
Akhirnya Lingga sudah bisa menerima takdirnya untuk menjabat sebagai Lurah di Kelurahan Sukamanah. Ada empat wilayah di bawah kepemimpinan Lingga yaitu Desa Mekarjaya, Mekarwangi, Sukarasa dan Sukamaju.
Belum lama Lingga bertugas sebagai Lurah tetapi sudah banyak para tokoh masyarakat, pegawai kelurahan, bahkan Pak camat dan para pegawai di kantor kecamatan, tertarik untuk mengambilnya sebagai mantu. Dengan pekerjaan dan jabatan yang bagus, ditunjang postur tubuh setinggi hampir 180 cm dan wajah tampan warisan dari paras cantik ibunya yang mantan fotomodel era tahun 80 an, ia menjadi target yang layak diperjuangkan. Bukan hanya para orang tua yang menginginkan Lingga menjadi menantu mereka, para gadis desa pun banyak yang berlomba-lomba menarik perhatian Lurah muda mereka.
Lingga berasal dari keluarga yang memang berhubungan dengan sistem pemerintahan dan abdi negara. Ayahnya adalah seorang diplomat, kakak laki-laki pertama mengikuti jejak sang ayah, sedangkan kakak laki-laki kedua memilih untuk menjadi seorang tentara. Kakak perempuannya berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi pemerintahan mengikuti jejak dari adik laki-laki dan perempuan ibunya.
Semua saudara-saudaranya memilih dan mendapatkan pekerjaan yang memang mereka inginkan. Ketiga kakaknya juga tumbuh dan berkembang bersama dengan kedua orangtua mereka yang sering berpindah negara karena tugas. Berbeda dengan ketiga kakak-kakaknya, Lingga tidak tinggal bersama dengan kedua orangtuanya hingga ia berusia 10 tahun.
Bisa dikatakan Lingga lahir tanpa direncanakan. Saat itu usia ibunya sudah lebih dari empat puluh tahun. Lingga lahir ketika ibunya berusia 45 tahun. Setelah ia lahir, kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk tinggal di negara dengan suhu panas. Saat itu ayah Lingga ditugaskan di salah satu negara di benua Afrika. Dengan terpaksa, kedua orangtuanya menitipkan Lingga untuk tinggal bersama kakek dan neneknya di Indonesia.
Lingga baru bisa tinggal bersama kedua orangtuanya ketika ia berusia 10 tahun, itu pun karena ayah Lingga sudah pensiun dan memutuskan untuk tinggal di kota Bandung, kampung halamannya.
Saat itu Lingga bersikeras bahwa dirinya sehat dan mampu tinggal di tempat yang ekstrem sekalipun, tetapi ibunya masih saja khawatir dengan anak bungsunya itu. Sebenarnya selain karena kondisi kesehatan Lingga, Ambar, ibunya Lingga tidak ingin berjauhan dengan anak bungsunya. Sudah cukup waktu 10 tahun ia tidak bisa tinggal bersama. Ambar tidak ingin lagi hidup berjauhan dari Lingga.
Untuk membuktikan kalau kondisi tubuhnya kuat, Lingga mendaftarkan diri ke perguruan tinggi ilmu pemerintahan yang menerapkan sistem pendidikan semi militer yang sebenarnya tidak ia sukai. Ia hanya ingin membuktikan pada keluarga, terutama kepada ibunya, kalau tidak ada masalah dengan kesehatannya. Tidak ada yang mengetahui proses Lingga mendaftarkan diri ke perguruan tinggi tersebut. Setelah Lingga berhasil menjadi salah satu mahasiswa baru di perguruan tinggi tersebut, baru ia memberitahu ayah dan Ibunya. Awalnya, ibu Lingga menentang keinginan anak bungsunya itu, tetapi bujukan suami mampu meluluhkan kekerasan hatinya.
Setelah lulus, Lingga langsung bekerja di kantor kecamatan sebagai staf. Setelah lima tahun bekerja di kantor kecamatan, ia mendapatkan kesempatan untuk menjadi Lurah di desa tempatnya mengabdi sekarang.
******
to be continued...