
“Bagaimana pun keadaan hatinya sekarang entah terisi oleh nama siapa. Do'aku takkan goyah meski pun harus bertarung dilangit sana.”
-Azhar-
_________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
Desiran ombak beradu membusung bunyi pecahan yang merdu lalu melebur dengan riakan tak berdebu. Langit biru menampilkan lukisan indah bak kanvas tak ternoda, awan tulus pun mengalah pada mentari yang menguning dengan sempurna.
Seorang pria sedang menyusuri bibir pantai setelah mengecek progress proyek pembangunan resort baru yang digarapnya ini. Resort bernuansa romantis didesain khusus untuk memanjakan pasangan-pasangan yang akan mengabiskan waktunya di Bali. Lokasi yang menghadap langsung ke bibir pantai membuat keindahannya semakin mengagumkan.
Setelah memberi arahan dan menyelesaikan masalah yang disampaikan oleh manager konstruksi, ia pun memilih untuk menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan sejenak sebelum kembali ke Hotel.
Rencananya ia hanya akan beberapa hari saja di sini yaitu untuk mengecek progress proyeknya saja, namun kepulangannya ini terdengar oleh Ibu dan Ayahnya hingga memintanya kembali ke rumah meski hanya sebentar. Tak bisa menolak ia pun berencana akan menghabiskan waktu bersama keluarganya beberapa hari saja.
Azhar tersenyum ramah pada wisatawan yang menyapanya, beberapa wanita mencoba menghampirinya dan menggodanya tetapi Azhar menghindar dengan sopan. Ia tak ingin melonggarkan prinsipnya termasuk untuk menyambut uluran tangan halus dari wanita-wanita cantik yang menggunakan pakaian pantai terbaik mereka.
Beragam model manusia dan beragam pula model pakaiannya, ada yang hanya menggunakan dua lembar kain kecil saja dan ada juga yang tetap menggunakan pakaian muslimahnya. Sudah dapat ditebak bahwa para turis asinglah yang dengan berani berpakaian terbuka di sini dan juga tidak sedikit wanita Indonesia yang menggunakan gaun pendek dan transparan.
Azhar melangkah dengan sesekali menunduk, takut tak mampu menjaga mata hingga bisa menjadi fitnah nantinya. Ia tak menyalahkan tatapan pertama namun ia tak akan jatuh pada pandangan yang sama berikutnya.
Saat ia berhenti di tepi pantai bagian barat, ia tak mampu menghindari pemandangan di depannya. Sosok itu sangat dikenalinya, gadis yang mampu menahan hatinya selama bertahun-tahun. Sosok yang sudah lama tidak ia jumpai, meskipun begitu tak berarti Azhar terbebas dari rasanya ini. Azhar masih sangat mengingat Sarah dan selalu menyematkan satu nama sederhana itu di pertengahan doanya.
Tak mendesak namun tak pernah mundur selama sosok cantik tersebut masih bisa ia raih. Setelah menyunggingkan senyum lembutnya, Azhar kembali beristighfar. Sarah sangat berubah dan tak seperti awal ia berjumpa dengan gadis itu.
Sarah kini dengan berani mempertontonkan auratnya di depan banyak orang yang bukan mahromnya. Azhar merasa sesak, mengapa ia tak bisa melupakan Sarah meski beribu kali ia coba.
Sempat ia memiliki ketertarikan dengan salah satu mahasiswinya, namun Allah berkehendak lain dengan membuat rasanya tertolak halus. Shanun namanya, gadis cantik yang sudah mulai berhijrah. Azhar mengenalnya sejak gadis itu masih berada di tengah kebimbangan dan akhirnya Azhar menyaksikan sendiri perubahan baiknya.
Shanum mulai menggunakan pakaian Syar'i yang membuatnya terlihat semakin anggun dan bermartabat.
‘Andaikan saja Sarah seperti Shanum.' Batin Azhar.
