
Ya Allah, aku memohon perlindungan denganMu daripada keluh kesah dan kesedihan, rasa lemah dan kemalasan, Aku memohon perlindungan denganMu daripada sifat penakut dan kebakhilan, dan aku mohon perlindungan denganMu dari bebanan hutang dan dikuasai seseorang
(Hadith riwayat Abu Daud)
________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
.
“Terus?”
“Aku benci dia. Dia suka ngatur-ngatur aku mulu. Bangunin sholat subuh, nyeramahin masalah pakaian. Ya, meski nada suaranya lemah lembut dan enak didengar tapi aku nggak suka gitu. Faris-“
“Stop, kamu masih ingat-ingat aja sama tuh orang. Kamu dapat laki yang baik dan mau ngebimbing kamu. Buang jauh-jauh si brengsek itu.”
“Iya, aku juga ogah lagi ingat-ingat si brengsek tapi masalahnya, sama Azhar banyak banget aturannya. Aku malas sholat diceramahin, aku keluar pake kemeja pendek aja ditegur. Berasa kayak di pesantren tau nggak.”
“Udahlah, itu semua demi kebaikan kamu. Suami kamu nasehatin bukan apa-apa, itu tandanya di sayang sama kamu. Dia bertanggungjawab atas dirim. Jadi, dia nggak mau kamu nyesel nantinya. Intinya, kamu harus berbakti, sayangi, kasihi, dan cintai suamimu segenap jiwa ragamu. Meski nikah kalian terbilang dengan cara yang aneh bin dadakan tapi tetap aja itu semua bukan permainan kan?”
“Aku ngerti semuanya dan aku juga nggak mau mempermainkan sebuah pernikahan, tapi aku nggak tahu kenapa cintaku-“
Azhar mendengar percakapan istrinya itu entah dengan siapa diseberang telepon. Ia yang tadinya pamit ke kampus memilih untuk kembali ke apartmentnya sebab ada berkas yang tertinggal. Ia tak menyangka akan mendengar sebuah pengakuan jujur dari Sarah.
Meskipun ia siap dengan semua rasa ini dan ia sanggup menanggungnya, namun tetap saja sakit untuk diketahui apalagi Sarah membicarakannya di belakang bahkan Sarah terlihat lebih bebas bersikap kepada orang lain daripada dihadapan suaminya. Sarah terlihat seperti memakai topeng wajah penurut dan ramah didepan Azhar dan itu sungguh menyakitkan.
Sarah membencinya karena sering mengatur-aturnya, Sarah pun tak tahu akan bisa mencintai dia atau tidak. Bahkan kemungkinannya Sarah sudah menyerah dari awal untuk rasa itu.
Azhar memilih membatalkan niatnya untuk menjemput berkas yang ia butuhkan, ia melepas knop pintu hingga menutupnya tanpa suara.
Sarah tak yakin bisa mencintainya, Sarah membencinya karena tidak suka dikekang dan diatur bahkan diingatkan tentang sholat. Yang paling menyakitkan adalah ia dibanding-bandingkan dengan Faris. Pria yang telah tega padanya. Apakah Sarah sangat mencintai pria itu? Apakah Sarah tak mampu melupakannya barang sedikit untuk belajar menerima Azhar.
Azhar pun menghela nafas berat hingga mengusap wajahnya dengan kasar, “Ya Allah, aku terluka hari ini dan jagalah diriku agar tak melukainya setelah ini. Meskipun lukaku disebabkan oleh perkataannya.”
Azhar pun melajukan mobilnya dan memilih untuk menenangkan dirinya.
***
Kembali ke sisi Sarah yang tengah membaringkan tubuhnya disisi ranjang apartment.
“Aku ngerti semuanya dan aku juga nggak mau mempermainkan sebuah pernikahan, tapi aku nggak tahu kenapa cintaku ke dia perlahan bisa kurasa. Baru seminggu aja aku udah ngerasa sayang dan takut menyakitinya. Aku merasa nggak pantas ngerasain semuanya secepat ini dan aku pun tak berani mencintai dia dengan banyak kekuranganku. Aku membencinya karena dia teramat baik untukku.”
Sarah menutup wajahnya dengan sebuah guling, ia malu telah mengakui perasaan yang mulai tumbuh pada suaminya itu. Ia telah menjelaskan semuanya ke Shakilla mengenai apa yang ia rasa selama ini pada Azhar. Azhar begitu sempurna dimata Sarah hingga Sarah berusaha menjadi dan terlihat baik di depan Azhar agar suaminya tak memandangnya rendah. Meskipun Sarah harus menekan sifat aslinya.
