K

K
TIGA



Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta.


-Ali bin Abi Thalib-


________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Di kamarnya, Sarah terlihat cemas dan gelisah. Ia mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinganya. Sudah sejak kemarin perasaan gundah ini menghampirinya. Pasalnya Faris sulit dihubungi dan yang membuat Sarah semakin frustasi adalah kedua orang tua Faris juga tidak mengetahui di mana putranya sekarang.


Kedua orang tua Faris memang tinggal di Brunei setahun terakhir ini untuk mengurus pekerjaan mereka dan katanya akan kembali sehari sebelum acara akad nikah putranya.


Sarah yang kebingungan akhirnya memilih diam dan tidak akan memberitahukan kepada keluarganya bahwa Faris hilang kabar. Sarah takut, sebab jika ia mengeluh satu patah kata bahwa ‘Faris tidak bisa dihubungi dua hari ini’ maka keluarganya akan melemparinya segudang kalimat yang mampu memojokkan Sarah.


Karena Sarahlah yang keras hati ingin menikah dengan kekasihnya itu. Sarahlah yang menentukan hari pernikahan mereka dan Sarah juga yang bersemangat mengatur semua kesiapannya. Jadi, Sarah lah yang harus menanggungnya.


Sarah menghela nafas, tangannya gemetaran. Terakhir kali ia bertemu dengan Faris adalah seminggu yang lalu setelah memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan mereka. Faris tak berkomentar saat Sarah memutuskan hal itu hingga kemudian mereka pun dipingit seminggu ini. Tapi mengapa Faris juga menghilang ketika dihubungi? Sarah hanya ingin memastikan bagaimana kesiapan keluarga Faris di sana sebab persiapan di rumah Sarah hampir beres dengan sempurna.


Di lantai bawah sana, yang rencananya akan mejadi lokasi akad nikah telah hampir selesai didekor. WO pilihan Sarah pun memboyong banyak karyawannya untuk membantai rumah Sarah ini dengan dekorasi yang super megah. Bahkan dekorasi yang Sarah dan Faris pilih merupakan produk terbaru yang khusus dipesan untuk acara mereka ini. Jadi, belum ada dekorasi seperti yang digunakan dipernikahan Sarah ini sebelumnya. Sarah pun baru saja membooking makeup artist yang super handal untuk acara dua hari lagi.


Sarah menggenggam ponselnya yang dua hari ini terasa tak berguna. Bagaimana bisa Faris tak bisa dihubungi saat hari pernikahan mereka sudah di depan mata? Bahkan keluarga Sarah yang dari jauh pun telah merapat ke rumahnya. Apakah hanya Sarah saja yang antusias dan mengurus semuanya. Kemana Faris dan keluarganya?


Rencananya Sarah ingin mengajak Faris untuk mengantarkan undangan pernikahan hari ini kepada teman-teman mereka. Tapi nyatanya apa? Faris seakan hilang ditelan bumi bahkan semua keluarganya juga tidak tahu dimana dia sekarang.


“Kamu di mana sih?” Lirih Sarah.


“Arggh, aku pusing! Mengapa bisa jadi  begini.... hikks....” Sarah menumpahkan linangan air matanya di ranjang kamarnya ini. Kamar yang besok akan didekor indah.


***


Di sisi lain satu hari sebelumnya


Di sebuah rumah mewah sedang terjadi diskusi yang terlihat sangat serius, beberapa orang  bertubuh kekar dan beberapa orang lainnya yang masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar sedang terlibat pecakapan. Salah satu dari mereka terlihat cemas saat menyampaikan maksud kedatangan mereka ke rumah saudaranya ini. Yang lainnya pun tak kalah serius mendengarkan sautan demi sautan kalimat yang dilontarkan.


Beberapa saat kemudian, pria berperawakan seperti orang Arab itu pun meminta menghentikan pembicaraan mereka ini, beliau meminta yang lainnya untuk menunggu seseorang yang menjadi isi pembicaraan mereka itu muncul. Semuanya pun mengangguk patuh.


Tak berapa lama kemudian, sosok tampan yang ditunggu pun datang. Azhar menatap satu per satu anggota keluarganya yang memenuhi ruang tamu di rumah orang tuanya ini. Tak terkecuali orang tua dari Adzkia pun juga ada dan terlihat gelisah di tempatnya.


