K

K
SEMBILAN



“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.'” 


(Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Kemilau senja yang merekah, perlahan lenyap hingga gelap menyapa dan kian merayap menempati posisinya. Kebisingan yang melelahkan berhasil dilalui tanpa suatu kurang apapun. Rasa tak percaya hingga kebingungan dari seperempat tamu undangan masih tercetak diingatan. Mungkin, hanya di acara mereka saja hal seperti ini bisa terjadi. Dimana acara yang seharusnya berjalan lembut dan syahdu harus dilalui dengan ketegangan dan juga sedikit perdebatan ringan.


Sarah masih ingat betul saat wajah-wajah itu memandanginya dengan pandangan sinis dan sebagiannya lagi dengan tatapan iba. Seperempat tamu undangan itu belum mengetahui sebab akibat yang terjadi hingga langsung menempatkan Sarah sebagai tersangka yang sebenarnya dialah korbannya.


Pada akhirnya, wajah-wajah itu melempar binar kebencian dan penghinaan padanya.


“Bagaimana bisa wanita itu mempermainkah sebuah pernikahan?”


“Benar, diundangan yang tersebar namanya bergandengan dengan Faris tapi saat resepsi ia menggandeng orang lain. Apa maksudnya itu?”


Terngiang sekali ucapan dari wanita yang merupakan salah satu sahabat Faris namun memang sejak awal berpacaran dengan Faris wanita itu sudah tidak menyukai Sarah.


Saat Sarah ingin maju menimpali ucapan lancang wanita itu yang telah menarik perhatian tamu yang lain, tangannya tiba-tiba saja digenggam dari arah belakang. Sarah menoleh hingga iris matanya menemukan tatapan sejuk dari suaminya. Pandangan Sarah kemudian bergerak turun, disela jari-jemarinya kini diisi oleh jemari lain yang lebih besar dan lebih kokoh darinya. Ia mengerat berusaha menguatkan.


Sarah tersipu hanya dengan hal kecil ini. Wajah-wajah di depannya pun tak kalah sama, melihat interaksi dua mempelai di depan mereka drngan tak percaya. Mana bisa mereka terlihat sangat serasi.


Kemudian, tubuh Sarah pun ikut maju seiring genggaman Azhar menariknya lembut. Mereka berhenti tepat dihadapan wanita yang telah melontarkan ucapannya itu, hingga Azhar pun bersuara.


“Di sini, sekarang dan disaksikan hadirin semua. Lihatlah kami, tegak berdiri dihadapan hadirin sekalian dengan genggaman tangan dan dihadiri oleh banyaknya tamu undangan. Adakah yang terlihat seperti permainan? Secarik kertas yang hadirin terima entah nama siapa yang bergandengan dengan Sarah tapi kalian bisa buktikan hari ini. Saya, bukan dia. Saya yang telah mengikat Sarah dengan satu tarikan nafas ijab kabul dari ayahnya. Apakah itu tak bisa menjawab sebuah kata ‘maksud’ dari yang anda bingungkan?”


“Tanpa mengurangi rasa hormat saya dan istri saya, kami mengucapkan terimakasih atas kehadirannya. Maaf atas kebingungan kalian sebab hanya pecundang yang lari dari posisinya. Dan disini saya menegaskan lagi bahwa di samping Sarah adalah posisi saya.”


Sarah menarik sudut bibirnya bersama genggaman Azhar yang kian mengetat.


“Sarah, kau sakit?”


Sarah tersentak. Ia yang masih bermenung hingga tak menyadari Azhar yang kini telah berada di sampingnya.


“A-aku sehat. Sedang lelah saja.” jawab Sarah dengan sedikit gagu.


Azhar mengangguk dan mulai menelisik sisi ruangan yang merupakan kamar Sarah namun mulai hari ini akan ditempati olehnya juga. Sarah hanya melihat gerak-gerik suaminya dengan pandangan heran dan juga gugup.


Oh,  ayolah. Sarah bukan lagi anak dan gadis yang polos. Ia tahu ini adalah malam pertama mereka berada di satu ruangan yang sama, hanya berdua saja. Ia tak menimpali ada rasa grogi, takut dan malu yang menghampirinya. Terlebih ada rasa kecewa yang masih belum hilang sepenuhnya.


“Kau mau apa?” tanya Sarah heran sebab Azhar berdiri dan mendekat ke arahnya.


Azhar semakin dekat hingga Sarah bisa mendengar hembusan nafasnya, bahkan mencium aroma farfum suaminya, jantung Sarah berdetak kencang tak menyangka seorang Azhar bisa seagresif ini padanya tanpa malu-malu. Azhar kian mendekat bahkan kini hanya berjarak kurang dari dua puluh sentimeter darinya.