Sarah memandangi ponselnya, tidak biasanya Azhar begini. Biasanya suaminya itu pasti akan mengiriminya pesan singkat setiap beberapa jam sekali, Azhar pun terkadang kembali ke apartment ketika jam makan siang. Rutinitas seminggu terakhir mereka berada di Singapura ini.
Sarah merasa ada yang salah dengan Azhar hingga jam menunjukkan pukul 14:00 WIB Azhar juga belum menghubunginya, ada sesuatu yang kurang hingga membuat Sarah gelisah dan ingin rasanya menghubungi Azhar lebih dulu tapi ia masih malu serta gengsi.
Saat ia dipenuhi kesepian karena menjadi pengangguran utuh di negara ini, ia pun bertekat akan mendial nomor Azhar. Tiga kali mendial nomor suaminya ternyata tidak diangkat-angkat hingga kemudian bel apartmentnya berbunyi.
Ternyata Azhar memesankannya makan siang.
Sarah mengernyit heran, ada apa ini? Tak seperti biasanya. Mengapa Azhar tidak pulang ketika jam makan siang dan tak juga menghubungi Sarah lebih dulu, apalagi ia telah memesan makanan untuk Sarah.
Wanita ini pun menerima paket makanan itu dengan lesu, tak bersemangat. Sarah bahkan mengabaikan makan siangnya dan lebih memusingkan keanehan Azhar yang membuatnya merasa tak karuan.
Sarah kembali meruntuhkan rasa malu dan egonya hingga menghubungi suaminya lebih dulu, namun beberapa kali dihubungi tak juga disambut. Ponsel Azhar aktif, tapi mengapa? Sarah menjadi cemas hingga tak berselera untuk mengisi perutnya. Baiklah, ia akan menunggu Azhar pulang dan meminta penjelasan lebih dulu. Itulah pikirnya.
Beberapa jam kemudian, Sarah merasa sedikit pusing karena belum makan dari siang, padahal paginya hanya sarapan dengan menu sandwich saja. Sarah melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore, biasanya Azhar akan mengingatnya sholat namun hari ini tidak.
Sarah yang sedikit lemah dan tak bersemangat ini pun menguatkan diri untuk tetap melaksanakan sholat. Meski tak suka dikekang dan diatur-atur, entah mengapa nasehat Azhar terus saja terngiang dipelupuk matanya apalagi dijam-jam sholat.
Setelahnya, Sarah kembali bermenung menunggu suaminya pulang.
***
Setelah melaksanakan sholat isya di masjid dekat kantornya, Azhar tak langsung menjalankan mobilnya. Ia menatap lama ponsel yang sengaja ia abaikan sedari tadi.
Ia menghindari Sarah karena kesal dengan perasaannya sendiri ketika mengetahui Sarah masih menganggung-agungkan Faris daripada suaminya sendiri. Apalagi Sarah membencinya dan tidak suka dengan sifat Azhar yang sering mengatur-atur bahkan menasihatinya masalah ibadah ataupun kebiasaan berpakaiannya itu.
Baiklah, jika Sarah tak menyukai apa yang ia lakukan sejak seminggu terakhir ini maka Azhar tak akan memaksa lagi. Untuk itulah Azhar tak menghubungi Sarah sebagaimana biasanya.
Sudah bosan kata cinta ia utarakan pada Sarah sejak ijab kabul ia dengungkan, tapi Sarah tak pernah menimpali sedikit pun perasaannya. Padahal Azhar telah mengizinkan Sarah mengetahui semua tentangnya.
“Ya Allah, bantu hamba membawa perasaan ini agar tidak melukai hamba maupun Sarah. Hamba sangat mencintainya namun hamba sadar bahwa rasanya tidak untuk hamba saat ini.” Batin Azhar.
Ia pun membuka ponselnya, bohong jika ia tak mengkhawatirkan istrinya itu apalagi mereka hanya tinggal berdua saja di tempat ini.
Ketika ponsel telah diusap, beberapa panggilan dari Sarah dan puluhan pesannya pun memenuhi ponselnya. Azhar senang jika Sarah mau menghubunginya lebih dulu apalagi mengirimkan kalimat-kalimat perhatian seperti ini. Namun, Azhar kembali lesu ketika mengingat pembicaaraan Sarah tadi. Azhar langsung menjalankan mobilnya dengan perasaan kecewa yang masih terpatri didada.
Sesampainya di apartment, ia melihat ruangan demi ruangan yang terlihat gelap, tak ada sesuatu apapun yang terlihat hingga Azhar menyalakan cahaya di ruangan tersebut.
