Jonathan

Jonathan
chapter 12



Bella sangat tahu jika tindakannya kali ini akan melukai hati Amel, Jadi wajar saja saat ini ia hanya bisa terdiam ketika mendapati tatapan kakaknya laksana busur panah yang tajam. Tubuh langsing yang di balut dengan kaos oblong dan celana jeans itu terlihat sangat cantik, sementara bibir Amel mengatup seakan sedang menahan amarah yang begitu besar.


"Maaf" Tak ada kata lain yang bisa Bella katakan selain kata maaf, karena ekspresi Amel sudah sangat menjelaskan bertapa kecewanya gadis itu.


"Untuk apa?"  Tanya Amel dengan nada datar, gadis itu berlalu dan masuk untuk mengambil barang yang ketinggalan. Tadi, Amel sudah pergi tapi karena Ponselnya yang ketinggalan membuat ia putar arah dan kembali ketempat ini.


Amel sempat heran kemana adiknya menghilang padahal ini belum lama sejak ia pergi dan rumahnya juga tak terkunci. Tapi, yang membuat ia terkejut adalah Bella duduk di ayunan besi di rumah seorang Cowok yang  Amel nilai sudah sangat rusak.


"Bella--" Bella tak tahu harus menjelaskan bagaimana keadaan hatinya saat ini. Jujur ia sendiri sangat bingung, Amel mungkin benar. Tapi, Apakah penilaian Amel tentang Jonathan juga benar? kakaknya hanya menilai Cowok tampan itu dari penampilannya saja, Bahkan bisa jadi kakaknya tak tahu siapa nama cowok yang tinggal di depan rumahnya.


"Itu terserah kamu... kakak rasa kamu sudah bisa menilai sifat seseorang..."


Amel berbalik untuk menatap wajah adiknya yang terlihat begitu sendu, Amel tidak sedang merebut kebahagiaan adiknya. Tapi, ia cukup yakin jika Bella masih sangat kecil untuk melihat dunia, dan cowok rusak tidak boleh sampai masuk di kehidupan adiknya, karena yang terlihat baik saja bisa jadi bersikap sebaliknya, Apa lagi cowok yang sudah terlihat sangat urakan.


Amel memang tidak mengenal siapa cowok yang ada di depan rumah mereka, bahkan namanya saja Amel tidak tahu. Tapi, yang Amel tahu bahwa pria itu suka membawa cewek kedalam rumahnya dan kehidupan malam adalah rutinitasnya.


Dan cowok itu akan pulang subuh yang Amel yakini ia dan teman-temanya sudah mabuk-mabukan. Jadi, tolong jelaskan adakah kakak waras yang bersedia menyerahkan adiknya pada seorang cowok seperti itu?


"kamu udah cukup gede untuk menilai dia, Apakah kakak salah cuma kamu yang tau"


"Bella bingung"


"Bingung,1 karena kamu belum tahu gimana bej*tnya cowok seperti itu, ucapan manis dan rayuan gombal akan ia sodorkan untuk meluluhkan hati kamu"


"Tapi--"


"Kakak tahu kamu pasti gak akan terima kalo kakak ngatain dia kaya gitu, karena kamu udh terjebak dalam tipu muslihatnya"


Amel terlihat begitu kesal. Tapi, Bella juga tak bisa membiarkan nama Jonathan tambah buruk hanya karena sifat buruk kebanyakan cowok seperti itu. Oke... Bella akui jika Jonathan bukan orang baik, Tapi selama ini cowok tampan itu tak pernah merayu apa lagi melecehkannya. Jo sangat menghargai Bella bahkan dengan segala tingkah lakunya.


Bella sangat yakin dengan wajah yang Jo punya ia bisa memilih wanita mana saja untuk menjadi kekasihnya. Tapi, kenapa harus dia yang menjadi sasaran Jonathan?


Tak mungkin jika untuk pemanfaatan, apa yang ada pada diri Bella? Dia cuma gadis kecil bodoh bila di bandingkan dengan wanita-wanita yang hadir di kehidupan cowok tampan itu.


