
Bella membuka matanya perlahan, ruang temaram dengan disinari lampu tidur keoranye di atas nakas menjadi pemandangan pertama yang di lihat gadis cantik itu.
Tubuhnya begitu lelah karena memang hari ini berjalan sedikit berat baginya, apa lagi semalam dia sedikit kurang tidur karena memikirkan perkataan kakaknya untuk menjauhi cowok yang sekarang menyita seluruh fikiranya.
Lalu aroma maskulin yang tidak asing bagi Bella mengusik indra penciuman nya. Bella berusaha mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelumnya, dimana Jonathan memaksanya untuk naik ke dalam mobil dan berakhir dengan dirinya tertidur dengan lelap.
Sadar akan kondisinya, refleks Bella mencoba mendudukan dirinya di atas ranjang. melihat tubuh nya yang di tutupi selimut dan bersyukur karena seperti nya dirinya masih mengenakan apa yang ia kenakan ketika tertidur di mobil.
Matanya mulai berusaha menangkap situasi yang sedikit asing sebab posisinya berada di kamar orang lain. begitu pula dengan ranjang yang ia tempati sekarang, rasa khawatir menyerang Bella dan ketika dia melihat sekelilingnya sekali lagi, terlihat beberapa benda asing berada dalam kamar itu.
dimana ini? Apa yang terjadi?
Gitar, botol minuman keras, bungkus rokok berserakan di atas meja. Tanpa sadar Bella menghela nafas kasar. Tapi matanya terkunci saat melihat sebuah jaket di atas ranjang, ia kenal jaket itu. Jaket hitam itu milik Jonathan. Lalu matanya kembali mengendar di sekeliling ruangan. Kamar ini terlihat sedikit mewah.
apa benar Joe membawanya ke Hotel?
Apa Joe akan melakukan hal buruk padanya?
Apa Jonathan telah merencanakan semua ini?
Semua pertanyaaan itu bermain di pikiran dan benak Bella. Sungguh rasa takut mencekam benaknya saat ini. Ia tak ingin hancur seperti ini.
Seharusnya ia menjauhi Joe,
Seharusnya ia mendengarkan perkataan kakak nya. Semua sudah terlambat saat sudut matanya menangkap siluet di arah pintu kamar. Sosok tinggi itu berada di ambang pintu tak begitu jelas karena minimnya Penerangan dan sedikit bantuan cahaya dari lampu di luar kamar.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAA"
pekikan Bella membuat pria itu tersadar dan berjalan cepat kearah gadis cantik itu, sampai meletakan kopi yang baru saja ia bikin secara asal dan langsung membekap bibir mungil Bella dengan tanganya.
Bahkan rasa pusing yang pria itu rasakan tak terlalu ia hiraukan. Dengan tatapan tajam Joe melihat Bella yang masih dalam keadaan kaget bukan kepalang.
"Sst!!! Diem, jangan teriak!!! ini aku"
Bella hanya menggeleng ketika tahu orang itu adalah Jontahan, setelah cukup yakin Cowok itu melepaskan bekapan tanganya.
"Kamu.."
"Iya ini aku.."
"Jangan deket-deket! Sana!" Bella seperti biasa dengan tingkah manjanya menjauh dari Joe.
"Makanya diem"
"Aku dimana?" Tanya Bella dengan melihat sekeliling.
"Di rumahku" jawab Joe enteng seperti tak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Bella, Gadis belia itu terkejut dengan menujukan ekspersi yang menurut Cowok itu sangat berlebihan.
"Kenapa?"
"Is... kamu kok bawa Bella kesini sih.. is Bella mau pulang" kata Bella dengan melakukan pukulan beruntun pada tubuh Joe.
"Ya udah pulang" ucap Joe sekenannya, memangnya masalahnya dimana? Toh rumah gadis ini berada tepat di depan rumahnya.
Bella milirik jam yang berada di atas nakas di samping ranjang. Jam digital itu menampilkan angka 00.41. Ini sudah terlalu larut untuknya pergi kerumah Dian. Pulang? Bella bahkan tak berani untuk masuk kerumah sendiri apa lagi larut malam. Lalu tanpa sadar bella menangis.
"Kenapa lagi?"
Joe bertanya saat menyadari isak tangis yang keluar dari bibir Bella.
"Kamu udah nyulik Bella"
Bukanya kesal Joe malah terkekeh geli mendengar kalimat abstrak yang terlontar dari gadisnya. Bagaimana bisa di sebut menculik jika rumahnya hanya bejarak beberapa langkah?
