K

K
DELAPAN



Dari Rasulullah Saw. yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisiMu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.


(H R. Al-Tirmidi)


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Setelah ijab kabul berkumandang dan acara syakral itu berlalu sukses, keesokan harinya walimatul ‘urs tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun salah satu anggota keluarga Sarah ada yang tertimpa musibah yaitu Ibunda dari Riqhad sahabat Azhar.


Tante Hasna tiba-tiba pingsan saat acara syukuran hampir selesai. Beliau pingsan bukan hanya karena penyakitnya sebab selama ini ia telah sering bahkan rutin berobat secara diam-diam tanpa sepengetahuan anak-anaknya hingga dinyatakan sembuh. Namun tekanan yang diberikan oleh Dewi yang tak lain adalah saudara dari mendiang suaminyalah yang menjadi pemicunya.


Dewi memintanya untuk mengusir gadis sebatangkara yang sekarang berada dibawah tanggungjawabnya. Dewi mengancam akan menjelaskan kebenaran pada anak-anak Hasna mengenai siapa sebenarnya Shanum dan apa tujuan Hasna mau merawatnya.


Mama Riqhad yang tak bisa menguasai dirinya dan menelan emosinya itu pun tiba-tiba saja sesak nafas hingga pingsan dan kemudiam dilarikan ke rumah sakit.


Setelah mengetahui hal tersebut, terbesit oleh Sarah untuk menunda acara mereka namun langsung ditentang oleh Riqhad dan yang lainnya. Sebab, jika diundur lagi maka akan ada banyak masalah yang menyertai untuk diluruskan kembali seperti alasan pergantian mempelai pria yang telah resmi menjadi suami Sarah itu.


Tak menutup kemungkinan jika nanti tamu undangan dari pihak mantan calon suami Sarah akan terlanjur datang tanpa mengetahui kenyataan yang terjadi karena undangan tak hanya sedikit yang telah menyebar sebelum hal menyakitkan menimpa Sarah.


Mereka pun berembuk mencari solusi hingga kesepakatan yang didapatkan adalah walimatul’ urs akan tetap dilaksanakan sesuai rencana dan untuk Tante Hasna yang masih berada di salah satu rumah sakit di Bandung itu akan dijaga oleh anggota keluarga yang lain secara bergiliran.


Jam menunjukkan pukul 8:30 pagi. Dalam undangan yang beredar, tertera bahwa acara mulai jam 9:00 pagi sampai dengan selesai.


Di lantai atas, dalam kamar utama yang bertaburan dekorasi indah, Sarah tengah bersiap-siap dengan gaun terbaiknya. Ia memilih warna gold untuk digunakan pertama kali. Dengan dibantu oleh Winda dan beberapa orang lainnya, Sarah pun hampir selesai ditata rambutnya. Shakilla tak kalah ketinggalan memotret-motret bahkan merekam persiapan sahabatnya itu.


Ceklek


Pintu kamar Sarah terbuka, menampilkan sosok gagah yang ternyata belum juga bersiap-siap namun nampaknya ia baru saja selesai bersih-bersih sebab terlihat dari rambutnya yang masih basah.


Shakilla dan yang lainnya pun menoleh ke arah pintu, sahabat Sarah tersebut yang masih menggunakan ponselnya untuk merekam Sarah kini tanpa sengaja mengarahkan ponselnya ke arah seseorang yang berada di pintu kamar.


Winda mengalihkan wajahnya dan tersenyum menyambut Azhar. Winda memperhatikan Azhar yang sedang memandangi istrinya dalam diam, Sarah yang menyadari bahwa sedang ditatap oleh pria yang kemarin mengucapkan ijab kabul untuknya itu kembali menunduk malu.


Winda dan Shakilla saling berpandangan, mereka mengerti situasi ini hingga kemudian memilih pamit meninggalkan kamar Sarah karena memang pekerjaan mempersiapkan Sarah telah selesai.


Setelah pintu tertutup, kini hanya tinggal pasangan suami dan istri baru saja. Keduanya memang tidak berada dalam satu ruangan yang sama semalam. Sarah meminta izin untuk menghabiskan satu malam bersama sahabat-sahabatnya karena banyak yang ingin Sarah luapkan pada mereka dan Azhar pun memahami hal tersebut hingga memilih berada di kamar lantai bawah.


“Ehem, Sarah....” Azhar berucap dengan masih berdiri sedikit jauh dari meja rias istrinya.


Sarah yang tadinya masih menunduk, kemudian mengangkat pandangannya hingga menatap Azhar dari cermin depannya, ”I-iya Azhar.” Ia kembali menunduk.


“Kamu kenapa belum bersiap-siap?” Tambah Sarah dengan wajah menunduknya itu. Ia sangat gugup saat ini.