Nanum, saat Sarah ingin mentup matanya-


Azhar pun telah bergerak mundur dan sedikit menjauh. Sarah membuka mata hingga mengela nafas sebab dugaannya salah, itu hanya ketakutan dan pikiran kotornya saja.


Azhar hanya mengambil sebuah bantal dari belakang Sarah.


Deg


Bantal, Sarah kembali dibuat heran. Untuk apa bantal itu?


Kemudian Azhar pun mendekati lemari hingga bersuara, “selimut cadangannya ada disebelah mana?”


Sarah menatanya dengan pandangan kosong namun tetap mengarahkan tangannya pada lemari bagian kiri. Azhar mengangguk lalu membukanya hingga berhasil mengambil sesuatu yaang diperlukannya.


“Aku tahu kamu belum terbiasa dan mungkin risih dengan keberadaanku ini. Karena kita sama-sama lelah, maka mari kita istirahat. Aku di sofa saja dan kamu silakan gunakan ranjang dengan damai.” ucap Azhar kemudian melangkah menuju sofa.


Sarah mengerjap lalu dengan spontan menggigit bibir bawahnya dengan lembut, ia tak menyangka Azhar bisa melihat kegugupannya hingga memiliki alternatif seperti ini dan menawarinya lebih dulu.


“Dia kok gini ya? Bikin bingung dan perasaanaku kan jadi tak menentu.” batin Sarah.


Azhar tersenyum kecil melihat raut wajah istrinya dan kebingungannya. Ia pun melanjutkan kegiatannya untuk menata sofa senyaman mungkin lalu melemparkan tubuhnya ke sana.


Sarah memperhatikan suaminya dalam diam, kemudian sedikit kasihan melihat posisi Azhar hingga berkata, “tapi, Azhar, aku sebenarnya b-“


“Stt, sudahlah. Jangan pernah merasa bersalah gitu. Aku tidak apa-apa begini. Kita masih punya banyak waktu untuk mengakrabkan diri. Jadi, untuk sekarang adalah waktunya tidur dan tentu kamu juga.” Potong Azhar.


Sarah mengangguk paham dalam diam, “baiklah. Terimakasih telah memahamiku.” Imbuhnya seraya menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang hingga menutup tubuhnya dengan selimut hingga batas bahu.


"Terimakasih juga telah bersedia menjadi istriku. Jika kamu bangun lebih awal nanti, tolong bangunkan aku ya. Dipertigaan malam ada tahajud yang bisa kita sapa.”  ucap Azhar memiringkan tubuhnya menghadap ke arah ranjang ukuran besar itu, Sarah pun melakukan hal yang sama hingga mengangguk.


“Tapi, aku nggak janji ya. Sebab biasanya aku bangun paling cepat jam 8 pagi.” aku Sarah dengan malu tapi ia lebih malu jika nanti Azhar mengetahuinya sendiri.


Ia ingin sekali melihat respon suaminya atas kenyataan dirinya yang tak sebaik, serajin dan selayak wanita di luar sana. Ia tak marah jika Azhar akan memandanginya buruk.


Tapi, yang ia terima tak begitu.


“Baiklah. Jika sebelum-sebelumnya kamu biasa bangun jam segitu, maka mulai sekarang lebih baik dipercepat ya. Kalau susah, biar aku yang bangunkan. Belajar membiasakan hal yang baik.” Tawar Azhar.


Sarah pun mengatup sepasang bibirnya hingga sedetik kemudian memisahkannya lagi, “aku akan coba. Bantu aku ya.”


Azhar kembali tersenyum, “itulah yang akan selalu aku lakukan mulai sekarang.”


***


Sarah tak bisa memejamkan matanya tapi ia tak juga bisa membukanya, antara sadar atau tidak. Ia seperti berada di suatu tempat yang asing dan begitu gelap. Ia berlari dikesunyian, ia melangkah kesembarang arah dan berharap menemukan setitik cahaya. Lari, lari hingga terus berlari akhirnya ia kelelahan. Sepasang lutunya terasa ingin lepas dari persendian, ingin remuk sekarang juga.


Kemudian, ia memilih berjongkok di tengah tempat asing ini dengan rasa ketakutan yang bertambah menyusup ke dadanya. Ia bisa mendengar suara nafasnya sendiri bahkan degupan jantungnya seakan bergema dan mampu memantulkan bunyi yang keras, saking kerasnya mampu membuat Sarah takut mendengarnya hingga meutup telinganya, ia menangis.


