
Setelah mereka berbincang bincang santai, akhirnya Kanyafe memutuskan untuk tetap berada di Indonesia, ia akan kembali ke negara asalnya setelah menikah dengan Rain.
"Kanyafe!!" Seru Rain sambil mengucek mata kirinya.
"Iya Rain, ada apa?"
"Suatu hari kalau aku melakukan kesalahan apakah kamu akan memarahiku?" Tanya Kanyafe pada Rain.
"Tergantung masalahnya apa?masa masalah yang ringan pun aku harus marah, aku hanya akan marah apabila kamu selingkuh dariku Kanyafe"Ucap Rain sambil membelai rambut Kanyafe.
"Tapi Rain bagaimana mungkin kita bersama kalau sekarang kamu sudah bertunangan?" Ucap Kanyafe lagi sambil tersenyum getir.
"Itu hanya sebuah perjodohan dari orang tuaku, aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak, berjalannya waktu apabila dari pihak tunanganku berbuat masalah aku akan mendepaknya dari hadapanku karena aku tahu semua sisi baik dan sisi buruknya tunanganku itu, ia hanya memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan warisan orangtuaku saja, aku paham betul sifatnya Karena kami sudah bersama sejak masih kecil, bermain bersama hingga kini, sebenarnya aku hanya menganggapnya sebagai seorang adik tetapi orang tua kami tidak mengerti keadaan yang kami alami"Ucap Rain menggebu gebu.
"Aku harap kamu mau menungguku, aku sangat ingin hidup bersamamu Kanyafe"Ucap Rain sungguh sungguh.
"Aku tak bisa berharap lebih dari itu sebelum semua yang kamu ucapkan jelas di mataku, karena kebanyakan orang janji yang gak pasti hanya manis di awalnya saja akhirnya sangatlah menyedihkan"Ucap Kanyafe seakan mampu menerawang apa yang akan dialaminya di masa depan.
"Kanyafe hari ini sampai disini dulu ya, aku ada meeting dengan klien nanti malam jam 8 di hotel "S" Aku akan menghadirinya, kalau kamu gak keberatan aku akan membawamu serta untuk mengikuti meeting itu, mungkin kamu hoki aku kita gak tahu kan?" ucap Rain seakan mempertaruhkan Kanyafe untuk meeting perjanjian nanti malam.
"Maaf Rain, aku gak bisa mungkin lain kali deh baru aku ikut meeting sekarang aku mau beres beres kamarku dulu nih lihat berantakan sekali apartemenku ini Rain, aku harap kamu tidak keberatan!" Ucap Kanyafe pada Rain.
"Ya sudah kalau itu yang kamu mau aku gak bisa paksa itu adalah hak asasi manusia"ucap Rain meraih jari tangan Kanyafe dan mengecup punggung tangan itu.
"Aku berangkat dulu ya, doakan aku semoga sukses dalam mendapatkan tender proyek kali ini" Ucap Rain sambil tersenyum tipis dan mengecup kening Kanyafe kemudian mengambil jas hitamnya dan pergi dari hadapan Kanyafe.
Sesampainya di luar apartemen itu ia pun melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya itu sambil tersenyum.
"Kanyafe, Kanyafe kamu gadis yang luar biasa yang pernah aku temui. Selama ini banyak gadis yang mengincarku karena melihat kekayaan yang aku miliki, sedangkan kamu benar benar polos dan tulus tanpa melihat kekayaan yang aku miliki" Gumam Rain sambil tersenyum sendiri.
**
Kanyafe bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk melihat isi kulkasnya apakah masih ada harapan untuk memasak makan malam kali ini ataukah semua harapan telah pupus?
"Aku akan memasak apapun yang ada dalam kulkas ini!"Ujar Kanyafe pada dirinya sendiri.
Setelah semua hidangan siap dimakan, ia pun mulai menikmati makanan hasil masakannya.
