Kanyafe

Kanyafe
** Di culik **



Dengan rasa geram Bodyguard Robson memberikan obat bius pada gadis itu sehingga ia pun pingsan seketika.


"Kamu tahu gak gadis kecil dan angkuh, aku bisa membuat dirimu takluk dan takut melihatku yang sebenarnya," gumam Robson pada dirinya sendiri.


Aku bisa saja menghancurkan kamu dalam sekejap tetapi aku masih punya hati karena aku juga punya seorang anak gadis yang hilang entah dimana itulah yang membuat aku bersedia untuk memberi kamu waktu lagi.


"Boss gadis itu sudah kami ikat di kayu tempat biasa Boss, apa yang harus kami lakukan lagi?" ucap pria berbadan besar itu sambil mengusap wajahnya yang kasar


"Tunggu perintah saya, biarkan dia sadar dulu saya akan menginterogasinya lagi," ucap Robson lagi.


"Kalian boleh pergi!" ucap Robson pada bodyguardnya itu.


Kanyafe menggeliat dan merasa kaget ketika membuka matanya dan melihat sekelilingnya ternyata dia di ikat di sebuah kayu tempat penyiksaan di sebuah ruang kecil yang pengap.


"Ya Tuhan semoga penyakit yang ku derita tidak kambuh, di tempat seperti ini aku sangat takut" gumam Kanyafe lagi.


Suara derap langkah kaki mendekat ke arah ia di ikat.


"Siapa itu?" gumam Kanyafe dalam hati.


Krek...pintu terbuka dan masuklah pria itu membawa segelas air putih dan sepiring nasi dan juga sepotong udang serta daging ayam.


"Makan dulu gadis kecil, supaya kamu punya tenaga untuk menghadapi masalah berikutnya," ujar Robson mendekati Kanyafe.


Gadis itu hanya diam tak bergeming sedikitpun, ia merasa sangat haus tetapi ditahannya.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu kan?" ucap pria itu lagi.


"Aku gak suka di bantah, semakin kamu membantah semakin aku naik darah!" ucap Robson dengan sangat pelan.


Tiba tiba ponsel Robson bergetar.


"Halo sayang, apa kamu merindukan aku?" ucap suara itu dari jauh.


"Iya sayang, aku mengharapkan kamu bisa hadir melihat pertunjukan aku yang sangat sempurna ini di villa rahasia kita," ucap Robson pada wanita di seberang sana yang tak lain adalah Tiara sang istri tercintanya.


"Baiklah aku akan segera kesana 10 menit aku sampai, ok sayang love you!" ucap Tiara.


"Love you too my darling," balas Robson pada istrinya itu.


"Tuh kamu barusan dengar kan, aku gak akan pernah melakukan apapun sendiri padamu aku akan mengajak istriku tercinta menikmati setiap moment siksaan yang akan kamu alami" ucap Robson sambil memegang dagu Kanyafe.


Sebelum istrinya datang ia dengan santainya duduk di depan Kanyafe sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Kamu mau merokok juga?" tanya Robson pada gadis kecil itu.


"Maaf aku tidak bisa merokok aku juga punya riwayat penyakit asma dan aku mohon tuan lepaskan aku, pasti ibu aku sudah mencariku, please Tuan lepaskan aku!" ucap Kanyafe memohon pada Robson.


"Apa?? lepaskan kamu begitu saja?? apa yang akan aku dapat setelah melepaskan kamu??" ucap Robson lagi.


"Aku akan membantu anda untuk mencari anak tuan!" ucap Kanyafe pada Robson.


"Apa kamu bilang?" Robson balik bertanya.


"Iya aku akan membantu tuan mencari anak tuan!" ucap Kanyafe mengulang jawabannya.


"Apa kamu tahu anakku?" Robson bertanya lagi.


"Aku punya teman yang bisa melacak orang hilang !" ucap Kanyafe berbohong.


"Jangan pernah kau coba membohongi aku!" ucap Robson dan tiba tiba emosinya memuncak dan langsung di tamparnya Kanyafe di pipi mulus itu.