Tapi sayang, Sarah tak seperti gadis bernama Shanum. Dia telah berubah, sangat berbeda dari gadis berseragam sekolah yang pernah ia temui kala itu.
Saat itu Sarah masih menggunakan kerudung meski hanya sekedar formalitas di sekolahnya namun mengapa semakin dewasa Sarah semakin menyepelekan kemuliaan dirinya. Apakah hanya Azhar yang memantaskan diri di sini? Apakah hanya Azhar yang ingin menjadi yang terbaik untuk Sarah?
Azhar tersenyum perih, tentu saja begitu. Mana mungkin Sarah bisa sama sepertinya, mana mungkin Sarah menginginkan Azhar seperti Azhar menginginkannya? Azhar hanya seorang pengecut yang larut dalam memperbaiki diri namun menyepelekan sesuatu yang harus disegerai. Meskipun begitu, sepenuhnya bukanlah kesalahan Azhar.
Azhar bahkan telah bertindak jauh sebelumnya dengan mengajukan diri ke hadapan orang tua Sarah saat gadis itu masih duduk dibangku kelas 3 SMA namun ia langsung ditolak oleh keluarga Sarah. Mereka menola Azhar dengan dalih Sarah masih sekolah. Itu memang benar, namun tak hanya begitu saja.
Mereka juga menolak Azhar dengan alasan Azhar bukanlah seorang pengusaha, Azhar hanya mahasiswa sekaligus dosen sehingga tak pantas berada di keluarga Sarah yang terkenal sebagai pengusaha sukses. Dibantu oleh sahabatnya sekaligus sepupu langsung dari Sarah tak membuat keluarga Sarah memberinya kesempatan sedikitpun, hingga Azhar bertekad ingin memantapkan dan memapankan dirinya agar bisa bersanding dengan Sarah walau Azhar tahu bahwa kemungkinannya sangatlah kecil.
Azhar tak tersinggung atau terhina sedikitpun dengan perkaataan orang tua Sarah, ia sangat memaklumi hal itu. Ia berusaha untuk selalu berbaik sangka dan mungkin saja waktu akan menghapus segalanya. Iya percaya akan itu semua.
Meskipun Sarah tak sholehah seperti yang ia harapkan tetap saja ia masih tertambat pada sosok itu. Azhar ingin menggapainya, mendekati Sarah yang sedang tersenyum memandangi deburan ombak. Namun, Sarah terlihat semakin melebarkan senyumnya seraya mengantar peluk untuk seorang pria yang baru saja muncul dengan pakaian pantainya.
Azhar mundur, dengan pandangan kecewa. Ternyata perkataan tidak semudah perasaan dan tindakan.
Azhar teringat dengan ucapannya pada Adzkia sebelumnya. “Bagaimana pun keadaan hatinya sekarang entah terisi oleh nama siapa. Do'aku takkan goyah meski pun harus bertarung dilangit sana.”
Susah, susah sekali memegang perkataan itu saat penampakan kebahagiaan dua pasang manusia itu memenuhi penglihatannya. "Semoga saja sesuai harapanmu. Aku tahu kau begitu mendambakannya, tapi ingat jangan sampai membuatmu buta akan hal lainnya." Perkataan Adzkia memang ada benarnya. 'Aku terlalu mendambakannya hingga tanpa sadar membuatku buta.'
Azhar pun memutar tubuhnya berusaha menjauh dari seseorang yang tanpa sadar telah menyakitinya.
Sarah, aku takut tak mampu lagi mengharapkanmu setelah ini. Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu meskipun itu menggores luka untukku. Semoga kau selalu bahagia dengan caramu dan semoga aku bisa melunturkan bayangmu meski tak ingin. Batin Azhar.
Beberapa Bulan telah berlalu
"Bagaimana Riq, kau menemukannya?" Tanya seorang pria paruh baya yang terlihat gelisah di kursinya.