Azhar mengucapkan salam kemudian mendekat ke arah mereka. Azhar menyalami mereka satu per satu hingga memposisikan diri di kursi kosong  disamping Ibunya.


“Ada apa ini? Mengapa meminta Azhar kembali hari ini?” tanya Azhar dengan raut wajah bingung, sebab kemarin orangtuanya meneleponnya dan memintanya kembali ke Indonsesia sebab dirumahnya ada sesuatu yang penting untuk dibahas. Pagi-pagi sekali, Azhar pun memesan tiket keberangkatannnya dan meninggalkan pekerjaannya di sana.


Belum ada yang bersuara menimpali pertanyaan dari pria tampan keturunan Timur Tengah ini. Mereka pun hanya bisa saling pandang untuk mempersilakan siapakah yang akan mengutarakan maksudnya.


Hingga sebuah suara memecahkan keheningan, “sebenarnya kami ingin meminta bantuanmu wahai Azhar. Apakah kau bersedia membantu kami?” Ayah Adzkia bersuara hingga membuat Azhar memutar arah pandangnya ke sudut kirinya.


“Insya’Allah, jika memungkinkan Azhar untuk membantu maka Azhae siap membantu wahai paman.” Jawab Azhar dengan sopan lalu melanjutkan kembali, “Sebenarnya, bantuan apa yang bisa diberikan oleh keponakanmu ini?”


Seketika semuanya kembali terdiam, tak ada yang ingin bersuara bahkan ayah dari Adzkia pun terlihat mengatup mulutnya rapat-rapat. Kemudian, terjadi pergerakan di sebelah Ayahnya Adzkia. Ibu Adzkia pun memberanikan diri untuk membuka suaranya karena melihat keraguan dari suaminya itu.


“Wahai Azhar, putra saudara kami. Bibi mohon padamu dengan segenap hati, menikahlah dengan Adzkia. Putri kami.”


Deg


Azhar mematung mendengar apa yang disampaikan oleh wanita di samping pamannya itu, hingga kemudian Ibu Adzkia kembali melanjutkan perkatannya, “gagalkan rencana pernikahan Adzkia dengan kekasihnya. Kami baru mengetahui bahwa kekasih Adzkia bukanlah orang yang baik, dia pria yang telah beristri bahkan memiliki anak. Tapi, Adzkia  tidak mempercayai perkataan kami ini." Ibu dari Adzkia itu pun kembali terdiam setelah mengutarakan maksudnya dengan jelas.


Azhar masih tak percaya dengan indera pendengarnya ini dan lebih tak percaya dengan permintaan Bibinya itu. Menikahi Adzkia yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, terlebih lagi menggagalkan pernikahan Adzkia dengan orang yang dicintainya? Jika itu adalah Sarah maka tanpa pikir panjang Azhar akan langsung menyetujuinya tapi ini bukan. Ini Adzkia, kakak sepupu jauhnya yang juga merupakan rekan sesama dosennya.


“Kia, pernah mengatakan dia mencintaimu. Dia kerap mengungkapkan tentangmu pada Bibi. Jadi, hanya kamu yang mampu membantu kami karena jika kamu maka Adzkia tak mungkin menolak rencana ini. Gagalkanlah, wahai Azhar. Kami mohon sekali ini saja, toh kau juga tak memiliki sseseorang yang dicintai bukan?” terang Ibu Adzkia dengan mengiba.


Azhar menatap serius mata sayu Bibinya, lalu pandangan Azhar berpindah pada Ayahnya. Ayahnya mengangguk menyetujui permintaan Ibu Adzkia itu, lalu pandangan Azhar terakhir bertumpu pada ibunya yang berada tepat di sampingnya. Ibunya menggenggam erat tangan Azhar berusaha memberi kekuatan untuk putranya, hanya ibunya lah yang mengetahui bahwa Azhar sedang memperjuangkan seseorang sejak lama dan seseorang itu diketahui telah menjadi kekasih orang lain.


