K

K
TUJUH



Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.


-Ali bin Abi Thalib-


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Di sebuah hotel tempat kejadian dimana Sarah mengamuk kemarin. Kini terlihat sepasang kekasih yang sedang duduk diam tanpa suara. Keduanya hanya menerima makian dan cacian dari dua orang paruh baya di depannya. Mereka tak mampu menimpali perkataan kedua orang tersebut karena yang mereka lakukan memang sebuah kesalahan besar.


Dimitri dan Fani mengetahui semua yang dilakukan putranya ini dari bawahan anaknya. Setelah mengirim pesan pada Sarah dengan luapan rasa bersalah yang melimpah, pasangan suami istri ini langsung meninggalkan Brunei karena dihantui rasa penyesalan pada keluarga Sarah.


Sebenarnya mereka ingin menemui keluarga Sarah lebih dulu namun saat Berli menyampaikan kelakuan Faris di Singapura yang sudah menghianati Sarah tepat dua hari sebelum acara akad nikahnya. Mereka pun menunda perjalanan ke Indonesia hingga singgah lebih dulu di negara ini.


Tak mereka sangka putra kesayangan yang mereka bangga-bangga kan ini ternyata telah berbuat hina di sini. Ia meninggalkan pernikahannya demi seorang wanita yang terlihat seperti pelacur dimata seorang Fani, mama Faris. Wanita dikenal sebagai ratu perasa dan inting terkuat hingga tak jarang jika kesan pertama yang ia temui kadang mendekati kenyataan yang ada.


“Kami sungguh kecewa! Untuk semua kelakuanmu ini. Jabatanmu di Agensi kami tarik!” Teriak Mama Fani.


Faris langsung tersentak mendengarnya  hingga memberanikan diri untuk membantah, “tapi Ma, nggah bisa gitu dong g-“


“Cari pekerjaan lain dan jangan pernah mengemis pada kami. Kamu telah membuang wanita yang sangat mama sukai dan berbuat tidak bermartabat seperti ini! Jika memang kamu mencintai wanita ini mengapa tak dari jauh hari saja kamu menolak Sarah? Mengapa harus sehari sebelum pernikahannya hah! Itu pun Sarah yang mengetahuinya sendiri hingga datang ke sini.” Mamanya kembali berteriak murka tanpa memberi waktu Faris untuk bersuara.


“Ma, dengarkan Faris dulu. Faris tak mencintai Sarah lagi, tapi Sarah yang ngotot pernikahannya dipercepat bahkan mengurus semuanya sendiri tanpa mau meminta pendapat Faris. Siapa sih sebenarnya yang membocorkan Faris ada disini?” Faris bersuara hingga kemudian kembali menunduk dengan kesal.


“Kamu! Masih berani bersuara. Mengecewakan. Papa minta kalian segeralah menikah jika tidak ingin menambah dosa. Setelah menikah nanti kamu cari saja pekerjaan lain untuk menghidupi wanita ini tanpa campur tangan kami. Jangan lagi datang ke agensi karena kamu tak berhak. Ini adalah hukuman untukmu karena membut kami malu!” Kini Papanya lagi yang bersuara, menumpahkan kekesalannya.


Di kamar nomor 555 ini, Papa Faris kembali mendudukkan dirinya ke sofa yang diikuti istrinya. Sambil memijit pelipisnya ia kembali bersuara pelan.


"Dimana harus kami letakkan wajah ini? Bagaimana caranya kami memandang  wajah keluarga Sarah yang telah kamu lukai itu? Bagaimana besok jika tamu undangan dari pihak kita terlanjur hadir ke acara padahal bukan kamu yang menikah dan bukan kamu yang menjadi pengantin prianya?”


Faris tak percaya dengan apa yang diucapkan papanya, ia pun mengangkat wajahnya hingga berkata, “jadi? Hari ini Sarah akan tetap melangsungkan akad nikah? Tapi, dengan siapa?”


“Iya, Sarah tetapakan bisa menikah dengan seorang pria bernama Azhar.” Jawab Mama Faris sambil menyeka air matanya yang tanpa diduga akhirnya meleleh juga padahal sudah sedari tadi ia tahan.


Faris yang mendengarnya seketika mematung ditempat, ia menjadi kaku. Ada sisi hatinya yang tidak suka mendengar bahwa Sarah tetap bisa menikah hari ini bahkan bukan dengannya.


Faris kembali menerawang membayangkan bagaimana sekarang Sarah tengah bersanding dengan pria lain,  mereka tampak serasi dan bahagia sekali. Sial. Faris tak terima hingga tanpa sadar ia mengeram sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Bella yang tak kalah kaget mendengar hal tersebut pun beralih memandangi pria di sampingnya namun yang ia tangkap adalah wajah Faris yang menggelap, tangannya terkepal seolah ia tak suka jika Sarah tetap bisa menikah dengan pria lain.


