Kanyafe

Kanyafe
** Berusaha move on **



**


"Tok...tok...tok... Permisi Kanya? Apakah kamu didalam?" Seru Rain saat mengetuk pintu Apartemen Kanyafe.


Karena ingin belajar dengan giat dan berdekatan dengan tempat kerjanya, Kanyafe memilih untuk tinggal di sebuah apartemen kecil, hal itu tak membuat Bibinya marah tetapi malah mendukungnya karena baginya pendidikan Kanyafe lebih penting dari apapun itu.


Lamunan Kanyafe buyar tatkala terdengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Iya sebentar!" Sahut Kanyafe dari dalam kamar itu.


"Kanya, aku datang Kanyafe!" ucap suara itu lagi dari luar pintu apartemen Kanyafe.


"Ceklek" pintu terbuka dan Rain langsung menggendong Kanyafe.


"Akhirnya aku berhasil!" ucap Rain sambil mendudukkan Kanyafe di sofa.


"Ada apa Rain, kok kelihatannya sangat bahagia?" Tanya Kanyafe pada Rain.


Rain sangat menyayangi Kanyafe, saat bertemu Kanyafe Rain selalu mengecup keningnya dan berkata "Tetap jadi Kekasih yang baik untuk Rain ya?" itulah ucapan yang selalu Rain ucapkan untuk Kanyafe.


**


Lain hal dengan Jeanne, untuk saat ini Jeanne benar benar merasa nyaman berada di dekat Robby, kemana mana selalu berdua.


Robby sangat menyayangi Jeanne, tetapi Robby masih ingin mengetahui seberapa kadar cinta Jeanne pada dirinya.


"Maaf Kak Robby Jeanne jujur sama Kak Robby kalau Jeanne sangat merasa nyaman dengan Kak Robby, dan untuk saat ini Jeanne masih belum bisa move on dari Kak Rain tetapi jangan khawatir Jeanne akan berusaha move on dari Kak Rain itu janji Jeanne, karena ada hati yang harus Jeanne jaga dan itu adalah Kak Robby" ucap Jeanne sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Robby.


"Iya sayang Kak Robby ngerti kok, Kak Robby akan memberikan kenyamanan dan cinta untuk kekasih Kak Robby yang cantik dan manis ini" ucap Robby sambil melayangkan sebuah ciuman manis di kening Jeanne.


**


Lain halnya dengan Rain dan Kanyafe, masih pagi pagi buta Rain sudah nongol di apartemen Kanyafe.


Ia tak bisa tenang karena sekarang tidak ada penghalang yang menghalangi hubungannya dengan Kanyafe.


"Kanya, udah bangun belum buka pintunya dong" Ucap Rain sambil menggedor gedor pintu.


"Iya bentar nih masih siap mau ke kampus hari ini ada ulangan" sahut suara dari dalam kamar itu.


"Ceklek..." pintu terbuka dan masuklah Rain di dalam kamar itu.


"Sayang mau kemana pagi pagi begini?" tanya Rain sambil tersenyum.


"Aku ada ulangan pagi Rain, aku harus tiba lebih awal di kampus biar aku dapat tempat duduk di depan karena di belakang itu berisik banget dan itu aku tidak bisa konsentrasi" ucap Kanyafe sambil mengambil tasnya dan memeriksa isi tasnya, setelah semua dirasa lengkap ia pun pamit pada Rain untuk ke kampus.


"Sayang aku antar kamu ya biar cepat sampai dan kamu gak terlambat" ucap Rain sambil menutup pintu apartemen Kanyafe dan bergegas menggandeng tangan Kanyafe dan pergi ke tempat parkir mobilnya.


Selama ini Kanyafe tak pernah diantar oleh Rain ke kampus, Kanyafe sadar karena mereka masih status pacaran dan Kanyafe juga tidak ingin teman temannya tahu kalau ia telah memiliki seorang kekasih yang sangat tampan dan gagah.


Siapapun yang melihat Rain pasti harinya akan meleleh.


