
Jam setengah tujuh pagi, Nindya sudah bersiap-siap untuk pergi mengajar. Hampir setiap hari, setelah selesai mengajar di sekolah, Nindya memberikan latihan-latihan dasar dan pelajaran untuk anak-anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Sedangkan di akhir pekan, Nindya memberikan edukasi dan kursus seperti merangkai bunga, menjahit, menyulam dan keterampilan-keterampilan lainnya bersama dengan teman-temannya yang memiliki visi dan misi yang sama untuk memajukan kaum perempuan di kampung tempat tinggal mereka.
“Neng, sarapannya dihabiskan dulu!” perintah Euis.
“Dibekal saja, Bu. Nanti Inda terlambat datang ke sekolah kalau sarapan dulu,” teriak Nindya dari garasi. Dengan tergesa-gesa, ia mengeluarkan sepedanya dari garasi.
“Ini bekalnya jangan lupa dibawa Neng.” Euis tergopoh-gopoh mengejar Nindya yang sudah bersiap pergi.
“Terima kasih Ibuku sayang.” Nindya memberikan ciuman di pipi Euis.
“Dasar anak manja.” Euis mengeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak bungsunya.
Nindya mengayuh sepeda dengan sedikit cepat ketika tiba-tiba empat orang laki-laki berperawakan besar menghadang laju sepedanya.
“Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi jalan saya?” tanya Nindya keras.
“Tidak usah banyak tanya. Kita langsung hajar saja Bos,” hardik salah satu laki-laki bertubuh besar dengan tato yang menghiasi seluruh lengannya.
“Aaaaaaargh…”
Nindya menjerit ketika salah seorang pria berperawakan besar itu mencengkram lengannya. Ia menghentakkan lengan agar terlepas dari cengkraman lelaki itu. Namun, sekuat tenaga ia berusaha lepas, tenaganya tidak sebanding dengan lelaki berbadan kekar itu.
“Lepaskan!” bentak Nindya.
Bukannya melepaskan, cengkraman preman itu semakin erat sehingga lengan Nindya memerah.
“Tolong…tolong…” Nindya berteriak-teriak berharap ada orang yang menolongnya.
“Diam kamu. Jangan teriak-teriak!” laki-laki kekar itu melepaskaskan cengkeramannya, kemudian membekap mulut Nindya agar tidak bisa berteriak minta tolong.
Nindya mencoba menarik tangan yang membekapnya. Ketika ada sedikit celah, ia menggigit tangan pria tersebut sekuat tenaga.
”Aww…” Karena kesakitan, pria itu membalikkan tubuh Nindya sehingga berhadapan dengannya, kemudian…
Terdengar suara nyaring dari sebuah tamparan. Pria itu menampar Nindya sehingga terjerembab ke atas tanah. Nindya jatuh dengan bagian muka mencium tanah kering penuh batu.
Nindya mendengar suara seorang pria yang ia kenal bernama Atang.
“Gawat, Pri. Hidungnya mengeluarkan darah,” kata Atang ketakutan.
“Sudah biarkan saja. Suruh siapa dia menggigit tanganku.” Pria bernama Sapri itu kemudian menarik lengan Nindya agar berdiri.
Nindya merasa kepalanya pusing hingga melihat banyak bintang berkelap-kelip dan berputar-putar mengelilingi kepalanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala untuk menjaga kesadarannya. Ia tidak ingin pingsan pada saat genting seperti ini.
“Atang, apa maksud kamu menakut-nakuti saya?” tanya Nindya pada Atang dengan suara lemah.
Atang terdiam seribu bahasa tidak mampu menjawab pertanyaan Nindya.
“Apa salah saya sama kamu sehingga kamu berbuat seperti ini? Apa kamu tidak takut kalau saya akan melaporkan apa yang kamu dan teman-teman kamu lakukan pada saya ke polisi?” Nindya kembali menyerang Atang dengan pertanyaan-pertanyaannya.
Atang masih diam.
“Jawab saya!” Nindya menaikkan nada suaranya.
“Haah, jangan banyak bicara kamu,” hardik pria lain yang Nindya tidak kenal.
Nindya hanya mengenal Atang dari empat orang pria yang sekarang sedang mengintimidasinya. Ia tidak pernah melihat tiga wajah pria kekar dengan tubuh penuh rajah.
Nindya melihat ada kesempatan untuk melepaskan diri. Ia menginjak kaki Sapri sekuat tenaga. Sapri melepaskan cengkeraman tangannya karena merasa kesakitan. Ia berusaha berlari secepatnya, namun Sapri berhasil mengejarnya dan kembali menarik lengan atasnya.
“Sudah cukup, Sapri!” seru Atang. “Kita pergi dari sini sebelum orang-orang lewat. Urusanya akan panjang kalau sampai ada yang melihat kita.”
“Tunggu sebentar! Aku belum puas menakut-nakuti perempuan itu. Apa perlu kita berbuat lebih jauh dari ini?” Sapri menyeringai yang membuat Nindya ketakutan. Ia memahami tindakan lanjutan apa yang mungkin akan dilakukan oleh Sapri dan kedua temannya yang lain.
*******
to be continued...