
"Maafkanlah kami Nak!" ucap Wanita setengah baya yang masih kelihatan cantiknya walaupun usianya tidak lagi muda.
"Kami sangat menyesal dengan tindakan yang telah kami lakukan padamu Nak, kami tidak tahu harus bagaimana agar kamu bisa memaafkan kami!" ucap Tiara sambil memegang erat tangan Kanyafe.
"Kanyafe!!" ucap suara bariton dari seorang pria setengah baya yang muncul secara tiba tiba dan meraih tangan Kanyafe dengan lembutnya ia mencium kening Kanyafe sambil menangis.
"Maafkan Papa ya Nak? Papa memang bukan seorang pria yang yang bertanggung jawab untuk anak dan istrinya, Papa adalah pria yang jahat yang tega melukai putrinya sendiri.
Setelah mereka mengakui bahwa Robson adalah ayah dari Kanyafe, mereka bertiga pun saling tatap dan saling memeluk satu sama lain, sehingga hubungan emosional yang begitu lama terpendam muncul lagi dan kembali menyatukan mereka sekeluarga.
Ketika lagi asyik asyiknya bercerita tentang kehidupan yang telah mereka lalui selama ini tiba tiba ponsel Kanyafe berdering dengan nyaring di balik waist bagnya Robson.
Dengan secepat kilat Robson pun mengambil ponsel itu dan memberikannya pada Kanyafe.
"Ini ponselmu Nak!" ucap Robson sambil meraih tangan mungil milik anaknya itu.
"Terima kasih telah hadir dalam kehidupan Papa dan Mama Tiara semoga kedepannya keluarga kita semakin akrab dan harmonis seperti keluarga idaman semua orang ya Nak?" ucap Robson sambil mendaratkan sebuah ciuman sayang pada kening perempuan kecil yang sudah benar benar diketahuinya kalau Kanyafe adalah putri kecilnya dulu.
Kanyafe pun dipeluk erat oleh Robson dan Tiara, Robson terlihat sangat menyesal karena telah memperlakukan anak perempuan mereka yang sudah mereka tinggalkan bertahun tahun lamanya dengan tidak bagus.
Mereka pun memanggil Dokter pribadi mereka untuk memeriksa dan mengobati Kanyafe.
**
Rain
Sudah beberapa hari ini Rain kurang istirahat, Rain selalu mengigau menyebutkan nama Kanyafe secara berulang ulang.
Rain terlihat sangat kurus dan tak terurus, kumisnya semakin panjang dan brewok membuat wajahnya semakin menakutkan.
"Rain, sampai kapan kamu akan menunggu gadis yang tak tahu diuntung itu, kamu hanya menyiksa dirimu saja Nak,"ucap Mamanya Rain yamg paling tidak suka dengan hubungan antara putranya dan Kanyafe.
"Please Mam jangan sering memarahi Kanyafe, Mama gak tahu betapa sayangnya Rain pada gadis itu, dia gak seperti yang Mama pikir, dua gak pernah meminta uang pada Rain sepeserpun, kadang Rain malu pada diri sendiri karena Rain tak mampu menjadi pria sejati yang bisa melindungi wanitanya." ucap Rain gusar.
"Rain akan mencarinya, Rain yakin cinta ini akan mempertemukan kembali pada pemiliknya aku sangat yakin itu."Titah Rain pada dirinya sendiri.
"Rain bukannya Mama sudah pernah bilang kalau Mama gak akan pernah menyetujui hubungan kalian? Seharusnya kamu sadar Nak, dia bukan gadis yang cocok denganmu dia itu hanyalah seorang gadis biasa yang ingin mengambil keuntungan dari dirimu yang polos ini Rain,"ucap Mamanya lagi seakan tak ada sedikitpun cela kebaikan dari Kanyafe.
"Itu menurut Mama, tapi kalau menurut Rain beda mama, Cinta itu tidak boleh dipaksakan karena cinta itu datangnya dari lubuk hati yang paling dalam bukan paksaan semata demi tercapainya suatu keinginan sepihak dari lawan jenis kita, Kau gak mau dijodohkan dengan siapapun karena hatiku hanya untuk Kanyafe, hanya Kanyafe yang mampu membuat hidupku berwarna. Dan aku bahagia bersamanya aku yakin dia adalah pilihan yang paling tepat yang Tuhan titipkan untuk aku jaga, lindungi dan cintai " ucap Rain tetap kekeuh mempertahankan pandangannya.