
Pria itu berjalan kaki menuju ke arah tempat parkir mobil, dialah Bryan Thunder Robson.
Dia adalah pria terimut yang pernah aku temui, tapi wajah pria ini mengingatkan aku pada seseorang entah siapa aku tak tahu.
Wajah Robson seperti seseorang di masa lalu yang selalu membuat ia memimpikan pria itu entah siapa Kanyafe tak tahu.
Kaki Kanyafe sudah agak baikan, sehingga membuat Rain merasa lega.
Tiba tiba Kanyafe berpikir untuk mereview ulang pertemuannya dengan Robson.
Ia merasa sangat familiar dengan pria itu, karena ia merasa kalau pernah dekat bahkan pernah akrab banget dengan seseorang yang wajahnya mirip banget dengan Robson.
"Ah, kepalaku sakit banget!"gerutunya lagi membuat Rain kaget dan langsung memegang kepala Kanyafe.
"Sayang ada apa, kepalamu kenapa?" tanya Rain pada Kanyafe.
"Rain, aku tak ingin semuanya kembali seperti dulu, aku benci mereka Rain aku benci mereka yang telah membuangku sejak kecil"ucap Kanyafe meracau.
"Iya sayang ada aku disini! kamu tenang ya gak akan ada yang berani mengambil Kanyafeku" ucap Rain sambil memeluk erat gadis di hadapannya itu.
"Kamu tahu kan, kalau aku sangat menyayangimu mencintaimu sampai sampai aku tak pernah memikirkan untuk mencari yang lain! Aku sangat sangat tidak ingin kehilangan kamu Kanyafe apapun yang terjadi kita akan selalu bersama." Ucap Rain sambil mengecup kepala Kanyafe dengan sangat lama.
"Aku bertemu dengan pria itu, pria yang tak asing dalam memory ingatanku dan aku yakin pasti dia adikku tapi aku tak tahu apakah benar dia anak dari pria itu?" ucap Kanyafe lagi.
"Siapa dia yang kamu maksud?" tanya Rain penasaran.
"Pria tadi yang menabrak aku Rain, saat aku sementara mengikat tali sepatuku karena terlepas aku tak tahu ada seorang pria yang sementara bermain ponsel sambil berjalan dan tidak melihatku dan akhirnya dengan sepatu bootsnya itu ia menginjakkan kakiku dan menabrak aku itulah kejadian sebenarnya Rain aku minta maaf tidak memberitahumu secara detail kejadian yang sebenarnya Rain, aku minta maaf" ucap Kanyafe menyesal.
"It's Okay tidak masalah sayang, aku padamu!" ucap Rain sambil mengecup kening Kanyafe dengan penuh rasa sayang.
"Kamu mau makan apa biar aku masak!" Tanya Rain pada Kanyafe.
"Aku mau makan mujair nyat nyat boleh?" tanya Kanyafe pada Rain.
"Bolehlah, apa sih yang nggak buatmu Ratuku?" seru Rain sambil melepaskan pelukannya dan berlari ke arah dapur dan mulai memasak seperti yang diminta Kanyafe.
"Aku juga akan memasak plecing kangkung, karena aku tahu kamu sangat menyukainya"ucap Rain pada dirinya sendiri.
"Kanyafe apapun akan aku lakukan untukmu asalkan kamu tetap bersamaku selamanya," ucap Rain sambil tersenyum.
**
Beberapa menit kemudian semua masakan telah siap dan terlihat aura kebahagiaan menyelimuti wajah pria tampan itu.
Ia pun menata semua hasil masakannya di atas meja makan dan setelah semuanya tertata rapi ia pun kembali ke ruangan tempat dimana Kanyafe duduk.
Ketika ia sampai ke ruangan itu dilihatnya Kanyafe sudah tertidur dengan sangat nyamannya ia tidur sambil memeluk kemeja milik Rain yang tadi dipakai Rain untuk menutup badannya.
Kanyafe masih saja dalam posisi tidur yang nyaman, sedangkan Rain masih pada posisi berdiri sambil menatap wajah gadis cantik yang sudah sangat ia sayangi dan cintai itu.
