Kanyafe

Kanyafe
** Wajah itu **



"Sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita itu tapi entah kapan dan dimana aku merasa wanita itu tidak asing bagiku." Gumam Robson dalam hatinya.


"Dan kau gadis kecil apa yang kau tunggu di tempat ini?" tanya Robson pada Kanyafe yang duduk tepat dihadapannya.


"Apa penting aku mengatakannya?" ujar Kanyafe cuek.


Dan pria itu pun terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu.


"Wajah ini sungguh membuatku berpikir, entah mengapa aku merasa wajah ini sangat familiar sekali denganku, tapi kapan dan dimana aku bertemu gadis kecil yang duduk tepat di hadapanku ini ya?" gumam Robson dalam hatinya lagi.


Ia berpikir dengan sangat keras, karena ia seperti melihat bayangan masa lalu dimana ia bertemu dengan Tiara istrinya itu.


"Ya betul, wajah itu persis seperti Tiara istriku, aku yakin pasti ini semua ada hubungannya dengan masa lalu aku, tapi apa yang harus aku lakukan untuk saat ini?"tanya hati Robson.


"Aku merasa berdosa, aku merasa bersalah tatkala aku membuang anak gadisku, putri sematawayangku saat itu, dan aku dengan egoisku tak pernah ingin memiliki anak gadisku itu, seharusnya aku tidak melakukan hal itu terhadapnya saking bencinya aku pada ibunya aku pun meluapkan segala kesalku pada bayi kecilku itu," Robson mengenang masa lalunya.


Aku merasa anak yang ada di depanku ini adalah darah dagingku yang sudah lama aku lupakan, aku memang egois dan tidak mau mengalah.


Dalam hidupku yang bergelimang harta aku lupa kalau aku pernah memiliki seorang bayi perempuan yang cantik.


Tapi kemudian aku berhasil rujuk kembali dengan Tiara istriku ibu dari Kanyafe putri kecilku saat itu, dan karena kami pun hidup bahagia tanpa Kanyafe putri kecilku yang ku tinggalkan di bumi Pertiwi ini hingga kini aku tidak mengetahui keberadaannya.


Itulah kebodohan terbesarku yang telah membuat aku kehilangan bayi kecilku, putri semata wayang aku.


Tanpa Kanyafe sadari, Pria itu telah memotret dirinya dari jarak dekat tanpa ada yang tahu.


"Hmm, ada apa dengan pria separuh baya ini, kenapa dia tidak segera pergi saja dari hadapan aku?" gumam Kanyafe yang masih terlihat sedikit heran dengan keberadaan pria setengah baya itu.


Terlihat pria itu menelepon seseorang dan dari cara berbicaranya sepertinya ia menelepon kekasihnya, karena ia terlihat sangat bahagia.


Pria itu masih terlihat sedang menelepon, entah apa yang mereka bicarakan aku lebih memilih untuk diam.


**


Gadis cantik ini sangat familiar sekali tetapi kenapa aku sama sekali tak mengingatnya?


Kenapa aku merasa sangat mengenal gadis itu, entah apa yang terjadi padaku sampai aku tak mengenalinya.


Gadis itu mirip dengan Tiara isteriku, tapi apa benar anak gadis kecil kami yang kami titipkan pada pembantu rumah tangga kami saat itu masih hidup? Aku rasa ada sesuatu yang salah dari masa lalu kami.


Tapi saat aku menelepon Art kami itu dia mengatakan kalau anakku sudah meninggal tetapi gadis di depan mataku ini mengingatkan aku pada istriku Tiara yang berada jauh di mataku.


Kami masih saling kontak, kami selalu bersama sama hingga kini, karena memang aku tak pernah berniat menceraikannya, dia adalah wanita terindah yang pernah kumiliki sekarang dan selamanya.


Kami rujuk kembali setelah kami meninggalkan Puteri pertama kami di pulau ini, setelah sekian lama akhirnya kami pun kembali ke pulau ini dimana kami pernah hidup bahagia bersama di masa lalu.


