Kanyafe

Kanyafe
** Rendezvous Tak Terduga **



**


Malam telah berakhir, pagi telah datang menghampiri bumi kita ini, Bumi tempat dimana kita berlindung ini.


Kanyafe masih tertidur dengan lelapnya, ia belum mau bangun bahkan ia masih ingin sekali mengulang kembali mimpi indah malam tadi.


Bagaimanapun juga aku harus mencari tahu soal pria kecil imut itu, aku seakan merasa sangat familiar dengannya, tapi bagaimana bisa aku begitu terasa sangat mengenalnya?


Apakah aku adalah adalah bagian dari reinkarnasi pria itu, kenapa aku seperti sangat mengenalnya?


"Ah, sudahlah akan aku pikirkan caranya untuk mengetahui darimana asal pria kecil itu." ucap Kanyafe dalam hati.


Akhirnya dengan rasa sedikit malas, ia pun bangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Setelah selesai Melakukan ritual paginya, ia pun mulai bersiap siap memasak di dapur untuk sarapan karena hari ini ia berlibur.


Selang beberapa menit kemudian semua makanan sudah tersaji, ia tak langsung makan tetapi hanya meneguk beberapa tegukan air mineral untuk membasahi kerongkongannya.


"Joging dulu ah, sudah lama aku hanya terkurung di dalam rumah tanpa joging rasanya duniaku hampa" gumamnya pada dirinya sendiri.


"Let's go!" ujarnya lagi menyemangati dirinya sendiri.


Ia pun berganti pakaian dengan pakaian olahraga dan mulai berlari lari kecil menuju ke arah lapangan terdekat apartemennya untuk berolahraga.


Hari masih sangat pagi, ia tak lelah dan tetap semangat karena hawa udara pagi itu sangat sejuk sehingga ia terus memacu adrenalinnya untuk tetap semangat.


Sekitar setengah jam kemudian, ia pun memilih untuk beristirahat di bangku di sudut kanan lapangan untuk beristirahat sejenak.


Ketika sedang duduk sambil menghirup udara segar, tiba tiba matanya tertuju pada seorang pria wajah Asia Eropa yang sementara duduk di sudut kiri lapangan itu, pria setengah baya itu sepertinya sedang menunggu seseorang.


Tiba tiba seorang pria berambut gondrong muncul dan duduk di sampingnya sambil memberi hormat pada pria jangkung itu.


Sepertinya mereka ada hubungan pekerjaan atau apa gitu tapi Kanyafe tidak mau perduli.


Ia pun menenggak air mineral kemasan botol itu dan sambil melap keringatnya menggunakan tissue.


Tiba tiba pria itu muncul dan langsung duduk di hadapan Kanyafe.


"Maaf boleh duduk sebentar disini?" tanya pria paruh baya itu pada Kanyafe.


"Ya silahkan Pak!" ucap Kanyafe pada pria itu.


Kanyafe tetap duduk sambil memainkan ponselnya, dan sesekali ia ia menoleh ke arah yang duduk di sampingnya.


Pria setengah baya itu wajahnya persis seperti pria kecil tampan yang kala itu menabraknya.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa aku merasa seperti sangat familiar dengan wajah pria ini ya? Apa aku harus bertanya saja ataukah..?" Belum sempat ia berpikir kesana pria itu sudah bertanya duluan.


"Kamu lagi nunggu siapa Nak?" tanya pria itu pada Kanyafe dengan suara lembut.


"Saya gak nunggu siapa siapa Pak saya baru habis joging jadi istrahat disini sebentar." ucap Kanyafe pada Pria itu.


"Ooo begitu, gak apa apa kan saya duduk disini Nak?" tanya pria itu lagi.


"Iya gak apa apa Pak," ucap Kanyafe lagi.


"Usiaku 20 tahun Pak." Jawab Kanyafe santai.


"Masih kuliah atau sudah kerja?" Pria itu masih bertanya.


"Saya masih kuliah sambil kerja Pak!" jawab Kanyafe lagi.


"Semester berapa Nak?" tanya pria itu penuh selidik.