Tak nampak keberadaan Sarah, Azhar kembali melangkah hingga sampai di ruang bersantai yang terletak di samping ruang tamu. Ternyata Sarah tertidur di sofa dengan tubuh yang meringkuk. Ada sisi hati Azhar yang sakit melihatnya begitu. Azhar mendekat hingga berjongkok di depan istrinya.
Ia mendengar samar-samar ringisan dari Sarah, Azhar mengernyit heran kemudian iris matanya menemukan satu paket makanan yang masih utuh di plastik dan belum disentuh.
“Apakah Sarah memesan makanan sendiri untuk makan malam?” pikir Azhar.
Azhar pun menyelipkan rambut Sarah yang menutupi wajah ke ditelinganya hingga tampak ekspresi meringis diwajah istrinya.
“Sarah, Sarah. Hei. Bangun!” Azhar mengguncang lembut lengan Sarah namun tak ada reaksi.
Azhar berulangkali melakukan hal tersebut hingga ketika Azhar mengangkat tubuh Sarah dan hendak membawanya ke kamar, Sarah akhirnya membuka kedua matanya.
“Azhar.” ucapnya.
Azhar menatapnya dengan penuh rasa khawatir hingga berjalan cepat dan menempatkan Sarah di ranjang mereka dengan lembut.
“Azhar....” ulang Sarah lagi seperti orang mengigau.”
“Kamu belum makan?” tanya Azhar sarat akan kekhawatiran.
Sarah menggeleng lemah lalu ketika Azhar ingin beranjak, Sarah menahannya.
“Apa? Kenapa kamu belum makan hah! Kamu nggak tahu aku khawatir! Kenapa kamu nyiksa tubuh sendiri!” bentak Azhar yang tak disengaja telah meninggikan suaranya.
Sarah yang tak pernah mendengar Azhar bersuara tinggi atau membentaknya menjadi kaget hingga tanpa diduga matanya memanas.
Azhar terdiam, ia merasa bersalah saat melihat air mata yang berlinang diwajah Sarah. Ia telah membuat istrinya ketakutan karena bentakannya, tapi Azhar amat khawatir hingga tanpa sadar meninggikan suaranya.
“Arggg...” Azhar mengeram sambil mengusap kasar wajahnya.
Pria ini pun tetap melanjutkan langkahnya setelah melepas cengkraman Sarah dari kemejanya.
Sarah menatap iba punggung Azhar yang menjauh darinya. Ia semakin terisak, entah mengapa ia bisa secengeng ini sekarang. Ia hanya tak biasa menerima sikap Azhar yang sedikit berbeda.
Saat ia ingin memutar tubuhnya untuk membelakangi pintu kamar, sebuah tangan menahannya.
“Aku cuma khawatir sama kamu. Kamu belum makan gini, aku takut kamu sakit dan kenapa-napa. Maaf tanpa sengaja meninggikan suara padamu.” ucap Azhar menyesal sambil menenteng makanan yang ia bawa.
Sarah tetap keukeh memutar tubuhnya sebab saat ini kecengengannya sangat menguasai dirinya. Apalagi memikirkan bahwa ia hanya memiliki Azhar saja di tempat ini, bagaimana bisa Azhar membentaknya dan memaharinya.
“Sarah, kenapa kamu yang marah begini? Aku lah yang seharusnya marah melihat istriku belum makan sejak siang. Mengapa kamu begitu?” ulang Azhar berusaha memutar tubuh istrinya.
Sarah tetap bertahan dengan posisinya, hingga Azhar berdecak kesal dan mengacuhkan rasa tak enaknya. Ia pun memeluk istrinya dari belakang. Ikut membaringkan tubuhnya di kasur mereka.
Dep
“Aku khawatir sama kamu, kamu pahamkan?” bisik Azhar tepat diindera pendengar Sarah.
Sarah menegang dengan posisi mereka yang seintim ini, meskipun mereka memang mencoba berbagi ranjang namun Sarah dibuat kaget saat tangan Azhar kian mengetat diperutnya. Bahkan wajah pria dibelakngnya ini berada diceruk lehernya. Terasa geli.
“Maaf, aku hanya ingin memeluk istriku. Apakah aku tak bisa?” ucap Azhar lagi.
Sarah menggigit lembut bibir bawahnya, ia menggeleng hingga perlahan memutar tubuhnya. Wajah sembabnya kini tepat berada di depan wajah Azhar, ia menemukan wajah tampan yang kini terlihat begitu mencemaskannya. Jujur, Sarah semakin terharu dibuatnya.
