
Lelaki itu menyeruput kopi hitam dan mengepulkan asap rokok yang sedari tadi di hisapnya.
Hisapan demi hisapan dan seruput demi seruput, akhirnya segelas kopi tubruk itu pun ludes.
"Kamu tahu gak kalau aku lagi galau, menghadapi orang sendiri yang menganggapku orang asing, yang melihatku seperti monster yang melihatku seperti alien dan bahkan mereka semua tidak tahu menahu soal hidupku, aku seperti orang buangan yang terlunta lunta seperti kaktus yang tumbuh di Padang gurun yang luas.
"Rain, tinggalkan aku! Aku ingin sendiri dan tidak ingin ada yang mengganggu pandanganku, Please! Pergi dari hadapanku apapun alasanmu aku tak ingin mengetahuinya."Usir gadis itu pada Pria yang duduk di sampingnya itu.
"Kanyafe!" Kamu tahu siapa aku kan, aku tak suka dibantah, aku ingin kamu ikut denganku kemanapun aku pergi karena aku tahu kamu melakukan semua ini karena kamu percaya padaku ya kan?" Ucap Rain percaya diri.
"Cintailah Cinta, selagi cinta itu masih ada pilihan untuk tetap bertahan atau pergi dari sisi cinta itu! Aku harap kamu mengerti keadaanku saat ini Kanyafe!"Ucap Rain sambil terus menggenggam erat tangan Kanyafe seakan ia tahu Gadis itu akan segera kembali ke negara asalnya.
"Rain! Aku harap suatu saat nanti apabila kita ditakdirkan untuk bertemu aku hanya ingin kamu tahu bahwa hatiku sebenarnya ingin sekali memeluk dirimu, merajut benang benang cinta bersamamu, menjaga hatimu yang sangat penting untukku, Aku akui aku hanyalah wanita asing yang terdampar di pulau ini yang tak penting untuk kau ingat!" Ucap Kanyafe sambil tersenyum kecut.
"Kanyafe! Aku tak ingin melepaskan dirimu walau sedetik saja, kamu tahu kenapa? Karena aku sungguh sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku, walau kau menolak setiap nafas cinta yang ku beri tetapi aku tak patah arah aku akan berjuang demi mendapatkan cintamu itu!"Ucap Rain seperti orang kerasukan setan saja.
"Rain! Cinta itu tak harus memiliki, walaupun kamu berjuang sampai titik darah penghabisan tetapi yang namanya cinta tak bisa dipaksakan, karena cinta itu sendiri adalah sebuah kebahagiaan, kalau kamu ingin bahagia lepaskan apa yang menjadi cintamu biarkan dia pergi berlalu bersama cinta yang diidamkannya"Ucap Kanyafe sambil memeluk lututnya.
"Cinta! Apakah aku sudah mencintai dengan caraku yang benar? Ataukah aku hanya terobsesi sesaat oleh pandanganku yang subjektif? Ah, cinta memang bodoh Aku tak yakin dengan perasaanku ini"Jujur Rain sambil meraih lentik jemari Kanyafe wanita asing yang dia sebut ratu hatinya.
"Rain!! Lepaskan segala yang menjadi tekanan dalam jiwamu, aku yakin dalam relung hatimu yang terdalam kamu masih ingin hidup bebas sebebas-bebasnya seperti burung di udara dan ikan di laut, kamu tahu Rain mencintai seseorang itu butuh pengorbanan, butuh waktu butuh semuanya yang menjadi pendukung hati yang rapuh seperti hatiku ini, aku takkan bisa berdiri sendiri tanpa ada yang menopang aku dan orang yang selalu menopang aku adalah ibu dan ayahku, jadi kalau kamu mengatakan bahwa cintamu padaku 100% itu bohong, karena aku tahu dan ini seperti pengalamanku sendiri, sebelum engkau mencintai orang lain, cintailah dulu dirimu sendiri, kemudian mencintai kedua orang tuamu baru bisa engkau mencintai pasanganmu atau orang lain" Ucap Kanyafe mantap.