Azhar bingung, bagaimanakah dia harus bersikap sekarang. Menyetujui permintaan keluarganya untuk menikahi Adzkia hingga terpaksa mengubur dalam-dalam rasa cinta dalam diamnya pada Sarah ataukah menolak permohonan keluarganya hingga terus mengharapkan Sarah tanpa keyakinan akan berakhir indah ataukah sebaliknya?


***


Sarah yang ditemani seorang sahabat baiknya kini telah mendarat di negara tetangga, Singapura. Perasaan Sarah kacau, ia kecewa namun ia simpan saja sebelum ia memastikan sendiri kebenarannya.


Sarah tidak langsung sepenuhnya percaya pada apa yang disampaikan oleh bawahan dari Faris. Tapi, potret yang sedikit buram itu seakan nyata adanya. Faris terlihat sedang berduaan dengan seorang wanita dan bermesraan pula di negara ini.


Mana mungkin Faris bisa begitu saat Sarah tengah cemas akan kelangsungan acara mereka. Apakah Faris setega itu menyakiti Sarah? Apakah Faris tidak berniat untuk melanjutkan rencana pernikahan mereka ini? Jika memang begitu, mengapa tak dari awal saja? Mengapa harus didetik-detik menjelang waktu yang telah ditentukan ini?


Sarah semakin terisak, Shakilla sahabat sedari kecilnya itu dengan penuh sayang dan kesabaran menenangkan Sarah. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang diberitahukan oleh Beril, bawahan Faris di Agensinya. Hingga beberapa waktu berselang, dua wanita cantik ini pun sampai di Hotel XYZ.


Shakilla membimbing Sarah yang masih menampakkan guratan kesedihannya itu. Hingga keduanya pun menyambangi meja resepsionis untuk meminta sedikit informasi.


Shakilla terlibat obrolah dengan resepsionis cantik menggunkann bahasa Inggris, kemudian saat ia menyebutkan satu nama yang tengah mereka cari, resepsionis terlihat bingung sebab penghuni hotel yang memakai nama Faris ada beberapa orang. Lalu, Sarah pun menyerahkan ponselnya yang menampilkan gambar Faris dengan wajah yang terlihat jelas.


Hingga beberapa menit mencermati, akhirnya resepsionis itu pun mengangguk paham. Sambil menerima kembali ponselnya, Sarah dan Shakilla mendengar penuturan resepsionis mengenai pria yang ada di foto tersebut.


Sarah yang selesai mendengar penuturan tersebut seketika memegang dada sebelah kirirnya, terasa begitu sakit dan menusuk. Ini Farisnya. Farisnya ternyata benar berada di Singapura, di hotel ini ia menginap. Faris ternyata sengaja menghilangkan dirinya saat besok siang adalah acara syakral mereka.


Air mata Sarah kembali berlinang. Farisnya telah berubah, Farisnya telah mengecewakannya dan satu hal lagi yang harus Sarah pastikan yaitu bersama siapakah Faris di sini?


Kemudian, Shakilla meminta resepsionis mempertemukan mereka dengan Faris. Lalu resepsionis itu kembali mengatakan bahwa Faris sedang keluar dan mungkin saja akan segera kembali. Sarah dan Shakilla memilih untuk menunggu Faris di lobby hotel.


Pikiran Sarah kosong, bahkan kesibukan diponselnya pun tak ia hiraukan. Pasti keluarganya sekarang sedang mencemaskannya, pasalnya Sarah hanya pamit untuk bertemu Faris dan tidak mengatakan keberangkatannya ke Singapura ini. Mereka pun bingung dan bertanya-tanya pada Sarah mengapa harus bertemu di luar? Mengapa tidak di rumah saja dan Faris yang datang kemari sekaligus memantapkan pengucapan ijab qabul besok. Hal itu menambah beban di pikiran Sarah.


Kemudian Sarah melirik ponselnya sekilas dan di sana terdapat banyak sekali pesan masuk dan salah satunya dari Mama Faris. Bingung harus bagaimana, Sarah pun memilih menonaktifkan ponselnya saja.


Kemudian, saat Shakilla sedang izin ke toilet dan meninggalkan Sarah sendiri di kursi lobby, tanpa sengaja Sarah menemukan sosok yang ia tunggu.