Rain itu tipe pria dingin dan penyayang banget, kalau ia berjalan bersama Kanyafe di keramaian ia selalu menggandeng tangan Kanyafe ia tak pernah melepaskan tangan itu sekalipun.


Rain pun membawa Kanyafe ke kampus, kurang 500 meter sampai kampus Kanyafe meminta Rain untuk menurunkannya di tempat yang agak jauh dari kampus agar tak ada yang tahu kalau Kanyafe datang dengan diantar oleh seorang pria tampan dan gagah.


"Sayang, aku harus mengantarkan kamu sampai ke dalam kelas dan aku harus pastikan kamu baik baik saja" ucap Rain sambil membelai rambut Kanyafe.


"Nggak Rain, kamu pulanglah aku gak mau semua orang melihat kita berjalan bersama apalagi kamu seorang Presdir dari group Wings corporation yang terkenal di negara ini, tolong pahami aku Rain aku gak mau jadi berita terhangat pagi ini, bukan berarti aku gak sayang sama kamu justru karena sayang aku sangat besar sama kamu aku ingin kita biasa biasa saja dan tetap menjaga jarak kita." ucap Kanyafe sambil cepat cepat mengecup pipi Rain dan berlalu pergi dari hadapan Rain.


"I love You Kanyafe, I love you more honey" teriak Rain dari dalam mobilnya.


Rain tidak langsung pulang tetapi ia masih berdiri disitu untuk melihat Kanyafe yang sementara berjalan dengan gontai ke halaman kampus itu.


"Hai Kanya, tumben pagi banget?" Tanya Devi yang baru saja turun dari mobilnya. Devi diantar sama sopir pribadinya dan Devi merupakan salah satu teman Kanyafe selain Lily Collins.


"Hai Dev, aku pengen duduk di depan saat ulangan aku gak suka dibelakang soalnya kamu tahu sendiri kan semua anak yang duduk di belakang itu sangat berisik" ucap Kanyafe sambil melangkah mendekati Devi.


"Ayo Dev, kita masuk ke dalam kelas mumpung masih sangat pagi begini" ajak Kanyafe sambil menarik tangan Devi dan mereka akhirnya pergi ke dalam kelas.


"Kamu kesini pakai apa tadi?" Devi bertanya pada Kanyafe.


"Aku diantar kok Dev, sama pacarku pagi pagi sebelum dia ke tempat kerjanya selalu dia sempatkan diri untuk antar aku Dev" jujur Kanyafe pada Devi.


"Aku penasaran deh pengen ketemu sama pacar kamu" ucap Devi lagi.


"Iya nanti aku kenalin ya?" ucap Kanyafe sambil tersenyum.


**


Saat ulangan ternyata soal soal itu semuanya Sudah sering Kanyafe belajar jadi itu bukan sesuatu yang sulit baginya, ia bahkan mengerjakan soal soal ulangan itu dengan teliti dan sangat cepat.


Dalam waktu 10 menit ia telah selesai mengerjakan ulangan dengan baik dan benar.


Setelah selesai ia pun langsung keluar ke kantin karena memang ia sudah sangat lapar, tadi pagi ia gak sempat sarapan karena ingin cepat cepat ke kampus.


Ketika ia masih mengikat tali sepatunya yang terlepas dari arah belakang seseorang sementara sibuk menelepon sehingga tidak memperhatikan jalan di depannya dan tanpa sadar langsung menabrak Kanyafe yang sementara mengikat tali sepatunya itu.


"Aduh, sakit banget!" ucap Kanyafe sambil membersihkan sepatunya yang terinjak dan membuka sepatunya karena kakinya yang terinjak itu sangat sakit karena yang menginjak memakai sepatu boots pria yang berat.


"Maaf, maaf banget aku gak fokus!" ucap Pria itu sambil membantu Kanyafe berdiri dan memapah Kanyafe ke bangku dekat taman bunga di kampus itu.


"Nggak apa apa Mas aku gak apa apa" ucap Kanyafe sambil mencoba duduk di bangku itu.


"Maafkan aku, perkenalkan namaku Bryan Thunder Robson aku buru buru dan tidak fokus sampai menginjak kakimu! Mari aku antar ke rumah sakit ya?" ucap Bryan.


