
“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An Nisa: 59).
_________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
.
Tepat pukul 8:35 pagi ini, Azhar telah sampai ke kediaman orang tuanya. Setelah kemarin menghubungi sahabatnya, ia pun bergegas menyampaikan niatnya pada Ummi dan Abinya.
Azhar menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi hingga membuat Ummi cantiknya terkagum haru dan sangat mendukung keputusan putranya bahkan keputusan untuk menolak permintaan dari orangtua Adzkia.
Namun, disaat ia mendapat sepenuhnya dukungan sang Ummi. Ada Abi yang sangat berharap Azhar menerima permintaan sepupunya itu, permintaan untuk menikahi Adzkia.
Beberapa saat mendebati Azhar, akhirnya penjelasan dan keyakinan kuat dari Azhar berujung pada kata setuju dari mulut Abinya. Azhar mengela nafas lega hingga mengumandangkan gemuruh syukurnya. Ia bersyukur telah mengantongi dua restu terkuat.
“Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya”
(HR. Muslim no.7692).
Demi terlaksananya keputusan Azhar, rapat keluarga pun diadakan dadakan oleh keluarganya.
Dan disinilah mereka sekarang. Berakhir di rumah Sarah. Rumah yang beberapa tahun lalu pernah disinggahi Azhar dengan tujuan yang sama namun berakhir sebuah penolakan tegas dari Ayahnya Sarah.
Tapi kali ini begitu, mereka disambut dengan baik.
Setelah bertukar salam, Azhar dan keluarganya pun dipersilakan masuk ke rumah besar yang kini terlihat begitu indah. Dipenuhi dekorasi mewah dan, seharusnya dipekarangan sana telah dipenuhi banyak karangan ucapan selamat namun tak ia jumpai satu pun kalimat itu. Mungkin saja sudah disingkirkan oleh keluarga Sarah saat mengetahui kronologis kejadian yang menimpa Sarah kemarin melalui mulut Riqhad.
Tak perlu menjelaskan panjang lebar, karena semuanya telah disampaikan oleh Riqhad lebih dulu pada keluarga ini. Azharlah yang meminta bantuan Riqhad untuk menjelaskan rencana dan niatnya ini setelah sebelumnya ia menyampaikan semua yang ia lihat dan apa yang ia dengar kemarin itu.
Hingga malamnya, saat orangtua Sarah kalang kabut memikirkan nasib putrinya. Riqhad datang mengumpulkan keluarganya hingga menyampaikan semuanya. Apa yang disampaikan oleh Riqhad itu ibaratkan angin penyejuk dan pelita bagi mereka.
Ayah Sarah yang pernah menolak Azhar dan juga sempat berharap bahwa Azhar kembali meminta putrinya, tak dapat menahan air mata syukurnya. Ia sedih mendengar nasib putrinya yang telah dikhianati oleh orang yang paling ia cintai dan terharu melihat kegigihan Azhar yang masih kokoh dengan niatnya.
Azhar adalah pria yang begitu baik hingga tak sedikit pun menaruh benci pada keluarga mereka yang telah menolaknya. Azhar masih saja teguh dengan keyakinannya. Ayah Sarah bangga, ia bahagia bahwa tamunya hari ini adalah Azhar. Ia bersyukur hingga kekagumannya pada sosok Azhar kian meningkat saja.
Azhar, pria yang paling layak untuk Sarah. Itulah keyakinan dari seorang ayah sepertinya. Ayah dari seorang putri tunggal yang sayangnya telah disia-siakan oleh seorang pria diluar sana.
Setelah berbasa-basi sejenak, kalimat lamaran pun mulai bergema.
“Assalamu’alikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.” Ucap Abinya Azhar membuka tabir yang nyata.
Kemudian, dijawab oleh Ayah Sarah. “Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Abi Azhar melanjutkan lagi, “maaf sebelumnya atas kedatangan kami yang terkesan tak tahu adat, maaf juga jika kami datang tanpa permisi yang resmi. Langsung saja. Saya di sini sebagai Ayahanda dari Azhar. Mewakili ananda kami untuk menyampaikan niat baiknya ke rumah ini."
"Putra kami Azhar, atas persetujuan dari kami dengan mata yang jernih dan hati yang suci berniat melamar Sarah, putri anda untuk menjadi istrinya. Sekaligus izinkan Azhar menggantikan mempelai pria yang katanya membatalkan pernikahan ini. Izinkan putra kami untuk duduk bersanding dengan putri anda menggantikan pengantin prianya.”
