Kepak Asa

Kepak Asa
8. Berkenalan



Nindya merasakan letih teramat sangat setelah beraktivitas dengan rutinitasnya sejak pagi tadi. Sudah satu tahun Nindya kembali dari kota tempatnya menuntut ilmu dan selama itu pula ia berusaha dan berjuang memajukan kaum perempuan yang ada di desanya. Sebagian besar perempuan di desanya hanya tamatan SD atau bahkan tidak pernah sama sekali mengenyam bangku sekolah sehingga tidak sedikit dari mereka yang buta huruf. Sebagian dari mereka, setelah lulus SD, langsung dinikahkan. Hanya ada beberapa saja yang mendapatkan kesempatan untuk bersekolah hingga SMA.


Bagi Nindya, pendidikan yang tinggi sangat penting dimiliki oleh seorang perempuan agar tidak mudah diperdaya dan ditindas oleh para lelaki di sekitar mereka. Oleh karena itu, Nindya berusaha untuk memberikan keterampilan dasar pada mereka yang hanya lulusan SD atau yang tidak pernah bersekolah agar mereka mampu bertahan ketika mereka ditinggalkan suami.


Desa tempat Nindya tinggal adalah desa penghasil berbagai macam bunga berkualitas tinggi. Hasil dari perkebunan bunga dikirimkan ke kota-kota besar di sekitar desa tersebut. Banyak dari perempuan di desa tersebut bekerja sebagai buruh perkebunan dengan upah yang sangat kecil.


Untuk melepas lelah, Nindya beristirahat di balkon rumah sambil menikmati cuaca hangat dan semilir angin yang membelai wajah. Tangannya mengelus-ngelus bulu lembut kucing kesayangan yang berbaring santai di pangkuannya. Ia hampir saja tertidur ketika sebuah ketukan terdengar.


“Teh, ada tamu yang ingin menemui Teteh.” Salah seorang asisten rumah tangga memberitahu bahwa ada tamu yang datang berkunjung untuk menemuinya.


Nindya beranjak dari kursi lalu meraih jilbab instan yang tergantung di dinding kamarnya. Setelah mematut diri di cermin dan merasa kalau penampilannya sudah cukup rapi, Nindya kemudian turun menuju ruang tamu dengan malas. Di ruang tamu, Nindya tidak melihat siapapun, kemudian ia keluar dan melihat seorang pria sedang berbincang dengan ayahnya di bawah pohon mangga.


“Neng, sini!” panggil Darma, ayah Nindya saat melihat putrinya berdiri di teras rumah.


Nindya datang menghampiri dan memberikan tatapan tajam pada pria yang berdiri angkuh di samping ayahnya. Dengan berani Nindya memindai sosok pria tersebut. Ia memperhatikan pria tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tampak pria tersebut memakai sepatu kets trendi yang sering dipakai oleh teman-temannya yang laki-laki selama berkuliah di kota, yaitu: celana jeans, kameja flanel hitam dan topi berwarna putih.


“Ada apa, Bah?” tanya Nindya pada Darma dengan sopan.


“Ini Lurah baru di kampung kita. Namanya Lingga Maheswara. Nak Lingga ini baru beberapa hari menjabat Lurah di kampung kita.” Darma memperkenalkan pria itu.


Dalam pandangan Nindya, pria yang sedang berdiri di hadapannya ini terlihat tampan dan gagah tetapi sedikit dingin dan arogan jika dilihat dari raut wajahnya.


“Nak Lingga, ini anak bungsu Bapak. Namanya Nindya Queena, biasa dipanggil Inda.” Darma memperkenalkan Nindya pada Darma.


“Ya.” Nindya menyambut uluran tangan Lingga walaupun enggan.


Setelah basa basi perkenalan, Nindya meminta izin pada ayahnya untuk kembali ke dalam rumah.


“Putri bungsu Pak Darma terlihat baik tapi sepertinya dia tidak suka berkenalan dengan saya,” ungkap Lingga setelah mendapatkan perlakukan yang dingin dari Nindya saat berkenalan tadi.


“Inda memang seperti itu pada orang yang baru dikenalnya tetapi sebenarnya Inda itu anak yang ramah dan hangat.”


“Mudah-mudahan kalau sudah saling mengenal lebih jauh, sikapnya lebih ramah lagi pada saya,” harap Lingga.


Darma tertawa pelan mendengar harapan Lingga.


“Inda memiliki cita-cita yang mulia terhadap masa depan kaum perempuan di desa kita. Dia ingin lebih memajukan pendidikan dan keterampilan mereka. Mudah-mudah Nak Lingga dan aparat desa yang lain mendukung apa yang dicita-citakan Inda,” ungkap Darma.


“Insya Allah, saya pasti akan mendukung kegiatan-kegiatan positif untuk kemajuan desa kita.


Darma tersenyum bahagia mendengar janji yang diucapkan oleh Lurah muda di hadapannya.


********


to be continued...