Jonathan

Jonathan
chapter 11



Ketika mereka sudah duduk di sofa empuk dengan dominan warna wine itu. Joe duduk di kursi singel sedangkan Bella dan Amanda duduk di satu Sofa yang tadi di pakai Jo untuk main game.


"Kenapa?" Tanya Jo dengan nada lembut, sungguh ia terlalu penasaran apa yang telah tejadi pada gadis di depannya ini.


"Kamu nanya kenapa terus, Bella pulang aja ya. Kayaknya kehadiran Bella ganggu banget"


Joe hanya mengela nafas pelan dengan mendorong meja ruang tamu itu dengan kakinya untuk menghalangi pegerakan Bella.


"Kamu...!" Protes Bella mendapati sikap Jonathan yang seenaknya.


"Duduk!"


Suasana menjadi cangung bahkan Amanda yang duduk tak jauh dari mereka merasakan aura itu. Sebenarnya Amanda sedikit penasaran pada Bella. Kenapa Joe bisa bersikap demikian pada gadis yang Amanda liat masih kecil ini.


"Nda, Ocha mau pergi sebentar. Ikut atau...?"


Suara ocha mampu meregut situasi kurang nyaman itu. Terlihat ocha berjalan di iringi Leo yang berada di depannya, Pria itu tampak acuh dan berjalan ke arah pintu.


"Tinggal aja" sambar Amanda dengan senyumanya khasnya.


"Titip Manda ya, Joe" Ocha tersenyum pada Joe dan beralih menatap Bella dengan senyuman manisnya. Seolah itu adalah tanda sapaanya pada gadis itu.


Bukanya menanggapi perkataan Ocha, Joe hanya fokus pada Bella. Memangnya Amanda anak kecil yang harus di jagain? Ck! dan jika pun benar Joe bukanlah pria yang sebaik itu. Karena ada bayi remaja yang harus ia jaga sekarang, Bella.


Sepeninggalan Ocha dan Leo. Suasana kembali hening. Hanya ada suara pendingin udara yang sedari tadi menderu.


"Jangan tatap Bella kaya gitu" ucap Bella tak nyaman.


"Udah, fokus ujiannya?"


"Belum, Besok ujian kejuruan"


"Kamu masih sekolah?" Tanya Amanda yang duduk tak jauh dari Bella. Lalu menatap Jonathan yang terus memperhatikan Bella. Bagaimana bisa Jonathan menyukai gadis belia seperti ini?


"I...iya kk" Jawab Bella sedikit gugup. Pasalnya Bella adalah tipe cewek yang sedikit susah untuk dekat dengan orang baru. Dan Joe butuh perjuangan yang besar untuk bisa sedekat ini pada Bella. Apa lagi Amanda saat ini menatapnya dengan tatapan menghakimi.


"Mata lu biasa aja" Tegas Jo pada Amanda.


Menyadari gerak kurang nyaman yang Bella tunjukan. Joe menarik tangan Bella untuk mengikutinya tanpa memperdulikan keterkejutan Amanda.


Cowok tampan itu membawa Bella ke luar rumah yang mengarah pada teras samping. Di sana terdapat ruang santai dan sebuah ayunan besi besar. Jo menuntun Bella melewati mobilnya terparkir dengan apik.


Bella sedikit terperangah melihat interior rumah ini karena ini bukanlah rumah yang tepat untuk di tempati seorang bujangan. Ini terlalu lengkap dan bersih. Ya, walaupun Bella tahu bahwa ada bi iyani, wanita paruh baya yang tinggal di ujung komplek.


Ibu janda itu sengaja Joe pekerjakan untuk membersihkan rumahnya sekalin untuk membantu perekonomian bi iyani. Joe bukanlah pria kasar dan jahat seperti yang mereka katakan hanya saja Joe sulit untuk bersosialitas dengan tetangga pada umumnya. Pria itu lebih terlihat acuh  pada kehidupan sosial.


"Kenapa?... Kamu cemburu?" Sambung Joe tanpa menunggu jawaban Bella, ketika mereka berdua sudak duduk di ayunan besi ini.


"Is apaan sih, Bell--"


"Kangen" melihat tingkah gugup Bella, Joe malah terlihat makin gencar untuk mengodanya. Dan menyentuh pinggang Bella untuk mendekat ke arahnya. Entah kenapa kini tangan pria itu mulai berani bergerak lancang. Padahal biasanya Joe tahu betul jika Bella bukanlah wanita yang suka di sentuh oleh lawan jenis. Dengan alasan bukan mahram atau Mungkin Bella belum berfikir dewasa.