"Nggak apa apa kok Bryan aku baik baik saja" ucap Kanyafe sambil meringis pelan pelan.


Akhirnya Bryan pun mengalah dan memilih untuk duduk di samping Kanyafe.


"Maaf boleh aku tahu namamu?" Tanya Bryan pada Kanyafe.


"Namaku Kanyafe Genoveva Aurora Smith" ucap Kanyafe sambil tersenyum.


"Nama yang cantik secantik orangnya!" ucap Bryan basa basi.


"Makasih Bryan, atas gombalannya maaf aku harus pergi ya aku ada urusan yang harus aku urus!" ucap Kanyafe sambil memaksakan dirinya untuk berdiri padahal kakinya sangat sakit dan lagi pergelangan tangannya pun kebiruan karena kena injakan sepatu Bryan tadi.


Karena melihat Kanyafe baik baik saja akhirnya Bryan pun pergi ke kantin di belakang kampus.


**


Beberapa menit kemudian, taksi online tiba di hadapan Kanyafe, dengan segenap kekuatan yang ia miliki ia pun naik ke atas taksi itu dan ternyata di dalam taksi sudah ada 2 orang penumpang dan mereka tidak saling mengenal satu sama lain karena mereka memang tidak saling mengenal.


Kedua penumpang itu adalah Robby dan Jeanne, kedua sejoli itu terlihat sangat mesra, saling manja membuat mata siapapun yang melihatnya pasti timbul rasa iri hati.


"Sayang, habis dari pantai kita ke mall yuk temani aku belanja sudah lama sekali aku gak belanja" ucap Jeanne manja pada Robby.


"Baiklah apapun maumu hari ini aku temani ya sayang?" ucap Robby menyetujui ajakan Jeanne.


Ketika taksi tiba di depan apartemen Kanyafe, ia pun turun dari taksi dan memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Sopir taksi dan berterima kasih pada sopir taksi.


"Sayang, aku sudah menunggu dirimu disini dari tadi" ucap Rain yang memang sengaja datang ke apartemen Kanyafe hanya untuk memastikan kalau Kanyafe baik baik saja.


"Kamu kenapa pucat gitu? kamu sakit sayang ayo kita ke dokter atau aku panggilkan dokter saja biar dokter memeriksa keadaan kamu.


"Rain tolong gendong aku ke kamar!" ucap Kanyafe pada Rain dan belum sempat di jawab Rain, Kanyafe sudah mulai terjatuh dan dengan cepat Rain menangkapnya sehingga ia tak jatuh langsung ke tanah.


"Sayang!Ada apa denganmu sayang? kamu kenapa? apa yang sakit ? ayo kita ke rumah sakit saja biar kamu di periksa" Rain sangat khawatir melihat keadaan Kanyafe yang memperihatinkan itu.


"Ayo sayang, kita gak bakalan tau kamu sakit apa? untuk itu jangan salahkan aku jika aku memanggil Dokter pribadiku untuk memeriksa keadaan kamu sayang!" ucap Rain sambil mengetik pesan pada dokter Wahyudi.


"Tok...tok...tok..." pintu apartemen Kanyafe di ketuk.


"Aku sudah di depan pintu apartemen yang Tuan maksud"Bunyi notifikasi sebuah pesan masuk ke ponsel Rain.


"Baiklah tunggu aku disitu ya Dokter?" balas Rain lagi.


"Siang Tuan, apa yang harus saya bantu tuan?"tanya Dokter Wahyudi pada Rain.


"Tolong periksa calon istriku Dok," ujar Rain sambil membelai rambut Kanyafe.


Akhirnya Dokter berjalan mendekati Kanyafe dan meletakkan semua alat alat di dekat Kanyafe dan ia pun mulai melakukan pemeriksaan pada Kanyafe.


Ketika Dokter berjalan mendekati Kanyafe tanpa sadar tangannya menyentuh kaki Kanyafe yang sakit dan apa yang terjadi? Kanyafe langsung berteriak keras sambil menangis membuat Rain langsung memeluk nya erat.