Pria yang ia panggil 'Riq' itu terlihat sibuk dengan ponselnya seraya menjawab, "tidak Om, aku sudah mengecek ke semua sahabatnya namun tidak ada diantara mereka yang tahu di mana Sarah sekarang.”
"Anak itu semakin bandel dan liar saja. Sudah berani membohongi orang tua dan sekarang meninggalkan rumah seenaknya."
"Menurut Thoriq, lebih baik Om tunangkan saja mereka berdua. Takutnya Sarah akan bertindak lebih jauh lagi, cita-citanya saja bisa ia tinggalkan gara-gara laki-laki itu apalagi jika kita terus memaksanya menjauhi Faris." Thoriq menyatakan pendapatnya karena terlalu kasihan melihat Omnya yang terus saja memikirkan kelakuan sepupunya itu.
"Entahlah Riq, Om pusing. Ada-ada saja cara Sarah mempermalukan Om. Pertama permasalahan dia meninggalkan kuliahnya. Kedua kabar dia memilih menjadi model di Agensi Faris, kalau model yang sopan tidak mengapa, ini kebanyakan gambar dia memakai pakaian yang mengekspose tubuhnya. Om malu Riq, lah ini dia lari entah mengapa. Om yakin dia bersama pria itu sekarang." Terang Ayah dari Sarah ini.
"Iya Om, aku juga sudah mengecek langsung ke Agensi dan katanya Faris sedang tidak ada di sini sejak beberapa hari yang lalu." Thoriq mendekat ke meja Omnya. Ia pun kaget saat mendengar kelakuan Sarah yang kali ini melewati batas hingga Thoriq langsung menuju alamat Kantor Faris yang ia dapatkan dari Tantenya.
"Terus bagaimana ini, Riq?" Tatapan pria di sepan Thoriq nampak lemah. Ia lelah dibohongi oleh putrinya itu.
Thoriq semakin dekat ke meja Omnya seraya menunjuk ponselnya. "Tenang Om, jangan cemas. Aku sudah minta bantuan orang kepercayaanku untuk menemukan Sarah, Roni tidak pernah mengecewakan. Katanya hari ini ia akan melaporkan kinerjanya."
"Om lelah begini terus, Sarah anak tunggal Om. Kalau bukan dia siapa lagi yang akan menjadi kebanggaan Om. Meski dia sangat mencintai Faris tapi Om merasa Faris tidak cocok untuknya. Sekarang saja dia bisa menyesatkan Sarah apalagi nanti." Keluh seorang Ayah ini.
Memang benar, saat putrinya mengenalkan Faris ke hadapannya ia langsung tidak setuju saat putrinya memiliki hubungan dengan pria itu. Terbukti, sejak itu Sarah benar-benar berubah bahkan mampu bertindak kelewatan seperti ini.
"Oh, andaikan saja waktu itu Om menerima lamaran dari pria keturunan Timur Tengah itu. Mungkin saja ceritanya akan berbeda. Om menyesal Riq." Ayah Sarah mengungkapkan penyesalannya. Ia pernah menolak seorang pria yang waktu itu dengan berani melamar Sarah.
Thoriq kembali duduk di sofa sambil menerawang jauh. "Sudahlah Om, tidak baik menyesali yang sudah terjadi dan juga mengandaikan sesuatu yang telah terlepas dari genggaman."
"Kamu benar, apakah mungkin pria itu kembali lagi ke sini untuk meminta Sarah pada Om untuk yang kedua kalinya? Jika iya, Om pasti akan langsung menerimanya. Apakah Azhar sudah menikah sekarang, Riq?" tanya Om dengan pandangan berharap.
"Entahlah Om, yang lebih tahu adalah Riqhad. Mereka sahabat." Thoriq mengangkat bahunya. Memang Riqhad dan Azhar adalah sahabat hingga sekarang. Namun Riqhad saja jarang ia temui bagaimana bisa tahu keadaan Azhar.