Aku seperti melihat Puteri kecilku, tetapi aku tak tahu harus mencarinya kemana, kalau pun ia sudah tiada setidaknya aku bisa berziarah ke makamnya, aku ingin mengakui semua kesalahanku yang pernah aku buat padanya yaitu meninggalkannya demi keluargaku yang penuh keegoisan.


Setelah lama berpikir akhirnya aku beranikan diriku untuk bertanya gadis kecil yang tak jauh duduknya dariku itu.


"Siapa namamu gadis kecil?" ku beranikan diri untuk bertanya pada gadis kecil yang sementara duduk sambil memainkan ponselnya itu.


"Aku hanya ingin tahu namamu saja apa susahnya cuma memberitahu nama saja," ucapku sedikit memaksa.


"Untuk apa anda menanyakan namaku?" tanya gadis itu lagi.


"Siapa tahu kita bertemu lagi di lain waktu kan aku bisa memanggil namamu biar gak asing seperti ini padahal kita sudah bertemu berulang kali lho?" ucapku sambil tersenyum tipis.


"Maaf deh, aku gak bisa memberitahu orang asing siapa namaku aku takut diteror," ucap Kanyafe masih jual mahal.


"Siapa juga yang mau meneror gadis bau kencur seperti kamu?" ucapku kesal.


"Eh, kok malah nyolot sih?" ucap gadis itu lagi.


"Siapa yang nyolot?" aku balik bertanya.


"Ada setan' yang nyolot, emang dari tadi aku ngomong sama setan ya?" ucap Kanyafe lagi.


"Di tanyain baik baik gak mau jawab, emang kamu pikir siapa dirimu?" ucapku semakin kesal saja.


"Lho kok emosi sih Bapak ini? Saya kan gak ngajak ribut?" ucap Kanyafe lagi dan hendak berdiri tetapi di tahan oleh Robson.


"Saya hanya ingin tahu siapa nama kamu dan saya gak akan teror kamu seperti yang kamu bilang tadi," Ucap Robson meremas tangan Kanyafe dengan kuat.


"Lepaskan tanganku!" ucap Kanyafe lirih.


"Aku gak akan lepas sebelum kamu memberi tahu siapa namamu?" ucapku semakin emosi.


Dan tiba tiba semua bodyguard aku sudah berdiri membentuk lingkaran dan melingkari aku dan gadis kecil ini.


Aku sangat pemaksa, dan sifat ku itu sudah lama menghilang tetapi hari ini sifat asliku itu muncul lagi karena gadis kecil ini.


"Lho kok jadi begini?" tanya Kanyafe pada pria itu yang tak lain adalah Ayah kandungnya sendiri.


"Aku akan memaksa kamu bagaimana pun caranya karena wajahmu itu mengingatkan aku pada seseorang yang spesial di hatiku,'' ucap Robson lagi.


"Tapi ak..." ucapan Kanyafe menggantung kaet Robson sudah menampar pipinya.


"Aku gak mau dengar penolakan, kenapa kamu sangat keras kepala hahhh? kamu pikir siapa kamu berani membantah perintahku?" Robson berbicara dengan nada tinggi membuat nyali Kanyafe jadi ciut.


"Kamu tahu gak hatiku sakit hingga kini karena tidak tahu keberadaan anak aku, makanya aku ingin sekali mengetahui nama kamu karena aku yakin sekali kamu anak aku!" ujar Robson melunak.


"Ya tapi bukan begini cara anda bertanya siapa namaku dengan paksaan seperti ini," ucap Kanyafe sambil menghapus air bening yang mengalir deras di pipinya.


Robson sangat emosi dengan kesabaran yang hampir habis ia pun memerintah bodyguardnya untuk membawa Kanyafe pergi ke Villa mereka yang berada di tengah hutan Pinus yang sangat menyeramkan dan tidak ada bangunan apapun disana selain villa rahasia milik Robson.


** Next **


Tolong di like, komentar dan vote ya teman temanku 🙏🙏 biar Author rajin mengupdate bab berikutnya.


Thanks ❤️💙