"Ada apa sayang,sakit dibagian mana sayang?" Tanya Rain tidak sabar.


"Maafkan aku tuan tanganku menyentuh kakinya yang sakit sehingga ia berteriak"ucap Dokter Wahyudi sambil memeriksa kaki Kanyafe.


Rain pun melepaskan kaus kaki yang dipakai Kanyafe dan betapa kagetnya ia melihat warna kaki Kanyafe memerah dan lecet.


"Siapa yang melakukan ini padamu Kanyafe?" ucap Rain gemetar.


"Maaf aku yang tidak hati hati Rain!"ucap Kanyafe pada Rain.


"Tidak hati hati bagaimana sayang," ucap Rain lagi sambil memegang tangan kiri Kanyafe dan apa yang terjadi pemirsa?


Kanyafe pun meringis kesakitan yang membuat Rain kaget bukan main.


Rain pun menyingkap kemeja lengan panjang milik Rain dan apa yang dilihatnya ia sangat kaget bukan main.


"Siapa yang melakukan ini padamu, jujur padaku sayang? Dokter tolong obati memar di tangan dan di kakinya"ucap Rain dengan emosi sudah di ubun-ubun.


Rain tahu kalau Kanyafe takkan pernah memberitahukan apapun yang terjadi padanya untuk siapapun termasuk Rain kekasihnya itu.


"Kanya, aku tahu kamu gak mau aku terlibat dalam masalah apapun yang kamu hadapi tetapi aku gak bisa melihat orang yang aku cintai terluka seperti ini kamu gak beritahu aku gak apa apa aku akan mencari tahu sendiri, di kampus kamu kan ada CCTV aku pasti akan mengetahuinya karena sebagian saham terbesar di kampusmu adalah sahamku" ucap Rain dalam hati.


"Dokter apa yang harus aku lakukan?" tanya Rain pada Dokter Wahyudi.


"Nggak apa apa tuan muda ini hanya perlu dikompres pakai air hangat saja terus oles salepnya besok juga sembuh Tuan muda!" Jawa Dokter Wahyudi pada Rain.


"Tok...tok...tok..." pintu apartemen Kanyafe di ketuk.


"Siapa ya?"Tanya Rain pada suara ketukan di pintu itu.


"Saya ibunya Kanyafe!" ucap Bik Inah dari luar pintu.


"Mari masuk saja pintunya gak dikunci!" ucap Rain lagi.


"Ceklek" Pintu terbuka dan masuklah seorang wanita setengah baya membawa sebuah tas dan sebuah tas belanja berisi obat obatan herbal yang dipesan Kanyafe.


"Ibu, aku merindukan dirimu Bu!" Seru Kanyafe membuka lebar kedua tangannya.


"Ibu juga merindukan dirimu nak, kamu sakit apa nak?" ucap Bik Inah sambil membelai rambut Kanyafe dan melipat lengan baju Kanyafe sehingga kelihatan sekali tangan putih mulus itu memerah kebiruan.


"Bu, perkenalkan ini pacar Kanyafe Rain! dan ini Dokter Wahyudi yang merawat Kanyafe" ucap Kanyafe memperkenalkan Rain dan Dokter Wahyudi pada Bik Inah.


"Iya sayang ibu masak air panas dan merendam obat obatan ini ya untuk kamu minum dan juga untuk mengompres kaki dan tangan kamu" ucap Bik Inah langsung berjalan ke arah dapur.


"Bu, maafkan saya yang tidak bisa menjaga Kanyafe dengan baik" ucap Rain merasa bersalah pada Bik Inah.


"Gak apa apa nak gak ada yang perlu dimaafkan ini juga kita gak tau kejadiannya gimana, katanya sih di kampus saat Kanya lagi mengikat tali sepatunya dekat kantin, tadi ibu ditelpon sama Devi temannya Kanyafe sejak mereka SMP dulu makanya sudah akrab, walaupun Kanya sering tidak jujur mengatakan apapun yang terjadi padanya tetapi ibu tahu kok karena ada saja yang memberitahukan ibu" ujar Bik Inah pada Rain.