"Sebenarnya udah selesai kuliahnya tetapi, kemarin terbentur biaya akhirnya kuliahku sempat mandek selama 2 tahun Pak, sekarang baru masuk semester tujuh." Jawab Kanyafe lagi masih dengan sabar hati.


"Andai waktu itu kami tidak egois mungkin anakku sudah seusia kamu Nak, tetapi semuanya telah berlalu" ucap pria itu lagi seakan mengingat masa masa kelamnya dahulu.


Kanyafe hanya tersenyum karena ia gak mau larut dalam cerita masa lalu pria yang duduk tepat di hadapannya itu.


Ia tetap berpikir bahwa setiap orang didunia ini punya masalahnya masing masing untuk itu cukup simpati saja karena mereka baru saja mengenal dan belum akrab.


Kanyafe lagi asyik main ponselnya tiba tiba bibik Inah lewat jalan setapak dekat lapangan kecil itu dan sempat melihat Kanyafe tetapi ia buru buru bersembunyi karena melihat pria itu berada di dekat putri angkatnya itu, ia tak rela harus berpisah dari Kanyafe karena ia telah menganggap lantai adalah anak kandungnya.


Bibik hanya menghela nafas panjang karena ternyata pria itu tidak mengenalinya karena penampilan bibik yang amburadul membuat wajah bibik semakin tua sehingga si pria itu tak mengenalnya sedikit pun.


Setelah dilihatnya si pria itu sudah pergi baru ia menunjukkan batang hidungnya.


"Nak, habis olahraga ya?" ucap Bibi tiba tiba dan berjalan menghampiri Kanyafe.


"Ibu?Sejak kapan ibu disini?" Tanya Kanyafe lagi.


"Baru aja kok, Kanya udah selesai joging belum?" tanya Bibi lagi.


"Udah Bu, nih lagi istirahat. Bu gimana kabar adik adik sekarang apa mereka sudah betah dirumah?" tanya Kanyafe mengalihkan pembicaraan.


"Setiap dua Minggu mereka nginap dirumah, kemudian dua Minggu berikutnya mereka di panti sosial" ucap Bibi lagi.


"Salam kangen aja buat mereka ya Bu, nanti pas liburan semester Kanya pasti pulang kok?" ucap Kanyafe lagi.


"Ayo mampir ke apartemen Kanya dulu Bu, Kanya mau kasih sesuatu untuk ibu dan adik adik!" Ajak Kanyafe pada Bibi.


"Nak, kami baik baik saja nak, pekerjaan ibu juga lancar lancar saja kok, gaji ibu juga lumayan untuk makan minum ibu dan adik adik pasti Kanya mau kasih uang untuk ibu kan? gak usah Nak kalau ibu gak ada uang pasti ibu akan minta sama kamu Nak, tapi untuk sekarang ini ibu masih punya uang kok?" ucap Bibi lagi.


"Ya udah kalau begitu ibu pamit dulu ya jangan lupa liburan nanti pulang rumah ya Nak?" ucap Bibi sambil tergesa - gesa dan pergi karena bibi sudah melihat Robson datang lagi.


Robson adalah ayah kandung Kanyafe tetapi Bibi belum bisa memberitahu Kanyafe karena Bibi takut Kanyafe akan pergi meninggalkannya dan mengikuti ayah kandungnya itu.


Kalau bagi Kanyafe ia sudah yatim piatu sejak umur lima tahun dan ia sudah menganggap Bibi Inah sebagai orang tuanya, dan ia tak ingin siapapun mengusik kehidupannya lagi, karena ia ingin hidup bahagia bersama wanita yang telah mengasuh dan mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang ini.


Kanyafe menghela nafas dan hendak berdiri dari duduknya, tetapi tiba tiba sebuah suara berat menyapanya.


"Nak, siapa wanita tadi?" tanya pria setengah baya itu lagi pada Kanyafe.


"Oo, tadi itu ibuku, kebetulan ibu baru pulang dari pasar dan melihatku disini dan menghampiriku" ucap Kanyafe tanpa memandang pria itu.


Pria itu seakan mengingat sesuatu, namun ia tak bisa mengingat apapun untuk saat ini.