
Note: Semua adegan, tokoh, latar, dsb yang ada di dalam cerita ini hanyalah fiksi belaka. Mohon jangan menyalahpahami segala hal yang ditulis oleh Author!
Nicholas Qet Farnaz : Aku berharap kalau aku memiliki keberanian besar itu, Sir. Sayangnya, aku tidak memilikinya. Dan, aku memerlukan waktu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Orang-orang yang kamu maksudkan, tentu saja.
Whisky Woods : Tapi, kamu saja sudah berani mengatakan hal ini kepadaku. Apa bedanya dengan mengatakan kejujuran ini kepada yang lain?
Oh, betapa bodohnya manusia itu, Whisk berpikir.
Tentu saja Nich tidak akan mengatakan kebenaran karena ada Haz di sana. Dia masih belum dapat menghadapi "benci" yang akan ditebarkan oleh si wanita berambut panjang gelombang kepadanya.
Nicholas Qet Farnaz : Kamu sudah tahu alasannya. Tepat setelah kamu mengirimkan pesan kepadaku, bukankah begitu Whisky Woods? Aku tahu kamu tidak sebodoh itu.
Whisk memutar bola matanya dengan malas. Ternyata Nich menembak tepat sasaran.
Whisky Woods : Aku baru saja menyadarinya tepat setelah aku mengirimkan pesan kepadamu, Nicholas. Dan, aku merasa bahwa hal itu biasa saja.
Nicholas Qet Farnaz : Ayolah, jangan berdusta, Whisky Woods. Kamu itu cemburu. Ya, sama juga. Aku juga cemburu. Kamu dan Hazelia Lify terlihat sangat dekat. Sangat…. Orang-orang bisa mengira kalian memiliki hubungan yang serius.
Tidak seperti itu juga. Hazelia adalah orang yang sangat sulit untuk didekati. Tidak mungkin mendapatkannya dalam waktu singkat, batin Whisk.
Percakapan antara Whisk dan Nich mulai bercabang kemana-mana. Dan, Whisk berharap kalau percakapan ini segera berakhir. Hanya berharap. Namun sepertinya tidak akan terkabulkan.
Whisky Woods : Aku dekat dengannya sebagai seorang teman baik, Nicholas. Tapi, tentu saja, aku sangat ingin menerobos batasan "teman baik" itu, jikalau pun aku bisa melakukannya. Kamu juga tentu tahu Hazelia adalah orang yang sangat tertutup soal sebuah hubungan.
Ah sial! Pada akhirnya aku meladeni Nicholas lagi… aku benar-benar tak bisa mengabaikan orang lain seperti itu saja. Padahal saat bersama dengan Keluarga Rosewood pun…. Whisk berhenti berpikir selama sesaat. Dia tidak tahu mengapa dirinya berpikiran pada Rosewood yang sangat dibencinya itu.
Nicholas Qet Farnaz : Mungkin kamu benar soal itu, Sir. Aku pun menyadarinya.
Nicholas Qet Farnaz : Aku akan coba untuk memberanikan diriku dan memberitahu mereka. Untuk saat ini, jika kamu ingin memberitahu pun, tidak apa-apa.
Whisky Woods : Aku bukan orang yang suka mengungkap rahasia orang lain. Jika dia tak menginginkannya, tentu saja. Lagi pula, aku tak ingin menjerumuskan diri sendiri ke dalam masalah orang lain. Aku akan menjaga dengan baik rahasiamu, Nicholas Qet Farnaz.
Nicholas Qet Farnaz : Terima kasih Whisky Woods.
Nicholas Qet Farnaz : Soal perasaan buruk yang kamu rasakan itu… mungkin memang ada benarnya. Mungkin kita harus segera bertemu dalam waktu dekat.
Whisky Woods : Bertemu dalam waktu dekat, eh?
Nicholas Qet Farnaz : Aku sudah memutuskan, Whisky Woods. Kali ini dengarkanlah aku. Tiga hari lagi. Tiga hari lagi datanglah ke kantorku.
Whisky Woods : Kenapa kamu memutuskan seenak jidatmu? Belum tentu tiga hari ke depan aku bisa menemuimu. Selain itu, apakah selama tiga hari yang kamu maksudkan itu kamu berencana untuk memberitahu mereka tentang rahasiamu itu?
Nich tidak lagi membalas pesan Whisk.
