K

K
SEBELAS



Rasulullah bersabda : “Janganlah seorang mukmin laki-laki membenci seorang wanita mu’minah, karena jika dia melihat ada akhlaknya yang tidak disenangi, niscaya dia akan menemukan akhlak lain yang dia senangi.”


(HR. Muslim : 1469)


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Tiga hari kemudian


Azhar terlihat tampan dengan pakaian santainya, ia sedang menunggu Sarah yang bersiap namun sudah hampir satu jam belum siap-siap juga. Rencananya hari ini ia akan menepati janjinya pada Sarah untuk mengajaknya jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama seperti orang pacaran.


Namun, sebelum itu Azhar akan mengajak istrinya singgah ke kampus sebentar untuk sekedar menitipkan tugas mandiri pada mahasiswanya yang tak terasa sebulan lagi akan menghadapi UAS dan Azhar resmi dipindahkan ke Indonesia. Begitulah kesepakatannya.


Selain mendengar keluh kesah Sarah mengenai penyesalannya mengabaikan perkuliahan hingga Sarah setuju untuk melanjutkan lagi studinya setelah  urusan Azhar selesai di sini, Sarah juga mengungkapkan rasa bosannya yang selalu ditinggal bekerja oleh Azhar tiap harinya.


Azhar pun mengaku salah karena sering meninggalkan Sarah dengan mengutamakan kesibukannya. Meskipun begitu, ia lakukan itu semua demi mempercepat terselesainya kontraknya di negara ini.


Ceklek


“Aku udah siap, Ayo!” ucap Sarah.


Azhar mengerjap hingga memandangi penampilan Sarah sekilas. Sarah cantik dengan gaun merah muda selututnya dan tatanan rambut yang digulung ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Azhar menutup matanya berusaha menemukan kalimat yang tepat untuk memulai lagi menasehati Sarah untuk yang kesekian kalinya.


“Kok diam sih. Jadi kan, ngajak aku jalan? Udah dua hari loh kamu ngundur terus. Katanya kita mau mulai pacaran hari ini.” tambah Sarah lagi saat tak menerima tanggapan dari pria di depannya ini.


Azhar pun menelan semua kata-katanya hingga mengangguk. Ia tak ingin memancing keributan lagi seperti sebelum-sebelumnya hanya perkara tak menyukai cara berpakaian Sarah. Azhar pun tersenyum kecil hingga melangkah lebih dulu meninggalkan kamar apartmentnya, bahkan ia tak menatap Sarah sedikit pun setelah tatapan pertama tadi.


Sarah melihat sikap Azhar dengan bingung. Ia sengaja berpakaian sedikit lebih terbuka dari biasanya hingga berdandan berlebihan pagi ini. Bukan untuk mencari pujian dari suaminya, namun ia ingin disapa dan dinasehati seperti sebelumnya. Sebab, sudah beberapa hari ini Azhar terkesan mencueki Sarah.


Hingga Sarah pun sengaja begini untuk memancing kemarahan Azhar lagi karena jika Azhar memarahinya hari ini maka Sarah bertekad akan berusaha merubah cara berpakaiannya. Namun apa, yang ia dapatkan malah berlawanan. Azhar tak berkomentar bahkan menimpali sedikitpun apa yang ia lakukan. Azhar seolah tak mempedulikannya lagi.


Sarah merasa sedih dengan perubahan sikap Azhar padanya ini. Sarah hanya butuh dinasehati sedikit lagi maka ia akan berusaha menjadi lebih baik sebab ia butuh dikuatkan dari rasa keragu-raguannya.


“Kok kamu yang diam, ayo!” lamunan Sarah terhenti oleh suara Azhar.


Sarah pun memgangguk, ia menenteng tas kecilnya kemudian mengikuti langkah Azhar yang terasa sangat berbeda. Ketika di dalam mobil pun sama, Azhar tak mengajaknya berbincang bahkan menatapnya pun tidak. Apakah kata cinta yang sering Azhar ucapkan itu bohong. Pikir Sarah.


