Jonathan

Jonathan
chapter 13



Saat ini bulan sedang menunjukan pesona indahnya. Sampai bintang sepertinya malu-malu untuk menampakkan cahaya, begitu juga angin malam yang berlari mengelilingi gadis cantik yang duduk manis di bangku taman depan rumah sahabatnya, Dian.


"Eh bengong aja nih anak, kesambet tau rasa lo" Ucap Dian sembari menyenggol lengan Bella sebelum memberikan gelas minuman yang baru saja ia bawa.


"Lagi mikirin apa sih?" Dian meletakkan piring cemilan di atas meja lalu berusaha naik ke atas bangku yang terbilang cukup tinggi "Gue perhatiin nih ya lo dari tadi kaya mikirin sesuatu yang beeeeeerat banget, ada apa?"


"Akukan selalu mikir, Emang kamu" Goda Bella mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Mungkin Bella tipe gadis manja yang berfikir dewasa. Ia tak begitu suka jika masalah pribadinya di konsumsi publik walaupun itu sahabatnya sendiri.


Semua orang punya cerita, semua orang punya cinta jadi jangan merasa kau terlalu menyedihkan hanya karena kau menikmati sakit yang berbeda. Itulah yang selalu Bella tanamkan dalam jiwa.


"Sue, emang gue gak punya pikiran apa? Eh tapi bener juga sih... kalo gue bisa mikir lo gak bakal jadi temen gue" Dian tertawa lepas setelah mengatakan kalimat itu.


"Ya udah mikir sana biar ga temenan ama Bella lagi" ketus Bella dengan amarah yang di buat-buat, perbedaan keduanya mungkin menjadi kesatuan untuk saling mengerti.


"Lagian lo sih kebanyakan mikir, cepet tua tau rasa lo" Hingga keduanya pun tertawa untuk beberapa saat.


"Dy, kamu pacaran ama Adam. Bunda ama ayah kamu tau?"


"Taulah masa iya dia gak kenal ama calon menantu" Ucapan nyeleneh Dian membuat Bella tersenyum getir. Apakah kisah cinta Dian semulus itu?


"Mereka gak marah ya?"


"Marah kenapa? Adamkan baik bener anaknya, dia anaknya orang kaya lagi... emang pilihan gue paling top ceeer" kata-kata Dian kembali menohok hati Bella.


Baik... ya, satu kata ini yang mampu melancarkan setiap situasi. Kenapa Jonathan tak menjadi cowok seperti Adam sehingga takkan ada kisah Bella yang seperti ini?


"Ngomong-ngomong ni yah lo kenapa kok malah nanya Adam? Mo barter ama kak Jo? Gue mau sih kalo kak Jonya mau ama gue" Dian tergelak setelah mengatakan itu, karena saat ini Bella menatapnya dengan tatapan sangat kesal.


"Becanda elah. Ya kali kak Jo mau ama gue"


Terlihat jelas jika Dian benar-benar mengagumi sosok Jonathan. mungkin sebaiknya Bella membagi sedikit kemelut hati pada sahabatnya, walaupun tak mendapatkan jawaban seperti yang ia harapkan karena Dian terkenal dengan pemberi solusi terburuk. Setidaknya resah di hatinya sedikit tertumpah untuk ia bisa bernafas lega.


Bella menggeser posisi duduknya untuk menatap sahabatnya "Dian, Bella mau nanya"


"Hmm" Dian menggeser layar hp kebawah untuk melihat update terbaru di akun sosmednya seraya tangan kanan memasukan piscok itu dalam mulutnya.


"Misalnya nih, misalnya ya kamu jadi pacarnya kak Jo gimana?"


Dian terkerjut buru-buru melempar tatapan pada Bella "Serius?"


Bella benar-benar kesel karena tingkat kewarasan sahabatnya ini sangat tipis, ingin sekali ia menendang Dian untuk sampai ke afrika. Agar berkurang satu manusia di Indonesia seperti sahabatnya ini.


"Udah ah, kamu rese... orang lagi serius juga"


Bella sudah hampir turun. Tapi tanganyan tertahan oleh cekalan Dian, gadis dengan rambut di cepol dua itu hanya memberikan cengir kuda seolah mengatakan dia hanya becanda.


