
Selama eksistensi kehidupan seorang Evgarysha Cintya Bella, bisa di hitung dengan jari berapa kali ia pernah merasakan suka terhadap lawan jenis. Dan lingkaran besar menyerupai angka Nol adalah jawaban seberapa banyak pengalamannya berpacaran. Oleh karena itu ketika ia sudah mendapatkan tambatan hati sangat sulit bagi Bella untuk menghentikannya.
Seperti saat ini, sebesar apa dia mencoba mengusir bayangan Jonathan dari fikirannya namun usahanya sia-sia. Cowok itu masih bertahta di fikiran bahkan hatinya.
Jonathan : angkat telfon aku
Sebuah pesan singkat masuk di ponsel dalam genggaman Bella. Dering ponsel sedari tadi telah mengudara yang di abaikan begitu saja oleh Bella.
"Hidup itu perjalan bukan pelarian, Lo harus hadepin"
Dian mulai jengah dengan kegalauan sahabatnya. Oke, Dian memang type gadis blak-blak tapi dia juga punya otak untuk berfikir jika Bella adalah type gadis yang gampang tersentuh. Dan itu bagian tersulit saat kamu harus menjelaskan tanpa menyakiti mereka di waktu bersamaan.
Bulir basah di pipi Bella menjawab segala pertanyaan di benak Dian, Temanya terbentur masalah hati yang besar saat ini. Buru-buru Dian naik ke atas ranjang untuk menenangkan sahabatnya.
"Lo kenapa?"
"A-aku aku kangen kak Jo" mendengar ucapan Bella membuat Dian menghempas jemari Bella ke udara.
"Elah biji kurma alay lu" ketus Dian dengan menyesali tindakannya barusan. Kenapa juga dia harus peduli!
Bella tertawa akibat kekesalan Dian, mengalihkan topik kenapa ia bisa menangis hanya karena seorang Jonathan. Bukan masalah yang besar memang, jika cinta tak ikut turun tangan di dalamnya.
"Ketawa lu, sini gue pel gigi Lo" sebal Dian memilih membuka seragam sekolahnya dan meletakan di atas meja belajar.
"Keranjang baju kotornya disana, Dy" Tunjuk Bella kearah belakang pintu, mencoba mengingatkan sahabat joroknya ini untuk hidup bersih.
"Ntar deh kalo gue ingat" Dian menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, menghela nafas berat seolah baru saja ia sudah berjuang untuk menyelamatkan dunia.
"Bell"
"Hmm"
"Bella" ucap Dian dengan Nada naik satu oktaf ketika melihat Bella fokus pada ponselnya.
"Apa sih Dy?" Bella mengalihkan tatapanya untuk melihat gadis yang sedang melihat cermin di tanganya.
"Kalo orang manggil itu di saut"
"Kan udah sih?"
"Maksud gue di tatapin, bukan malah ngeliat hp"
"Kamu juga lagi ngadep kacakan"
"Inikan gue lagi liatin lo" Dian berkata dengan mempelototkan matanya di depan kaca, terlihat jelas jika gadis cantik itu sedang melihat Bella.
"Iya deh" Bella mengalah tak ada gunanya melawan Gadis ini.
"Ntar malam kita nginep di rumah lu aja kuy? Besok juga liburkan? Dan ujian menyebalkan ini juga udah selesai"
"Emang boleh ama Bunda?" Tanya Bella memastikan.
"Bolehlah gue kan bukan anak emas, Bunda juga bukan ibu komunis" Dian tergelak lalu membalikkan tubuh untuk telungkup seraya menggapai ponsel Bella.
"Eh mau ngapai--"
"Pinjem bentar" Sela Dian ketika mendapati penolakan dari Bella.
"Oke dah, nih" Dian melempar ponsel itu pada Bella dan bergegas bangkit untuk pergi dari sana.
Seketika bola mata Bella membulat mendapati apa yang di kerjakan Dian di ponsel miliknya "Dy kamu jahat!!!" Bentak Bella kesal tapi sepertinya percuma si jahil sudah berlari keluar kamar. Sekarang hanya tinggal dia yang harus berfikir keras untuk menjelaskan semua ini pada seseorang.
