebalkan, pikir Haz seraya tersenyum licik.


Nirvana mengirim video singkat itu ke ruang obrolan Whisky Woods. Dia sekali lagi tanpa aba-aba memutar rekaman.


“Apakah kamu memiliki dendam terhadapku, Nirvana?” tanya Haz sambil berusaha mencerna setiap rekaman yang terputar. “Kamu sangat menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari Whisky Woods.”


“Aku tidak lebih menyebalkan dari Whisky Woods, aku tahu itu.” Nirvana menyeringai dingin. “Dari pada itu, apakah kau bisa fokus sambil berbicara dengan orang lain seperti ini?”


“Tentu saja aku bisa melakukannya. Jika aku tidak bisa, maka aku bukan anak almarhum Ayah dan Ibuku tercinta,” balas Haz. Ada sedikit nada sombong yang tersirat dalam ucapan itu. Dia hanya merindukan keluarganya yang sudah tiada.


“Almarhum?” Nirvana menatap ke dalam mata Haz. Dia bisa menangkap sedikit kesedihan di sana dan dia merasa sangat bersalah. “Maaf, aku tidak tahu.”


Haz tertawa renyah. Kehampaan memenuhi hatinya. “Tidak apa-apa,” katanya, yang sebenarnya tak baik-baik saja. “Aku tidak terlalu memikirkannya. Lagi pula, aku sudah tidak mengingat bagaimana rupa mereka. Saat itu usiaku masih sangat kecil untuk mengingat semuanya.”


“Kalau b-“


“Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat,” Haz mengatakannya seolah-olah itu jawaban yang ingin Nirvana dengar. “Aku saat itu masih berusia tiga tahun dan aku dititipkan ke rumah tetangga oleh mereka. Kisah yang sedikit lucu.”


Nirvana terdiam. Memang hal itulah yang ingin dia tanyakan. Namun setelah mendengar jawaban Haz, bukan kelegaan yang dirasakannya.


“Aku juga seorang anak yatim-piatu,” kata Nirvana.


“Aku tidak begitu tertarik dengan ceritamu,” balas Haz cepat. “Setidaknya tidak untuk saat ini. Simpan saja ceritamu ketika rasa penasaranku datang.”


Nirvana menggelengkan kepala tak percaya. Ternyata ada orang yang tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain seperti dirinya, batinnya.