Kepak Asa

Kepak Asa
18. Pulang



Hampir saja Nindya lupa mengabari pihak sekolah atas ketidakhadirannya hari ini. Ia langsung menelepon Endah untuk mengabari musibah yang terjadi padanya dan meminta teman baiknya itu untuk memintakan izin pada bagian administrasi sekolah. Nindya mengatakan bahwa surat sakitnya akan ia berikan saat ia masuk sekolah.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Endah merasa khawatir.


“Tenang saja. Semuanya sudah aman terkendali. Nanti aku ceritakan detailnya,” janji Nindya sebelum ia menutup sambungan teleponnya.


Setelah mendapatkan perawatan atas luka-lukanya, Nindya memaksa untuk langsung pulang kendati dilarang Fahri.


“Jangan langsung pulang dulu. Kamu di sini dulu beberapa saat. Kalau tidak ada keluhan, kamu boleh pulang,” bujuk Fahri.


“Tidak ada keluhan kok, Dok. Luka-lukanya gak sakit juga. Nanti di rumah saya ganti perbannya sesuai instruksi yang tadi Dokter bilang.” Nindya bersikeras untuk cepat pulang.


“Kamu tidak merasa pusing atau mual?” tanya Fahri khawatir karena sempat melihat Nindya yang didorong hingga jatuh tersungkur ke atas tanah oleh para preman tadi pagi.


“Gak pusing dan gak mual, Dok,” jawab Nindya yakin.


“Ya sudah kalau kamu ingin pulang, tapi tunggu Zaki untuk mengantar kamu pulang.”


“Tidak usah repot-reot, Dok. Saya sudah menelepon orang rumah untuk jemput saya di sini.” Nindya menolak tawaran Fahri.


Fahri mengingatkan kembali Nindya untuk rutin mengganti perban dan membersihkan luka-lukanya dengan disinfektan agar tidak infeksi.


“Jangan lupa obatnya diminum kalau kamu merasa pusing atau mual.” Fahri menyerahkan satu bungkusan plastik berisi obat.


“Baik, Pak Dokter!” jawab Nindya sambil mengangkat tangannya seperti memberi hormat pada bendera.


Fahri tersenyum melihat Nindya.


***********


Pelan-pelan Nindya turun dari motor. Ia merasakan lututnya sedikit perih.


“Bisa turunnya, Teh?’ tanya Dani, pegawai ayahnya, khawatir karena Nindya kesulitan turun dari motor.


“Bisa. Tapi lututnya sedikit perih. Maaf ya kalau turunnya lambat,” ucap Nindya.


“Tidak apa-apa, Teh. Santai saja,” tukas Dani.


Euis menghambur dari dalam rumah melihat Nindya yang baru saja turun dari motor.


Nindya meringis menahan rasa sakit di lututnya.


“Ini juga kenapa bajunya sampai robek seperti ini?” Air mata Euis sudah mulai meleleh membasahi pipi. “Astagfirullah, ini baju sampai robek seperti ini.”


“Neng tidak apa-apa, Mbu. Hanya luka kecil saja. Tadi sudah diobati di Puskesmas,” ujar Nindya santai. Ia tidak ingin ibunya tambah khawatir.


“Nanti kalau pergi ke sekolah harus diantar. Tidak boleh pergi sendiri lagi.”


Nindya hanya mengangguk, tidak berani membantah dan membuat ibunya semakin khawatir.


“Neng bisa jalan?” tanya Euis khawatir karena melihat Nindya jalan agak pincang.


“Bisa, Mbu. Cuma sakit sedikit, jadi jalannya tidak bisa cepat.”


Setelah Nindya sampai di dalam rumah, ia duduk di sofa ruang tengah. Pelan-pelan ia mendudukkan bokongnya ke atas sofa.


“Neng mau makan?” tawar Euis.


“Mau, Mbu. Energi Neng habis di Kelurahan tadi jadi bikin lapar,” ungkap Nindya.


“Memangnya ada apa di Kelurahan sampai membuat energi Neng habis?” tanya Euis heran.


“Neng capek berdebat sama Pak Lurah baru. Orangnya menyebalkan.” Emosi Nindya sedikit meninggi mengingat perdebatannya dengan Lingga.


“Hus, tidak boleh ngomong begitu tentang Pak Lurah,” sergah Euis.


“Orangnya memang menyebalkan, Mbu. Dia lebih membela si Atang daripada Neng yang jadi korban. Neng kan sebal dibegitukan sama dia. Yang jadi korban kejahatan kan Neng tapi yang dibela dia malah pelaku kejahatannya.” Nindya mengeluarkan kekesalan yang sejak tadi ditahannya pada Euis.


“Ambu tidak percaya kalau Pak Lurah sampai berbuat seperti itu,” kata Euis ragu.


“Jadi Ambu tidak percaya sama Neng?” tanya Nindya kecewa.


**********


to be continued...