
“Terima kasih, Pak Lurah. Terima kasih Teh Inda. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Teh Inda.”
“Sekarang kamu boleh pulang. Minta maaf sama istri kamu dan berjanji kalau kamu akan memperlakukan istri kamu lebih baik lagi.” Lingga memberi nasihat sambil menepuk bahu Atang. “Terima kasih dokter Fahri dan Zaki atas kesediaannya untuk hadir di sini. Saya ucapkan terima kasih karena sudah menolong Nindya.” Lingga menyalami Fahri dan Zaki.
“Jadi saya sudah bisa kembali ke Puskesmas lagi, Pak Lurah?” tanya Fahri.
“Silahkan, Dok. Maaf kalau waktu Dokter jadi tersita.”
“Tidak masalah, Pak Lurah. Sebagai warga, saya juga berkewajiban untuk saling menolong jika memang ada warga yang membutuhkan,” balas Fahri.
Lingga tersenyum mendengar ucapan Fahri.
“Kalau boleh saya meminjam motor inventaris Kelurahan untuk mengantar Nindya ke Puskesmas. Saya khawatir dengan luka di kakinya jika harus jalan kaki ke Puskesmas.” Fahri meminta izin kepada Lingga untuk meminjam kendaraan milik Kelurahan.
“Saya akan mengantar kalian dengan mobil saja,” tawar Lingga.
“Itu lebih baik kalau tidak merepotkan Pak Lurah,” ucap Fahri sedikit segan.
“Tidak akan merepotkan. Anggap saja ini pelayanan dari pihak Kelurahan untuk warga.” Lingga mengambil kunci mobil yang ia simpan di laci meja kerjanya.
Fahri menghampiri Nindya yang sedang duduk di kursi ruang tunggu. “Pak Lurah yang akan mengantar kita ke Puskesmas.”
Terlihat raut wajah Nindya yang tidak senang mendengar kabar yang dibawa Fahri. “Memangnya tidak jadi meminjam motornya?” tanya Nindya.
“Kata Pak Lurah biar sekalian mengantar kita bertiga.”
“Ya sudah.” Nindya bangkit dari duduknya dan berjalan tertatih keluar dari kantor kelurahan.
Lingga sudah siap dengan mobilnya di depan gerbang kantor kelurahan. Zaki membantu Nindya naik ke mobil. Zaki dan Nindya duduk di kursi penumpang bagian tengah sedangkan Fahri duduk di kursi penumpang bagian depan.
Lingga menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang saja. Tidak ada yang bersuara di sepanjang perjalanan hingga Lingga memecahkan kesenyapan diantara mereka. “Sudah berapa lama bertugas di Puskesmas, Dok?”
“Baru dua bulan, Pak Lurah. Saya hanya lebih dulu satu bulan saja bertugas di sini dibandingkan Pak Lurah,” jawab Fahri.
“Dibetah-betahkan saja lah, Pak Lurah. Kalau sudah tugas negara, di mana pun kita ditugaskan harus siap menerima.”
“Asli orang mana?” Lingga bertanya lagi karena belum mendapatkan jawaban .
“Saya lahir dan besar di Semarang, tapi ibu saya asli orang Bangka Belitung. Kalau Pak Lurah asli dari mana?”
“Saya lahir di Bandung, tinggal di desa sebelah hingga usia 10 tahun. Lalu pindah lagi ke Bandung setelah ayah saya pensiun,” jawab Lingga.
“Wah, jadi Pak Lurah pernah tinggal di desa sebelah? Ada keluarga di sini?” tanya Zaki sedikit terkejut mengetahui Lingga pernah tinggal di desa.
“Dari saya lahir sampai usia 10 tahun, saya tinggal sama nenek dan kakek saya dari pihak ayah, tapi sekarang kakek dan nenek saya tidak lagi tinggal di desa sebelah. Mereka berdua memilih untuk tinggal di Mekah. Katanya sih mereka ingin menghabiskan sisa usia mereka di tanah suci.”
“Mereka masih ada? Usianya berapa?” tanya Fahri penasaran.
“Mereka berusia lebih dari 80 tahun tapi masih kuat dan sehat,” jawab Lingga sambil membayangkan wajah kakek dan neneknya. Lingga sangat merindukan mereka.
Tak terasa mereka sudah sampai di Puskesmas. Lingga menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang Puskesmas. Zaki membantu Nindya turun dari mobil.
“Terima kasih Pak Lurah atas tumpangannya.” Fahri menjabat tangan Lingga diikuti oleh Zaki.
“Kalau butuh apa-apa, hubungi saya saja. Zaki sudah punya nomor telepon saya,” kata Lingga.
“Baik, Pak Lurah. Sekali lagi terima kasih.”
Lingga memperhatikan Nindya yang setelah turun dari mobil langsung berjalan menuju Puskesmas tanpa berkata sepatah kata pun padanya.
Lingga kembali ke mobil dan sedikit menggerutu. “Dasar perempuan tidak tahu berterima kasih.”
*********
to be continued...