"Aku sudah bilang jangan berbohong, karena aku tahu isi kepalamu itu perempuan kecil," ucap Robson sambil tersenyum sinis dan memukul lagi kepala Kanyafe pada tiang kayu itu lagi.


"Tuan lepaskan saya!" ucap Kanyafe memelas.


Tiba tiba pintu terbuka dan masuklah seorang wanita setengah baya yang sangat cantik, padahal dandanannya sangat sederhana.


Wanita setengah baya itu kaget bukan main, Karena ia melihat gambaran wajah dirinya ada pada wajah gadis yang diikat oleh suaminya itu.


"Nak, siapa namamu!" ucap Tiara pada Kanyafe dengan suara lembut.


Merasa kalau ada suara wanita yang lembut , Kanyafe pun langsung menjawab " Namaku Kanyafe Nyonya!" ucap Kanyafe pada Tiara alias ibunya itu.


"Apa nama kamu Kanyafe?" ujar Tiara dengan suara agak keras.


"Kenapa kamu memakai nama anakku, kenapa?" ujar Tiara tidak percaya.


"Kenapa?" Tiara berteriak dengan suara keras, dan Robson hanya duduk sambil menonton adegan itu.


"Benar Nyonya namaku Kanyafe aku tidak bohong Nyonya!" ucap Kanyafe sambil mencoba berdiri tapi langsung di dorong oleh Tiara sampai Kanyafe jatuh tersungkur lagi.


"Benar Nyonya namaku Kanyafe!" ucap Kanyafe lagi.


"Pembohong anak aku sudah mati saat umur 6 tahun dan kamu mengakui kalau kamu itu anakku mimpi kamu jangan ketinggian ya nanti sakit saat kamu terjatuh!" ucap Tiara langsung memukul Kanyafe dengan sebuah ranting pohon asam yang sengaja dibawanya saat kemari tadi.


Dengan emosi yang memuncak Tiara memukul Kanyafe dengan ranting kayu asam itu yang sakitnya tiada duanya.


"Sekali lagi aku bertanya padamu, siapa nama kamu Nak?" ucap Tiara lagi.


Kanyafe hanya terdiam tanpa kata, wajahnya sudah membiru, dan pipinya ada luka gores dan bekas tangan yang menampar pipinya tadi.


Dengan penuh amarah Tiara memukul Kanyafe yang hanya diam saja dan Tiara terus memukul sampai Kanyafe memuntahkan cairan merah segar dari mulutnya.


Wajah Kanyafe sudah babak belur, akhirnya Robson turun tangan.


"Sudahlah sayang apa yang kamu lakukan itu salah, seharusnya kamu lebih lembut lagi jangan terbawa emosi, kalau benar dia anakmu apa yang akan kamu katakan padanya setelah kamu memukulnya dengan membabi buta seperti ini sayang?" ucap Robson lagi sambil membuka kancing baju Kanyafe dan ia melihat tanda lahir itu.


Tanda lahir putrinya saat pertama kali ia menggendongnya ia melihat ada sebuah tanda lahir berbentuk love di bagian bawah ketiaknya.


Robson langsung kaku melihat pemandangan itu.


"Anakku, apa yang telah kulakukan padamu anakku?" ucap Robson sambil memeluk Kanyafe dan dengan cepat membuka tali yang mengikat kedua tangan Kanyafe.


Istrinya pun kaget dengan pemandangan yang ia lihat.


"Suamiku apa benar dia adalah putri kita? rasanya sakit hatiku melihat apa yang sudah aku lakukan padanya?" ujar Tiara pada suaminya.


Dengan susah payah ia pun mengambil air hangat dan mengompres luka luka yang ada pada sudut bibir Kanyafe.


Ia pun mengganti baju Kanyafe dengan sangat hati hati, kemudian ia memandangi suaminya dan berkata " Suamiku cepat panggil Dokter agar memeriksa putri kita, ini adalah kesalahan kita yang tidak bisa dimaafkan!" ucap Tiara lagi.


"Nggak apa apa Bu aku sudah memaafkan kesalahan yang sudah kalian lakukan padaku," ucap Kanyafe pelan.


** Next **


Tolong di like komentar dan vote ya teman temanku 🙏💙


Thanks 🙏💙