K

K
EMPAT



“Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal se­suatu itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Kamu tidak menge­tahui sedangkan Allah Maha Mengetahui”


(QS. 2:216)


_________________________________________


🌸بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ🌸


Happy reading


.


.


.


Azhar POV


Setelah mendengar permintaan dari Bibi dan pamanku, permintaan untuk menikahi Adzkia dan menggagalkan rencana pernikahannya dengan Max, kekasihnya. Aku merasakan kebimbangan yang amat luar biasa.


Disatu sisi aku ingin membantu, apalagi kenyataan yang baru kudengar adalah Adzkia pernah menyimpan rasa padaku. Aku masih tak percaya sebab dia yang dewasa sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Namun, disaat aku berusaha meyakinkan hatiku untuk mengabulkan permintaan dari orangtua Adzkia, aku kembali dibayangi nama 'Sarah'.


Meski sebulan ini aku belajar melupakannya namun tak jarang hatiku nyeri saat bayangnya tiba-tiba muncul dipelupuk mataku. Aku tahu ini salah, tak sepantasnya aku begini. Namun, sisi hatiku mengatakan bahwa aku benar sebab yang salah itu adalah ketika aku menginginkan orang yang aku cintai harus mencintaiku bahkan harus menjadi milikku, itulah kesalahan terbesar dalam cinta.


Ummi yang menjadi tempatku berkeluh kesah mengenai masalahku ini, memberiku pengertian. Ia mendukung apapun keputusanku bahkan juga ikut menyetujui jika nantinya aku harus menolak permintaan Paman dan Bibiku.


Hingga di sinilah aku sekarang, di sebuah hotel bintang lima. Aku hanya pulang dan berada di Indonesia sehari yaitu untuk mendengar permintaan mereka. Aku meninggalkan kediaman Ummi dan Abi lagi demi pekerjaanku yang tak bisa aku tinggalkan barang sehari pun.


Aku pergi setelah berjanji pada keluarga Sarah bahwa akan memberikan jawabat atau keputusanku atas permintaan mereka besok setelah pekerjaanku hari ini rampung. Sejak mendengar permintaan mereka, aku langsung mengerjakan sholat istikharah. Menengadahkan tanganku bermunajad kepada-Nya, berusaha meyakinkan hatiku, berusaha memetik sebuah gambaran yang mampu meneduhkan hatiku ketika nanti kalimat apa yang akan aku utarakan kepada Paman dan Bibi.


Sebab Allah sen­diri telah berfirman:


“Dan apabila hambaKu bertanya tentang Aku, maka jawablah bahawa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepadaKu.. “(QS. 2:186)


Dengan ayat tersebut Allah memberikan harapan yang sebesar-besarnya bahwa setiap doa yang disampaikan padaNya akan dikabulkan. Allah tidak mungkin mungkir janji, siapa yang paling tepat janjinya selain Allah? Dalam sebuah hadis riwayat Abu Da­wud, Tarmizi dan lbnu Majah, Rasul pun bersabda tentang masalah doa,


“Sesungguhnya Allah malu terhadap seseorang yang menadahkan tangannya berdoa meminta kebaikan kepadaNya, kemudian menolaknya dalam keadaan hampa”.


Aku menyambut salam dari beberapa tamu yang baru saja sampai, hari ini aku menghadiri acara resmi pembukaan restoran baru yang berada di lantai 3 hotel.


Sebenarnya lelah tubuh ini berpindah-pindah antara Singapura-Indonesia dan sebaliknya. Aku juga telah berencana untuk kembali menetap di Indonesia saat telah berumah tangga nanti, namun kapan? Dan siapa yang dapat kuajak untuk meyempurnakan agama ini? Apakah Sarah? Seseorang yang telah lama menghuni do’aku. Ataukah Adzkia, kakak sepupuku yang harus aku nikahi atas permintaan orangtuanya? Entahlah.


Jika Sarah, aku tak yakin dia menyisakan ruang dihatinya untukku. Kemungkinan dia telah mengatur pernikahannya sekarang ini sebab terakhir kali kudengar dari Riqhad, Sarah telah bertunangan dengan kekasihnya. Aku juga yakin pria beruntung itu adalah pria yang sama dengan yang aku temui saat di Bali beberapa bulan yang lalu.