"Menculik? Kamu bisa pulang bell? Apa perlu ku antar?
Bukannya menjawab tangis Bella pecah saat itu juga. Dan itu membuat Joe menghela nafas. Benar ia sangat mencintai Bella tapi ia tak mengerti jalan pikiran gadis ini. Gadis ini telat gede!
"Tadi kamu ketiduran maka nya, ga ku antar ke rumah Dian" ucap Joe sembari berjalan dan mengambil kopi miliknya.
"Oke.. oke maafiin aku , ku antar sekarang ya kerumah Dian?"
"Jadi?...Pulang?... Aku antar?"
Sebenarnya Joe tahu bahwa Bella makhluk Tuhan paling penakut di muka bumi ini. Bagaimana bisa ia takut untuk berada di rumahnya sendiri. Mengenal Bella hampir setahun ini, itu bukanlah hal mustahil untuk Joe mengetahuinya.
"Bella?"
Bukanya menjawab Bella malah menangis makin keras dan menutup wajahnya. Dan sukses membuat Joe mengumpat kasar. Joe tak suka berada di posisi ini. Ia manusia bukan dukun apa lagi malaikat yang tahu apa yang sedang Bella pikirkan.
"Bella!" Joe menarik tangan yang menutup wajah Bella denga satu kali bentakan. Dan tatapan tajamnya juga ikut serta seolah itu adalah kalimat yang memujuk ala seorang Joenathan.
Well.. itu memang khas pria dengan prawakan tinggi itu. Dan benar bentakan itu mampu membuat Bella terdiam. Diam karena takut bukan karena yang lain. Ayolah ... wanita mana yang takan takut bila di perlakukan sperti itu.
"Apa mau mu?"
"Bella.."
"Shit, just tell me bell!"
"Bella lapar" kata Bella dengan menarik tanganya dan menarik selimut putih itu menutup wajahnya. Ia benar benar malu saat mengatakan itu.
Joe yang tadi merasa kesal kini kembali menatap Bella dengan tatapan tanpa ekspresi melihat tingkah Bella. Sungguh hanya Bella yang mampu membuat suasana hati Joe berubah secepat kilat. Ia benar-benar kesal tapi juga senang melihat Bella yang begitu menggemaskan.
Joe melirik jam tanganya sekilas. Lalu kembali melihat Bella
"Ayo.. katanya mau makan"
"Mau makan dimana? Udah malam banget" ucap Joe, tapi sayangnya tak ada jawaban dari gadis cantik itu.
"Mau makan gak?" Tanya cowok itu sekali lagi.
"Mau pulang dulu. Masih pakai seragam sekolah"
Joe terlihat menimbang-nimbang, come on ini bukan Amerika atau sejenisnya. Ini Indonesia tidak mungkin Joe membiarkan tetangganya tahu bahwa Bella saat ini bersamanya. Joe menarik baju kaosnya yang berada di dalam lemari dan memberikannya pada gadis cantik itu.
"Is gak mau. Gede banget. Malu!"
"Jadi gimana?? Mau makan dimana jadinya??
"Gak tau"
Sungguh hanya Bella yang mampu membuat Joe menggunakan kekuatan super ekstra yang di sebut sabar. Bahkan ia tak pernah berfikir akan mengunakan kekuatan itu pada level yang menurutnya sudah sangat tinggi.
Joe menghela nafas pelan untuk mengontrol emosinya "pakai... aku mau bikin mie instan aja. Karena aku sangat tahu tangan lembut kamu itu pasti gakkan pernah kamu gunakan untuk masakkan?"
Tanpa menunggu jawaban dari Bella Joe melenggang meninggalkan kamar.
"Tunggu"
"Apa lagi?"
"Idupin lampunya. Bella takut gelap"
Joe menggeleng pelan melihat tingkah ajaib gadisnya. Menghidupkan lampu dan menutup pintu dengan sedikit keras.
Oke sekarang singa sudah terjebak dalam perangkap seekor kelinci.
TBC
bang jo udh keliatan manisnya belum sih????
jan lupa cek n riecek chapter sebelumnya ya bebeb
sapa tau Visualnya udh terup 🤣🤣🤣
jan lupa like comen and Vote yang bikin ay smngt buat ngehalu tinggi2 smpe susah untuk di panjat.