Drrrt... drttt...
Ponsel Thoriq bergetar hingga ia langsung mengangkatnya. "Bagaimana, Ron?"
"Bos, saya sudah melacaknya dan hari ini saya mengikuti mereka. Mereka sekarang berada di Singapura, selain untuk pemotretan salah satu brand, mereka juga terlihat sedang liburan berdua. Dan- " Terang suara di seberang sana.
Thoriq terlihat tak sabaran. "Dan apa? Coba jelaskan dengan benar."
"Menurut saya lebih baik jemput Sarah ke sini sebelum terjadi hal yang buruk. Ikuti saja keinginannya daripada ia menjadi lebih liar lagi." Tambahnya lagi.
"Kamu benar, saya juga berpendapat seperti itu. Kalau begitu kamu terus pantau mereka, kami akan ke sana besok." Jawab Thoriq sambil menghampiri Omnya.
"Siap Bos. Jangan lupa bonus saya."
"Kerja dulu baru bonus."
Tut.
Setelah mengakhiri teleponnya, Thoria pun berkata pada Omnya. "Sarah di Singapura Om. Ayo ke sana besok."
Om mengangguk lemah.
Mungkin benar, mau tidak mau sebaiknya Sarah ditunangkan saja dengan kekasihnya itu. Ia akan berusaha menerima kenyataan ini meski ia masih mengharapkan seseorang yang telah ia singgung perasaannya. Tapi itu mustahil.
\*\*\*
Empat Bulan kemudian
Sarah terlihat cantik dengan gaun sebatas lututnya, ia memilih untuk mengepang rambutnya hari ini agar terlihat lebih fresh. Setelah dari rumah temannya, Sarah kembali lagi ke rumahnya sebab janjinya dengan Faris harus dibatalkan. Mantan pacarnya sekaligus tunangan dan calon suaminya itu sedang berada di luar kota urusan pekerjaan, itulah yang Sarah tahu dari pesan yang dikirimkan Faris kemarin.
Saat sampai di rumahnya, Mama menyambutnya dengan kalimat perintah agar besok Sarah bisa ikut ke rumah Tante Hasna. Tante Hasna ingin mengenalkan seseorang kepada mereka semua.
Sebenarnya Sarah sangat malas menghadiri acara keluarga seperti itu sebab keluarganya masih saja sinis terhadap Faris padahal pria itu sebentar lagi akan menjadi anggota baru di keluarga mereka. Takut kembali membuat orangtuanya murka dan mengungkit-ngungkit kejadian lalu ketika Sarah membandel, Sarah pun terpaksa menyetujuinya.
Sarah menutup pintu kamarnya lalu ia memilih untuk menghubungi Faris dan menyampaikan rencana besok, Sarah ingin mengajak Faris ikut bersamanya.
Sudah dua kali panggilannya terhubung tapi tidak dijawab oleh pria itu, entah sedang apa Faris sekarang. Sarah menghela nafas dan kembali mendial Faris untuk yang ketiga kalinya dan syukurlah panggilan tersebut diangkat dalam detik ke sepuluh.
"Hallo, yang. Kenapa?" Tanya Faris di seberang sana.
Sarah mengernyit mendengar sesuatu yang sedikit mengganjal. "Yang, kamu jadi kan pulangnya besok?" Sarah menyampaikan maksudnya.
"Iya jadi. Terus?" Sarah merasa ada yang berbeda dari nada suara Faris, seperti tidak senang akan panggilan darinya ini. Namun Sarah mencoba mengabaikannya.
"Gini loh, malam besok kita ke rumah Tante Hasna. Ada acara makan malam sekalian memperkenalkan anak angkatnya Tante."
"Males aku. Keluarga kamu masih ngga suka sama aku, ikut acara kalian bikin aku ngga nyaman aja. Kamu pergi sendiri aja ya, kalo enggak sama orang tuamu." Tolak Faris.