Ayah Sarah menahan pilu, ia pandangi sosok tegas berwibawa yang menyampaikan permintaan itu. Kemudian ia beralih pada sosok tampan di depannya. Azhar menatapnya tanpa ekspresi namun tergores aura kelembutan diwajah timur tengahnya. Ayah Sarah merasa tak pantas menerima lamaran seindah ini dihari ini. Terlebih lagi, lamaran dari sosok pria baik di depannya.
Dengan menggenggam kedua tangannya dipangkuan, Ayah Sarah pun bersuara. “Terimakasih atas kedatangannya. Saya selaku Ayahanda dari Sarah merasa sangat bersyukur menerima lamaran dari putra Anda, Azhar. Jujur, saya juga sempat berharap bahwa Nak Azhar kembali ke sini meminta Sarah lagi. Untuk Nak Azhar, saya menyesal langsung menolakmu waktu itu dan mungkin membuatmu kecewa. Untuk itu semua, saya tidak ingin merasakan rasa penyesalan yang kedua kalinya."
"Maka, dengan mengucapkan bismillahirohmanirohim, saya menerima lamaran ini dan saya izinkan Nak Azhar menjadi mempelai pria untuk Sarah. Jangan sebut ia sebagai mempelai pengganti karena tak ada yang harus diganti. Cukup dia, Azhar dan kuizinkan menyambut ijab dariku.”
Semua yang hadir mendengar dan menyaksikan –kecuali Shanum dan Zoeya- itu pun menghela nafas lega penuh syukur. Mereka terharu hingga tak mampu bersuara lagi setelahnya.
“Pa, rencana bisa seperti sebelumnya. Sarah di luar baru sampai.” Ucap Mama Sarah yang baru saja menerima pesan dari putrinya.
“Sebaiknya kita tunggu Sarah dan meminta persetujuan darinya.” Pinta Ibu Azhar karena dia tak ingin pernikahan ini terkesan paksaan jika tak disetujui oleh Sarah dan bahkan bisa berakibat buruk nantinya.
Jika seorang anak gadis telah dinikahkan tanpa kerelaannya, ada ulama yang membolehkan sang anak untuk memilih meneruskan pernikahannya atau berpisah.
Dalilnya sebuah hadis dari Ibnu Abbas RA, beliau menceritakan, “Ada seorang gadis yang mendatangi Rasulullah SAW dan melaporkan bahwa ayahnya menikahkannya, sementara dia tidak suka. Kemudian, Rasulullah SAW memberikan hak pilih kepada wanita tersebut (untuk melanjutkan pernikahan atau pisah).” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibn Majah). Allahu a'lam.
Sesaat kemudian, Sarah pun muncul bersama Shakilla. Sarah memandangi rumahnya yang sudah ramai dengan sanak keluarganya dan juga tetangga dekatnya.
Sarah POV
Aku melangkahkan kakiku di rumah mewah kami yang kini tampak begitu indah bak istana. Aku berusaha meyakinkan dan menguatkan diriku akan rasa malu ini. Akan aku terima semua kemungkinan yang terjadi setelah ini.
Aku menyesal dulu telah menjadi pembangkan hingga mengutamakan Faris daripada orangtuaku sendiri. Aku memilih menyepelekan cita-citaku demi mengikutinya, aku rela membohongi Mama dan Papa demi ingin bersama dia hingga aku rela mengancam mereka demi bisa bersatu dengan Faris.
“Ma, Pa maafkan Sarah karena telah membuat kalian malu dan terluka. Setelah ini, apapun yang kalian inginkan akan Sarah kabulkan semampu Sarah.” Batinku menyesali yang sudah-sudah.
Sesampainya aku di ruang tamu, mataku menemukan beberapa orang asing yang kini berbaur dengan keluargaku. Hingga seorang wanita cantik dengan tatapan lembutnya menyambutku dengan pelukan hangatnya.
Mama memelukku erat, ia mengecup sisi wajahku dengan deraian air matanya. Aku yang lelah menangis ini pun kembali menumpahkan airmataku, menumpahkan kesedihanku dipelukan ternyaman milik Mama.
“Maaf, maaf, maafkan Sarah Mama.” Lirihku disela bahu Mama.
