
Komunikasi adalah kunci untuk membuka hubungan (apapun). Lantas kepercayaan adalah kunci penggenapnya agar awet dan langgeng. Punya dua hal ini, maka hubungan pertemanan, bisnis, keluarga, dll, akan berhasil.
-Tere Liye-
_________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
.
Sarah meronta saat Azhar bertindak seperti ini padanya. Bibirnya terasa perih hingga ia berusaha mendorong tubuh kekar suaminya namun dengan sekuat tenaga pula Azhar mempertahankan posisinya sekarang.
Beberapa waktu berselang, pergerakan Sarah pun mulai mengendur, ia terdiam dan ikut menikmati alunan nafas Azhar yang melunak, mengimbangi gerakan bibir suaminya. Gerakan selembut kapas dan tak sekasar sebelumnya. Kedua tangannya menurun lemah hingga Azhar menggenggamnya.
Sarah kecewa namun tak mampu menolak rasa hangat dan debaran yang diberikan Azhar. Ini kedua kalinya dan kali ini lebih dari yang pertama. Sarah akui, ia terlena dan suka.
Azhar melepas tautan mereka ketika keduanya sama-sama hampir kehabisan nafas, Azhar pun menyeka sisa air mata istrinya kemudian mengelus lembut sudut bibir Sarah yang sedikit membengkak.
Wajah Sarah memerah hingga ketika melihat itu, Azhar pun mengulangi kembali tautan mereka tanpa ditolak oleh Sarah. Kali ini lebih lama dan lebih dalam. Gemuruh rasa didadanya tak mampu dibendung. Apalagi ketika Sarah meminta Azhar untuk melepasnya. Sungguh, hal itu takkan ia lakukan meskipun kematian menjemputnya.
Dengan nafas yang sama-sama terengah-engah, keduanya pun menyatukan kening mereka dengan mata yang masih tertutup. Azhar membuka matanya dengan perlahan kemudian mengecup kedua mata Sarah hingga mata Sarah ikut terbuka.
“Jangan lagi kamu berkata seperti itu, Sarah. Telah berulangkali aku katakan bahwa aku mencintaimu, bahkan cintaku hadir sebelum kamu belajar mencintai mantanmu itu." ucap Azhar dengan lunak.
"Sarah, aku tak lagi menasehatimu sebab aku menghargai keinginanmu yang tidak suka dikekang. Aku mendiamkanmu seperti ini sebab kamu membenciku dan aku tak berani menatapmu lama karena aku tak sanggup terluka hanya dengan melihat binar matamu itu. Matamu yang tak bisa belajar mencintaiku.” terang Azhar lagi.
Sarah mengerjap berulang kali hingga ia menggenggam tangan Azhar, “bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?”
Azhar balas menggenggam tangan Sarah kemudian menimpali, “aku mendengarnya langsung dari mulutmu ketika kamu dengan bebasnya berbagi cerita dengan seseorang ditelepon. Aku iri mengapa jika bersamaku, kamu tak bisa sebebas itu dan bersikap sebagaimana adanya kamu. Kamu seolah memakai topeng dihadapanku. Aku kecewa, mengapa bisa cintaku padamu selalu bertambah volumenya bahkan saat aku tahu kamu tak mau belajar menerimaku bahkan membenciku.” jawab Azhar.
Sarah menggeleng lemah hingga tanpa diduga ia menghambur kepelukan suaminya.
“Kamu salah dan sangat salah. Kamu hanya mendengar setengah dari perkataanku. Kamu hanya menangkap pangkalnya saja tanpa tahu ujungnya.” timpal Sarah sambil mengeratkan pelukannya.
“Azhar, aku membencimu karena kamu teramat baik untukku dan baru kusadari, aku begitu merindukan perhatian dan kalimat nasehat indah darimu. Aku juga tak tahu mengapa bisa aku takut kehilanganmu, menyakitimu hingga aku harus menjaga sikapku ketika berada bersamamu. Aku takut tak bisa mengimbangimu.” tambah Sarah lagi.
Deg
Jantung Azhar berdetak dengan ritme meningkat, perkataan Sarah adalah sumbernya. Ia tak menyangka jika ia telah salah paham berhari-hari. Azhar pun mengeratkan pelukan Sarah sambil menghirup wangi Sarah yang begitu ia sukai ini.