Apakah begini yang namanya berpacaran? Apakah ini yang katanya memulai hubungan dengan lembut? Azhar saja mengacuhkan keberadaannya dan pria itu malah asyik menerima telepon dari seseorang bernama ‘Adzkia.’


“Iya, kamu jangan sedih gitu dong. Jam berapa kamu berangkat?”


Tanya Azhar pada sosok dibalik ponselnya itu.


“...........”


“Baiklah, jangan menangis. Insya’Allah nanti aku jemput.”


“............”


“Oke, kamu jangan ngomong gitu lagi. kamu harus bersyukur karena dibukakan tabir ini sekarang, jika kalian sempat menikah maka kamu akan benar-benar menyesal.”


“..........”


“Sudahlah,  jangan menangis lagi. Semuanya telah terjadi dan tidak ada yang harus disesali. Aku sudah tahu semuanya dari oranguamu, maafkan  aku yang tak bisa melihat perasaanmu padaku. Tapi sekarang terlambat, kamu sudah tahu kan bagaimana aku. Oke, kamu tenang, jangan gegabah dan aku akan bantu kamu menyelesaikan masalah ini semampuku.”


Deg


Sarah merasakan denyutan sakit di dadanya. Mengapa tatapan Azhar ketika menerima telepon dari orang di seberang sana juga bisa selembut ini? Siapa sebenarnya Adzkia itu? Apakah Adzkia ini adalah orang yang sama dengan Adzkia yang hadir di acara resepsi pernikahan mereka?


Bukankah ia adalah sepupu jauh dari Azhar dan juga akan segera menikah? Namun, apa yang didengar Sarah sungguh terasa menyakitkan. Adzkia memiliki perasaan pada Azhar dan suaminya ini pun tahu mengenai perasaan itu? Apakah Azhar menyesal telah menikahiku sekarang? pikirnya.


Tiba-tiba saja mata Sarah memanas mendengar nada khawatir Azhar untuk wanita itu.


“Sarah, nanti sore aku harus jemput seseorang di bandara. Rencana kita sore nanti terpaksa dibatalkan, maaf ya nggak bisa sesuai rencana.” ucap Azhar setelah menutup ponselnya. Ia pun berkata dengan melihat Sarah sekilas.


Sarah terdiam, mengapa Azhar perhatian pada Adzkia dan malah menyepelekan keberadaan istrinya bahkan sejak dua hari yang lalu ia bersikap dingin pada Sarah. Meski Azhar bersikap manis padanya ketika mengetahui Sarah terlambat makan siang, tapi sikap itu hanya bertahan sebentar saja. Azhar kembali bersikap datar padanya hingga sekarang.


“Azhar, jangan lukai aku disaat hatiku sudah bisa menerima hadirmu. Jangan pula kau patahkan rasaku yang bahkan baru saja menguncup.” batin Sarah.


“Baik.” jawab Sarah dengan singkat.


Melihat itu, Sarah malah memutar posisi duduknya hingga menghadap ke luar dengan sedih, sebabnya adalah sikap Azhar ini. Sarah berusaha menahan air mata yang ingin segera muncul namun susah dibendungnya, suasana hatinya sangat mendukung hingga lelehan bening ini membasahi wajahnya. Sarah menangis dan berusaha menyembunyikan tangsinya dari orang di sampingnya.


Azhar yang sedang pusing memikirkan masalah Adzkia dan tanpa sengaja telah mengabaikan Sarah, kini tiba-tiba saja menatap Sarah yang telah membelakanginya. Azhar bingung harus memulai pembicaraannya bagaimana. Di satu sisi ia merasa amat bersalah bersikap seperti ini pada Sarah, namun disisi lain ia harus mengikuti 


kemauan Sarah yang tak ingin dinasehati.


