
“Bukannya tidak percaya pada Neng. Hanya saja Ambu tidak percaya kalau Pak Lurah malah membela pelaku kejahatan. Ambu rasa tidak mungkin.”
“Tapi kenyataannya seperti itu, Mbu. Makanya Neng bilang kalau dia itu orang yang menyebalkan,” lanjut Nindya.
“Sepertinya Neng hanya salah paham saja pada Pak Lurah. Mungkin Pak Lurah tidak bermaksud untuk membela pelaku kejahatan.” Euis masih belum percaya atas tuduhan Nindya pada Lingga.
“Ah, Ambu mah dibilangin tapi gak percaya. Pokoknya, Neng gak suka sama si Pak Lurah itu.” Nindya mengambil remote control di atas meja lalu menyalakan televisi untuk menghindari pembicaraan lebih jauh tentang Lingga.
Selama tiga hari Nindya izin ke sekolah untuk beristirahat di rumah dalam rangka pemulihan. Beruntung ia mendapatkan tambahan hari sabtu dan minggu untuk memperpanjang masa istirahatnya. Hari senin, Nindya sudah mulai masuk sekolah kembali. Sesuai dengan perintah dari ibunya, ia diantar oleh Dani, pegawai perkebunan ayahnya.
Jam setengah tujuh pagi, Dani sudah siap di atas motor untuk mengantar anak majikannya ke tempat kerja.
“Maaf ya Dan, pagi-pagi begini saya sudah merepotkan kamu,” ucap Nindya merasa tidak enak karena telah menyusahkan orang lain. Walaupun dibesarkan dalam kondisi yang tidak pernah kekurangan, Nindya bukanlah sosok anak majikan yang sombong dan suka seenaknya memperlakukan bawahan. Ia akan hormat pada pegawai ayahnya yang lebih tua dan tidak merendahkan pegawai yang usianya lebih muda darinya.
“Tidak apa-apa, Teh. Saya mah sudah biasa beredar dari subuh juga. Ini juga saya baru selesai antar emak ke pasar, jadi sekalian,” kata Dani santai agar tidak membuat Nindya merasa tidak enak.
Pagi itu, Dani dan Nindya membelah jalanan sepi di pagi hari menuju tempat Nindya membagikan ilmu dan pemikirannya pada murid-murid di sekolah.
Melihat Nindya turun dari motor, Endah berjalan tergopoh-gopoh menyambut Nindya.
“Nda, kamu sudah sehat?” tanya Endah khawatir.
“Alhamdulillah, seperti yang sudah aku katakan di telepon kemarin. Sudah sangat sehat walafiat,” jawab Nindya sambil tersenyum lebar.
“Gimana bisa sih kamu terluka sampai segitunya?” tanya Endah masih penasaran padahal Nindya sudah menceritakannya lewat telepon tidak lama setelah musibah itu terjadi.
“Ceritanya sama seperti yang sudah aku ceritain sama kmau. Gak berubah kok,” jawab Nindya.
“Iiih dasar kamu. Ditanya malah jawab seperti itu.” Endah memanyunkan bibirnya karena kesal mendengar jawaban santai Nindya.
“Pertanyaan kamu itu sudah ditanyakan pas kita teleponan. Sama dan tidak ada tambahan,” jawab Nindya geli melihat sahabatnya yang terlihat kesal.
“Terus gimana cerita tentang Pak Lurah yang ganteng itu?” tanya Endah yang membuat Nindya teringat lagi dengan sosok yang tidak ia sukai.
“Ih, jangan ngomongin dia deh. Males banget ceritanya juga.”
“Kamu tahu tidak kalau Pak Lurah ganteng itu sudah menjadi idola baru di kecamatan kita?” tanya Endah antusias.
“Bukan berita yang penting dan urgent,” pungkas Nindya sambil melengos.
“Inda, ini berita penting banget. Gimana rasanya ngobrol dan diantar langsung sama Pak Lurah ganteng?” Endah berlari kecil menyusul Nindya yang berjalan cepat menuju ruang guru.
“Rasanya menyebalkan,” jawab Nindya tegas dan lugas.