Aku mulai menutup telinga dan memejamkan mataku jika itu mengenai Sarah. Aku tak lagi ingin mengetahui tentangnya.


Namun, saat mata dan telinga mampu aku jaga. Ada hati yang takbisa aku kelola dan kuatur semauku. Hanya Pemilikku lah yang mampu membolak-balikkannya. Hingga di dalam sana masih tersisa Sarah yang mungkin tak mampu aku geserkan.


Aku kembali tersenyum menyambut sapaan dari tamu hingga langkahku membawaku ke lantai dasar, aku berinisiatif meninggalkan tempat acara ini lebih dulu sebab aku harus kembali ke kampus untuk melaksanakan pengabdianku.


Beberapa saat kemudian, tubuhku telah berada di lobby hotel. Saat langkahku ingin kulanjutkan ke arah pintu masuk itu, kakiku terasa kaku. Ia tak ingin beranjak sebab seseorang yang menghampiri penglihatanku tak mampu aku abaikan begitu saja.


Sarah, satu kata yang terbentuk dari lima huruf penuh makna. Jika disebutkan ‘Sarah’ maka itu ibaratkan sandi yang mampu menggerakkan anggota tubuhku. Buktinya, kakiku tanpa diminta melangkah menujunya. Jantungku berdegup memanggil namanya, pikiranku dipenuhi olehnya, mulutku melafalkan namanya hingga mata ini berhasil membingkainya dengan sempurna.


Aku berhenti tak jauh dari Sarah berada. Sarah terlihat bersedih di kursi lobby dengan seorang diri. Aku hanya bisa menatapnya dari sini hingga kemudian aku melihat suatu pergerakan dari Sarah.


Tubuh ringkihnya berdiri tegap hingga melangkah mendekati dua orang yang terlihat mesra hingga tangan Sarah bersarang di wajah salah satu dari mereka. Aku masih memperhatikan dengan beragam dugaan dipikiranku. Sarah kenapa? Pria itu siapa? Mengapa Sarah ada di sini? Kenapa ia bersedih? Hingga mengapa ia menumpahkan kemurkaannya pada dua orang di depannya sana?


Hingga dari posisiku berada sekarang, aku mendengar semuanya. Tidak, aku bahkan juga melihat semuanya. Sarah menyebut pria itu 'brengsek' dan memakinya dengan umpatan tak pantas.


Kakiku hendak mendekat namun berusaha aku tahan. Hingga saat tangan seorang wanita ingin menyentuh wajah Sarah aku pun maju tanpa ragu. Kuhentikan wanita itu hingga dapat kusaksikan kesedihan dan kekecewaan Sarah terhadap mereka.


Aku ingin marah, aku ingin memakinya tapi aku sadar siapakah aku ini? Punya hak apa aku akan itu? Pikirku. 


Kemudian, Faris pun menyerahkan cincin dari jari manisnya kepada Sarah dengan inti ucapan bahwa dia membatalkan pernikahan mereka yang direncanakan besok. Besok?


Deg


Besok!


Kinerja otakku terhenti. Jika saja tak begini, jika saja Faris tak bersikap brengsek maka harapanku pada Sarah benar-benar tertutup sempurna, sirna. Ada sedikit kecerahan disisi hatiku mengetahui hal ini, hari ini.


Namun, saat aku pandangi wajah terluka Sarah aku menyadari bahwa Sarah begitu mencintai Faris. Sisi hatiku yang lainnya pun ikut merasa terluka karenanya.


Sarah terlihat lemah dan hampir merosot jatuh saat ia ingin melangkah pergi setelah menepis tangan Faris. Aku menahan tubuh gemetarnya agar ia tak luruh ke lantai. Aku menyentunya, kulitku mengenai lengannya.


“Terimakasih.” Lirihnya.


Kata pertama yang aku dengar langsung dari bibir Sarah. Kata yang ditujunya kepadaku. Aku melepaskan tubuhnya hingga seorang wanita lainnya terlihat mengejar Sarah.