Deg


Sungguh ini begitu kejam. Mengapa orang yang Sarah cintai dan begitu Sarah agung-agungkan tega menghantamnya dengan pemandangan ini. Mengapa tidak sejak awal saja Faris jujur padanya dan mengapa harus sekarang Sarah mengetahuinya.


Ya Allah, besok adalah hari bahagiaku. Pria itu seharusnya sedang serius latihan mengucapkan ijab qabul sekarang.


Tapi apa ini? Faris terlihat memeluk seorang wanita cantik. Wanita itu dengan berani mencium Faris di tengah keramaian lobby hotel dan Faris bahkan tidak menolaknya, Faris membalas perlakuan wanita itu dengan lebih berani lagi.


Air mata Sarah tak mampu dibendungnya, ia berdiri dan kemudian dengan langkah lebar ia membawa tubuhnya menuju kedua orang itu.


Plak ... Plak...


“BRENGSEK!” “PRIA SIALAN!” “SAMPAH!” Teriak Sarah dengan meluapkan kemurkaannya.


Faris menahan perih di wajahnya kemudian sangat terkejut melihat Sarah yang telah berada di hadapannya. Dengan gugup, ia pun bersuara, “k-kamu d-di-disini?”


Sarah menatap Faris tajam dan kemudian ingin kembali menamparnya namun ditahan oleh wanita yang bersama Faris itu, “ngapain kamu tampar pacar orang, hah!” Ucap wanita itu dengan berani.


Sarah pun tak menimpali ucapan wanita itu, mendengarnya saja membuat Sarah muak hingga Sarah beralih menerjang wanita berpakaian tidak sopan itu. Sarah mengenalinya. Dia Bella, model baru di agensi Faris yang mulai bergabung sejak beberapa bulan yang lalu. Bella lah yang sering menggantikan Sarah ketika Sarah membuat ulah, menolak saat diminta berpose liar dengan pakaian yang menantang.


“Hei betina! Kamu sama brengseknya dengan pejantan ini!” Ucap Sarah disela amukannya yang sedang tarik menarik rambut dengan wanita bernama Bella itu.


Faris terlihat bingung hendak membela yang mana, ia pun memilih berada ditengah untuk melerai keduanya. Namun-


Plak


Sarah kembali menitipkan tangannya di wajah Faris dan hal itu membuat Bella geram. Bella mengangkat tangannya dan hendak menampar Sarah namun sayang, tangannya tak sampai menyentuh wajah Sarah. Tangannya ditahan oleh seorang pria tak dikenal.


“Maaf, sebaiknya jangan membuat keributan di sini. Apa tidak malu dengan tamu hotel yang lainnya?” Ucap pria itu seraya menurunkan tangan Bella.


Faris pun menyadari bahwa sekarang mereka telah menjadi bahan tontonan.


Tanpa memperhatikan siapakah pria tersebut, Faris pun menghampiri Sarah yang sedang terisak. Ia melepaskan cincin dari jari manisnya. “Maafkan aku Sarah, aku tidak mencintaimu lagi dan aku memilih Bella daripada melanjutkan pernikahan kita besok. Aku tidak ingin kau menyesal nanti, jadi sebaiknya kita  batalkan saja acara besok. Nanti, akan aku jelaskan pada keluargamu dan untuk sekarang tolong kamu yang menjelaskannya. Maaf menyakitimu karena aku tak bisa bersamamu lagi. Kita selesai.”


Faris pun menggenggam tangan Bella dan ingin menyerahkan cincin kepada Sarah. Sarah menepis cincin itu kemudian memutar badannya untuk meninggalkan hotel ini, namun tanpa sadar ia menyenggol pria asing yang tadi menghentikan keribuatan mereka.


Tubuh Sarah terhuyung dan hampir menyentuh lantai, untung saja pria itu menahan tubuh Sarah hingga Sarah kembali menegangkan tubuhnya.


“Terima kasih.” Lirih Sarah sambil menyeka air matanya. Sarah pun melepaskan tangan pria itu dari pundaknya.


Tanpa melihat siapa pria tersebut, Sarah pun melangkah cepat untuk meninggalkan tempat ini. Shakilla yang baru saja kembali dari toilet menatap bingung Sarah hingga mengejarnya setelah mengambil kembali tas Sarah yang tertinggal di kursi lobby.


_________________________________________


Kerinci, 18/09/2019