"seharusnya kamu udah cukup paham dengan apa yang terjadi sama hidup kita sekarang, Seseorang yang ada ikatan darah ama kita aja bisa tega ninggalin kita berdua"


Bella mengurungkan niatnya, Sepertinya membiarkan Amel dengan fikiranya lebih baik. Dari pada mencoba menyuarakan hal yang seharusnya. Tapi, kakaknya lebih kukuh akan penilainya.


"Apa lagi dia yang bukan siapa-siapa, mau kamu mati juga gak akan pengaruh sama kehidupan dia Bella"


Jika sudah seperti ini Bella hanya bisa terdiam menikmati segala curahan hati kakaknya, terlebih apa yang Amel katakan adalah benar. Ya, bagi seorang anak perempuan patah hati yang terhebat adalah ketika seorang ayah meninggalkannya. Dan mereka berdua sudah merasakan itu. Apakah Bella siap patah hati lagi?


"Kakak seperti ini karena kakak sayang Bell, bukan karena kakak merasa berkuasa atas hidup kamu. Kakak gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu. Kamu mau bikin omongan dia benar dan kakak gagal jaga nama baik kita?


Kalimat Amel tadi membuat Bella tersadar. Masih lekat di ingatanya atas ucapan seseorang. Dan Amel punya andil besar dalan setiap langkah mereka,bahwa posisi mereka kini cukup rawan dan seseorang di luar sana menantikan mereka hancur. Setiap langkah yang dia ambil akan menjadi penentu kehidupan mereka.


Lantas apakah Bella tega membuat kakaknya kembali terluka?


Bella berjalan mendekat memeluk tubuh Amel sembari menyesali egonya. Kakaknya benar, Jo mungkin memang baik padanya. Tapi, apakah ada jaminan jika nanti cowok itu masih akan baik?  ketika waktu sudah menunjukan peranya, dan kata sayang telah di makan oleh kata bosan?


"Ayo cepet ambil barang kamu"


Bella menganggkat kepalanya untuk menatap Amel, gadis itu sudah berdiri di ambang pintu. Terlihat jelas jika saat ini jonathan juga sedang mengamati mereka berdua dari depan rumahnya


"Kakak anterin kamu kerumah Dian"


"Eh... i--iya kakak Bella siap-siap dulu"


Bella seakan berada dalam dilema, di satu sisi dirinya tak ingin pergi dan jauh dari Jonathan. Namun di sisi lain, semua ucapan Amel ada benarnya. Apakah ia harus jatuh dulu untuk bisa merangkak menghadapi dunia.


Atau haruskah Bella meninggalkan seseorang yang tulus padanya tapi tak begitu terlihat hanya karna cover yang telah rusak? God hates the sin but not the sinner.


Haruskah semua ini berakhir bahkan sebelum semuanya bermula. Kini bella seakan terkalung dalam keputusan yang semakin menarik ketat lehernya. Dirinya tenggelam dalam pikiran yang membawanya hanyut terbawa arus tanpa satupun yang sanggup menolongnya.


Perasaannya pada Jo seakan belenggu yang menyiksa jiwanya. Sementara rasa sayangnya pada kakak satu-satunya semakin memaksa perasaan itu untuk mati. Gadis itu menatap nanar pada takdir yang memikat mereka dan menari dalam pelukan mawar berduri. Meski terlihat indah, namun membawa luka ketika di genggam terlalu kuat.


Kini dirinya hanya bisa pasrah pada takdir. Mengikuti alunan jejak langkah yang membawanya pada keputusan akhir jiwanya. Meski mungkin berdarah, Bella harus merubah langkahnya. Terdiam dalam belenggu bukan cara manusia untuk hidup. Bella melepas segalanya dan menyerah dalam pelukan takdir. Tenggelam dan diam hingga menunggu keajaiban datang untuk membawanya pergi.


TBC


hiya2 ay kambek jan marah ya 🤣🤣🤣


ribet nulis beda gndre


ayo mana suaranya nih


TIM AMEL


atau


TIM JO 🤣



besok ay balas komen ya klo kmren2 takut hahaha