Aku menghela nafas sambil memandangi kepergian Sarah, pria yang telah mengecewakan Sarah itu pun telah melenggang pergi bersama wanita pilihannya. Wanita yang ia pilih dengan membuang wanita yang aku inginkan.


Setelah punggung bergetar Sarah menjauh, aku langsung mengeluarkan ponselku dan menghubungi seseorang. “Pesankan tiket ke Indonesia untuk besok. Tiket paling pagi, keberangkatan paling awal!” Titahku.


Kemudian aku mencari kontak lainnya yang akan aku hubungi. Dengan penuh keyakinan aku pun memantapkan diri.


“Ya Allah, semoga yang aku pilih ini adalah benar. Ridhoi aku dengan rahmat kasih sayang-Mu.”


Azhar POV-End


***


09:00 WIB


Setelah semalaman dihantui kegundahan yang hakiki. Subuhnya, Shakilla membantu Sarah bersiap-siap karena mereka akan terbang kembali ke Indonesia. Untung saja mereka bisa mendapatkan tiket keberangkan ke dua dari Changi Airport.


Sarah tak lagi menangis karena sumur airmatanya serasa kering sehabis tertumpah ruah. Namun, ia masih mamasang raut bersedih dan beragam rasa takut memenuhi dirinya.


Bagaimana nanti ketika sampai di rumah? Apa yang akan ia sampaikan pada orang tua dan sanak saudaranya? Bagaimana jika ia tiba sedangkan rumahnya sudah dipenuhi banyak orang yang akan menyaksikan prosesi akad nikahnya?


Sarah memejamkan matanya, beberapa jam lagi seharusnya ia dan Faris duduk bersanding dengan ikatan baru namun tepat beberapa waktu lagi Sarah akan mencoreng wajah orangtuanya. Ia akan mempermalukan keluarganya dihari yang seharusnya ia bahagia.


Di dalam taksi, Sarah mengaktifkan kembali ponselnya. Panggilan dari Mamanya langsung tertampil di layar ponselnya sesaat kemudian. Sarah pun menguatkan diri untuk menjawabnya, “di mana?” Tanya suara diseberang sana.


“Sarah di jalan, Ma. Bentar lagi nyampe.” Sarah menjawab dengan berusaha menahan tangis yang ingin meledak.


Ia menunggu reaksi Mamanya karena dari kemarin Sarah tidak bisa dihubungi hingga meminta Shakilla ikut diam jika ditanya. Karena ponselnya ia nonaktifkan, pasti Mamanya memiliki banyak pertanyaan yang ingin ia utarakan.


Namun, dugaan Sarah salah. Mamanya malah berkata santai, “baiklah. Hati-hati. Mama tunggu.” Hanya itu. Serius hanya itu? Hingga Sarahlah yang menjadi bingung sendiri.


Kemudian, Sarah pun lebih memilih untuk membuka pesan dari orangtuanya Faris daripada membuka pesan dari yang lainnya padahal begitu banyak pesan masuk ke ponselnya ini. Pesan dari Mamanya Faris yang belum ia buka sejak kemarin.


“Maaf Sarah. Maafkan Faris. Maafkan putra kami. Dia sebenarnya telah menghubungi Mama kemarin dan mengatakan niatnya untuk membatalkan pernikahan kalian. Namun jujur, Mama tak percaya hingga menganggapnya bercanda namun, saat dia menjelaskan semuanya. Kami syok, kami sekeluarga sangat kecewa, kami marah, kami tak menyangka akan begini jadinya. Untuk itu kami mohon maafkan kami yang sebesar-besarnya.”


Air mata Sarah kembali luruh. Mereka seperti menganggap hati dan perasaan Sarah ini seperti mainan saja.


“Sarah, kamu yang sabar ya. Ingat ada Allah tempat meminta pertolongan, keluhkan semuanya pada Dia yang Maha Bijaksana.” Shakilla memeluk tubuh gemetar Sarah hingga taksi yang mereka tumpangi telah sampai di rumah megah yang telah disulap dengan dekorasi yang mewah.


Tapi sayang, dekorasi indah itu harus menjadi arang yang mencoreng keluarga Sarah hari ini.


_________________________________________