“Kamu serius? Tak membenciku?” tanya Azhar memastikan.
Sarah mengangguk dalam pelukan mereka.
“Kamu takut kehilanganku dan kamu bersedia belajar menerima serta mencintaiku?” Sarah kembali mengangguk yakin.
“Kalau begitu, kamu tak usah lagi memakai topeng kakumu itu dihadapanku karena semua tentangmu dan apa yang ada pada dirimu, aku menerimanya. Bahkan sedari dulu.” timpal Azhar kian mengeratkan pelukan mereka dengan sayang.
Cup
Dengan malu-malu, Sarah mengecup pipi suaminya. Ia begitu lega hari ini. Ia begitu bahagia mendengar pengakuan Azhar. Azhar tersenyum senang hingga mengelus sayang rambut istrinya.
“Azhar, seperti permintaanku sebelumnya, tolong bimbing aku dan nasehatilah aku selalu karena aku masih banyak kurangnya. Jangan pernah lelah bersamaku.” ungkap Sarah.
Azhar mengangguk kemudian merenggangkan pelukan mereka.
“Semua yang ada padamu adalah milik Allah, kau begitu berharga hingga tak seharusnya mereka di luar sana bebas memandangimu. Kamu tahu, aku orangnya pencemburu berat. Aku hanya ingin kamu belajar membiasakan diri menggunakan kerudung. Apakah kamu bersedia memulai yang awal ini?” tanya Azhar.
Sarah tersenyum dan mengangguk.
Azhar menghela nafas lega hingga mengecup dahi istrinya. "Terimakasih, aku mencintaimu.” ucapnya.
Sarah tersenyum hingga teringat sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya hingga kini, bahkan sebelum ia sempat membalas ungkapan perasaan Azhar.
“Azhar, siapa Adzkia?”
***
Seorang pria terlihat kerepotan menyusun barang-barang di mobil yang dikendarainya. Tak hanya menyusun dua koper, ia pun dibuat kualahan mencari sebuah alamat. Wanita asal Indonesia ini terlihat memiliki beban berat hingga dia tak berani menukas lebih lanjut, wanita ini hanya menyerahkan kertas kecil bertuliskan sebuah nama apartment.
Saat sang wanita minta berhenti di sebuah masjid untuk mengerjakan sholat ashar, ia pun memilih menunggu di depan masjid saja. Dengan masih menunggu, ia melihat wujud seseorang yang ia rindukan hingga ia memilih meninggalkan kursi kemudinya dan menghampiri wanita yang sedang beristirahat di sebuah mini market.
“Sarah!" sapanya.
Sarah yang dipanggil mengangkat wajahnya hingga meemukan seseorang yang begitu dihindarinya.
Sarah memang sedang menunggu Azhar yang sholat disela kebersaman mereka menikmati hari. Sarah tak ikut karena ia baru saja mengetahui jadwal datang bulannya.
Pria tersebut menatap Sarah dengan wajah bersalah hingga berusaha menggenggam tangan mantan kekasihnya. Namun, Sarah menepisnya dengan kasar.
“Lepas! Lepasin aku! Jangan ganggu aku lagi." teriak Sarah.
Pria itu semakin tak terkendali hingga dengan berani memeluk Sarah sepihak.
“Maafkan aku Sarah. Jangan benci aku. Aku sungguh menyesal.” gumamnya yang terus menahan rontaan Sarah.
Sarah terus meronta, “brengsek! Lepasin.”
Pria itu semakin mengeratkan pelukannya hingga tiba-tiba saja kerah kemeja bagian belakangnya ditarik dengan paksa oleh seseorang.
Bruk
Ia pun memandang sosok pria asing dan seorang wanita yang merupakan penumpang taxinya tadi.
“Maaf telah berlaku kasar. Namun, tak seharusnya tangan kamu itu menyentuh istri saya, apalagi memeluknya begitu. Jika ini bukan tempat umum maka habislah kamu.” ucap Azhar dengan marah.
Azhar pun menarik Sarah yang sedang ketakutan itu dengan lembut hingga mendekapnya sayang. Adzkia yang muncul bersama Azhar dari masjid hanya menatap sendu perhatian Azhar pada Sarah. Ia iri dan menyesal karena sudah pura-pura kuat melihat Azhar mendapatkan seseorang yang ia cintai hingga Adzkia tak bisa memperjuangkan pria sebaik Azhar lagi hingga akhir.