“Azhar, a-aaku menunggu kamu pulang, aku juga menunggu pesan darimu tapi tak pernah menghampiri ponselku seharian ini. Aku mencoba menghubungimu dan itu pun tak kau respon. Aku ingin tahu aku punya salah apa hingga kamu mengacuhkan aku begitu? Apakah kamu tahu, aku hanya memiliki kamu di sini? Bukankah kamu ingin mengubah tempat ini menjadi indah untuk aku lewati? Dan semua itu aku dapatkan jika bersamamu. Tapi apa? Kamu malah me-“
Cup
Deg
Azhar mendaratkan bibirnya pada benda kenyal milik istrinya yang sedikit bergetar ketika bersuara. Ia tak sanggup lagi mendengar deretan kalimat yang diutarakan Sarah. Ia salah, Azhar akui itu. Sengaja tidak menghubungi Sarah, sengaja mengabaikan Sarah, sengaja tidak makan siang bersama hingga sengaja lembur, Azhar melakukan semua itu karena rasa kecewanya pada Sarah.
Namun, melihat keadaan istrinya seperti ini dan bahkan menunggunya pulang hingga mengabaikan makanannya, ia menjadi tidak tega. Sebesar apapun kekecewaannya pada Sarah, ia tetap harus membahagiakan Sarah sesuai janjinya dan itu adalah tugas utamanya.
Sarah membelalakkan matanya saat bibirnya dinodai oleh kehangatan suaminya. Ia terdiam, tak tahu harus bagaimana setelah ini. Ia terlihat kaku atas perlakuan manis suaminya. Secinta-cintanya Sarah pada Faris dulu, ia tak pernah mengizinkan Faris menyentuhnya kecuali berpegangan tangan dan berpelukan.
Namun, ini Azhar. Pria yang memiliki hak sepenuhnya atas diri Sarah hingga begitu kentara mengukir degupan rasa didada. Keintiman ini seolah menghadirkan ribuan kupu-kupu di dalam dada dan rasanya ada sebuah riakan yang ingin meledak seketika.
Azhar hanya menempelkan saja, namun durasinya amat lama seolah menunjukkan betapa berharganya Sarah baginya. Gemuruh didada keduanya saling beradu dan kadang pun seirama. Ini kali pertama sejak hari ijab kabul mereka.
Perlahan, Azhar membuka matanya dan menempelkan keningnya dengan Sarah. Nafas mereka beradu dengan tergesa-gesa sambil berpandangan. Wajah Sarah menghangat tanpa direncana.
Azhar pun menyeka bekas air mata dipipi istrinya dengan lembut, “maaf, maaf, maafkan aku. Aku telah mengabaikanmu hari ini. Tapi, asal kamu tahu, aku hanya kecewa dan berusaha menghilangkan kekecewaanku lebih dulu hingga saat aku bertatapan denganmu, kekecewaanku telah habis tak bersisa lagi. Namun, aku salah. Akulah yang membuatmu kec-“
Sarah menutup bibir suaminya dengan tangan kanannya sambil menggeleng, “masih banyak pengakuan yang ingin aku dengar darimu. Terutama kekecewaanmu padaku. Namun-"
"Namun apa?" potong Azhar cemas sambil memandangi wajah memerah istrinya sedekat ini.
"Namun, aku lapar. Mellownya nanti aja kita lanjutin ya, ayo makan. Tapi, kamu harus suapin aku sebagai penebusan kesalahan hari ini.” ucap Sarah diakhiri sedikit nada ketus kemudian melepaskan lengan suaminya dari pinggangnya.
Ia berusaha berdiri dari ranjang hingga meninggalkan Azhar yang termenung.
Azhar pun tersenyum melihat Sarah yang kini menghindari tatapannya, ia berusaha menyembunyikan wajah kemerahannya dari suaminya. Lucu sekali.
Sarah mulai menunjukkan sifat aslinya meski masih terlihat begitu kaku. Pikir Azhar.
Pria ini pun mengikuti Sarah yang kini menenteng menu makan siang yang belum disentuh dan makanan yang barus saja Azhar bawa.
Kekecewaan Azhar hari ini dapat diatasi hanya dengan memandangi wajah merekah Sarah dan-
Azhar menyentuh bibirnya, lembut dan manis. Gumamnya.
Azhar tak menyangka ia bisa bertindak secepat ini, namun ia tak menyesal sebab Sarah pun tak menolaknya. Ini adalah awal yang baik dan semoga besok bertambah baik tanpa ada yang mengecewakan satu sama lain. Meskipun lamban, namun ia akan berusaha membuat Sarah terbiasa dengan keberadaannya.
_________________________________________
Kerinci, 30/09/2019