
Tiba di kantor kelurahan, Nindya langsung meminta pada staf kelurahan untuk bertemu dengan Lurah untuk melaporkan kejadiannya yang membuatnya hampir dilecehkan. Hanya saja Lurah Desa Mekarjaya belum terlihat batang hidungnya.
“Saya mau bertemu dengan Pak Lurah,” pinta Nindya pada petugas kelurahan.
“Maaf, Teh. Pak Lurah belum datang,” jawab petugas itu.
“Jam segini Pak Lurah belum datang?” tanya Nindya sinis.
“Pak Lurah biasanya datang ke kantor jam 9,” jawabnya sedikit takut karena melihat emosi yang tampak pada wajah Nindya.
“Kenapa siang sekali datang ke kantornya? Pantas saja lingkungan yang dipimpinnya jadi tidak aman kalau Lurahnya malas kerja,” kata Nindya sinis. Nindya memang sudah tidak suka pada Lurah muda di desanya sejak kali pertama bertemu.
“Bukan begitu, Teh. Pak Lurah biasanya keliling desa dulu sebelum datang ke kantor,” jawab petugas kelurahan lainnya.
“Kalau dia biasa keliling desa, tidak mungkin ada kejadian saya dihadang, dicelakai dan hampir dilecehkan. Jadi apa manfaatnya dia keliling desa kalau masih ada kejahatan di desa ini?”
Dua petugas kelurahan di hadapan Nindya diam seribu bahasa, tidak mampu menjawab pertanyaan Nindya.
“Maaf, Teh. Pak Lurah baru saja datang.” Seorang petugas kelurahan datang tergopoh menghampiri Nindya yang sedang kesal.
“Huh, akhirnya dia datang juga.” Nindya mendengus.
Nindya mengetuk pintu ruangan bertuliskan Ruangan Lurah.
“Silahkan masuk.” Terdengar suara dari dalam ruangan mempersilahkan Nindya untuk masuk.
“Ada keperluan apa bertemu dengan saya?” tanya Lingga.
“Pak Lurah bekerja gak sih?” tanya Nindya dengan nada bicara yang kurang enak didengar.
“Ada masalah apa? Kenapa kamu menemui saya dan marah-marah seperti ini?” tanya Lingga tenang.
“Apa Pak Lurah tidak tahu kalau wilayah yang Bapak pimpin ini sudah tidak aman lagi? Pagi ini saya hampir dicelakai dan dilecehkan oleh beberapa orang preman. Seharusnya Pak Lurah bisa mengantisipasi setiap kejahatan yang mungkin terjadi di kampung ini. Dulu kampung ini aman,” kata Nindya meletup-letup.
Lingga bankit dari tepat duduknya dan menghampiri Nindya yang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
“Kamu terluka? Kenapa kamu tidak mengobati luka kamu dulu. Duduk! Kita bersihkan dan obati dulu luka-luka kamu!” perintah Lingga tegas.
“Nanti saja ngurus luka-lukanya. Sekarang saya mau bikin laporan dulu supaya Pak Lurah bisa bertindak cepat. Saya tidak bisa membiarkan kejahatan yang terjadi pada saya terulang dan menimpa perempuan-perempuan lain.” Nindya menolak untuk diobati.
“Saya akan urus secepatnya. Akan saya kerahkan keamanan untuk menjaga lingkungan desa kita.”
“Tidak cukup hanya mengerahkan hansip saja. Pak Lurah harus pakai cara lain yang lebih efektif. Lagian petugas keamanan di desa kita tidak banyak. Apa Pak Lurah bisa menjamin dengan tenaga keamanan yang tersedia mampu menjaga semua wilayah yang Bapak pimpin?” sindir Nindya pedas.
“Nanti saya dan jajaran kelurahan akan memikirkan cara yang lebih efektif seperti yang tadi kamu katakan. Puas?”
“Belum!” jawab Nindya pendek dan tegas.
“Jadi kamu maunya seperti apa?” tanya Lingga sedikit tidak sabar.
“Itu kan tugas Bapak dan para bawahan Bapak untuk memikirkan bagaimana caranya. Kenapa tanya pada saya? Kan Bapak yang menjadi pemimpin di desa ini bukan saya. Bapak digaji oleh rakyat untuk bisa melindungi keselamatan mereka.”
“Saya kan sudah mengatakan kalau saya akan berembuk dengan semua petugas di kelurahan ini untuk menemukan solusi terbaik. Kamu saja yang kurang sabar ingin cepat-cepat. Semuanya juga butuh proses tidak bisa seenaknya memutuskan sebuah kebijakan.”
“Tapi kalau tidak diselesaikan dengan cepat, saya khawatir akan ada korban lainnya,” protes Nindya.
“Kan tadi saya sudah mengatakan kalau saya akan segera menempatkan para hansip untuk menjaga keamanan di desa kita. Hal ini bersifat sementara saja sambil menemukan solusi yang lebih efektif. Paham kamu?” tanya Lingga tegas. Sepertinya ia kehilangan sedikit kesabaran dalam menghadapi perempuan keras kepala yang ada di hadapannya ini.
“Ya. Saya paham,” jawab Nindya lirih.
*********
to be continued...