Bukan hal mengejutkan jika kedatangan Jo selalu di ikutin dengan aura menakutkan di belakangnya, Jadi wajar saja saat ini Leo dan Raya hanya fokus pada kegiatan mereka. Tanpa memperdulikan bahwa Jo sekarang sedang menghancurkan beberapa barang di ruang tamu.
Jo menendang sofa puff bulat itu dan membanting tubuhnya di sofa single di dekat Raya, seakan melihat Jo mulai waras. Raya adik sepupu mulai bersuara.
"Lo kalo ngamuk tanpa mecahin barang ga afdol ya?" Ucap Gadis berkaca mata itu meletakan laptop nya di atas meja, menyenderkan tubuhnya seraya melihat Leo yang seperti tak peduli pada kegaduhan mereka berdua.
Raya menghela nafas kasar, seharusnya ia sadar jika ia terlahir di keluarga yang benar-benar jauh dari kata normal. Jo dan Leo adalah bukti nyata bahwa kedua pria itu memiliki sisi cuek di atas rata-rata.
Jo menatap malas pada Raya lalu mengayunkan tangan di udara supaya gadis itu tak mempedulikannya. Memangnya apa salahnya? Dia hanya menghancurkan barang-barang miliknya, salah?
"Bg lu masih idup?" Tanya Raya kesal pada Leo ketika merasa pria itu sudah berada di dunia lain.
"Hmm" Leo bergumam seolah memberi sinyal pada Raya jika pria yang sedang fokus pada ponsel itu masih hidup.
Sebuah pesan singkat yang baru masuk di layar ponsel Jonathan membuat cowok tampan itu merasa sangat asing, disaat dari kemarin ia mencoba menghubungi Bella tapi yang dia dapatkan hanyalah sebuah pengabaian. Lalu sekarang pesan ajaib ini seketika masuk dan membuat Jo merasa sedikit geli.
Bella : yank
Aku kangen banget ama kamu.
"Nah lo kenapa?" Tanya Raya sedikit bingung dengan ekspresi yang di tampilkan abang sepupunya itu.
"Cil" Jonathan mendengus "mending urusin urusan lo aja ya bawel"
Raya terkekeh meski usianya sudah memasuki dua puluh empat tahun ternyata tak membuat panggilan Jo berubah "Urusan gue ya lo, biar cepet tobat"
Jo masih terfokus pada layar ponsel menunggu seseorang di sana yang sedang bersusah payah mengetik penjelasan untuk kalimat tadi. Tanpa menyadari jika Raya sudah mencodongkan tubuhnya untuk melihat apa yang terpampang di layar ponsel Jonathan
"Nj*r sayang aku kangen banget ama kamu" Raya berkata ketika melihat pesan di layar ponsel Jo.
Jo merampas kembali ponsel dari tangan Raya, Raya patut bersyukur terlahir menjadi seorang perempuan karena bisa saja Jo menghabisinya sekarang juga. "Apa sih, Beg*"
"Masih sekolah ya bg? Masih polos banget dong" Raya terkekeh.
"Lo mending ngetik diem-diem kek tadi deh Ay, dari pada ngerecokin gue!"
"Tapikan bg lo emang cocok sih ama tipe cewek kaya gitu, Lo emang perlu di bimbing kejalan yang benar" ucapan Raya tanpa sadar membuat Leo juga tertawa.
Sebuah bantal melayang tepat ke arah Raya, Membuat gadis cantik itu tergelak dan mengikuti arah kemana sepupu pemarahnya itu pergi.
"Bg ceritain ke gua sini, ntar gua jadiin Novel cerita lo"
"Bac*t" suara Jonathan masih terdengar ketika kaki kokoh itu telah menaiki anak tangga, sepertinya menjauhi gadis kepo itu adalah hal terbaik yang harus Jonathan lakukan.
"Serius gue ini bg, kisah seorang gadis baik-baik bersanding dengan seorang cowok kualitas moster" Ucap Raya setengah berteriak dengan tertawa lepas seolah membangkitkan amarah Jonathan adalah hal yang paling mengasyikan.
TBC
cowok kualitas monster laku gak ya di NT? wkwkw
mana nih suaranya para julehaku 🤣🤣🤣
ay tungguin nih.. komen yang banyak like juga.. dan jangan lupa Vote biar ay ingat buat nulis wkwkwkw