
Bella, gadis cantik itu duduk di tepi jendela kamarnya sambil menatap rumah bertingkat dua yang ada di depan rumahnya. Mata cantik itu sesekali melihat layar ponsel seolah ia sedang menunggu pesan atau telpon dari seseorang.
"Is mana sih? Katanya pulang hari ini"
Namun suara pintu kamar pintu yang terbuka merenggut habis perhatianya. Bella menoleh ke arah pintu, Terlihat Amelia memasuki kamarnya.
"Loh... Kok belum tidur? Besok sekolah kan?"
Bella hanya mengangguk dan kembali menatap layar ponsel. Amelia yang melihat tingkah adiknya itu hanya menghela nafas pelan. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Bella.
"Mikirin dia lagikan?"
Bella kembali mendongak melihat kakak semata wayangnya, melihat mata indah itu, lalu Bella menggeleng.
"Ah.. gak kok.. Bella--"
"Kamu gak bisa bohongin kakak Bell, kakak gak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Ayah udah gak sama kita lagi. Kakak harap kakak bisa jagain kamu" Amel menyandarkan tubuh rampingnya ke tembok.
Bella memang hanya tinggal berdua dengan Amel di rumah kontrakan itu. Sedangkan ayahnya sudah menikah lagi setelah tiga tahun kepergian ibunya, dan lebih memilih untuk tinggal bersama istri barunya.
Walaupun sesekali berkunjung untuk melihat Amel dan Bella untuk memberi segala keperluan anak perempuanya.
Bella hanya mengernyitkan dahi tak mengerti kata-kata kakaknya.
"Kakak tau kok kamu lagi dekat sama dia"
Bella tak menyangkal atau pun mengiyakan perkataan Amel. Bella tahu Amel tak begitu menyukai Joe, pergaulan Jonathan yang kurang baik itu bukan lagi rahasia umum.
"Kamu pacaran sama dia?"
"Ih... gak kok Bella--"
"Lalu"
"...."
Tak kunjung mendapatkan penjelasan dari adiknya. Amel menghela nafas pelan "Dia terlalu dewasa untuk kamu Bell, dan dia bukanlah pria yang baik, kamu tahu sendirikan jika dulu dia sering memasukan perempuan kesana"
Ya, Bella mengakui hal itu. Dulu Joe lebih sering menggunakan mobilnya karena untuk menutupi wanita yang ia bawa. Bella tahu itu Sebab sejak dulu Bella selalu duduk di jendela ini hanya untuk mengamati pergerakan Jonatan. Meskipun dulu Jonathan tak pernah sekalipun melihat kearahanya.
Jonathan memang bukan pria yang baik. Clubbing, merokok dan perempuan adalah dunianya. Tapi itu dulu, sejak Jonathan mulai melihat kearah Bella. Cowok tampan itu tak pernah lagi melakukan itu.
Mungkinย hanya Clubbing dan rokok. Bella tahu karena sesekali jam 5 pagi selesai sholat subuh Bella mendengar pagar depan terbuka. Sondy dan teman -temanya baru pulang. Dari mana lagi jika bukan dari sana, dan berakhir dengan Reyhan yang mengantarkannya sekolah.
"Kamu tahu pergaulan seperti itukan Bell. Kakak hanya gak mau kamu rusak"
Perkataan Amelia yang terakhir seolah menampar Bella. Benar memang itu yang ditakuti Bella. Mengingat selama ini Jonathaย memang sering berkata vulgar walaupun hanya untuk menggodanya.
"I.. iya"
Hati Bella mulai gundah akibat perkataan Amel. Saat bersama Amel Bella tahu apa yang ia jalani selama ini salah. Tapi sikap dan sosok Jonathan membuat Bella tak pernah bisa jauh darinya, dengan kata lain Jonathan telah membuat Bella bergantung padanya.