"Bu, maaf ya bukan mau menyinggung ibu tetapi gimana ibu mendidik Kanyafe sampe tertutup begini, kan kita yang susah Bu maaf kalau Rain lancang sama ibu" ucap Rain sopan.


"Gak apa apa Nak Rain, anak itu sebenarnya anak paling terbuka dan ceria tetapi semuanya telah berlalu masa lalunya yang rumit membuat dirinya menjadi tertutup seperti ini, aku menyesal dengan kejadian yang menimpanya sejak berumur 5 tahun" ucap Bik Inah lagi.


"Bu, boleh gak aku mendengar cerita langsung darimu ibu?" tanya Rain bersungguh sungguh.


**


Flashback on


" Selamat pagi Nona muda, hal apa yang membuat nona sangat bahagia?" tanya Bik Inah pada nona mudanya.


"Hari ini aku menikah Bibi, aku sangat bahagia karena akhirnya aku bisa menikahi pria pujaan hatiku yang sudah lama aku idam idamkan Bik" ucap Tiara Kanyafe Deepastiani ibunya Kanyafe.


Tak lama kemudian pengantin pria datang dan berjalan sambil tersenyum tipis dan memeluk Tiara ibundanya Kanyafe.


"Tiara my darling i love you, hari ini kita akan menikah aku berharap cinta kita akan abadi selamanya" ucap Robson Zhang Smith sang CEO muda yang tampan dan gagah perkasa itu dari Group Robson TBk.


Singkat ceritanya mereka menikah dengan sangat khidmat dan bahagia bersama meraih mimpi indah.


Setelah empat bulan menikah Tiara pun hamil dan melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik dan jelita bak bidadari dan mereka namai " Kanyafe Genoveva Aurora Smith "


Kanyafe Tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang sangat menyayanginya hingga suatu hari keluarga Papanya datang dan menghancurkan semua apa yang mereka miliki dengan alasan Istri dari Robson hanya mengincar harta dari Robson saja.


Hubungan mereka awalnya baik baik saja tetapi pada akhirnya keluarga Robson menang dan mengusir Tiara dari rumah Robson dan bahkan mereka menyuruh Robson untuk menceraikan Tiara tanpa memberikan harta sepeserpun pada Tiara dan anaknya Kanyafe.


Karena tidak memiliki apapun akhirnya Tiara memberikan Kanyafe pada ibu hingga kini mereka tak pernah ada kabar apapun. Dan Kanyafe dulunya adalah anak yang sangat ceria tetapi ketika mengalami perceraian ibu dan ayahnya ia menjadi anak yang tertutup.


**Flashback off**


"Nak, kalau pun kamu serius pada Kanyafe tolong jangan sakiti dia karena dia tak punya siapa siapa di dunia ini lagi hanya ibu yang ia punya" ucap Bik Inah pada Rain.


"Ibu gak usah khawatir karena aku yang akan menjaganya apapun terjadi" ucap Rain


"Ibu lega mendengarnya! Berjanjilah untuk tidak membuat Kanyafe sakit hati. Terima kasih ya Nak?"ucap Bik Inah lagi.


**


Di tempat lain Jeanne dan Robby tengah bercerita di pinggir pantai Padang Padang yang sangat indah itu mereka bersenda gurau bersama hingga mereka beristirahat dan bersantai sambil bercerita tentang masa lalu, masa depan.


"Kak Robby terima kasih untuk hari ini ya Kak, jujur aku sangat nyaman berada di dekat Kak Robby tetapi bayang bayang Kak Rain masih selalu menghiasi otakku Kak, maaf ya aku butuh waktu untuk melupakan semua itu Kak Robby, mohon bersabar dan bantu aku menghilangkan ingatanku tentang Rain ya Kak?" ucap Jeanne pada Robby.


"Iya sayang aku akan menunggumu sampai saatnya tiba nanti kita akan bahagia bersama" ucap Robby sambil memeluk erat Jeanne.


** Next ya tolong bantu like dan vote untuk author agar author rajin mengupdate**