
Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi.
-Ali bin Abi Thalib-
________________________________________
🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸
Happy reading
.
.
.
Azhar dan keluarganya ingin pamit untuk bersiap-siap, namun orangtua Sarah mencegahnya. Lebih baik mereka bersiap-siapnya disini saja karena banyak kamar yang kosong di lantai bawah. Setelah berembuk sebentar akhirnya mereka pun setuju.
Kemudian, Azhar mengikuti Riqhad menuju ruangan yang akan menjadi tempatnya beristirahat sejenak sebelum nanti melaksanakan acara syakral.
Sementara itu, keluarga yang lainnya pun tengah sibuk untuk melanjutkan persiapan acara. Tepatnya pembahasan mengenai walimatul 'urs besok karena ada beberapa hal yang akan diganti bahkan dirubah dan dihilangkan. Untuk hari ini hanya prosesi akad nikah dan syukuran keluarga saja maka tidak begitu merepotkan.
Undangan pun kembali dicetak banyak karena mengingat siapa Azhar dan siapa orang tuanya. Persiapan secepat kilat itu pun mulai dikerjakan. Undangan yang terlanjur menyebar dibiarkan saja toh besok akan dijelaskan semuanya secara gamblang agar tidak membuat kebingungan.
Hingga beberapa jam kemudian, adzan pun berkumandang pertanda sholat Dzuhur telah datang. Azhar yang merasakan kegelisahan dan perasaan nervousnya itu pun mengikuti para pria lainnya menuju masjid.
Azhar yang biasanya tak takut apapun dan terkenal santai, hari ini merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan. Kadang terasa seperti tak percaya, takut, ragu, bimbang, bahagia dan lainnya. Takut tak mampu menjadi suami dan imam yang baik untuk istrinya, takut tak mampu membimbing istrinya kelak. Tak percaya bahwa apa yang pernah ia harapkan hari ini bisa tercapai, bimbang jika Sarah terpaksa menerimanya dan ia bahagia bisa menghalalkan Sarah hari ini.
Azhar juga merasa mual dan mulas dalam waktu berdekatan bahkan banyak perasaan antah berantah lainnya saking gugupnya ia membayangkan acara nanti.
Sementara para pria melaksanakan sholat di masjid, para wanita pun terlihat sibuk dikediaman Sarah. Contohnya di salah satu kamar yang paling besar ini, wanita cantik yang akan berganti status menjadi istri hari ini terlihat sedang dirias oleh tangan handal Winda.
Ia yang diminta untuk istirahat setelah lelah melakukan perjalanan kemarin hingga dihadapkan dengan lamaran dadakan ini, tak mampu memejamkan matanya. Ia masih saja mengingat jelas kejadian demi kejadian hari kemarin. Jika tidak ada Azhar maka mungkin Sarah akan lebih menyedihkan lagi.
Jika ditanya bagaimana perasaan Sarah sekarang mengenai pria bernama Azhar. Maka mulut Sarah ingin mengatakan 'benci' dan 'syukur' sekaligus. Benci karena masih ada pria baik seperti Azhar yang bersedia meminangnya dan bersyukur karena Allah menunjukkan kebenaran mengenai Faris sebelum mereka terikat hubungan syakral.
Setelah melihat langsung kebrengsekan Faris, Sarah menjadi percaya dan yakin dengan dugaannya beberapa hari yang lalu bahkan sebelum-sebelumnya juga. Bahwa suara wanita yang kerap muncul disaat Sarah menghubungi Faris lewat ponsel adalah Bella. Mereka benar-benar berduaan, hina, zina dan tercela.
"Oke. Selesai. Tinggal ganti gaunnya lagi." Ucap Winda menyadarkan lamunan Sarah.
Sarah membuka matanya dengan perlahan menatap gambar dirinya di cermin. Winda telah memoles wajahnya dengan beragam kosmetik pilihan. Pekerjaan Winda terasa lebih berat sebab harus menyamarkan mata bengkak Sarah serta masalah lainnya. Seiring berkembangnya teknologi dan jenis kosmetik maka hal tersebut dipermudahkan.
Ceklek
Pintu terbuka.
"Bagimana Winda? Sudah?" Tanya Mama Sarah.
Winda mengangguk sambil membereskan perlengkapannya. "Sudah, Bu. siapa lagi yang akan dirias? Tanyanya.
"Tuh, ada dua anak gadis di kamar sebelah. Mereka baru pulang dari toko buku, kamu rias mereka ya." Pinta Mama Sarah sambil mendekati putrinya.
