K

K
SATU



Cinta bisa menghilangkan daya kritis dan rasionalitas seseorang. Beliau SAW besabda, “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.”


(HR. Abu Dawud dan Ahmad)


_________________________________________


14:00


Cekrek... cekrek...


Kilatan flash dari kamera membidik beragam pose yang ditampilkan oleh wanita cantik di depan sana. Ia menggunakan produk keluaran terbaru dari salah satu desainer terkenal, awalnya ia sangat risih menghadapi sesi pemotretan ini namun saat dijalani dan berkat dukungan dari orang tersayangnya ia pun perlahan membiasakan diri.


“Ganti posisi! Coba kerahnya turunin lagi sampai mengekpose bahumu.” Ucap sang fotografer sambil menurunkan kameranya.


“Tapi...” model itu pun menyela tak terima dengan arahan itu.


“Turunin aja sayang. Kamu ngga usah khawatir, ngga bakal kelihatan semua kok.” Seorang pria tampan menghampirinya tepatnya membujuknya agar bisa mengikuti instruksi dari fotografer tersebut. Ia berusaha meyakinkan modelnya sekaligus pacarnya ini.


Wanita itu menggelang namun setelah menyasikan berpasang mata menunggunya dengan tak sabaran apalagi tatapan mengejek dari salah satu kru, ia pun mengangguk pasrah.


“Ayo...” pria di sampingnya mulai menjauh seraya memintanya berganti posisi sesuai instruksi fotografer agar hasilnya memuaskan dan sesuai dengan keinginan mereka.


Ia mulai menurunkan kerah blouse tanpa lengan yang ia gunakan.


“Sedikit lagi.” ucap sang fotografer, ia pun menurunkan lagi hingga menampilkan sedikit tanktop yang ia gunakan.


“Nah, iya begitu bagus.” Acungan jempol menatap ke arah sang model.


Cekrek... cekrek...


Setelah mengecek hasil tangkapan kameranya, si Fotografer berbincang sedikit dengan beberapa rekannya lalu kembali memberikan instruksinya. “Coba kakinya disilangkan sambil melirik ke samping.”


Arahan itu langsung diindahkan oleh model tersebut hingga mengekspose pahanya yang sedikit terbuka karena menggunakan hotspan.


“Sip. Tahan ya!”


Cekrek... cekrek....


“Dagunya diangkat sedikit sambil memejamkan mata.” Instruksi yang kesekian kalinya membuat sang model mengeluh karena lelah. Ia sudah menghabiskan waktunya berjam-jam demi pemotretan hari ini. Ia pun mengikuti arahan dengan lemah.


“Oke!”


Cekrek... cekrek....


“Finish! Ferfect! Thanks.”


Akhirnya sesi pemotretan hari ini selesai juga. Sarah yang dibantu beberapa stylist pun meninggalkan ruang pemotretan hingga menuju ruang ganti.


“Nah gitu dong, ngga kaku lagi. Ngga susah kan jadi model. Makin sayang deh aku sama pacarku ini.” Faris menghampri Sarah yang telah berganti pakaian.


“Aku juga sayang banget sama kamu. Tapi, gambar yang terakhir tadi jangan ditampilin ya nanti orangtua aku marah.” Ucap Sarah sambil bergelayut manja di lengan pacarnya yang telah berhubungan dengannya selama satu tahun terakhir.


“Kok gitu? Yang terakhir itu paling bagusloh yang. Sumpah.” Faris menarap Sarah sambil memandangi wajahnya. Berusaha menolak keinginan itu.


“Tapi, nanti orang tuaku marah dan ngga ngizinin aku jadi modelnya kamu lagi. Aku takut nanti mereka tahu kalau aku jarang ngampus selama ikut Agensi kamu.” Terang Sarah dengan raut wajah memohon.


“Ya udahlah kalau itu mau kamu, gambar terakhir ngga bakal dimuat. Dan kamu tenang aja, orang tua kamu ngga bakal tahu kalau kamu sering bolos asalkan kamu sering nitip absen aja. Aku jamin.” Ucap Faris lembut berusa menenangkan kekasihnya.