"Kok gitu sih yang? Kamu seriuskan mau nikahin aku?"
Faris langsung kaget mendengar suara pertanyaan Sarah itu hingga ia langsung menimpalinya, "emang aku terlihat main-main sama kamu? Kok malah nanya gitu?"
"Ya kamu sih, ngga mau usaha deketin keluarga aku. Kalo kamu gini terus keluarga aku bakal gitu terus ke kamu." Jelas Sarah dengan emosi.
"Makanya ayo ke sana bareng, kita tunjukkan bahwa kamu enggak seperti yang mereka pikirkan." Tambah Sarah berusaha membujuk.
Setelah sekian menit mendebatkan hal ini akhirnya Faris pun setuju. "Oke deh yang. Aku ikut."
"Makasih ya, udah mau ngalah. Sampai ketemu besok, aku sayang kamu." Sarah tak bisa menyembunyikan nada keceriaannya.
"Iya yang, aku sayang kamu." Jawab Faris.
Namun, Sarah kembali merasa ada yang berbeda. Ia mendengar suara seorang wanita di sekitar Faris. Namun saat ingin menayainya, Faris lebih dulu menutup ponselnya.
Sarah termenung sebentar untuk mempositifkan pikirannya, tidak mungkin Faris sedang bersama wanita sekarang ini. Iya. Itu ngga mungkin, Faris hanya mencintainya. Setidaknya itu yang Sarah yakini sekarang ini.
Sementara itu
"Kok kamu bersuara sih? Nanti dia denger dan curiga gimana?" Keluh seorang pria setelah menutup teleponnya.
Wanita disebelahnya merengut dan menunduk. "Maaf By, soalnya kamu cuekin aku. Teleponnya lama banget, pake sayang-sayangan pula kan aku jadi sedih."
Pria itu terkekeh sambil merangkul wanita cantik yang terlihat semakin cantik ketika merajuk. "Cup... cup... Udahlah Han, kamu ngga usah sedih gitu. Sekarang hanya kamu yang aku mau, bukan dia yang berstatus calon istriku. Andai aku bertemu denganmu lebih dulu maka aku tak akan menghabiskan waktu cuma-cuma dengan dia. Wanita yang tak bisa memberiku rasanya."
"Gitu ya? Berarti kamu mau sama aku cuma gara-gara aku murahan?" Ia melepas rangkulan di pundaknya.
"Eh, enggak gitu Han. Aku mau sama kamu karena emang aku cinta sama kamu." Jelas sang pria dengan meyakinkan.
Wanita itu menatap si pria dengan tatapan permohonannya. "Kalo cinta, kamu bersedia kan ninggalin dia demi aku?"
Pria itu terdiam, ia bimbang.
"Sudah aku duga bahwa kamu tidak bersedia meninggalkan dia. Mentang-mentang dia anak orang berada. Apa gunanya hubungan kita tiga bulan ini? Apa aku hanya selingan ketika kamu telah bosan menunggu murahannya dia?" Wanita itu kembali bersedih.
"Oke, aku pilih kamu. Kamu nggak usah cemas sebab demi kamu aku akan ninggalin dia secepatnya. Sabar."
"Makasih Baby. Aku makin cinta sama kamu." Wanita itu berubah senang sambil memeluk si pria.
"Aku juga, jadi?" Si pria mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi apa?" Si wanita pura-pura tak mengerti.
"Lanjutin yang tadi lah, nanggung tahu." Jawab si pria sambil memeluk wanita itu.
"Kamu mah mau enaknya doang." Wanita itu merengut.
"Kamu juga kan?"
Keduanya pun tertawa bersamaan setan yang bangga karena melihat umat manusia mampu ia sesatkan. Al-Munawi rahimahullah berkata, “Yaitu setan menjadi penengah (orang ketiga) di antara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di hadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitan pun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinahan.”
(Faidhul Qodir 3/78).
_________________________________________
Kerinci, 14/09/2019