Sarah merasa terkekang dengan banyaknya nasehat Azhar mengenai cara berpakaiannya. Terlebih lagi ucapan Sarah beberapa hari yang lalu itu masih teringiang-ngiang dipelupuk mata Azhar, Sarah membenci sikapnya yang selalu menunjukkan rasa cinta, begitu bukan? Hingga Azhar pun merasa kecewa jika masih bertahan dengan sikapnya yang seperti itu. Apalagi ditambah masalah Adzkia.


Adzkia meneleponnya dan mengatakan semua keluhnya hingga meminta bantuan Azhar. Azhar tak mungkin menolaknya hingga menyanggupi saja. Namun, apakah Azhar tega membatalkan acara kebersamaan mereka yang akan dihabiskan sampai malam nanti untuk menjemput dan membantu Adzkia?


Azhar bingung, sebab bukan hanya Sarah saja, Azhar pun sangat menantikan hari ini dan kebersamaan mereka untuk memulai hubungan bernama pacaran. Namun, tak bisa sesuai rencana. Suasana sedari tadi  saja tak menggambarkan dua insan yang baru saja merajut hubungan perasaan. Azhar masih betah dengan sikap acuhnya dan Sarah pun tak memiliki inisiatif lebih dulu untuk merubah suasana.


Azhar sesekali menatap jalan dan sesekali melihat Sarah, namun Sarah masih setia dengan posisinya. Azhar merasa kian bersalah hingga kemudian mengernyit heran saat melihat punggung Sarah sedikit bergetar.


“Hei, Sarah. Kamu kenapa duduknya miring gitu? Sini lurus.” ucap Azhar sambil menepuk pelan pundak Sarah namun Sarah menepis tangan Azhar tanpa menoleh sedikit pun.


Azhar tak menyerah hingga ia pun meminggirkan mobilnya hingga berhenti di parkiran taman yang masih sepi di pagi ini.


“Sarah, lihat aku! Katakan sesuatu padaku, ada apa denganmu?” ucap Azhar lagi setelah melepaskan selfbeltnya dan mendekat ke arah Sarah sampai memegang kedua pundak terbuka istrinya.


Azhar memutar tubuh Sarah hingga benar-benar menghadap ke arahnya.


Deg


Sarah menunduk sambil menyeka air matanya. Tebakan Azhar benar. Istrinya menangis hingga memilih membelakanginya sedari tadi.


“Aku turun di sini saja. Aku bisa kok jalan-jalan sendiri. Kalau kamu sibuk, nggak usah dipaksakan. Kamu kan emang susah untuk meluangkan waktumu untukku.” ungkap Sarah dengan suara serak.


Azhar menghela nafas, menekan rasa bersalahnya, ia pun menimpali, “kok ngomongnya gitu sih?“


Sarah melepas tangan Azhar  dipundaknya hingga melepas selfbeltnya dengan keadaan emosi dan rasa terluka. Siapa yang tak terluka jika suaminya mengabaikannya dan asyik mencemaskan wanita lain yang terbukti mencintainya. Sedangkan ia tengah bersama istrinya yang sengaja ia acuhkan di hari yang seharusnya mereka lalui dengan indah.


Brukk..


Sarah menutup pintu mobil Azhar dengan kasar, ia berjalan cepat menjauh ke taman yang hanya ada beberapa orang saja di sana.


Azhar menggeram, ia pusing dengan kemarahan Sarah hingga ia pun mengikuti langkah istrinya itu. Ia berlari mengejar Sarah hingga kemudian berhasil mendekap istrinya dari belakang.


Dep


Sarah kembali meronta berusaha melepaskan diri dari Azhar. Ia kembali menangis. Ia akui entah mengapa ia  begitu cengeng dihadapan Azhar.  Apalagi semenjak ia pernah di sakiti Faris. Ia tak ingin jika tersakiti lagi. Tidak ketika rasanya saja mulai muncul untuk suaminya ini.


“Kenapa kamu mengabaikanku sejak hari itu? Aku salah apa hingga kamu kembali mendiamiku begini dan membatalkan rencana kita?” ucap Sarah dengan masih meronta-ronta.