Tapi, Sarah masih saja mencemaskan kemungkinan yang terjadi. Sudah satu bulan ia menjadi model di agensi Faris hingga kuliahnya pun terbengkalai.


“Udah, kita have fun yuk! Pemotretan hari ini pasti bikin kamu capek. Kamu mau kemana sekarang? Mau ikut aku ke club?” Tawar Faris.


Faris sering mengajak Sarah ke club tapi Sarah selalu saja menolak hingga kadang membuat Faris berpikir bahwa Sarah masih terlihat kekanak-kanakan. Apalagi selama berpacaran dengan Sarah, ia tak pernah melakoninya seperti mereka di luar sana. Bahkan untuk mencium pipi Sarah pun dilarang, katanya hanya boleh bergandengan tangan dan pelukan saja. Untung Faris cinta dan sarah pun bisa diajak kerjasama di Agensinya hingga membuat Faris tak bisa melepaskannya.


Awalnya Sarah hanya sering datang ke Agensi dan mengikuti ke mana pun Faris melakukan pemotretan bersama timnya namun suatu ketika salah satu model Faris sakit hingga terpaksa digantikan oleh Sarah. Setelah Sarah unjuk diri, pujian dan kekaguman berdatangan kepadanya hingga tawaran produk yang menawari Sarah sebagai modelnya pun kian banyak. Mana bisa Faris melepaskan hal tersebut meskipun Sarah sering banyak tingkah dan berkomentar berlebihan.


“Nggak mau. Jangan tawari aku ke sana lagi. Aku mau ke bioskop aja! Ada film bagus, aku mau nonton itu.”


“Oke oke, kita ke Bioskop saja. Apa sih yang engga aku kasih untuk pacarku ini. Oh iya, jangan lupa ya lusa kita pemotretan di pantai.” Faris pun tersenyum pada Sarah dan mengamit tangannya.


“Iya sayang, tapi aku ngga mau pakai yang buka-bukaan!” Sarah kembali bertingkah sesuai dugaan Faris.


Faris menghela nafas kemudian mengecup tangan Sarah di genggamannya. Ia pun berkata lembut, “inikan memang  promosi pakaian pantai, sayang. Pastilah yang kebuka.”


“Ngga mau pokoknya, aku mau yang tertutup aja. Yang terlalu terbuka suruh yang lain aja.” Sarah melepas genggaman Faris di tangannya, ia menolak untuk menggunakan pakaian yang sexy takut jika keluarganya tahu nanti.


Faris diam, menekan kesal ia pun mengangguk setuju. Sarah pun memeluknya dengan sayang sambil tersenyum bahagia. Ia sangat mencintai pacarnya ini.


***


Sementara itu


Di salah satu gedung bertingkat, seorang pria tengah berdiri di depan puluhan mahasiswa yang haus akan makna. Mereka memperhatikan proyektor yang sedang menampilkan beragam model bangunan yang ramah lingkungan. Saat asyik menjelaskan, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia terus saja menjelaskan hingga kemudian menjeda perkuliahan untuk menjawab panggilan yang tak terjawab tadi.


Ia permisi pada puluhan pasang mata itu sambil mengangkan ponsel hitamnya, mahasisawanya pun tertawa karena Dosen tampan mereka ini sangatlah ramah dan bersahabat sekali.


...............................


................................


"Terus?"


...............................


"Saya akan mengeceknya langsung."


................................


"Insya'Allah lusa, tolong handle dengan baik."


................................


"Na'am, Jazakallah fii khair."


................................


"Wa'alaikumussalam."


Tut.


Azhar menutup ponselnya, ia memasukkan kembali benda tersebut ke dalam kantong celananya seraya melangkah menuju ruang perkuliahan guna melanjutkan yang tertinggal.


"Afwan, Ana sudah meninggalkan kalian." Ucapnya yang dimaklumkan oleh siswanya.


"Kita lanjutkan lagi pembahasan tadi." Perkuliahan kembali berlanjut.