"Jauhi dia. Ini demi kebaikanmu.. kakak besok akan keluar kota hmm... mungkin 2 hari. Kamu nginep di rumah Dian aja ya. Ini"ย memberikan lembar uang seratus ribu pada Bella.
"Tidurlah. Besok kakak yang antar sekolah pulangnya langsung ke rumah Dian aja" Amel beranjak dan mengelus pipi adiknya lalu meninggalkan Bella yang sedang dalam keadaan gundah.
Bella kembali menatap pintu rumah yang ada di depan sana. Tak ada tanda tanda bahwa penghuni rumah itu akan pulang. Bella memilih untuk menutup gorden putih itu dan berjalan ke arah ranjang.
Bela menatap kosong langit langit kamarnya. Lalu ia mengambil ponsel yang sudah ia letakan tadi di atas nakas.
Me
Besok bella di antar ama kak Amel.
Setelah mengirim pesan itu Bella langsung memblokir nomor Jonathan dari aplikasinya chatting nya. Bella harus menjauh dari Joe, Mungkin hidup seperti dulu lebih baik. Dimana seorang Jonathan wijaya tak pernah peduli padanya.
๐๐๐๐๐
Bella berjalan lesu memasuki pekarangan sekolah , pikiran tentang Jonathan masih menggantung di pikirannya. Tiba tiba seorang gadis yang memakai seragam sekolah yang sama merangkulnya.
"Ih.. napa kok mukanya kaya blom di setrika? Di putusin ya ama kak Joe?"ucap Dian sembari tertawa kecil
"Ih.. apaan sih" Bella sedikit gerah dan melepaskan rangkulan tangan Dian di atas pundaknya.
"Siapa juga yang pacaran" sambung Bella sembari mempercepat langkah nya
"Jadi apa? Kakak adek? Gak mungkin hampir setahun ini lu di antar jemput ama dia kalau bukan pacaran, apa lagi coba Bell?"
"Tau ah.. Bella mau masuk aja" Bella berlari meninggalkan Dian untuk bergegas masuk ke dalam kelas.
"Bell beneran lo putus sama dia ?" Ucapย Sean yang kini telah berjalan beriringan dengan kedua gadis cantik itu.
Bella tak menjawab hanya menatap Dian dengan tatapan mematikan. Sedang Dian langsung memalingkan wajah nya seakan tidak menyadari tatapan Bella sambil sesekali terlihat menahan tawa di bibir nya
"Orang itu emang ga cocok ama lu Bell, mending ama gue. Gue udah nungguin lu dari lahir Bella" gelak Sean menggoda.
Bella mulai merasa tak nyaman lalu mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Sean dan langsung duduk tanpa menggubris cowok itu. Gadis itu memilih untuk memakai handsfree dengan Volume tinggi.
"Lu kalo mau jadi pacar Bella, mending belajar jadi kaya kak Joe deh, soalnya Bella yang polos ini suka cowok yang rada t*xic" Ucap Dian pada Sean. Karena bebas! Bella ga akan mendengarkannya
"Eh serius?!"
"Apa lagi?" Tanya Sean penasaran.
"Perbaiki muka lu" Setelah mengucapkan itu Dian tertawa keras hingga komplotan pekerja sosial di kelas itu terganggu.
"Diem woy, ini bukan pasar" ucap seorang siswa di pojokan.
"Santei oy, ini juga bukan rumah, ngapain lu ngerjain PR di sekolah?!!!" Bukan Dian namanya jika tak membalas perkataan orang lain.
_______
Hari berjalan dengan lancar sampai jam sekolah usai. Bella menunggu Dian di pagar sekolah karena gadis itu mengambil motornya di parkiran belakang. Tapi perhatian Bella teralih saat seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan kasualnya menarik tangan Bella. Pria itu menggunakan kaos oblong hitam dan celana pendek yang mengekspos kulit putihnya.
Jadi tak heran jika Jonathan menjadi pusat perhatian murid-murid cewek.
"Apaan sih!" Tukas Bella.