“Kenapa Faris terlihat kecewa dan tak terima seperti ini? Apakah dia menyesal telah memilihku dan meninggalkan Sarah?" Batin Bella.


Bella pun mengepalkan tangannya, dengan gemuruh amarah memenuhi dadanya ia ikut memancarkan aura gelap yang sama. “Sial! Brengsek kau Sarah!"


***


S


ementara itu


Seorang wanita terlihat begitu cantik dengan sanggul elegannya. Gaun yang seakan menyapu lantai itu terlihat begitu mewah dan lembut, sangat cocok melekat ditubuh indah Sarah.


Ia memancarkan aura kegelisahan namun terlihat begitu lega. Ia yang didampingi oleh mamanya dan Latiffa kini menyaksikan persiapan yang terekam dalam cctv yang sengaja dipasang di kamarnya. Memantengi prosesi ijab kabul yang beberapa saat lagi akan dimulai.


Di layar datar itu, terpampang seorang pria dengan pakaian yang seirama dengan gaun Sarah. Sarah menatap wajah Azhar yang tampak sedikit gugup saat telah mengambil tempat di depan ayahnya.


Sarah seketika menunduk saat melihat ayahnya menepuk pundak Azhar berusaha menenangkan pria itu. Tak elak interaksi kecil itu mampu menghangat dihati seorang Sarah. Kemudan tanpa diduga Sarah menyunggingkan senyum samarnya.


Saat masih menunduk, ia memandangi sepasang tangannya yang telah terukir indah pola berwarna putih yang membingkai lembut tangan hingga jarinya serta dibubuhi kerlipan silver. Ia setengah tak percaya akan semua ini, terasa seperti mimpi. Pernikahan dengan pasangan tak terduga. Hingga kemudian wajah Sarah kembali datar, tangannya menjadi dingin.


“Sebentar lagi, Nak. Mama tinggal bentar ya mau ke kamar sebelah. Kok Zoeya sama Shanum lama amat siap-siapnya, acaranya aja udah mau mulai itu.” Ucap mamanya sambil menepuk pelan pundak Sarah.


Sarah mengangguk patuh hingga kembali memperhatikan cctv, Latiffa yang berada di ranjangnya terlihat tengah menyusui Fatan dan juga ikut menyaksikan cctv tersebut.


Sementara Sarah berada di lantai atas dengan perasaan campur aduk tak menentu, di lantai bawah telah bersiap seorang pria yang juga merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan Sarah, bedanya Azhar terlihat lebih bahagia darpada Sarah. Azhar begitu gelisah dan tegang. Ia berulangkali melafalkan do’a agar diberikan ketenangan oleh-Nya.


Sungguh, ia tak pernah membayangkan bisa berada diposisi ini dalam waktu sedekat ini. Jika bukan ketentuan Dari-Nya maka tak mungkin bisa seperti ini. Ini tak lain adalah campur tangan dari Sang Maha Berkehendak.


“Tenangin diri loe Bro. Nggak usah gugup gitu. Do’a loe udah dikabulin nih sama Allah. Masa loe belum siap sih.” Bisiknya.


Azhar menelan ludah, “Riqhad sok nasehatin gue. Belum tahu dia gimana rasanya diposisi ini. Sungguh menegangkan dan menggelikan juga. Tunggu aja, lampat cepat loe juga bakal ngerasain hal yang sama.” Batin Azhar.


Hingga kemudian, acara pun dimulai. Adik Azhar terlihat gagah berdiri dan memulai membacakan susunan acara demi acara yang diharapkan dapat terlewati semuanya dengan pasti. Ayat suci al-Qu’an digemakan oleh salah satu sepupu Azhar yang merupakan qori terbaik kedua tahun lalu.


Kemudian, setelah beberapa acara terlewati kini sampailah pada acara intinya yaitu ijab kabul.


Ayah Sarah mulai mengulur tangan kanannya yang dibaluti jas abu-abu pilihannya. Azhar pun langsung menyambut uluran tangan didepannya  itu.


Pria paruh baya tersebut mengucapkan basmallah kemudian melanjutkan dengan hamdallah hingga bersholawat singkat dan akhirnya mengucapkan ijab qabul.


“Ya Azhar Arroyan Malik bin Faruq Malik uzawwijuka ‘ala ma amarollohu min imsakin bima’rufin au tasriihim bi ihsanin, ya Azhar Arroyan Malik bin Faruq Malik.”


(na’am)


“Ankahtuka wa zawwajtuka makhthubataka Sarah Qharirah binti Hasani Basyir bi mahri mushaf al qur’an wa alatil ‘ibadah haalan.”


Azhar langsung menyambutnya dengan  lugas, “qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa alal mahril madzkuur haalan wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq.”


SAH


Azhar merasa lega setelah mendengar kata sah menggema. Semua yang hadir mengucap syukur yang mengharukan hingga kemudian do’a pun berkumandang.