“Azhar, baru aku sadari perasaanku padamu masih ada dan aku takut rasa ini kian menjadi bahkan disaat aku tahu kamu tak bisa kudapatkan lagi bagaimana pun caranya.” batin Adzkia.
“Kamu siapa brengsek! Ah, aku ingat sekarang. Kamu pria yang pernah ikut campur urusanku waktu itu!” teriak Faris.
Deg
Sarah menatap wajah murka suaminya. Ia pun baru ingat sekarang, Azhar adalah pria yang membantunya di hotel waktu itu. Mengapa ia bisa lupa. Pikirnya.
Azhar yang tak ingin Sarah melihat raut emosinya, kini menenggelamkan wajah istrinya kedadanya.
“Saya suaminya Sarah. Sarah istri saya dan kamu bukan siapa-siapa. Untuk apa kamu muncul lagi dihadapan kami?” ucap Azhar menjaga kesopanannya.
“CK, suami? Hahaha. Suami pengganti lebih tepatnya. Kamu hanya menempati posisi orang lain, posisiku. Posisi sebagai suaminya Sarah adalah milikku dan kapanpun aku bisa merebut hakku kembali.” ucap Faris menantang.
Kemarahan Azhar naik keubun-ubun hingga ingin sekali menendang pria kurang ajar di depannya ini, namun ditahan oleh istrinya. Azhar pun beristighfar hingga semakin mengeratkan pelukan Sarah.
“Sayang, Sarah. Maafkan aku, aku akui aku salah, aku sungguh menyesal pernah menyakitimu. Kembalilah padaku dan tinggalkan pria yang tak kamu cintai ini. Aku tahu kamu masih mencintaiku bahkan kamu takkan pernah bisa mencintai dia sebab kamu selamanya hanya akan mencintaiku.” ucap Faris ingin mendekat ke arah Sarah.
Sarah tersenyum mengejek hingga ia mengecup pipi Azhar dengan refleks.
Cup
Faris memanas melihat hal tersebut hingga kembali menimpali, “Sarah, jangan berpura-pura lagi di hadapanku. Ayo, kita ulang kembali kisah kita. aku sungguh minta maaf. Aku menyesal. Baru aku sadari bahwa aku begitu mencintamu hingga aku pun meninggalkan Bella.”
Sarah ikut emosi mendengar ucapan Faris hingga ia ingin sekali menonjok mulut biadapnya itu. Tapi, kali ini Azharlah menahannya.
Azhar mengelus pipi Sarah dan melepaskan pelukan mereka, Azhar mendekat ke arah Faris hingga mencengkram kemejanya.
“Saya tak peduli cinta Sarah untuk siapa saat ini. Namun, dia sekarang adalah istri saya dan selamanya akan begitu. Selama dia adalah istri saya dan menerima saya menjadi suaminya maka kamu tak akan mendapatkan apapun. Sadarlah, Bung. Kamu yang melepasnya. Masih berani memintanya kembali? Heh.”
Azhar melepas cengkramannya. Ia membimbing Sarah pergi dari hadapan Faris namun Sarah menahan langkahnya sambil menggenggam tangan Azhar. Keduanya terhenti hingga Sarah menghadap ke arah mantan biadapnya itu.
“Faris, terimakasih telah menyakitiku dan juga melepaskan aku. Jika bukan karenamu maka aku tak akan bisa bertemu pria sebaik Azhar. Terimakasih telah memberiku luka hingga Azhar menutupnya dengan cinta. Jangan ganggu kebahagiaanku yang sekarang adalah milik suamiku. Suamiku mencintaiku hingga tak ada alasan untuk aku tidak mencintainya juga. Selamat tinggal.” ucap Sarah.
Azhar mematung memandangi Sarah dengan gemuruh rasa bahagia. Sedangkan Adzkia menekan nyeri didadanya, ia pikir ia bisa kuat namun ternyata menyaksikannya langsung begitu menyakitkan.
Sarah dan Azhar melangkah menjauh hingga Azhar melihat Adzkia, “pindahkan barang-barangmu ke mobilku.” ucapnya.
***
Di depan mobil, Sarah menekan rasa sakit kembali sebab ia tak menyangka Adzkia seberani ini. Azhar telah membatalkan rencananya untuk menjemput wanita ini hingga mereka melanjutkan rute pacarannya namun tak menyangka saja kebetulan bertemu di depan masjid.