Bela mencoba melepaskan genggaman tangan pria itu. Bukannya melepaskan Joe malah mengeratkan genggaman nya di lengan kanan Bella.
"Ayo pulang"
"Gak ! Bella pulang ama Dian aja"
"Kalau gitu aku mau ngomong ama kamu!" Cowok itu menatap tajam ke arah Bella.
Bella sangat sadar kondisi emosi orang itu kini sedang di ambang batasnya, satu saja kesalahan lagi, Bella yakin orang itu bisa tiba-tiba meledak dan mungkin malah menggendong Bella agar ikut dengan nya.
Lalu perhatian Bella dan Joe terganggu saat sebuah motor berhenti di sebelahnya.
Motor itu ternyata milik Sean yang mencoba menjadi pahlawan ketika melihat Bella tidak suka tangan nya digenggam keras oleh orang asing.
"Woy ! Siapa lo ! Lepa...."
Belum sempat Sean menyelesaikan kalimat nya Cowok itu sadar dia berurusan dengan orang seperti apa, wajah nya berubah pucat pasi ketika tatapan orang itu melihat ke arah nya seakan tatapan seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
"Ha?! Lu siapa b**ngsat ?! Mau ikut campur?! Cari ma-" ucap Joe sembari mengangkat tangan kiri nya bersiap mendarat kan pukulan tepat ke wajah Sean yang sudah berubah pucat pasi.
Namun belum sempat pukulan nya melayang , lengan kanan nya di tarik oleh Bella
"Udah! Kalau kamu ribut disini, Bella ga akan mau ngomong sama kamu lagi!"ucap Bella sembari berusaha menarik tangan kanan Jonathan.
Mendengar ucapan itu emosi yang tadi nya meledak-ledak perlahan sedikit turun.
"Kalau kamu ga ikut , tu anak m**ti!" ucap Joe sembari menunjuk Sean yang sudah mengambil langkah seribu dengan mendorong motor nya dan langsung tancap gas menghilang entah kemana.
"Ok! Bella ikut, tapi Dian gimana?"
Dian telah mengendarai motor matic milik nya berhenti di dekat Bella dan setelah mengetahui kondisi sahabat nya, Dian hanya bisa memandang penuh tanya ke arah Bella.
"Gue pinjem Bella bentar" ucap Joe dengan tatapan meyakinkan pada Cewek cantik itu.
"Tap-" ucap Dian gugup sembari melirik takut kearah Bella.
"Gue ga bakal nyakitin dia!, gue cuma butuh ngomong bentar ama dia" jelas Joe pada Dian.
"Oke ka!" Dian langsung mengeluarkan dua jempolnya. Dan reaksi Dian dihadiahi tajam oleh Bella.
Dasar penghianat!!!
"Bella, jelasin detail ya" Dian berkata setengah berteriak saat Bella sudah ditarik oleh Jonathan.
"Is.. lepas atau Bella teriak!"
"Teriak aja.. kamu pikir aku takut" ucap Joe dengan menarik tangan Bella berjalan ke arah mobilnya. Sedangkan Bella sesekali menoleh ke arah Dian. Tapi, Dian malah memberi respon menyemangati dari sana.
Teman macam apa kau Dian!!!
"Is.. lepas ! Bella bisa jalan sendiri" Bella mencoba melepaskan cengkraman tangannya. Tapi, usahanya nihil karena Jonathan terus menariknya.
"Sakit" rintihan Bella karena memang Joe mencengkram tangannya dengan kuat.
Lantas itu membuat Joe langsung melepaskan tangannya dan membiarkan Bella berjalan mendahuluinya.
"Mana motornya?" Bela bertanya karena tak menemukan motor Jonathan, Joe menuntun Bella untuk mendekati mobil silver yang terparkir di tepi jalan.
"Masuk!"
"Gak mau.. bilang dulu kita mau kemana"
"Hotel"
TBC
loh ke Hotel mo ngapain?
๐๐๐๐