Sarah di kamarnya tak mampu menahan tangis harunya. Ia ikut menengadahkan tangannya dengan perasaan lega tiada tara dan kebimbangan yang nyata. Ketika cctv menampilkan gerakan mengaamiinkan, Sarah pun ikut mengusapkan kedua tangannya di wajahnya.


“Alhamdulillah. Selamat ya, sayang. Berbahagialah, berbaktilah pada suamimu dan cintailah dia sepenuh jiwa ragamu.” Mamanya memeluknya dengan luapan kebahagiaan.


“Mama ....” Lirih Sarah.


“Sudah, ini tisunya hapus air matanya. Jangan menangis. Sebentar lagi kita akan turun. Itu, Zoeya sama Shanum akan mendampingimu turun. Mama akan turun lebih dulu ini ya.” Sarah pun mengangguk. Seiring dengan dua gadis cantik memasuki kamarnya.


Sarah dituntun oleh Zoeya dan Shanum untuk disandingkan dengan pria yang kini telah resmi menjadi suaminya. Pria asing yang datang tanpa diduga membawa sebuah lamaran tanpa rencana, Azhar telah bergelar sebagai suaminya. Gemuruh didada Sarah kian menjadi.


Apakah ia bisa mencintai Azhar setelah ini? Apakah ia bisa berbakti dan menjadi istri yang baik untuk Azhar? Namun yang terpenting apakah Azhar mencintainya dan ikhlas menerimanya dengan segudang kekurangannya? Bukan dengan rasa iba atau kasihan? Pikir Sarah disela langkahnya.


Ia terus berfikir dengan langkah lembut menuruni tangga diapit oleh dua wanita. Ia semakin dekat dengan pusat keramaian, semua tatapan mata menyambut kedatangannya ini. Tak terkecuali seorang pria bergelar suami.


Azhar terlihat gagah dengan peci silvernya, perawakannnya tegas dan tatapannya lembut. Ia menyambut Sarah dengan senyuman hingga Sarah telah berada di sampingnya.


Sarah menunduk kaku, tak tahu harus bersikap seperti apa pada pria di sampingnya. Mereka tak saling kenal namun menikah. Interaksi berdua pun tak pernah terjadi bagaimana bisa bersikap santai bukan. Sarah menandatangani berkas-berkas yang ada di depan matanya hingga beberapa saat kemudian ia terdiam kembali.


"Assalamu'alaikum, Sarah." Bisik Azhar.


Wajah Sarah pun memerah, ia memandangi pria di sampingnya kemudian memutar tubunya sedikit.


"W-wa'alaikumussalam, Azhar." Jawab Sarah.


Mereka pun berpandangan. Sarah menyusuri wajah pria disampingnya, dari sedekat ini dapat ia simpulkan Azhar bukan pria perokok terbukti dari bibirnya yang merah muda. Wajahnya yang sangat tampan hingga membuat degupan didada Sarah kian menjadi.


"Ehem, Sarah. Nggak mau sambut tangan aku?" Ucap Azhar.


Sarah mengerjap hingga menurunkan pandangannya, ternyata Azhar menyapanya untuk menyambut tangannya ini. Sarah melirik orang disekitarnya yang menatapnya geli. Wajah Sarah memerah malu lalu kemudian memutar sempurna tubuhnya hingga menyambut tangan Azhar, yang mulai detik ini merupakan suaminya. Pria yang telah mengambil hak atas Sarah dari Ayahnya, pria yang menawarkan tanggungjawab untuk Sarah seutuhnya.


Azhar, terimakasih untuk hari ini. Batin Sarah.


Tanpa diminta airmatanya meleleh hingga membasahi tangan Azhar. Azhar menyadari itu kemudian menahan Sarah yang ingin mengangkat wajahnya. Azhar mengelus rambut Sarah dengan lembut.


Sarah pun mengambil kesempatan ini untuk menyeka air matanya sebentar kemudian ia kembali mengangkat wajahnya yang masih sedikit memerah. Azhar tersenyum padanya kemudian memandangi lembut Sarah hingga membantu menghilangkan jejak air mata yang masih tersisa di bawah mata kiri Sarah.


"Cium dahinya, Har." Ucap Riqhad.


Azhar pun terlihat salah tingkah hingga memandangi Sarah untuk meminta izin. Sarah mengangguk pelan. Azhar menghela nafas, dengan kegugupannya ia pun mengecup dahi istrinya.


"Aku mencintaimu." Bisik Azhar yang terdengar samar-samar setelah melepas dahi istrinya.


Sarah mematung.


Apakah itu suara Azhar? Apakah Sarah salah dengar? Apakah Sarah berhalusinasi? Azhar mencintainya? Suaminya ini? Mana mungkin.


_________________________________________


Kerinci, 23/09/2019