Azhar tersenyum kecil saat Sarah memperhatikannya, “tenang aja, aku siap-siapnya cepat kok nanti. Tapi, ini aku mau diskusi bentar sama kamu. Boleh nggak?” Pinta Azhar.


Pria ini pun berjalan mendekati meja rias Sarah hingga menyandar di tembok samping.


Sarah hanya mengangguk seraya melirik Azhar yang sedikit lebih dekat dengan posisinya sekarang. Dengan sudut matanya ia pun berkata, “Oh, o-oke. Kamu mau diskusiin apa?”


Azhar menghela nafas saat melihat kegugupan dan kekakuan Sarah padanya, “belum terbiasa, perlahan pasti.” Batin Azhar.


Ia pun mengambil tempat di atas ranjang hingga tubuhnya terpampang sempurna di cermin depan Sarah. Azhar menjadi bebas memandangi Sarah dan Sarah pun sama. Cermin besar sebagai perantara dan saksi interaksi pengakraban antara keduanya.


“Pasti dibenakmu ada banyak pertanyaan yang ingin kamu utarakan padaku. Mengenai siapa aku? Apa pekerjaanku? Apakah aku mengenalmu? Hingga mengapa aku berani menikahimu dalam situasi tak terduga ini. Dan hal lainnya juga.” Sarah mengintip di cermin hingga mengangguk membenarkan apa yang diucapkan oleh Azhar.


Azhar pun kembali melanjutkan, “semuanya. Apapun yang ingin kamu tanyakan padaku, akan aku jawab. Namun, untuk yang pertama aku ingin kamu mengetahui bahwa pekerjaanku salah satunya adalah dosen. Untuk hal satu ini, aku sedang mengurus kepindahanku ke Indonesia tapi aku masih memiliki waktu sekitar beberapa bulan untuk menyelesaikan pekerjaanku di Singapura.”


Wajah Sarah terangkat seketika ketika kata ‘Singapura’ meluncur dari bibir suaminya.


Singapura. Mengerikan. Menyakitkan. Benci. Itulah yang membekas dihati Sarah. Jika mengingat Singapura maka Sarah akan membawa ingatannya pada seorang pria brengsek dan kebrengsekannya.


Sarah tahu arah pembicaraan Azhar, ia ingin mengajak Sarah ke Singapura bukan? Ya, memang begitu. Sarah yang sekarang bukanlah Sarah yang dulu. Sarah yang sekarang adalah seorang istri, istri dari pria tampat di atas ranjang itu. Istri haruslah taat pada suaminya bukan? Perkataan Azhar adalah hukum untuknya. Jika Azhar ingin menyelesaikan pekerjaannya di Singapura hingga menuntutnya menetap beberapa saat di sana, apakah Sarah bisa berkata ‘tidak’, apakah bisa Sarah mengatakan bahwa ia ingin tinggal di sini saja dan biarlah Azhar berada di negara itu sendiri? Tidak. Itu tidak ingin Sarah lakukan.


Sarah harus berbakti dan menjadi istri yang baik untuk pria gagah yang berani meminangnya hingga menggemakan lafal suci ijab kabul untuknya itu, berbakti berarti Sarah harus menyertai dan mendampingi kemana pun Azhar berada. Menjadi istri yang baik berarti Sarah harus membantu Azhar melewati hari-harinya dengan suka duka bersama.


Mencintai. Sarah tersenyum pilu. Bisakah Sarah mencintai Azhar sedangkan cintanya pernah patah, remuk dan berguguran? Untuk itulah, semoga saja dengan waktu yang dilalui bersama ini mampu memupuk cintanya untuk suaminya.


“Aku tahu, Singapura membekas kenangan buruk untukmu. Namun, bukan berarti kamu harus selalu terpuruk dengan negara itu. Ingat, sekarang kamu tak lagi sendiri. Ada aku. Azhar. Aku suamimu. Akulah yang akan mengubah negara itu menjadi indah untuk kau lewati. Akulah yang akan mendampingimu mengukir kenangan indah untuk dilalui. Gunakan aku meski sebagai alat untuk kamu bahagia. Sarah, bergantunglah padaku, suamimu.”


Deg


Sarah membelalakkan matanya, ia menahan panas dikedua pipinya dengan degupan tak beraturan didadanya. Sarah tak menyangka Azhar akan berkata begitu, terlebih lagi bagaimana dia bisa mengetahui apa yang Sarah alami di negara berlambang kepala singa itu?


“Oh tidak. Mengapa pria di belakangku ini bisa mengubahku menjadi sekaku dan segugup ini jika bersamanya? Oh ayolah, ini bukanlah sifat Sarah yang sesungguhnya. Aku malu bahkan untuk menatap wajah ataupun netranya. Aku ingin menyelami wajah dan netranya itu namun degupan didadaku tak mampu menopang apa yang ingin aku selami. Semakin aku selami semakin cepat degupan jantungku hingga aku takut ia luruh karenanya. Semakin salah tingkah aku dibuatnya. Ya tuhan, siapakah pria ini? Baru kemarin ia muncul disekitarku tapi mengapa ia mampu menenangkanku, mengukir kelegaan untukku sekaligus mampu menghadirkan riakan rasa berbeda untukku, ia memporak-porandakan rasa ini.” Batin Sarah bergemuruh.