Ia tak tahu lagi harus berlari ke arah mana. Ia tak tahu harus meneriakkan nama siapa hingga tiba-tiba sesuatu terdengar semakin mendekat ke arahnya. Sepasang langkah mampu menutupi suara degupan jantungnya. Langkah itu terdengar yakin berjalan kepadanya. Dengan sebuah sumber cahaya ditangannya, sosok itu pun berada tepat dihadapaan Sarah. Sarah dapat melihat bayangan dirinya di tempat yang ia pijak ini dari pantulan cahaya itu hingga tubuh bergetarnya pun terangkat.


Yang ia temukan pertama kali adalah sebuah tangan dan tangan tersebut terulur ke arahnya. Sarah menatap lama tangan tersebut hingga tangannya tergerak untuk menyambutnya, “hangat.’ gumamnya.


Ia pun ingin menatap pemilik tangan yang ia genggam ini dan seseorang yang membawa cahaya ke arahnya. Hingga tiba-tiba saja cahaya yang lebih besar dan menyilaukan menghampiri dirinya sebelum ia mengetahui wajah si pemilik tangan.


“Sarah... Sarah... hei! Bangun! Ada apa? He!” ucap sebuah suara.


Sarah terus saja bergerak gelisah dalam tidurnya, hingga tangan Azhar yang digenggamnya kian mengerat.


“Sarah? Bangun!” ulang Azhar yang kini menepuk pelan pipi Sarah, terpancar aura cemas diwajah timur tengahnya.


Dengan tepukan pelan dipipinya, Sarah pun akhirnya berhasil membuka kedua matanya yang terasa berat. Ia terengah-engah dengan air mata dan peluh yang bercampur di sisi wajahnya.


"Azhar....” ucap Sarah dengan suara serak.


Azhar pun mengangguk dan mulai menyeka sisa air mata diwajah istrinya dan juga peluh Sarah dengan tangannya yang bebas. “Iya ini aku, kamu kenapa?” tanya Azhar lembut.


Sarah menggeleng lemah hingga tanpa aba-aba ia menghambur ke dada suaminya.


Azhar membatu namun kemudian ikut membalas pelukan Sarah dengan sebelah tanganya sebab tangan kirinya masih digenggam oleh istrinya ini.


Setelah sekian menit dalam keadaan ini, akhirnya Sarah pun merenggangkan pelukan mereka.


Sarah memperhatikan wajah cemas Azhar dengan sendu hingga iris matanya turun menatap tangannya yang kini menggenggam tangan suaminya. “Tangan ini.” gumamnya.


Azhar pun ikut melihat tangan mereka, “ah, maaf jika kamu tidak suka. Aku hanya kaget melihat tidur gelisahmu hingga kamu menangis. Aku mendekat ke sini tapi kamu langsung menyambut tanganku.” terang Azhar sambil berusaha melepas genggamannya. Namun, Sarah menahannya sambil menggeleng lemah.


“Sumpah Azhar, aku bermimpi buruk, tempat yang gelap, sunyi dan menakutkan hingga pada ujung ketakutanku ada berkas cahaya menghampiriku dengan sebuah tangan yang terulur-“


“Stt... sudahlah. Tenangkan dirimu, itu hanya mimpi.” ucap Azhar memotong suara Sarah yang terlihat cemas dan terengah-engah serta tergesa-gesa dalam menyampaikan mimpinya. Azhar pun menyerahkan segelas air putih pada istrinya agar ia bisa sedikit lebih tenang.


“Sudah mau masuk waktu subuh. Ayo bersiap-siap untuk sholat, aku akan ke masjid.” ucap Azhar ketika nafas Sarah sudah stabil dan wajahnya tak lagi terlihat cemas seperti tadi.


Sarah pun terdiam hingga genggaman Azhar terlepas dengan sendirinya. “A-aku, aku sudah lama tidak sholat subuh sebab aku bangunnya selalu batas jam 8 ke atas." cicit Sarah sambil menunduk.


Azhar menghela nafas, “tak mengapa. Allah Maha Pengampun kamu paati tahu itu. Tapi, jangan dibiasakan lagi. Dan hari ini adalah titik awalnya, kamu anggap saja bahwa harimu dimulai sekarang maka mulailah dengan mengerjakan hal-hal yang baik terutama kewajiban sholat.” Azhar mengelus rambut istrinya yang sedikit kusut itu.


Sarah mengangkat wajahnya, “tapi, aku lupa do’a qunutnya.”


Azhar tertawa kecil, Sarah terlihat lucu jika jujur seperti ini. “Yang penting kamu sudah bangun, jadi sebaiknya kamu bersih-bersih dan berwudhu.”


“Qunutnya gimana?” Tanya Sarah yang masih saja betah diranjang.


“Qunutnya kan sunnah. Jadi, subuh kali ini kamu boleh tidak mengikutsertakannya. Nanti akan aku bantu kamu mengingatnya kembali.” Azhar pun menepuk pelan pundak Sarah hingga berdiri.