Winda mengangguk dan meninggalkan Sarah bersama Asistennya. Sedangkan untuk masalah gaun Sarah akan diatur oleh Tria, mewakili pihak WO yang dipilih Sarah. Ia membawa masuk gaun yang telah dipesan Sarah beberapa waktu lalu, kemudian ia pun membantu Sarah menggunakannya.
"Maaf, Ma." Sarah bersuara saat Tria sedang menaikkan gaunnya.
"Sudahlah, jangan minta maaf lagi." Jawab Mama Sarah yang kini terlihat cantik dengan riasannya.
Mamanya membantu Tria mengepaskan gaun berwarna putih bercampur silver ditubuh putrinya itu.
"Ma, sebenarnya Azhar itu siapa? Kenapa dia datang diwaktu yang tepat di saat Sarah sedang patah sepatah-patahnya." Ungkap Sarah.
Tria menangani kancing belakang gaun Sarah tanpa ikut terlibat pembicaraan ibu dan anak ini. Ia juga tak berusaha ingin tahu meski pun sautan suara mereka mengenai inderanya. Sebab semua yang ia dengar dan lihat di rumah ini bukanlah urusannya hingga nanti ketika telah selesai urusannya di rumah ini maka ia akan pergi seperti orang buta dan tuli karena memang begitulah seharusnya.
Sang mama memandangi putri cantiknya di dalam cermin, terlihat raut kecewa di sana. "Azhar adalah pria yang dulu pernah datang ke sini melamarmu saat kamu masih SMA. Tapi papa menolaknya bahkan sempat menghinanya karena bukan pengusaha seperti papa. Ia hanya seorang mahasiswa sekaligus dosen biasa." Terang Mamanya.
Deg
Sarah tak menyangka ceritanya akan menjadi seperti ini. Apakah ada motif lain dari kedatangan Azhar yang kedua kalinya ini? Ataukah mungkin ia membalaskan sakit hatinya pada papa karena pernah menolak dan menghinanya? Pikir Sarah.
"Dia adalah sahabat dari Riqhad. Kamu bisa bertanya pada Abangmu itu jika ingin mengetahui banyak hal mengenai Azhar." Terang mamanya menatap lembut putrinya.
Sarah berusaha tersenyum mendengarnya dan mengangguk saja.
"Pakai kerudung atau disanggul, Mbak?" Tanya Tria yang telah selesai dengan gaun Sarah.
Saat mamanya ingin menjawab 'kerudung'. Suara Sarah lebih dulu mendominasinya dengan jawaban berlainan. "Enggak, sanggul aja."
Tria pun mengangguk patuh hingga mulai merombak rambut panjang Sarah yang begitu indah ini.
Mama Sarah memandangi wajah datar Sarah sambil tersenyum lembut. "Semoga saja Azhar bisa membawamu menjadi istri yang baik serta wanita yang sholehah setelah ini." Batin Mama Sarah berharap.
***
Di sisi lain
Kedua orang tua Adzkia terlihat kecewa atas keputusan Azhar, ia tak menyangka Azhar lebih memilih menggantikan pengantin pria yang meninggalkan acara pernikahannya daripada memilih Adzkia padahal mereka sudah memohon dengan sangat.
Kemarin, Azhar menghubungi mereka dan menyampaikan kalimat maafnya serta menjelaskan ketidakmampuannya untuk memenuhi permohonan mereka.
Ayah Adzkia ini sangat marah dan merasa terhina hingga saat orang tua Azhar meminta mereka menghadiri acara pernihakan Azhar, mereka pun menolak untuk tiba karena terlampau kecewa.
"Apa sih yang Azhar lihat dari wanita itu? Apa kurangnya putri kita?" Keluh pria paruh baya itu sambil melempar tubuhnya ke sandaran sofa.
Ibu Adzkia terlihat tak tahu lagi harus bagaimana. Mereka memang ingin menggagalkan pernikahan Adzkia dengan Andra. Selain menurut mereka Andra adalah pria yang tidak baik untuk Adzkia, yang mereka harapkan hanya Azharlah yang akan menjadi menantu mereka. Mereka sangat menyayangkan jika pria seperti keponakan jauh mereka itu jatuh ketangan orang lain. Lebih baik jatuh pada sanak sendiri bukan?
"Sudahlah Bi, bukan jodoh itu namanya dan mungkin Azhar tidak ingin memiliki istri yang lebih dewasa darinya dalam segi usia. Adzkia sudah seperti kakaknya sendiri." Ucap Ibu Adzkia dengan helaan nafas beratnya.
Keduanya pun terdiam.
