Kepak Asa

Kepak Asa
6. Surat Keputusan



“Surat Keputusannya sudah turun, Ga,” kata Raka, rekan sejawat Lingga.


“Apa tidak bisa dibatalkan atau pindah wilayah?” tanya Lingga masih berharap dirinya tidak diberikan mandat menjadi seorang Lurah di sebuah desa yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya yang sekarang.


“Tidak bisa!” jawab Raka tegas.


“Aku merasa kalau aku tidak akan siap jika harus bekerja di desa.” Lingga mengungkapkan keenganannya.


“Desa itu masih satu provinsi dengan tempat kita tinggal sekarang saudara Lingga yang terhormat. Anda tidak ditempatkan di desa yang terpencil. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dan masih bisi dilewati oleh kendaraan. Apa Anda berharap kalau Anda ditempatkan di desa yang sangat terpencil dengan akses jalan yang sulit?” sindir Raka.


“Kamu kan tahu kalau sejak lulus kuliah aku selalu ditempatkan di kota. Aku lebih memilih untuk bekerja di kota saja.” Lingga masih saja menyesali keputusan yang diambil oleh para pemegang kebijakan.


“Kamu itu diberi tantangan malah menolak. Banyak loh yang menginginkan posisi kamu saat ini. Dengan usia yang belum menginjak umur 30 tahun-an tapi sudah mendapatkan kepercayaan untuk memimpin wilayah kelurahan.” Raka berusaha membesarkan hati sahabatnya itu. Raka dan Lingga bersahabat sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Mereka berasal dari provinsi dan suku yang sama sehingga mudah bagi mereka untuk berteman dengan cepat.


“Kalau kamu mau posisiku, ambil saja deh,” tawar Lingga seenaknya.


“Memangnya kita bisa seenaknya memilih jabatan kerja yang kita inginkan. Kita ini abdi negara yang harus selalu siap untuk ditempatkan dimanapun kita diberi amanah. Jangan kufur nikmat dengan menyesali keputusan yang sudah dibuat untuk kamu,” nasehat Raka pada sahabatnya.


“Tapi…”


“Sudahlah, jangan terlalu banyak alasan. Kamu syukuri saja anugrah ini. Kalau kamu mensyukuri apapun yang terjadi sama kamu, Insya Allah hidup kamu akan semakin berkah. Siapa tahu kamu bertemu jodoh dan menikah dengan kembang desa,” kata Raka sambil tertawa.


“Kan aku bilang siapa tahu. Kita kan tidak tahu kapan kita bertemu dengan jodoh dan menikah. Usia kamu sudah cukup untuk menikah. Beberapa bulan lagi, kamu sudah kepala tiga. Memangnya kamu tidak iri melihat bahagianya aku dengan keluarga kecilku?”


“Aku belum memikirkan tentang jodoh. Masih banyak cita-cita yang ingin aku capai,” kata Lingga sambil menatap ke arah taman.


“Kamu kan bisa meraih cita-cita kamu bersama dengan istri dan anak-anak kamu.”


“Entahlah, aku belum terpikir ke arah sana,” ujar Lingga lirih.


“Memangnya orangtua kamu tidak mendesak kamu untuk segera menikah?” tanya Raka penasaran.


“Papaku tidak pernah menanyakan perihal pernikahan padaku dan mamaku hanya sekali-kali saja menanyakannya. Toh, mereka juga sudah punya banyak cucu dari kakak-kakakku jika tujuan mereka mendapatkan cucu.” Lingga memberi alasan yang menurutnya cukup masuk akal.


“Terserah kamu saja lah,” kata Raka tidak mau ambil pusing. Sahabatnya itu memang susah kalau sudah berbicara mengenai pernikahan. Bahkan, ia pernah mengira kalau Lingga memiliki kecenderungan lain. Bersyukur, ia langsung menghapus prasangka buruknya karena memang Lingga tidak memiliki kecenderungan yang tidak seharusnya. Lingga hanya belum mau memikirkan tentang pernikahan dan membangun keluarga. Mungkin ia memang sudah memiliki perempuan idaman tetapi belum bertemu saja.


Lingga hanya merespon dengan anggukan. Banyak hal yang dipikirkannya termasuk jabatan baru yang tidak diinginkannya. Sebenarnya Lingga membidik posisi sekretaris Lurah di tempat bekerjanya sekarang. Ia tidak ingin bekerja di tempat yang terpencil. Bagi Lingga sudah cukup ia menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa. Ia memiliki kenangan yang tidak terlalu indah saat tumbuh di desa bersama dengan kakek dan neneknya sehingga ada fobia tersendiri yang membuatnya tidak nyaman untuk tinggal di desa yang jauh dari hiruk pikuk dunia kota besar yang gemerlap.


********


to be continued...