"Azhar, aku menginap di apartment kamu. Kamu tahu kan, apartmentku sudah aku jual sebelum pindah ke Indonesia.” ucap sepupu jauh Azhar ini.
Wanita ini dengan tak tahu malu menduduki kursi di samping Azhar, bahkan sebelum Azhar memasuki kemudinya. Azhar menatap Sarah lama karena tak menyangka kakak sepupunya akan seperti ini ketika mereka membantu Adzkia memindahkan barang-barangnya dari taxi Faris.
Sarah mengangguk hingga meninggalkan Azhar dan masuk ke bangku belakang. Azhar menghela nafas berat, ia paham perasaan Sarah sekarang. “Baru aja acara mewek-mewek lalu happy-happy kemudian ini kembali mellow lagi. kapan sih aku sama Sarah bisa menjalani hari tanpa banyak drama." batinnya.
Azhar pun mengikuti dua wanita itu kemudian masuk ke kemudinya. Ia menghidupkan mesin mobilnya hingga menatap Sarah cemas dari kaca depan.
“Azhar, ayo!" ucap Adzkia menyadarkan lamunan Azhar.
Adzkia terlihat santai bahkan tak mempedulikan Sarah yang berada dibelakangnya, ia menikmati makanan yang ia bawa sambil menawari Azhar.
Azhar menolaknya namun Adzkia semakin keras menawarinya hingga terlihat berani menyuapi Azhar. Azhar yang pusing melihat tingkah Adzkia kemudian terpaksa menerima satu suapan itu.
Azhar kembali menatap kaca mobilnya dan menemukan wajah Sarah yang menunduk lesu.
“Kata Azhar, si Adzkia lagi banyak masalah dan sedang sedih. Tapi, ini kok terlihat baik-baik saja sih. Bahkan terlihat bahagia di depan sana." batin Sarah.
Azhar yang muak melihat perubahan Adzkia yang tak seperti biasanya ini tiba-tiba saja menghentikan laju mobilnya saat Adzkia ingin menyuapinya kembali.
Ciit.
“Kok berhenti?” Adzkia bingung.
Sarah pun menatap suaminya heran.
Sambil melirik istrinya, Azhar berkata. “Miss Adzkia, ah bukan. Kak Adzkia, maaf sebelumnya. Tapi, bisakah kakak bertukar posisi dengan istriku? Sebab katanya, istriku sangat sulit berjauhan denganku bahkan ketika kami hanya berdua saja. Tolong mengerti ya kak. Maklum, pengantin baru.” ucap Azhar dengan sengaja.
Sarah yang mendengar itu **** senyum hingga wajahnya memerah malu, ia tersanjung mendengar ucapan suaminya. Ia kira Azhar akan mengikuti alur Adzkia dan kembali mengabaikannya namun ternyata Azhar begitu manis.
Adzkia terlihat kesal melihat dua orang ini bertatap-tatapan hingga Azhar berani mempermalukannya di hadapan Sarah. Cih, semakin besar muka aja si Sarah. batinnya kesal.
Adzkia pun melepas selfbeltnya hingga keluar dari kursinya. Sarah pun sama, hingga keduanya pun berpindah posisi.
Azhar tersenyum ke arah Sarah kemudian kembali melajukan mobilnya, ia pun menggenggam tangan Sarah sambil mengemudi santai. Sarah awalnya tersentak namun membalas perlakuan suaminya dengan senang hati.
Adzkia menatap keduanya dengan kesal, kemudian memilih menggunakan earphonenya. Namun, sebelum ia memutar keras musik di ponselnya, Azhar kembali bersuara. “Kak, sekali lagi maaf. Namun, bisakah kamu tinggal di hotel saja? Sebab di apartmentku hanya ada dua kamar dan salah satunya aku jadikan ruang kerja. Aku hanya tak ingin kamu risih.”
“Tapi-”
“Besok aku dan Sarah akan menemuimu. Kita akan cari kebenaran mengenai Andra.”
Adzkia menekan kesalnya hingga mengangguk tak rela. Ia memutar lagu diponselnya dengan keras daan menutup mata dari pemandangan di depan sana.
_________________________________________
Kerinci (Jambi), 08/10/2019