Setelah menutup kuliahnya, Azhar tanpa sengaja melihat Shanum yang baru kembali dari gedung Akademik. Tampak Miss Adzkia sedang memeluknya erat seraya melepaskan Shanum dengan berat. Ada apakah ini? Batin Azhar.


Setelah Shanum menjauh, Azhar pun menghampiri Miss Adzkia. "Assalamu'alaikum, Miss."


"Wa'alaikumussalam, Har. Sudah kelasnya?" Jawab Miss Adzkia lembut.


"Udah nih, sekalian izin sama mereka soalnya pembangunan resort di Bali hampir setengah jadi dan besok Ana mau mengeceknya langsung." Terang Azhar.


Miss Adzkia mengangguk paham. Lalu ia teringat sesuatu, "apa benar kamu pernah ditolak Shanum waktu dia baru masuk kuliah sebelumnya? Kamu udah pernah coba ngelamar dia sesuai anjuran aku?"


Azhar mengangguk, "Na'am, Shanum nolak. Bukan jodoh kali."


"Padahal aku berharap banget kamu bisa sama dia. Dia paket komplit tahu, apalagi neneknya udah ngga ada dan sekarang dia mengajukan surat berhenti kuliah karena dua minggu lagi rencananya dia mau tinggal di Indonesia." Adzkia memundurkan tubuhnya hingga menyander ke tembok gedung seraya memandangi Azhar.


"Bukan jodoh Miss, kalau Allah berkehendak lain kita bisa apa. Lagian aku pernah mencoba." Jawab Azhar.


"Tapi, beneran Shanum mau pindah, Miss?" Tanya Azhar lagi.


"Iya, kamu ngga lihat tadi dia dari sini? Iti dia nganterin surat pengunduran diri dari kampus. Aku udah bujuk supaya jangan pindah tapi dia keukeh katanya permintaan Omanya. Aku mah bisa apa."


Azhar mengangguk, "itu pilihannya. Ana yakin itu yang terbaik untuknya, kita doakan saja semoga di sana dia senantiasa berbahagia."


"Dan kamu juga bebas menunggu pujaan hatimu itu ya? Pemilik do'amu."  Miss Adzkia menggoda Azhar.


Azhar hanya mengedikkan bahunya.


"Huh, sok-sokan ngga ngaku padahal mah diam-diam menghanyutkan."Ucap Miss Adzkia.


"Na'am Miss, menghanyutkan dalam do'a. Semoga saja sampai padanya." Azhar menjawab dengan mimik wajah cerah.


"Titip kelas bimbingan Ana ya, Miss. Ana mau ke Indonesia, mana tahu bisa menyentuh hati yang di sana." Lanjutnya lagi.


"Aamiin, semoga saja sesuai harapanmu. Aku tahu kau begitu mendambakannya, tapi ingat jangan sampai membuatmu buta akan hal lainnya." Adzkia berusaha tersenyum melihat binar dimata Dosen tampan ini.


"Siap, bagaimana pun keadaan hatinya sekarang entah terisi oleh nama siapa. Do'aku takkan goyah meski pun harus bertarung dilangit sana." Azhar terlihat sangat yakin dengan ucapannya.


"Kau pria idaman, kau layak mendapatkan yang terbaik. Aku mengagumimu sepupuku." Wanita berkerudung itu terkekeh kecil.


"Bisa aja. Ana permisi Miss. Assalamu'alaikum." Pamit Azhar.


"Wa'alaikumsalam. Jangan lupa oleh-olehnya dan titipkan salamku dengan orang disana."


Azhar mengangguk dan mengacungi jempol.


"Azhar, kau tahu aku begitu sabar menunggumu tapi sekarang aku menyerah. Memang aku tak pernah layak dihadapanmu, aku hanya seorang sepupu dan sampai kapan pun tak akan bisa lebih dari itu." Adzkia memandangi punggung sepupunya yang kian menjauh.


"Sarah, kau beruntung karena dicintai oleh seseorang yang aku cintai. Semoga kau tak menyakiti seseorang yang tanpa sadar sudah menyakitiku."


_________________________________________


Kerinci, 07/09/2019