Penyebab perbedaan qunut yang paling mencolok adalah beda pemahaman hadits dan cara qiyas, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid. Bagi kalangan mazhab Abu Hanifah, qunut hanya dilakukan kala shalat witir.


Mazhab Ahmad bin Hanbal menyebutkan kesunnahan qunut Subuh ini hanya pada momen nazilah, yaitu ketika umat muslim dilanda musibah. Sedangkan bagi kalangan bermazhab Syafi’i, seperti kebanyakan diamalkan di Indonesia, membaca doa qunut Subuh termasuk sunnah ab’adl, yang jika ditinggalkan maka dianjurkan melakukan sujud sahwi.


Para ulama kalangan mazhab Syafi’i menyandarkan pendapat perkara qunut ini salah satunya pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik sebagai berikut:


Artinya: “Rasulullah SAW senantiasa berqunut di shalat fajar (shalat Subuh) sampai beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad)


Selain itu, pengamalan qunut Subuh ini juga dilakukan para sahabat, seperti Umar bin Khattab. Namun bagi sebagian ulama, hadits yang digunakan di atas masih perlu dipahami latar belakangnya serta perlu dibandingkan dengan hadits lain. Sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, berikut hadits perihal qunutnya Nabi di waktu Subuh yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:


Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak berqunut ketika shalat fajar (shalat Subuh), kecuali ketika mendoakan kebaikan atau keburukan untuk suatu kaum.” (HR. Muslim)


Hadits Anas bin Malik yang menjadi hujjah untuk berqunut Subuh di atas dipahami ulama bukan sebagai doa, melainkan maksud qunut di sana adalah berdiri lebih lama dan membaca doa yang lebih umum. Kemudian terkait Umar bin Khattab yang berqunut saat shalat Subuh, dipahami sebagian ulama bahwa beliau melakukannya pada momen musibah dan perang (nazilah) kala itu. Demikian kurang lebih yang dicatat Ibnu Qudamah.


Imam Malik bin Anas dalam istilah fiqihnya membedakan perkara yang dianjurkan antarasunnah dan mustahab. Qunut menurut Imam Malik tergolong amalan yang mustahab, yaitu hal yang dianjurkan namun Nabi tidak mengamalkannya secara terus-menerus semasa hidup. Berdasarkan beberapa riwayat hadits, disebutkan bahwa Nabi pernah berqunut selama sekian hari, lantas beliau meninggalkannya.


Menurut Imam Malik pula, doa qunut hendaknya dilakukan sebelum ruku’ secara pelan (sirr), berbeda dengan mazhab Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal yang berpendapat bahwa qunut dibaca setelah ruku’.


‘Ala kulli hal, demikian beberapa hujjah yang menyebabkan beda pengamalan qunut Subuh di masyarakat. Kini perdebatan yang dulu memicu polemik di masyarakat ini tampak kian lunak, utamanya di masyarakat kota. Kalangan Nahdliyin yang biasa berqunut, biasa saja mengikuti jamaah Subuh yang tanpa qunut. Begitu pula kalangan yang tidak biasa berqunut, tidak keberatan membaca qunut dalam shalat mengikuti lumrahnya masyarakat.


Mengutip pendapat Imam Sufyan ats Tsauri, sebagaimana dikutip oleh Imam at Tirmidzi dalam Sunan at Tirmidzi terkait qunut:


“Jika seseorang ingin melakukan qunut di waktu Subuh, maka itu ‘hasan’ (baik, dan termasuk sunnah). Dan jika tidak berqunut, itu juga ‘hasan’.”


“Baiklah. Aku sholat.” Sarah bergegas meninggalkan ranjangnya dengan ogah-ogahan,


“Gadis baik.” Gumam Azhar.


Sarah berjalan cepat menuju kamar mandi hingga menutup pintu kamar mandi tersebut dengan cepat pula. Ia salah tingkah di depan Azhar karena ucapan pria itu.


“Baik apanya? Mana ada gadis baik yang bangun selalu kesiangan.” gerutu Sarah yang sempat terdengar oleh Azhar sebelum ia menutup pintu barusan.


Azhar pun tak mampu menahan tawanya. “Semoga mulai hari ini hal-hal baik selalu menghampiri lika liku rumah tangga kita, istriku.” Lirihnya sambil menatap pintu kamar mandi yang tertutup dan terdengar gemericik air di dalam sana.


_________________________________________


Referensi :


Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang : https://islam.nu.or.id/post/read/88409/perbedaan\-pandangan\-ulama\-fiqih\-tentang\-qunut\-subuh


Kerinci, 28/09/2019