Jonathan

Jonathan
chapter 09



Hari-hari berlalu, dan mulai minggu ini Bella telah di sibukan oleh kegiatan menyeramkan yang di sebut ujian. yaps, Ujian akhir Nasional adalah hal yang menakutkan bagi gadis cantik itu. Padahal Bella termasuk salah satu murid berprestasi di sekolah ini, dan ketakutan tak lulus itu melebihi dari siswa yang tidak berprestasi.


Apa lagi hatinya begitu tersikaa karena sikap Joe akhir-akhir ini. Bisa dibilang ini bukan salah Cowok itu. Sebab, semua ini atas dasar kemauan Bella sendiri. Bukankah Bella yang menginginkan untuk jauh dari Cowok itu?


Tapi, kenapa rasanya sakit saat mereka berpapasan jangankan untuk menyapa, pria itu bahkan tak tersenyum pada Bella. Apa Joe benar-benar mengikuti kemauan Bella. Atau pria itu bosan dengan penantian yang sia-sia?


Ah, sepertinya itu adalah hal yang paling masuk akal. Joe bisa di katakan tampan dengan tubuh proposional dan kulit yang bersih membuat nilai plus untuk cowok itu. Dia juga bukan dari kalangan biasa dan mustahil cowok seperti itu mau menunggu gadis seperti Bella untuk membuka hatinya. ck! Ini kisah nyata bukan dongeng atau sejenisnya.


Jujur Bella bingung. Di satu sisi ia ingin bersama Jo tapi di sisi lain ia merasa perkataan kakaknya benar. Tak ada orang yang betah bila berdekatan dengan Bella seolah sikap manjanya itu adalah penyakit yang menjijikan. Sebenarnya bukan salah Bella tak berusaha merubah hanya saja sifat itu mungkin sudah melengkat sampai ke tulang-tulangnya dan tak bisa di ubah. Never.


Belum lagi belenggu yang mengikat erat leher dan hatinya. Seolah hanya sifat itu yang membuatnya kuat untuk menjalani hari-hari tanpa ibu dan ayah, ya hanya itu. Karena dengan adanya sifat itu Bella merasa hidupnya yang dulu tak terengut habis oleh takdir yang kejam.


kepergian ibunya yang terlalu cepat dan ayahnya yang menikah lagi itu bagaikan belenggu yang  mengingkat erat hidupnya, perlahan tapi pasti menggerogoti hatinya sampai ia pernah memikirkan untuk mengakhiri hidupnya.


"Akhirnya bebas!!!"


Suara Dian menarik paksa pikiran Bella dari lamunannya. Mereka sedang duduk di bawah pohon dekat sekolah, Dimana ada bangku taman disana.


"Bebas?" Tanya Bella karena tak mengerti.


"Ya, hari ini hari terakhir ujian, yeeee..." teriakan Dian membuat semua perhatian terarah padanya. Bukan Dian namanya jika ia peduli.


Sementara Bella yang menyadari hanya menundukan kepalanya, malu. Saat Bella bisa di bilang kalem terhadap orang baru tapi Dian malah masuk katagori urakan. Kendati pun begitu perbedaan sifat keduanya, membuat pertemanan mereka Awet. Karena hanya Dian yang mengerti akan sikap manja, pemaksa dan cengeng Bella.


Bella hanya mendengus sebal. Saat dia sedang gudah menghadapi hari esok temannya malah santai seperti ini. Besok adalah ujian kejuruan mereka, dengan tugas membangun jaringan LAN dan memblokir situs webseite dengan proxy di linux sebagai tugas ujiannya. Sebenarnya bukan masalah yang susah mengingat Bella termasuk salah satu murid yang teladan hanya saja ketakutan yang tak berasalan membuat materi itu bagai momok yang selalu menghantuinya.


"Lu kok g bareng kak Joe lagi?"


"Gpp kok cuma lagi malas aja"


Jawab Bella asal


"Putus ?"


"Eh.. enggak kok sapa yang pacaran. Gak" jawab Bella menyangkal entah kenapa mendengar kata putus, Bella merasa nyeri di hatinya.


"Lu pulang bawa motor gue aja ya Bell , gue mau pergi sama Adam" ucap Dian cengengesan.