“A-aku, a-aku s-sebenarny-“


Sarah tak sanggup berkata-kata bahkan disaat banyak yang ingin ia ungkapkan. Suaranya tertelan seiring senyuman Azhar yang tercetak di cermin depannya ini.


“Kamu boleh tinggal, jika memang merasa berat. Kamu boleh tetap di sini jika kamu belum sanggup mencoba melupakan kenangan buruk itu sekarang. Aku-“


“Tidak. Aku ingin ikut denganmu kemana pun kamu melangkah. Bimbing aku Azhar. Bawa aku, bantu aku memahami semuanya. Memahami semua tentang kamu.”


Deg


Akhirnya Sarah mampu mengutarakan kata-katanya meski hanya bagian kecil dari apa yang sebenarnya ingin ia ucapkan.


Azhar yang awalnya sudah siap mendengar penolakan dari Sarah kini tak mampu menyembunyikan keterkejutannnya.


Dengan tersenyum, ia berdiri dari ranjang hingga berhasil berada di belakang kursi rias Sarah. Sarah semakin menengadah mengikuti gerakan Azhar. Azhar menatap dalam Sarah dari cermin hingga tatapan keduanya pun beradu dalam cermin itu.


“Terimakasih. Terimakasih sudah menerimaku dan mengizinkanku masuk ke hidupmu. Aku akan terus membimbingmu hingga kita akan selalu melangkah bersama, mengejar keridoan dari-Nya. Sarah, silakan. Pahamilah semua tentangku hingga tak ada lagi keraguanmu akan diriku. Kuharap seiring berjalannya waktu yang kita lalui, kata cinta takkan ragu kau utarakan padaku. Aku menunggu hal itu darimu.”


Deg


Azhar tersenyum lembut hingga mengelus rambut Sarah yang telah ditata itu, Sarah **** senyum karena menerima perkataan dan perlakuan manis ini. Ia tak mampu menyembunyikan wajah memerahnya hingga ia pun menunduk.


Azhar memajukan wajahnya hingga mencium rambut Sarah bagian belakang, kemudian ia melangkah keluar setelah menepuk lembut pundak istrinya.


“Aku akan bersiap-siap dengan cepat! Turun nanti tunggu aku jemput.” Ucapnya sebelum menutup pintu.


Setelah Azhar menghilang sempurna dari kamar Sarah, Sarah tak mampu menyembunyikan ekspresinya lagi. Ia kaget, tak percaya, ia ingin tersenyum, menangis, terharu, tertawa dan ia juga ingin menenggelamkan wajah menghangatnya ini.


“Azhar, kamu siapa sih? Kok tega giniin aku?” Gumam Sarah.


Ceklek


“Azhar!”


Sarah terkanjat hingga dengan spontan kata ‘Azhar’ meluncur dari bibirnya.


“Cie.... si penganten mah gitu, pagi-pagi udah cari suami. Sabar ya sayang, tunggu acara hari ini selesai kalian bebas mau berduaan kemana pun. Tapi, untuk hari ini, ikut aturan acara dulu ya. Tapi, masa panggilannya mentah banget sih, pakai pemanis dong.” Goda Latiffa dan Mama Sarah.


Sarah menutup mukanya karena malu.


“Apaan sih.” Lirihnya.


“Sar, dibawah udah ada yang datang. Kamu udah siapkan? Yuk kita turun, kita tunjukkan pada tamu dari pihak mantan nggak jadi itu bahwa Sarah tetap bisa bahagia.” Ucap Latiffa berapi-api.


“Tunggu Azhar dulu, dia lagi siap-siap.” Cicit Sarah yang membuat Latiffa dan Mamanya tersenyum lembut memandanginya.


“Iya deh iya, yang harus turunnya sambil gandengan kan ya.” Balas Latiffa.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka menampilkann Azhar yang telah menggunakan pakaian yang senada dengan Sarah. Ia tersenyum gugup saat Latiffa dan Mama mertuanya memandanginya dengan kagum. Umminya pun tak kalah ketinggalan mencolek-colek Azhar dari belakang.


“Ehem, Sarah. Ayo!” Sarah pun mengangguk dan menerima uluran tangan Azhar.


Azhar mengapit tangan lembut Sarah hingga keduanya pun turun dengan didampingi Lattifa dan mama Sarah tak ketinggalan lagi Ummi Azhar juga berlarian ingin ikut bergabung.


_________________________________________


Kerinci, 24/09/2019