Tak beberapa lama kemudian, Adzkia pun turun menghampiri mereka. Adzkia memang telah pindah ke Indonesia sejak beberapa bulan terakhir, Adzkia semakin yakin dengan kepindahannya ini sejak mengenal Andra.
Mereka pun telah memantapkan rencana pernikahan sebulan lagi namun hal tersebut masih ditentang oleh kedua orangtuanya dengan selalu memburukkan nama Andra. Mereka mengatakan bahwa Andra telah berkeluarga namun Adzkia tak mempercayainya, menurutnya ia lebih tahu mengenai Andra daripada pandaangan kedua orang tuanya itu.
"Ma, Pa. Kok masih di rumah sih? Nggak ke acara Azhar? Bentar lagi mulai loh." Tanya Adzkia yang terlihat begitu cantik dengan gaunnya.
Kedua orangtuanya pun memperhatikan Adzkia dengan pandangan kecewa dan prihatin padahal Adzkia terlihat begitu cerah ceria. Mereka sama-sama tahu putrinya ini pernah menyimpan rasa cinta untuk Azhar bahkan sudah sekian lama. Pasti ada sisi hati Adzkia yang merasa sedih dan terluka mengetahui Azhar akan menikahi wanita lain hari ini.
Meski Adzkia memilih kalah dengan rasanya hingga memilih Andra sebagai calon suaminya namun sisi hati kedua orang tuanya mengharapkan Azhar bukan Andra. Andra tak sepadan dengan Azhar.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ayahnya tanpa menimpali ucapan Adzkia sebelumnya.
Adzkia mengernyit heran kemudian menjawab, "ke acara akad nikahnya Azhar lah Bi. Kalian juga kan ya?"
Ayah Adzkia menghela nafas, lalu sang Ibu menghampiri Adzkia lalu memeluknya. "Ibu tahu kamu pernah menyimpan rasa cinta pada Azhar dan mungkin juga kau masih kecewa melihat dia bersanding dengan wanita lain hari ini. Untuk itu, Ibu minta kamu tak usah datang ke sana. Kami pun sama. Kami sangat mengharapkan Azhar yang akan menjadi menantu kami bukan Andra. Dia tak baik untukmu, sayang. Dia pria yang sudah berkeluarga." Terang Ibunya berusaha membujuk Adzkia lagi.
Adzkia yang geram karena selalu disuguhkan dengan kalimat-kalimat yang sama itu pun memilih melepaskan pelukan Ibunya.
"Bu, sudah sering Kia jelaskan bahwa Kia sudah tidak lagi mencintai Azhar. Kia sudah mantap memilih Andra, bahkan kita sudah mengurus semuanya. Mengapa kalian selalu mengulang cerita lama ini sih?" Ucap Adzkia dengan kesal, hingga tanpa diduga nada suaranya pun semakin meninggi.
Ia pun kembali melanjutkan, "Kia bahagia jika Azhar juga bahagia. Asal kalian tahu, wanita yang akan dinikahi Azhar hari ini adalah seseorang yang telah lama didambakan Azhar. Wanita yang selalu menghuni tiap do'a Azhar!"
"Nak, maksud kami kamu t-"
"Sudahlah Bu, Kia tidak mau dengar lagi Ibu mengharapkan Azhar dan meminta Kia membatalkan rencana pernikahan Kia. Kia dan Azhar punya cerita masing-masing Bu, dan kami tidak akan berada di satu judul cerita yang sama!" Potong Adzkia saat Ibunya mulai mencoba mengiba padanya.
Adzkia memutar tubuhnya sebelum melanjutkan langkahnya keluar. "Ibu dan Abi sebaiknya juga datang ke sana jika tidak ingin merusak hubungan keluarga kita. Dengan kalian yang bersikap seperti ini akan memperlihatkan bahwa kita lebih rendah dari mereka. Kia pamit, Andra sudah menunggu di luar. Assalamu'alaikum." Adzkia pun melenggang pergi meninggalkan ketercengangan kedua orangtuanya.
Adzkia memang sosok wanita yang tegas dan itu semua adalah turunan dari Abinya hingga sikap keras kepalanyaa juga. Jadi, Abinya hanya memilih diam saja saa Adzkia melontarkan kata-katanya. Karena jika ia ikut menimpali maka akan semakin terbakar suasana di rumahnya ini.
"Bagaimana, Bi?" Tanya Ibu Adzkia.
Suaminya terlihat masih bermenung dan mengingat menimbang perkataan putrinya hingga sesaat kemudian ia pun menghela nafas sambil berdiri.
"Ayo kita bersiap-siap." Ucapnya singkat.
_________________________________________
Kerinci, 22/09/2019