Ia mengabaikan rasa malu jika tingkah cengengnya ini dilihat oleh orang lain.


Azhar semakin mengeratkan pelukannya hingga mengecup pucuk kepala Sarah berusaha menenangkan istrinya yang dengan perlahan menghentikan gerakan merontanya.


“Maaf, maafkan aku Sarah.” gumam Azhar sambil memutar tubuh Sarah menghadap ke arahnya.


“Azhar, aku bingung jika kamu begini. Pada siapa aku mengadu jika kamu saja tak sudi menatapku lagi.” lirih Sarah.


Azhar menyeka air mata Sarah hingga menyeretnya kembali ke mobil dengan lembut.


"Sarah, jangan bicara begitu. Sudah aku jelaskan bahwa kamu tak salah apa-apa. Aku yang salah karena sering kecewa sendiri jika menatap wajah kamu. Aku hanya tak ingin membuatmu risih dan semakin benci padaku.” ucap Azhar ketika keduanya telah kembali ke mobil.


Sarah menatap Azhar, “bagaimana bisa kamu mengira aku risih denganmu dan apa? Membencimu? Kamu tahu, dengan kamu yang mngacukanku dan tidak lagi memperhatikanku dengan nasehatmu itu, aku merasa kamu tak lagi sudi bertahan denganku. Kamu menyesal memilih untuk bersamaku. Apakah kamu telah bosan bersama wanita dengan segudang kekurangan seperti aku ini?”


Deg


Azhar menggenggam lembut sisi wajah Sarah sambil menggeleng.


“Kamu tak lagi ingin tahu bagaimana keadaanku ketika kamu sibuk dengan urusanmu di luar sana. Kamu tak lagi menanyaiku apakah sudah sholat atau belum. Kamu mendiamiku seolah kita hanya terikat dalam pernikahan tanpa mencoba merajut rasa seperti kalimat yang sering kamu utarakan padaku sebelumnya. Kamu tak berkomentar ketika aku berpenampilan begini dan kamu juga asyik berbincang dengan seseorang ditelepon. Kamu begitu mencemaskan wanita itu disaat aku berada di sampingmu dan menunggu perbincangan hangat bersamamu." ungkap Sarah tak henti-henti dengan meluapkan emosinya.


"Sarah, dengar dulu a-"


Ucapan Azhar dipotong oleh Sarah yang masih belum bisa kembali menangis. "Sakit, Azhar. Sakit sekali mengetahui bahwa wanita itu mencintaimu dan kamu rela membatalkan rencana kita sore nanti demi dia. Aku begitu menunggu hari ini untuk bisa menghabiskan dua puluh empat jam bersamamu. Aku ini hanya pengangguran demi mengikuti suamiku yang bahkan selalu mengabaikanku. Kalau begini terus, kamu juga ikut menyakitiku seperti Faris bahkan di negara yang sama pula kamu buat aku merasa tak dihargai. Aku bisa saja menyerah. Jadi, jika kamu merasa menyesal dan sebelum terlambat. Lepaskan aku!”


Deg


Azhar tak menyangka Sarah akan berkata begini. Azhar pun mendekap tubuh Sarah yang kembali bergetar. Betapa rapuhnya perasaan istrinya, perasaannya lembut hingga mudah sekali menangis. Pikir Azhar.


Ketika mengetahui Sarah belum juga menghentikan tangisnya, Azhar pun merenggangkan pelukan mereka hingga mendaratkan bibirnya pada Sarah  dengan sedikit kasar. Ia benci mendengar perkataan Sarah ini hingga dengan kasar Azhar ingin menghilangkan jejak kalimat itu dari bibir istrinya. Ia menyalurkan perasaannya dengan emosi tak terduga.


"Aku mencintaimu Sarah, hanya kematian yang akan melepaskanku darimu." batin Azhar


_________________________________________


Kerinci (Jambi), 07/10/2019