“Kamu tuh ditanya baik-baik jawabannya malah seperti itu. Memangnya kenapa sampai kamu sebal sama Pak Lurah ganteng?” berondong Endah dengan pertanyaan.
“Pokoknya menyebalkan. Nanti pas waktu istirahat aku cerita sama kamu. Sekarang kita harus siap-siap masuk kelas,” kelit Nindya berharap Endah tidak akan bertanya-tanya lebih jauh lagi tentang Lurah yang dia anggap menyebalkan.
“Asyik. Bakal dengerin cerita romansa nih. Hawa-hawa cinta sudah bisa aku rasakan.” Mata Endah menerawang membayangkan adegan demi adegan penuh percikan cinta yang mungkin akan terjadi di antara sahabatnya dan Pak Lurah yang selalu ia sebut ganteng.
“Ngomong apa sih kamu, Ndah? Gak jelas.” Nindya segera menyimpan tas nya di atas meja ruang guru. Meja Nindya dan Endah bersebelahan dan di belakang Nindya ada meja Dian, sahabat Nindya yang lainnya.
Dian sudah duduk manis sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng.
“Alhamdulillah, sudah Teh.” jawab Nindya. Nindya, Endah dan Dian memang tidak saling memanggil satu sama lain dengan sebutan Bu. Hal itu karena mereka sebaya dan dengan sebutan langsung nama atau tambahan Teh untuk Dian-karena memang lebih tua dua tahun dari Nindya dan Endah, membuat mereka lebih nyaman.
“Maaf, Teteh tidak sempat nengok kamu karena anak teteh juga dirawat karena deman berdarah,” kata Dian.
“Innalillahi, gimana sekarang keadaan dedek Arfa?” tanya Nindya khawatir setelah mendengar kabar anak Dian yang sakit.
“Alhamdulillah sekarang sudah pulang dari rumah sakit,” jawab Dian.
“Maaf, Teh. Inda tidak sempat menengok Dek Arfa.”
“Gak apa-apa, Nda. Lagian kamu juga lagi sakit. Nengoknya sudah diwakilkan oleh Endah.”
“Endah, kenapa kamu gak ngasih tahu aku kalau anaknya Teh Dian dirawat? Dasar sahabat durhaka.” Nindya menatap Endah tajam.
“Kalau aku kasih tahu, kamu pasti bakalan riweuh sendiri. Kaki gak bisa jalan tapi maksa buat pergi nengok. Sudah pasti itu,” sahut Endah sambil terkekeh.
Nindya mencubit lengan Endah karena kesal.
“Aww! Sakit atuh Nda. Ini mah namanya kekerasan dalam lingkungan kerja,” protes Endah meringis berlebihan pura-pura menjadi korban perundungan.
“Dasar lebay!” dengus Nindya.
“Sudah-sudah, daripada ribut, nih sikat pisang gorengnya.” Dian melerai perdebatan antara dua sahabatnya itu.
Nindya dan Endah langusng mencomot satu pisang goreng dan melahap sisa pisang goreng di piring sampai habis.
“Dasar bar-bar.” Dian tertawa melihat kelakuan Nindya dan Endah yang meghabiskan masing-masing tiga potong pisang goreng.
“Maklum belum sempat sarapan, The,” jawab Endah membela diri dengan mulut penuh pisang goreng.
“Habiskan dulu pisangnya baru ngomong.” Dian memperingatkan Endah.
Endah mengangguk-anggukan kepala karena mulutnya masih penuh pisang goreng dan ia tidak berani berbicara lagi dengan pisang goreng yang masih ada di dalam mulutnya.
“Masih mau tambah gorengannya tidak?” tanya Dian.
Teeeeet….
Terdengar bunyi bel tanda dimulainya pembelajaran.
Nindya dan Endah cepat-cepat menghabiskan pisang goreng yang masih ada di dalam mulut mereka lalu minum air teh yang memang tersedia di ruang guru.
“Mari kita mengajar dengan semangat ’45!” seru Endah bersemangat.
Nindya, Endah dan Dian mengambil buku dan tas masing-masing dan bersiap melangkah menuju kelas masing-masing bertekad dan bersemangat untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
*********
to be continued...