"Hei, apa yang kamu ketahui tentang cinta? Jangan hanya mengetahui secuil saja terus kamu mau mengajariku bagaimana memperlakukan Cinta? Aneh tapi nyata, aku tak berharap lebih darimu Kanyafe aku hanya berharap cintailah orang yang benar benar mencintaimu bukan orang yang hanya karena kepentingan belaka"Ujar Rain meraih jemari tangan Kanyafe.
"Kanyafe!!" Panggil Rain lirih.
"Iya Rain ada apa!!"Kanyafe balik bertanya.
"Ah, kira kira tiga bulan yang lalu belum lama ini, tetapi aku benar benar beruntung karena rambutku ini sungguh sangat panjang dalam waktu tiga bulan, padahal orang lain memanjangkan rambutnya butuh waktu sampai setahun loh Rain!!" Ucap Kanyafe seakan tak pernah mau ada orang lain yang lebih dari dirinya.
"Pria berkacamata tadi itu siapanya kamu Kanyafe? Aku penasaran ingin tahu siapa dia? Kenapa dia terlalu over protective pada dirimu?" Tanya Rain menunjukkan rasa cemburunya.
"Oo, Pria tadi itu kan sepupu aku Rain, kamu cemburu ya padahal tadi sempat ia menanyakan dirimu loh Rain!!" Ucap Kanyafe mencoba mengalihkan pembicaraan antara dirinya dan juga diri Rain, pria kaya yang sangat sederhana itu.
"Ntar malam kita hang out ya, biar sekalian potong rambutmu Kanyafe!!" ucap Rain seakan tahu betapa hati Kanyafe sangat berat merawat anak anaknya yang masih balita itu.
Kanyafe adalah seorang wanita muda yang entah muncul dari dunia mana, ia seperti seekor rubah putih berekor sembilan yang nyasar salah ke dunia manusia, sedangkan Rain adalah seorang CEO yang sangat kaya raya dan sangat perhatian dengan keadaan Kanyafe yang menurutnya sangat eksotis banget.
"Kanyafe apakah anak anak yang tinggal bersama kamu itu adalah anak anak yang kamu lahirkan dulu ataukah kamu bukanlah ibu kandung dari anak anak itu" Ucap Rain terbata bata karena ia mengantuk dan juga lapar.
"Mereka adalah anak anak yang aku pungut di jalanan, kamu tahu gak betapa kerasnya hidup ini sampai sampai orang tua mereka tidak mau mengakui bahwa mereka adalah anak anaknya, aku yakin pasti pria yang menghamili wanita itu bukanlah pria yang bertanggung jawab sehingga ia hanya mau tahu menikmati saja tanpa memikirkan masa depan anak anak dan wanita yang sudah dia buang di jalanan itu."Ucap Kanyafe sedih.
"Kanyafe !! Itulah hidup, siapa yang kuat dialah yang akan menjadi pemenangnya dan begitu pula sebaliknya siapa yang lemah ia yang akan meratapinya" Ucap Rain menghibur Kanyafe wanita asing yang hidup terlunta lunta di negara +62 ini.
"Rain, aku dan kamu sungguh berbeda kita itu seperti bumi dan langit, kamu kaya sedangkan aku miskin tetapi walaupun begitu aku bangga memilikimu karena kamu seorang CEO yang tampan dan kaya tetapi kamu tetap rendah hati dan tetap membantu sesama aku suka kamu yang sekarang ini, dan aku harap kamu akan terus membawa cara ini sampai akhir hayatmu nanti Rain" Gumam Kanyafe sambil tersenyum tipis.
"Aishhh, asalkan kamu mau hidup denganku merajut benang benang cinta kita aku akan tetap setia menemanimu sampai akhir hidupku" Ucap Kanyafe mantap.
"Apa kau yakin dengan kata katamu Kanyafe?"Gumam Rain sambil menatap wajah cantik Kanyafe, sehingga membuat Kanyafe menjadi malu dengan tatapan mata Rain.
** Next **