Mama pun mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tahu dia merasakan apa yang aku rasakan ini dan mungkin juga dia telah mengetahui kabar apa yang aku bawa dihari ini. Jika aku terluka, maka mama akan lebih terluka lagi. Jika aku sakit, mama akan lebih sakit lagi. Dia belahan jiwaku. Bidadariku. Mengapa aku bisa tega membuatnya kecewa seperti ini?
Kemudian, Mama merenggangkan pelukan kami. Ia menyeka air mataku setelah menyeka air matanya sendiri. Ia menuntunku untuk bergabung bersama keluargaku yang lain dan beberapa orang asing itu. Mama membawaku untuk duduk di antaranya dan papa.
Aku menunduk, menyembunyikan wajahku yang sekarang terlihat kacau dan tidak enak jika dipandang. Aku juga tak berani menatap wajah papa yang telah dikecewakan olehku. Hingga kemudian suara tegas Papa mulai terdengar.
“Sarah, ini Azhar dan keluarganya. Dia datang untuk melamarmu menjadi istrinya dan meminta izin untuk menjadi mempelai pria dihari ini. Papa menerimanya. Bagaimanakah denganmu?” Tanya Papa.
Deg
Aku tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh papa, hingga dengan perlahan aku pun memberanikan diri untuk mengangkat pandanganku. Hingga iris mataku bertemu dengan tatapan dari pria di depanku.
Pria yang sayangnya tampan serta terlihat seperti keturunan Timur Tengah. Namun rasanya aku tidak asing dengan wajahnya itu, tapi aku tak bisa berfikir lagi hingga kemudian aku melihat ia menghindari tatapanku. Ia memilih memutuskan pandangan kami.
Karena kebisuanku, papa pun kembali mengulangi perkataannya. “Sarah bagimana, Nak?”
Aku menatap satu per satu keluargaku hingga keluarga pria di depanku ini. Lalu, terakhir aku menghadap ke arah kedua orangtuaku. Wajah mereka memancarkan suatu pengharapan. Aku benci situasi ini, aku lebih membenci pria di depanku yang baru kutahu bernama ‘Azhar’.
Mengapa ia harus menjadi orang baik di sini? Mengapa dia mau membantuku menutup rasa malu ini? Mengapa dia memintaku, wanita yang sangat tak layak untuknya ini? Wanita yang telah dibutakan cinta seorang pria brengsek yang namanya tak ingin aku sebutkan lagi dan wanita yang berkali-kali mengecewakan orang tuanya? Mengapa harus aku? Seorang wanita bernama Sarah. Pikirku.
Kemudian, mataku menatap kursi yang aku duduki. Lalu dekorasi yang melingkari rumah ini. Semua ini adalah hasil karya WO pilihanku. Aku kembali menunduk hingga aku meyakini bahwa tak ada pilihan paling baik selain menerima pria bernama Azhar ini. Takkan terjadi sesuatu yang lebih indah lagi jika aku mengatakan ‘tidak’ untuk hal ini di hari ini.
Setelah menghirup nafas dan membuangnya pelan, mengesampingkan degupan jantungku yang kian berpacu. Aku pun mengangguk pilu.
“Sarah menerima dan mengizinkan dia untuk menjadi suami Sarah. Terimakasih dan maaf.” Ucapku yang kuakhiri dengan isakan.
Aku meminta maaf harus mengikat pria baik bermata cerah ini seumur hidupku, membawanya dalam rasa terlukaku yang teramat dalam. Sanggupkah ia bertahan disampingku? Aku ingin tahu itu.
Serentak mereka mengucapkan alhamdulillah hingga papa dan mama memelukku erat. “Terimakasih sayang. Berbahagialah hari ini. Jangan pikirkan yang lain lagi selain pernikahanmu dengan Azhar.” Ucap mereka dan aku pun kembali mengangguk sambil membalas pelukan mereka.
Aku berusaha menerima dan meyakinkan diri mengenai apa yang telah terjadi kemarin dan hari ini. Aku akan menikahi pengantin penggantinya pria yang mulai hari ini bertitelkan ‘brengsek’ dan ‘biadap.’
Aku Sarah, takkan lagi mengharapkan apa yang telah terlepas, terlebih lagi sesuatu yang buruk dan hampir busuk. Sampah. Aku Sarah, yang hari ini akan tetap dinikahi namun bukan oleh orang yang aku cintai. Akankah pernikahan tanpa rasa cinta ini bisa bertahan dan membahagiakan? Entahlah. Namun, kuharap inilah yang terbaik.
_________________________________________
Kerinci, 21/09/2019