Ah, benar-benar sial orang ini. Aku berusaha untuk tetap berkomunikasi dengannya dan dia dengan santainya meninggalkan diriku di ruang obrolan seperti ini… dasar!
...♧♧♧♧♧...
Aku penasaran dengan rencana yang kamu dan Keluarga Hassan miliki, Nicholas, pikir Whisk.
Kenapa dia memutuskan untuk bertemu di saat-saat seperti ini? Apa yang diketahui olehnya? Apa yang direncanakannya? Apa, apa, dan apa… apa sih yang sedang kupikirkan? Hah… lebih baik aku fokus saja terhadap hal yang sudah ada di depan mataku sekarang, batin Whisk.
Bertepatan dengan Whisk yang selesai berpikir, mereka bertiga sampai di depan kantor Nich.
Sebuah pintu kayu berwarna hitam pekat setinggi 2,5 meter yang melekat di dinding yang dicat putih tampak mencolok. Pintu kantor Nich, tentu saja.
Seorang wanita muda bergaun putih bermotif bunga dengan tampang wajah cemberut dan terkesan sedikit tergesa-gesa melewati mereka. Dia tampaknya sedang kesal. Mungkin karena laporannya tidak ditanggapi dengan serius oleh polisi setempat.
Haz melirik ke arah wanita muda itu. Entah kenapa aku merasa kalau dia… mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya.
Si Polisi yang mengantarkan Haz dan Whisk sampai ke depan ruangan kantor Nich mengetuk pintu.
"Komisaris Nicholas, apakah Anda ada di dalam?" tanya si Polisi di sela-sela ketukan pintu. "Komisaris Nicholas?"
Hening, tak ada jawaban.
"Aneh sekali. Saya yakin kalau beliau tidak keluar dari ruangannya sedari tadi," gumam si Polisi.
"Minggir!" seru Haz.
Dengan sikapnya yang tidak sabaran, Haz mendorong si Polisi dan berulang kali memutar kenop. Pintu tak bisa dibuka, terkunci dari dalam. Dan, dengan sekuat tenaga, dia menendang bagian mekanik kunci pintu hingga rusak.
Pemandangan mengerikan tampak jelas di depan mata mereka. Nicholas setengah tak sadarkan diri dengan bagian leher yang sudah digorok, dari ujung satu telinga ke ujung telinga lainnya. Pita suaranya terputus. Ini jelas-jelas adalah pembunuhan berencana yang meng-copycat kasus "Penculikan, Pelecehan, dan Percobaan Pembunuhan Terhadap Anak Perempuan Kecil yang Berasal Dari Texas Amerika, Jennifer".
Haz tidak segera berlari ke arah Nich. Dia tahu pasti ada jebakan lain yang menunggu di dalam ruangan itu. Dia merebut pistol milik si Polisi dan menembak enam sisi di dalam ruangan Nich.
Dan, untung saja Haz melakukannya. Ada benda yang bisa mengeluarkan benang fiber tipis dan tak kasat mata yang dipasang di setiap sisi ruangan Nich.
Haz baru bergerak ke sana setelah merasa aman. Dia tidak terlihat panik, walau sebenarnya dia sangat panik dan pikirannya mulai kacau.
Whisk ikut masuk ke dalam. Dia tahu pertolongan pertama yang harus diberikan kepada Nich. Dia melepas kaos yang digunakannya dan mengikatnya di leher Nich untuk menghentikan pendarahan.
"Sialan! Darahnya tidak akan berhenti kalau tidak segera diberi Asam Traneksamat!" seru Whisk.
Sebagai seseorang yang pernah terjun ke dalam medan perang, Whisk mengetahui beberapa obat dan pertolongan dasar untuk pasien. Dia mengencangkan ikatan pada leher Nich.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Haz berteriak kepada si Polisi yang membawa mereka ke ruangan itu. Dia tampak kebingungan dan tidak tahu dengan apa yang harus dilakukannya. "Panggil ambulans, cepat!"
Orang-orang yang mendengar keributan dan kehebohan langsung berbondong-bondong melihat TKP. Mereka syok berat dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka. Seorang Komisaris Polisi baru saja diserang di kantornya. Hal itu bisa merusak citra Kepolisian. Orang-orang akan menganggap kalau Polisi lalai dalam menjalankan keamanan ketat, bahkan untuk di dalam markas mereka sekali pun.
Suasana menjadi hiruk-pikuk. Namun, bukan itu yang menjadi masalahnya. Mereka harus segera menyelamatkan Nicholas Qet Farnaz!