Selesai makan, ia pun membereskan semua piring bekas makannya dan mencuci sampai bersih kemudian mengepel dalam kamarnya, dan semua perabotan rumah dibersihkan.
Tiba tiba ponselnya berdering dan ia pun melihat layar ponselnya itu ternyata Rain meneleponnya.
" Hallo ? ada apa Rain? Tanya Kanyafe pada Rain via ponselnya itu.
"I Miss you darling!" ucap Rain tiba tiba memecah kesunyian.
"I Miss you too darling"Balas Kanyafe pada Rain.
"Rain, sampe kapan kamu akan terus menyembunyikan aku seperti ini aku harap tak lama lagi aku mendengar sendiri dari mulutmu bahwa kamu akan segera melamar aku karena aku tak ingin diduakan, walaupun kita belum sah secara agama dan negara"Ucap Kanyafe sambil tersenyum tipis dan memeluk bantal guling yang ada disampingnya itu.
Kanyafe adalah seorang gadis cantik hasil perkawinan silang bule Thailand blasteran Indonesia dan Bule Australia Blasteran Indonesia , Mereka dulu tinggal di Pulau Bali tapi berjalannya waktu ketika Kanyafe berusia 5 tahun kedua orang tuanya memilih untuk pisah dan akhirnya mereka pergi entah kemana dan meninggalkan Kanyafe pada bibi pembantu mereka yang tinggal di pulau Bali.
Kanyafe gadis cantik dan sederhana, ia tak pernah menuntut orangtua angkatnya untuk memenuhi segala kebutuhan dirinya, apapun pekerjaannya kalau halal pasti ia kerjakan.
Bibi yang mengasuhnya adalah seorang wanita pekerja keras, yang membanting tulang setiap hari di sawah sawah milik orang kaya, mencuci baju dari rumah ke rumah dan menyetrika baju dari rumah ke rumah tetapi ia tidak pernah menyerah karena baginya Kanyafe lebih penting dari pada apapun.
Nama Bibi yang mengurus dan mengasuh Kanyafe adalah Bik Inah, Bibik Inah sangat menyayangi Kanyafe apapun yang Kanyafe minta pasti selalu dituruti oleh Bik Inah, Kanyafe gadis yang baik dan pintar, ia mendapat beasiswa prestasi saat masuk SMP sampai SMA, kemudian sekarang sudah kuliah sambil kerja masih mendapat beasiswa.
Kanyafe cepat tanggap dengan keadaan sekelilingnya, ia tak pernah sombong dan iri hati ia benar benar gambaran gadis yang baik, cantik, smart dan apa adanya, kalau ada temannya yang kesusahan pasti selalu dibantu sebisa mungkin.
**
Dering ponsel Kanyafe berbunyi...
"Hallo Kanya, apa kabarmu?" Sapa sebuah suara perempuan dari seberang sana.
"Lily i Miss you, kapan kamu datang melihatku disini aku sudah sekarat merindukan dirimu!" ucap Kanyafe pada sahabatnya yang bernama Lily Collins seorang anak blasteran juga tetapi kedua orangtuanya tetap utuh bukan seperti yang dialami oleh Kanyafe.
"Kanya, maafkan aku bukannya aku tak merindukan dirimu tetapi akhir akhir ini tugas kuliahku sangat banyak sehingga aku belum ada waktu untuk menjenguk dirimu disana?" ucap Kanyafe sambil tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
"Lily ! salam rindu buat daddy dan mami kamu ya, kelak aku punya waktu liburan yang panjang aku akan berkunjung ke rumahmu" ucap Kanyafe lagi.
"Ya aku tunggu dirimu ya, ingat jangan sampai telat makan jaga kesehatanmu dan jangan lupa selalu berdoa ya sahabatku yang cantik!" ucap Lily Collins sambil memutuskan hubungan ponselnya.
"Bye bye Lily I Miss you more!!" ucap Kanyafe menutup teleponnya.