Kepak Asa

Kepak Asa
7. Bersiap



Saat ini Lingga sedang memegang selembar kertas bertuliskan Surat Keputusan yang menempatkannya sebagai Lurah di Kelurahan Sukamanah. Sebenarnya daerah tempat Lingga akan bertugas ini masih berada dalam satu provinsi dengan tempat tinggal orangtua dan juga rumahnya sendiri yang baru ia miliki selama dua tahun. Jarak tempuh menuju kelurahan Sukamanah pun tidak terlalu jauh, hanya 2 jam jika menggunakan mobil. Akses menuju sana pun tidak sulit karena masih bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat dengan jalanan berupa aspal bukan tanah merah.


Setelah menatap selembar kertas yang berada di tangannya dan yakin jika tulisan dalam kertas itu tidak akan berubah, Lingga menyimpan ke dalam tas kerjanya. Ia tidak ingin berlama-lama bersentuhan dengan selembar kertas yang tidak diinginkannya.


Malam ini, Laras, ibu Lingga membantu anak bungsunya itu untuk berkemas. Tidak berhenti Laras memberikan nasihat pada Lingga.


“Adek jangan lupa makan kalau nanti bekerja di sana.  Jangan terlalu capek bekerja, harus tahu waktu bekerja dan juga waktunya beristirahat. Jangan sampai ritme kerja kamu disini dibawa juga ke sana. Kalau Adek sakit harus langsung memberitahu Mama. Pasti Mama langsung datang kalau kamu telepon. Jarak dari sini juga tidak terlalu jauh juga kan. Adek harus ingat pulang juga. Jangan mentang-mentang sekarang Adek kerja di kota yang beda jadi malas pulang bertemu Mama dan Papa.”


“Iya, Ma. Lingga kan bukan anak kecil lagi. Lingga bisa jaga diri. Dan berhenti memanggil Lingga dengan sebutan Adek apalagi kalau ada teman-teman Lingga ke sini. Lingga malu kalau sampai teman-teman Lingga tahu panggilan Mama ke Lingga,” protes Lingga pada Mamanya.


“Loh, Adek itu kan panggilan sayang Mama buat kamu. Memangnya kamu tidak mau Mama sayang?”


“Bukan begitu juga, Mam. Mama boleh panggil Lingga dengan sebutan apapun yang Mama suka, tapi jangan sampai Mama keceplosan panggil Adek di depan teman-teman Lingga seperti halnya Mama panggil Lingga dengan sebutan Adek ketika ada si Raka. Sampai sekarang si Raka sering panggil Lingga dengan sebutan Adek juga.”


Laras hanya tertawa mendengar protes dari anak bungsu kesayangannya itu. Sebenarnya Laras merasa sangat bersalah pada Lingga karena ia tidak hadir pada sepuluh tahun pertama dalam kehidupan Lingga. Rasa sayang berlebih yang ia curahkan pada Lingga adalah bentuk kompesasi walaupun ia merasa bahwa kompesasi yang ia berikan tidak akan pernah menutupi kekosongan yang pernah hadir dalam kehidupan Lingga.


“Maafkan Mama, Ga. Mama bersalah sama kamu. Maafkan Mama dan Papa.” Laras meneteskan air mata penyesalan.


“Maaf untuk apa, Ma? Memangnya apa salah Mama dan Papa pada Lingga?” Lingga merasa heran dengan mamanya yang tiba-tiba memeluk dan menangis.


“Maaf karena Mama pernah tidak hadir dalam hidup kamu. Maafkan Mama dan Papa karena keegoisan kami, masa kanak-kanak kamu jadi tidak sempurna. Maafkan Mama, Maaf…” Laras masih memeluk Lingga erat dengan perasaan menyesal yang masih bercokol di dada. Rasa sesal itu tidak akan pernah hilang dari dalam diri Laras selamanya.


“Jangan seperti ini, Mam. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Malah Lingga yang minta maaf sama Mama dan Papa karena belum membahagiakan Mama dan Papa.” Lingga balas memeluk sambil mengelus-ngelus punggung mamanya dengan sayang.


Malam itu, sepasang anak dan ibu saling berpelukan mencurah rasa kasih sayang dan sesal dari dalam diri mereka.


*********


to be continued...