Hampir dua minggu ini Bella selalu di jemput Dian, karena Bella masih sedikit takut untuk bawa motor sendiri sejak kejadian tempo hari.


"Hu'um" Bella mengangguk.


****


Bella sampai di depan rumahnya dengan motor matic milik Dian. Panas matahari begitu menyengat sampai Bella merasa sedikit pusing di kepalanya. Ketika akan membuka pintu rumah Bella membuka helmnya tapi suara geseran pintu pagar depan rumah mengalih perhatianya. Terlihat dua orang gadis di atas motor matic memasuki rumah itu, yang tak lain adalah rumah Jonathan.


Siapa mereka ?


Kenapa kesana?


Apa salah satu dari mereka pacar baru kak Jo?


Setidaknya banyak sekali pertanyaan mulai muncul di benaknya. Entah kenapa membayangkan itu membuat rasa sesak muncul di dadanya. Begitu pun dengan bibirnya yang tiba-tiba bergetar dan tengorokannya yang terasa kering. Matanya memanas, mengancam akan mengalir saat ini juga. Bella menyentuh engsel pintu dan masuk dengan menutup pintu dengan keras.


"Eh udh pulang de" tanya Amel dari arah ambang pintu ruang tengah, karena mendengar suara pintu yang tertutup dengam keras.


"Hey kamu kenapa Bella?"


Tanya Amel lembut dan duduk di samping tempat tidur adiknya, dengan sesekali jemari lentik itu membelai rambut Bella.


"Hiks... hiks... Bella gpp kak" jawab Bella dengan mengangkat kepalanya sejenak dan membenamkannya kembali pada bantal.


"Kakak gak suka kamu mendem perasaan kek gini... ayo cerita dulu sama kakak"


Bella mendudukan dirinya di atas ranjang dan memeluk tubuh langsing Amel. Bella memang gadis yang sangat manja karena memang sejak dulu Bella di perlakukan seperti itu. Sebenarnya Amel kasian dengan perjalanan hidup adiknya seharusnya di saat ini ia mendapatkan perhatian ibu, ayah dan dirinya tapi apa boleh buat di saat Tuhan berkehendak lain.


"Kenapa sayang?"


"Bella cuma takut tidak lulus, kak" ini adalah salah satu alasan kegundahan hati Bella. Tapi, yang membuat perasaanya sesak adalah hal tentang Jonathan Mendapati pria itu memiliki kekasih membuat Bella benar-benar merasa hancur.


"Bukan karena hal lain?"


Bukan kakak namanya jika tidak memiliki insting kuat dengan problema yang di alami adiknya. Bella hanya menggeleng seolah menjadi pertanda apa yang ia katakan benar adanya.


Amel tersenyum manis dengan mengusir helai demi helai rambut lurus yang menutupi wajah cantik adiknya itu.


"Kamu pasti bisa sayang. Jangan lupa berdoa karena usaha tanpa doa bisa jadi sia-sia. Kakak yakin Bella pasti bisa" papar Amel dengan membelai wajah Bella.


Bella mengangguk tanda setuju. Sebenarnya ia benar-benar merasa berdosa pada kakaknya. Dia sangat sadar ia telah berani membohongi kakanya karena menutupi konflik hati yang sedang menerjang dirinya.


"Ya udah ganti baju gih abis itu solat, kakak mau kebelakang dulu"


Bella menatap kaca jendela kamarnya yang terbuka dan memperlihatkan dengan jelas rumah Joe berdiri kokoh dengan tatapan yang sulit di artikan. Belum beberapa menit suara Amel kembali memenuhi pendengaram Bella.


"Bella... kamu bilangin sama Dian jam dua nanti kakak keluar kota kamu tidur disana ya"


"Is.. kok mendadak sih" jawab Bella kesal.


Amel yang mendapati wajah cemberut adeknya hanya terkekeh geli.


"Udah udah. Namanya kerjaan.. cepat solat"


TBC


apa kabar beb?


dari kota mana ajah nih


lama ya 🤣 ayo senyuk dulu ay up 3 part ini.


jan lupa like dan comments ya beb...


vote yang banyaaak 😘😘