
“Sudah saya katakan tadi Pak Lurah. Sejak istri saya bergaul dan mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Teh Inda dan teman-temannya, istri saya menjadi istri yang tidak penurut dan selalu membantah.”
“Heh Atang…” Nindya kembali membentak Atang karena ia tidak merasa memprovokasi istri Atang untuk membangkang dan tidak menurut pada suaminya.
Lingga menatap Nindya tajam dan dibalas Nindya dengan tatapan yang menantang.
“Kenapa kamu beranggapan seperti itu? Apa ada hal lain yang menyebabkan istri kamu tidak menurut pada suaminya sendiri?” tanya Lingga.
“Saya juga tidak mengerti Pak Lurah. Yang saya tahu setelah ikut pelatihan-pelatihan sama Teh Inda, istri saya jadi seperti itu.”
“Itu karena kamu jadi suami suka seenaknya. Malas kerja tapi senang memukul istri. Perempuan juga manusia yang tidak bisa diperlakukan seenaknya seperti binatang. Istri kamu suka cerita kalau kamu sering memukulnya. Semut juga kalau diinjak terus bakal balik gigit, apalagi manusia.” Akhirnya Nindya tidak tahan untuk membuka aib Atang di hadapan semua orang yang ada di ruangan.
Lingga kaget mendengar kenyataan yang dibeberkan Nindya.
“Benar kamu sering memukul istri kamu?” tanya Lingga tajam pada Atang.
Atang semakin menundukkan kepala tidak berani menjawab pertanyaan Lingga.
“Jawab saya!” perintah Lingga tegas membuat Atang semakin gemetar ketakutan.
“Sudah jelas kan Pak Lurah kenapa istrinya si Atang itu menjadi istri yang dianggap sebagai pembangkang karena suaminya suka memukul. Bukannya melindungi istri malah menganiaya istri. Istrinya membela diri kok malah disalahkan. Orang yang seperti itu jangan diberi ampun. Jangan hanya karena Pak Lurah dan Atang sama-sama lelaki jadi saling membela,” sungut Nindya.
“Apa kamu sekarang menyesal dengan semua perbuatan buruk kamu?” tanya Lingga dengan nada suara yang tidak setajam tadi.
“Saya sangat menyesal Pak Lurah. Saya tidak akan pernah memukul lagi istri saya. Saya juga minta maaf sama Teh Inda karena sudah mencelakainya.” Asep terisak mengungkapkan penyesalannya.
“Penyesalan kamu gak akan membuat luka saya langsung sembuh. Penyesalan kamu juga tidak akan bisa membuat luka batin istri kamu langsung sembuh. Seenaknya saja bilang maaf dan menyesal,” cibir Nindya.
Lingga menghela nafas dengan kasar mendengar kata-kata Nindya. Sepertinya akan sulit mendapatkan maaf dari Nindya.
“Atang sudah menyesal atas perbuatan buruknya dan sudah meminta maaf pada kamu dengan tulus. Sebaiknya kamu berlapang dada dan menurunkan egomu untuk memaafkannya kesalahan Atang,” kata Lingga yang membuatnya Nindya semakin kesal.
“Minta maaf sih gampang. Tapi saya tidak akan dengan mudah memaafkan sebelum saya melihat perubahan dari diri si Atang,” tukas Nindya tegas.
“Kamu dengar sendiri Atang? Nindya akan memaafkan kamu kalau kamu berubah ke arah yang lebih baik,” kata Lingga berusaha untuk menjembati Nindya dan Atang.
“Dan kamu harus ingat Atang, kalau perempuan mungkin akan mudah memaafkan tapi tidak akan mudah untuk melupakan apa yang telah kamu perbuat. Jadi sekali lagi kamu berbuat kasar terhadap istrimu atau perempuan lainnya, saya tidak akan pernah memaafkan kamu.” Nindya memberikan ultimatum yang tidak bisa ditawar.
“Baiklah. Kalau begitu, saya anggap masalah ini sudah selesai. Semoga kedepannya Atang lebih hati-hati lagi dalam bertindak.” Lingga lega karena masalah ini tidak berlarut-larut. Lingga merasa bahwa Nindya itu sebenarnya baik hati walaupun sangat keras kepala. Sulit untuk membayangkan siapa laki-laki yang kelak berhasil menaklukkan perempuan tangguh dan keras kepala seperti Nindya.
**********
to be continued...