"Is gak boleh sentuh" Bella memukul lengan kokoh Joe begitu keras. see... baru saja Joe memikirkan itu Bella telah menolaknya mentah-mentah. Memangnya apa salahnya dengan sentuhan? Hanya di peluk! Apa yang salah?


Joe memutar bola matanya jengah. Kenapa juga ia harus terjebak pada bocah telat gede ini. Kenapa dia begitu sulit di taklukan. Pria seperti apa yang di harapkan Bella? Memang Jo kurang apa lagi?


"Kamu deket dengan cewek itu, Ya"


Bukanya menjawab Joe malah mengernyitkan dahi mencoba mencerna pertanyaan Bella, jujur dia tak mengerti arah pembicaraan Bella.


Cewek? Cewek yang mana.


"Is.. kok kamu diam sih?"


"Itu yang di dalam" jelas Bella seraya menujuk arah depan tepat di ruang tamu.


"Oh" balas Jo singkat. Cowok tampan ini mulai mengerti arah pembicaraan Bella. Pasalnya Joe tadinya benar tak menganggap kehadiran Amanda.


"Kok cuman, oh"


"Gak penting" balas Joe acuh sambil menyandarkan tubuh kekarnya ke sandaran ayunan besi dengan menutup matanya. Seolah pembicaraan itu memang bukanlah hal yang penting.


"Is... Bella serius!" Teriak Bella seraya mengoyang goyangkan bahu kiri cowok itu karena merasa terabaikan.


"Cari pertanyaan yang penting, sayang"


"Bella!.. Bella bukan sayang!" Selain tidak mau di sentuh, Bella juga tak suka di panggil dengan sebutan lain selain namanya. Joe menghela nafas pelan ia merindukan Bella hanya saja Bella memang senang memancing keluar dirinya yang asli. Ayolah.. apa gadis ini tak tahu bagaimana Joe berusaha keras untuk bersikap baik.


"Aku baru mengenalnya tadi. Dan aku gak tau siapa dia kecuali namanya" kata Joe dengan satu tarikan nafas menandakan pria itu mulai bosan.


"Bohong!"


Joe menghela nafas kasar dan mengacak rambut hitamnya hingga mencuat berantakan. Inilah yang Joe benci dengan wanita mereka selalu cemburu tanpa sebab yang jelas.


"Kamu gak bisa kaya tadi aja? manis banget loh" Joe mulai malas jika harus melayani kecemburuan yang tak beralasan.


Er, Joe tahu jelas bahwa Bella sedang cemburu hanya saja gadis itu terlalu gengsi dengan perasaanya. Dan bodohnya Joe kenapa ia seolah ikut dalam peranan hubungan semu ini.


"Kan kamu boho--"


"jadi aku harus menjawab apa Bella!!!" Satu bentakan Joe mampu membuat gadis itu diam. Joe benar-benar bosan sekarang hingga dia lepas kendali.


Bella hanya bisa menundukan kepalanya dan memainkan ujung jarinya. Joe melirik kearah sekilas, tahu bahwa gadis yang super sensitif ini sedang berkaca-kaca. Lalu tanga cowok itu bergerak untuk  menyibak rambut panjang bela yang tergerai panjang untuk menatap wajah 'ayu' itu.


"Hey"


Panggil Joe lembut karena ia sedang tidak ingin bermain dengan rajukan Bella yang bisa membuatnya pusing. Gadis itu menangkis tangan Joe dan berdiri untuk turun dari ayunan. Namum cekalan tangan Joe mengehentikan pergerakan Bella.


"Mau kemana?"


"Pulang"


"Aku antar"


"Is apaan sih, rumah Bella cuma di depan"


"Kalo gitu cium dulu" Ucap Joe dengan menujuk pipi kanannya dengan tangan kirinya masih setia mencekal tangan kiri Bella.


"Ish... kamu gila" Bella berkata dengan Nada kesal seraya berusaha melepaskan cekalan tangan Joe dan berlari meninggalkan pria itu. Sedangkan Cowok tampan itu hanya terkekeh geli dan mengeleng melihat tingkah menggemaskan gadisnya.


Tanpa mereka sadari ternyata dari tadi ada sepasanag mata yang memperhatikan gerak gerik mereka. Dengan tatapan yang sulit di artikan.


Lebih tepatnya memperhatikan Bella hingga sampai gadis itu masuk kedalam rumahnya. Marah! Mungkin satu kata itu mampu mengambarkan sorot mata orang itu.


TBC


tuhkan bg Jo mulutnya minta di tampol, semoga aja bella dan ciwi2 moedah di sini gak tercemar ye gais 🤣🤣🤣


jan lupa like komen yang panjang dan Vote ya bebeh 😘😘😘