"Elah kamb*ng gitu doang ngambek, kenapa sih? Makanya cerita yang jelas jan pakek kata misalnya apa lagi seandainya, gue gak bakal ngerti!" Ucap Dian terus terang, ia sangat kenal dengan Bella gadis ini tak suka terusik apa lagi dengan kehidupan pribadinya.


Biasanya jika Bella ingin curhat, dirinya selalu menggunakan orang lain sebagai perumpaan untuk kisahnya,


seperti curhatan klise anak-anak pada umumnya. Yang terkadang membuat Dian sampai geleng-geleng kepala.


"Ya abis kamunya ngeselin sih, kan misalnya atau seandainya nih kak Jo jadi pacar kamu"


Bella berbalik menyederkan tubuhnya di sandaran bangku. Menghela nafas pelan, menikmati cahaya bulan yang sangat cantik jika di lihat dari sini tanpa peduli pada batin seseorang yang sedang tersiksa.


"Emang kenapa?"


"Gak ada apa-apa Bella cuma mau tau aja, gimana tanggapan cewek lain terhadap kak Jo"


"Lo ngerasa dia gak pantes buat lo?" Inilah yang terkadang Bella benci dari seorang Dian, gadis ini terlalu blak-blakan dan terkadang perkataannya menohok keras hati Bella. Seperti saat ini.


Buru-buru Bella menarik tubuhnya untuk berdiri tegap menghadap Dian, mencari kata terbaik untuk menjelaskan hal buruk yang ada di fikiran temanya.


"G--gak bukan begitu"


"Atau lo merasa gak pantes buat dia?" Kembali pertanyaan Dian yang membuat Bella menampilkan raut ragu.


"Ini menurut gue ya, kak Jo g mungkin main-main buat nunggu lo selama ini Bell"


"Come on deh Juleha, lo liat bagian muka dia yang mana bisa buat cewek nolak kak Jo?" Ucap Dian serius dengan wajah yang cengegesan.


Itu membuat Bella berfikir, mungkin Dian adalah Jo dalam versi baik. Ya, gadis ini selalu bersikap seperti apa yang dia mau. Bukan seperti apa yang orang lain inginkan hanya untuk mendapatkan padangan positif.


"Tapi, apakah kamu yakin dia gak bakal ninggalin Bella?"


"Dih mana gue tau, Adam yang baik gitu aja gue g yakin dia bakal tetap sama-sama gue selamanya... ini kisah nyata Bell bukan Novel yang bisa lo tebak alurnya"


Bella terdiam, seandainya saja kisahnya segampang itu. Dan ia tak harus mengadaikan kehidupan kakaknya mungkin ia takkan jatuh seperti ini.


"Gue tau nih, lo pasti galau bangetkan karena pandangan manusia tentang kak Jo?"


"Sekarang gue mau nanya nih, apa yang buat lo mau temenan ama gue?" Tanya Dian yang membuat Bella semakin membisu.


"Secara gue inikan langganan guru BP, lo gak takut penilaian orang lain tentang lo akan rusak karena temenan ama gue?"


"Tapi ini beda cerita Dy--"


"Sama leha, sama... orang akan nilai lo sama kek gue"


"Kalo idup lo cuma buat jadi baik di mata orang lain, kaya cewek-cewek idaman... gak niat jadi taman lo sekalian?" Celetuk Dian yang berhasil membuat Bella tertawa lepas seraya memberikan pukulan ringan pada sahabatnya.


"Yang perlu lo lakuin cuma jaga diri lo baik-baik, karena kalo lo nyari cowok yang sempurna hanya karena takut patah hati... gue cuma mau bilang yang sempurna itu cuma merek rokok"


Dian mungkin urakan. Tapi satu yang Bella tahu dia tidak munafik, Dian menjalani hidupnya tanpa peduli dengan perkataan orang lain. Apakah tak bisa Bella menjadi seperti Dian?


TBC


dih kalo dapat temen kek Dian pengen di apain nih 🤣🤣🤣


ingat jejak wajib 🤣🤣🤣