Rain berjalan mendekati Kanyafe dan mengelus wajah itu lagi.
"Sayang bangunlah, makanannya sudah selesai masak dan sekarang saatnya kita menikmati makanan itu" ucap Rain lagi.
"Rain! Apa benar kamu yang memasak? Apa aku gak salah meminta makanan padamu Rain?" tanya Kanyafe lagi.
"Kamu gak salah sayang, aku suka memasak dan mulai sekarang apapun yang kamu mau atau apapun yang kamu inginkan aku akan memasakkan untukmu, tenang aja rasanya dijamin enak banget." Ucap Rain sambil tersenyum bahagia.
"Ayo kita makan!" Ajak Rain lagi.
"Hmm, wanginya menggoda. Membuat perutku jadi sangat lapar." ucap Kanyafe lagi sambil berlalu ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi sebelum makan.
"Ayo kita makan" ajak Rain sambil menuang air ke dalam teko kaca di hadapan Kanyafe.
Selama mereka makan tak ada satu diantara mereka yang berbicara apapun karena memang mereka sudah diajarkan untuk tidak berbicara selama mereka makan.
Selesai makan, Rain membantu Kanyafe membereskan semua piring piring kotor dan mencucinya hingga bersih kemudian meletakkannya di atas rak piring yang berada tepat di samping wastafel itu.
Akhirnya mereka berdua duduk bersama di ruang tamu dan bercerita tentang masa depan yang indah dimana Rain menginginkan empat orang anak sedangkan Kanyafe menginginkan 3 orang anak.
"Yank kamu tahu gak kalau aku sudah terbebas dari nenek lampir itu?" ucap Rain memecah keheningan.
"Maksudmu Jeanne tunangan kamu itu Rain?" tanya Kanyafe lagi.
"Ia betul perkataan kamu kamu tepat sekali." ucap Rain menimpali.
"Berarti saat ini kamu sangat bahagia dong Rain," tanya Kanyafe pada Rain dengan serius.
"Apa langkahmu selanjutnya?" ucap Kanyafe pada Rain.
"Aku akan mengesahkan kamu sebagai istriku," Jawab Rain enteng.
"Aku belum mau Rain, kuliahku belum selesai masih setahun lagi baru selesai" ucap Kanyafe menolak secara halus.
"Gak apa apa kita pacaran setelah menikah saja sayang," ucap Rain tak sabar.
"Gimana dengan ibumu Rain? Aku takut di labrak sama ibumu Rain!" ucap suara Kanyafe dengan sedikit bergetar.
"Itu semua takkan aku biarkan, aku ada disini kalaupun ibuku mengusir aku, aku tak perduli karena aku mencintaimu dengan sepenuh hati dan pikiran, please jangan tinggalkan aku demi apapun itu Kanya!" Ucap Rain sambil tersenyum sedih.
"Aku mengerti Rain, tetapi kita jangan gegabah dan terburu buru kita harus menyusun sebuah rencana yang bagus agar ibumu mau melepaskan Jeanne" Ucap Kanyafe lagi sambil tersenyum lebar.
"Iya boleh juga tetapi apa rencanaku Kanyafe?" ucap Rain pada Kanyafe lagi.
"Aku punya ide, sini aku bisikkan di telingamu biar kamu paham maksud dari bisikkanku ini Rain" ucap Kanyafe sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Rain dan membisikkan sesuatu kepada Rain.
"Hmm, ide yang bagus!" ucap Rain pada Kanyafe lagi.
"Baiklah kita tunggu dan lihat hasil akhirnya agar kita tidak perlu khawatir lagi tentang hubungan kita ini, dan juga semoga ibuku juga mau menerima dan memberikan restu pada hubungan kita ini" ucap Rain panjang lebar.
"Setidaknya aku sudah berusaha menjadi yang terbaik di hati calon ibu mertuaku ya" ucap Kanyafe lagi.
"Kanyafe aku ingin kamu mendapatkan restu dari ibuku untuk itu apapun yang kamu mau aku bantu kamu agar kita memperlancar agenda kita yang masih tertunda saat ini "
** Next ya Readers **