
“Nindya, saya akan bertanya pada Atang sebagai salah satu saksi dalam kejadian tadi. Saya harap sebelum kamu ikut dengan dokter Fahri ke Puskesmas, kamu berkenan untuk sebentar saja hadir di ruangan rapat untuk mengkonfirmasi apa yang dikatakan Atang,” kata Lingga tegas.
Nindya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Lingga dengan tertatih.
“Kamu bisa jalan sendiri?” tanya Fahri khawatir.
“Bisa, Dok. Jangan khawatir!” jawab Nindya.
“Saya juga berharap Dokter Fahri bisa ikut juga ke ruangan rapat.” Lingga memberikan perintah yang sama pada Fahri.
“Baik, Pak Lurah. Setelah saya membereskan peralatan P3K, saya akan menyusul ke ruang rapat” jawab Fahri sambil memulai membereskan alat-alat P3K yang tadi digunakannya untuk membersihkan luka Nindya.
Tanpa kata-kata, Lingga membantu Nindya berjalan dengan memegang bagian bawah lengan Nindya.
“Tidak perlu menuntun tangan saya, Pak Lurah. Saya bisa jalan sendiri,” protes Nindya karena Lingga secara tiba-tiba meraih lengan untuk membantunya berjalan.
“Jangan banyak bicara. Cukup mengucapkan terima kasih saja karena saya sudah membantu kamu.” Ucapan Lingga membuat Nindya harus menahan emosinya.
“Siapa juga yang minta bantuan kamu?” desis Nindya dengan suara rendah hampir tidak terdengar oleh orang lain tapi ternyata Lingga mendengarnya.
“Bawel,” balas Lingga.
“Menyebalkan.” Nindya tak segan untuk membalas perkataan Lingga.
“Keras kepala,” balas Lingga, semakin membuat Nindya harus bekerja ekstra supaya tidak meledak.
Nindya berusaha untuk melepaskan tangannya dari Lingga tapi sepertinya Lingga cukup kuat menahan lengannya.
Lingga pura-pura tidak mendengar Nindya yang terus menggerutu. Ia terus menggandeng tangan Nindya hingga ke ruang rapat. Nindya akhirnya pasrah saja dengan perlakuan Lingga padanya. Ia tidak mau membuat keributan di kantor kelurahan hanya karena Lingga yang menggandeng tangannya.
“Duduk di sana!” Perintah Lingga pada Nindya untuk duduk di kursi di samping Atang yang sudah berada di dalam ruangan rapat lebih dulu.
Dengan patuh Nindya duduk di kursi yang ditunjukkan Lingga.
“Kita akan menunggu Dokter Fahri dan Zaki terlebih dahulu sebelum mendengar kejadian tadi pagi dari versi Atang dan Nindya. Saya tidak mau hanya mendengar dari satu pihak saja,” jelas Lingga pada Atang dan Nindya.
“Sudah jelas saya yang menjadi korban. Kenapa harus tanya-tanya lagi Atang. Dia dan teman-teman premannya yang sudah mencelakakan saya. Buktinya adalah luka-luka saya. Ditambah lagi kesaksian dari Dokter Fahri dan Zaki. Mereka yang menolong saya dari kejahatan si Atang dan teman-temannya yang begundalan itu,” ungkap Nindya dengan nada tinggi.
“Tapi kita juga harus mendengarkan alasan kenapa Atang melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap kamu. Saya ingin mengetahui motivasinya mencelakakan kamu. Apa kamu tidak mau mendengar alasan Atang?” tanya Lingga tajam. Ia kurang suka dengan nada bicara Nindya yang tinggi sehingga terlihat mengintimidasi Atang.
Lingga paham dengan apa yang dirasakan oleh Nindya. Perempuan itu pasti merasa ketakutan sekali saat beberapa pria berpenampilan sangar menghadangnya di jalan dan mencelakakannya hingga mendapatkan luka-luka di wajah dan tubuh. Namun, Lingga juga harus mendengarkan alasan Atang. Mengapa Atang sampai nekad memperlakukan Nindya dengan kasar.
“Saya tidak mau tahu apapun pembelaan yang nanti akan dikatakan si Atang. Kenapa sih Pak Lurah sepertinya ingin membela si Atang yang sudah jelas bersalah? Salah saya sama Pak Lurah apa? Kenapa Pak Lurah tidak percaya sama saya?” kata Nindya hampir berteriak. Air mata sudah mulai keluar dari bola matanya karena rasa kesal yang berkecamuk dalam dada, kesal kepada Atang dan terlebih kepada Lingga yang bersikap seolah-olah tidak percaya padanya dan lebih membela Atang.
“Sudah saya katakan bahwa saya harus mendengar peristiwa yang kamu alami tadi pagi itu dari dua pihak, kamu dan juga Atang. Saya ingin berbuat adil pada kalian berdua. Seharusnya kamu paham dengan maksud saya, Nindya,” ucap Lingga tajam.
Pintu ruang rapat terbuka, Fahri dan Zaki masuk ke dalam ruang rapat diikuti oleh Deni, Sekertaris Lurah.
********
to be contiunued...