
“Tolong…tolong…” Nindya berteriak mencoba peruntungannya.
“Jangan teriak-teriak kamu! Tidak akan ada yang menolong kamu. Jalanan ini masih sepi.” Sapri menarik Nindya ke arah semak-semak di seberang jalan.
Nindya memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sapri. Kakinya menendang-nendang. Ia ketakutan. Air mata sudah membanjiri wajah. Mulutnya komat-kamit merapalkan doa agar ada yang menolongnya. Ia sudah pasrah ketika terdengar suara gaduh di belakang.
Suara daging beradu daging saling bersahutan. Tampaknya, para penolong yang tadi Nindya harapkan dalam doanya sudah tiba.
Sapri melepaskan Nindya ketika ia melihat dua orang temannya mendapat serangan dari dua orang pria yang tidak ia kenal.
Mendapatkan pukulan beruntun dari lawannya, kedua preman itu jatuh tersungkur mencium tanah dan langsung tak sadarkan diri. Sapri kabur seribu langkah melihat keadaan yang telah berbalik 180 derajat itu.
“Teh Inda, Teteh tidak apa-apa?” seru Zaki, salah satu dari dua pria yang menolongnya.
Nindya mendongakkan kepala dan melihat Zaki yang berlari ke arahnya.
“Alhamdulillah.” Nindya bersyukur ada yang menolongnya. Air mata kembali membasahi wajahnya yang penuh luka.
“Apa yang terjadi di sini? Kang Atang coba jelaskan apa yang terjadi dan kenapa Akang ada di sini? Kenapa Teh Inda bisa sampai seperti ini?” Zaki memberondong Atang dengan pertanyaan.
“Eh, ehem, i-itu… itu saya… sa-saya tidak… saya tidak tahu.” Atang tergagap-gagap menjawab berondongan pertanyaan dari Zaki.
“Atang bersama dengan preman-preman itu,” seru Nindya tiba-tiba.
“Maksud Teteh apa?” Zaki bingung dengan pernyataan Nindya.
“Atang bersama preman-preman itu bermaksud untuk menakut-nakuti saya.” jawab Nindya lantang.
“Eh, iya Pak dokter. Terima kasih Pak Dokter sudah menolong saya.” Nindya sungguh bersyukur Pak dokter dan Zaki datang tepat pada waktunya. Kalau saja, mereka terlambat datang, entah bagaimana nasibnya.
“Kita ke Puskesmas untuk mengobati luka-luka kamu.”
“Nanti saja Pak dokter. Sekarang saya ingin segera melaporkan mereka ke pihak berwajib. Jangan sampai kejadian meresahkan ini terjadi lagi di kampung kita. Saya yakin mereka bukan orang kampung sini karena saya belum pernah melihat mereka.”
“Tapi luka kamu harus diobati dulu karena kalau tidak….”
“Nanti saja, Dok. Saya juga ingin meminta penjelasan dari si Atang. Kita ke Kelurahan sekarang juga!” kata Nindya tegas.
Dengan langkah tertatih-tatih, Nindya berjalan mendekati Zaki dan memintanya untuk menghubungi pihak Kelurahan.
“Dasar perempuan keras kepala.” Fahri, seorang dokter muda yang baru bertugas selama dua bulan di Puskesmas Desa Mekarjaya hanya mampu mengeleng-gelengkan kepala melihat perempuan keras kepala di hadapannya.
Fahri baru satu bulan bertugas di Puskesmas Desa Mekarjaya. Ia berasal dari keluarga sederhana. Untuk bisa berkuliah di fakultas kedokteran, Fahri harus bekerja dan belajar ekstra keras. Sejak kecil, ia tumbuh dan berkembang hanya bersama ibunya. Ibu Fahri ditinggalkan oleh suaminya demi istri muda yang lebih cantik. Ayahnya memilih wanita lain untuk dijadikan istri muda disaat Fahri masih balita. Ibu Fahri yang tidak ingin dimadu memilih untuk bercerai daripada harus bertahan hidup bersama suami yang sudah tidak mencintainya dan membawa Fahri kecil bersamanya.
Menjadi seorang dokter bagi Fahri bukanlah perjuangan yang mudah. Proses dia menjadi seorang dokter penuh dengan keringat dan air mata. Fahri bukanlah berasal dari keluarga berada yang mampu menyekolahkan anaknya di fakultas kedokteran. Fahri hanyalah anak tunggal dari orangtua tunggal. Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah kedokteran dan berhasil lulus cepat dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah lulus kuliah, Fahri ditugaskan di beberapa desa. Mekarjaya adalah desa ketiga setelah sebelumnya Fahri bertugas di dua desa lainnya.
Dengan wajah tampan mirip artis dan ditunjang oleh tinggi tubuh sekitar 175 cm, Fahri menjadi dokter idola dimanapun ia bertugas. Banyak kembang desa yang jatuh hati padanya tapi belum satupun dari para perempuan yang menjadikannya idola berhasil mencuri hatinya.
Kisah masa kecilnya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah, dan melihat perjuangan ibunya tanpa seorang suami membuat Fahri sedikit hati-hati dalam hal cinta. Ia kurang percaya tentang adanya cinta sejati. Ia khawatir jika sikap ayah yang mengkhianati ibunya akan menurun padanya.
********
to be continued...