
“Sekarang bersihkan dan obati dulu luka-luka kamu. Saya khawatir luka kamu nantinya jadi infeksi. Tadi saya melihat dokter Fahri di depan. Dokter Fahri bisa membantu kamu membersihkan dan mengobati luka-luka kamu.”
“Dokter Fahri dan Zaki yang tadi menolong saya. Kalau dokter Fahri dan Zaki tidak datang tepat waktu, saya gak bisa membayangkan nasib saya seperti apa ditangan para preman itu.”
“Bagus kalau begitu. Kamu masih bisa selamat karena bantuan mereka,” ujar Lingga pedas.
Nindya pura-pura tidak mendengar ucapan Lingga. Ia tidak suka dengan nada suara tegas Lingga.
“Kamu duduk saja di kursi itu!” Lingga menunjuk kursi yang ada di sudut ruangannya. “Saya akan meminta dokter Fahri untuk mengobati luka kamu.”
“Terserah.” Dengan sedikit pincang, Nindya berjalan menuju kursi yang ditunjukkan Lingga.
Tidak lama kemudian, Fahri masuk ke ruangan sambil membawa kotak P3K yang memang tersedia di kantor kelurahan dan baskom yang berisi air bersih.
“Kan sudah saya bilang kalau sebelum kesini kita mampir dulu ke Puskesmas untuk membersihkan dan mengobati luka-luka kamu. Di Puskesmas, alat dan obatnya lebih lengkap. Kalau disini seadanya saja.”
Fahri membuka kotak P3K yang dibawanya dan mulai membersihkan luka-luka di wajah dan lengan Nindya dengan air dalam baskom. Setelah selesai membersihkan luka dengan air bersih, Fahri memberikan antiseptik.
“Hanya antiseptik dan obat merah yang ada di kotak P3K. Sebaiknya setelah ini, kamu pergi ke Puskesmas. Di sana kamu akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Luka kamu ini harus diberi salep antibiotik supaya lukanya tidak menjadi infeksi dan berbekas.
Nindya mengangguk.
“Luka di lutut kamu juga sepertinya harus diperiksa. Saya khawatir luka di lutut kamu lebih parah. Di Puskesmas ada perawat perempuan.”
Nindya kembali mengangguk.
“Saya sudah menyuruh Zaki untuk meminjam motor inventaris kelurahan untuk mengantar kamu ke Puskesmas.
Lagi-lagi Nindya hanya menganggukkan kepala.
“Kenapa kamu dari tadi cuma mengangguk-anggukan kepala saja. Apa lidah kamu tiba-tiba kelu sehingga tidak bisa bicara?” tanya Fahri sedikit kesal karena tidak mendapatkan respon yang ia inginkan dari perempuan yang sedang diobatinya.
“Eh…bukan begitu Pak Dokter. Maksud saya, saya menganggukkan kepala tanda setuju dengan pernyataan dokter,” jawab Nindya sekenanya.
Fahri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan gadis cantik di hadapannya. Hatinya sedikit berdesir saat berdekatan dengan Nindya, apalagi jarak wajah mereka terlalu dekat menurut ukurannya.
********
Nindya menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Lingga dengan tertatih.
“Kamu bisa jalan sendiri?” tanya Fahri khawatir.
“Bisa, Dok. Jangan khawatir!” jawab Nindya.
“Saya juga berharap Dokter Fahri bisa ikut juga ke ruangan rapat.” Lingga memberikan perintah yang sama pada Fahri.
“Baik, Pak Lurah. Setelah saya membereskan peralatan P3K, saya akan menyusul ke ruang rapat” jawab Fahri sambil memulai membereskan alat-alat P3K yang tadi digunakannya untuk membersihkan luka Nindya.
Tanpa kata-kata, Lingga membantu Nindya berjalan dengan memegang bagian bawah lengan Nindya.
“Tidak perlu menuntun tangan saya, Pak Lurah. Saya bisa jalan sendiri,” protes Nindya karena Lingga secara tiba-tiba meraih lengan untuk membantunya berjalan.
“Jangan banyak bicara. Cukup ucapan terima kasih saja karena saya sudah membantu kamu.” Ucapan Lingga membuat Nindya harus menahan emosinya.
“Siapa juga yang minta bantuan kamu?” desis Nindya dengan suara rendah hampir tidak terdengar oleh orang lain tapi ternyata Lingga mendengarnya.
“Bawel,” balas Lingga.
“Menyebalkan.” Nindya tak segan untuk membalas perkataan Lingga.
“Keras kepala,” balas Lingga, semakin membuat Nindya harus bekerja ekstra supaya tidak meledak.
Nindya berusaha untuk melepaskan tangannya dari Lingga tapi sepertinya Lingga cukup kuat menahan lengannya.
“Lepas!” Nindya hampir berteriak saking kesalnya.
Lingga pura-pura tidak mendengar Nindya yang terus menggerutu. Ia terus menggandeng tangan Nindya hingga ke ruang rapat. Nindya akhirnya pasrah saja dengan perlakuan Lingga padanya. Ia tidak mau membuat keributan di kantor kelurahan hanya karena Lingga yang menggandeng tangannya.
“Duduk di sana!” Perintah Lingga pada Nindya untuk duduk di kursi di samping Atang yang sudah berada di dalam ruangan lebih dahulu.
*******
to be continued...