
Bella berjalan pelan menuruni anak tangga. Dengan mata terus mengedar di rumah yang bisa di katakan sangat luas itu. Tapi terlihat sangat sepi dan membuat bulu kuduk Bella sedikit merinding. Hell.. sebenarnya Bella tak suka tempat asing apa lagi sepi. Bela sangat takut tempat seperti itu.
"Kak Joe mana sih?" Gerutu Bella
Namun suara krasak krusuk dari arah kiri menyita perhatian Bella. Sepertinya ruangan itu dapur karena terdengar suara pergesekan alat masak. Bukankah tadi Joe bilang ia akan memasak. Bella memberanikan diri untuk berjalan ke arah sumber suara.
"Kak Joe.." ucap Bella pelan nyaris tak terdengar. Terlihat seorang pria bertubuh proposinal sedang cekatan memakai alat dapur. Begitu lihai sepertinya ia telah biasa. Dan membuat Bella sedikit minder, bagaimana bisa seorang pria lebih jago memasak di bandingkan dirinya.
Jonathan berbalik ketika merasakan kehadiran seseorang disana, menoleh ke arah belakang, menyadari Bella berdiri disana. Sebelum berbalik Joe menyungguhkan seutas senyum pada gadis itu.
Bella mengigit bibirnya untuk menghilang kegugupanya lalu memainkan ujung baju Joe yang kebesaran di tubuhnya. Bagaimana pun Bella merasa sedikit takut pada Cowok tinggi ini.
Dan ini adalah pertama kali bagi Bella berada di dalam satu ruangan ah ralat! Dalam rumah bersama seorang laki-laki asing. Bahkan ia tak pernah tinggal berdua saja dengan ayahnya. Perlahan tapi pasti Bella melangkah pelan mengahampiri Jonathan.
"Ada yang bisa Bella bantu?" Kata Bella pelan dengan nada yang tersbesit rasa takut.
"Temani aku"
"Ha..."
"Kamu cukup berdiri disana dan temani aku. Karena ini sudah hampir selesai"
Joe menuangkan mie instan itu kedalam dua mangkuk dan lalu melangkah santai meninggalkan Bella yang masih mematung menatapnya.
"Kenapa masih berdiri di situ. Ayo kesini" ucap Joe saat sudah sampai di ambang pintu.
Dengan langkah pelan Bella mengikuti Jonathan. Wajar bukan bila Bella merasa sangat tak nyaman. Karena Joe terkenal dengan pria yang tidak baik.
Saat telah berada di meja makan. Ya, rumah itu terlalu lengkap jika hanya di miliki seorang bujangan.
Kemana keluarga Joe? Setidaknya pertanyaan itu yang selalu Bella ingin tanyakan tapi urung ia lakukan karena terlalu lancang bila menanyakan hal yang menyakut kehidupan pribadi.
Dalam diam Joe terus memperhatikan setiap gerak Bella. Bahkan saat gadisnya itu jelas memancarkan aura tak nyaman.
"Kamu terlihat gugup" ucapan Joe yang lebih terdengar sebagai pernyataan dari pada pertanyaan. Bella yang sedang mengaduk mie instan terlihat makin salah tingkah.
"A...ku"
"Aku tidak akan melakukan apa pun padamu, aku janji" setidaknya itulah yang Joe pikirkan untuk mencairkan situasi canggung itu.
Ia tahu Bella adalah gadis belia yang masih sangat polos. Dan Joe cukup yakin jika kakaknya akan memasukan sugesti pada Bella terus menerus jika Joe adalah benar-benar cowok yang jahat.
Sebenarnya apa yang salah denganya? Seperti Joe tak pernah merasa melakukan hal yang salah. Ia hanya main menikmati kesenangan masa muda. Lantas salahnya dimana?
"Maaf" satu kata itu yang muncul dari bibir mungil Bella. Ya, setidaknya Bella merasa tak enak karena apa yang ia fikirkam tergambar dengan jelas.
"Kenapa kamu memblok nomorku?"
Satu kalimat sarkas dari Joe membuat Bella tercekat. Sungguh, pertanyaan itu yang Bella hindari. Dia harus menjawab apa? Itu pasti akan menyakiti hati Jonathan bila ia jujur. Berbohong? Bela tak pandai dalam hal itu.
"B..bella.."
"Kamu ingin menjauhiku?"
Entah kenapa kalimat Joe barusan membuat Bella sedih. Bukankah itu yang Bella inginkan. Tapi kenapa mendengar kalimat itu langsung dari bibir cowok tampan ini membuat ia tak rela.
"Karena aku bukan pria yang baik??"
Lagi-lagi Bella merasa tertampar dengan ucapan Jonathan, Inilah yang Bella fikirkan, akankah ia sanggup?
"Kenapa diam?"
"Benarkan?"
"Bella lapar" kata Bela lirih. Mencoba mentralkan hati yang sedari tadi merintih.
"A.. pa" jawaban Bella sedikit membuat Joe kesal, dan pria itu mengusap wajahnya pelan.
Benar Joe bukan pria yang baik ia hanya mencoba berubah baik demi Bella. Tapi tak menutup kemungkinan untuk sifat asli itu keluarkan?.
D*mn! Joe baru menyadari memang dari tadi Bella belum mulai memakan makananya. Tapi ayolah.. apa gadis cantik ini tak bisa bersikap serius sedikit saja?
Beruntung ponsel Joe berbunyi, dan mengalihkan perhatianya. Joe beranjak untuk mengangkat ponsel itu.
"Makanlah. Dan segera tidur, ada yang harus aku lakukan. Jika kau perlu sesuatu aku ada di ruang tamu. Sebentar lagi temanku akan datang. Jika tidak ada hal yang penting jangan cari aku"
"Jika kamu takut kunci pintu kamar. Aku tidak mempunyai kunci duplikat karena ini rumah kakakku" jelas Joe tentu dengan sedikit berbohong.
Memangnya Leo tipe orang yang selalu membawa semua kunci rumahnya kemana-mana? Ck! Yang benar saja. Pria yang terkenal dengan julukan viper itu bukanlah orang perfectionis.
Kamu ingin menjauhiku?
Karena aku bukan pria yang baik?
Semua ucapan Joe kembali berputar di benak Bella seperti kaset rusak. Jujur Bella mulai mengharapakan kehadiran seorang Jonathan wijaya dalam hidupnya. Tapi, apakah rasa takutnya ini juga salah? Atau hal yang wajar.
Lalu Bella teringat tentang perkataan Joe yang terakhir kali sebelum pergi meninggalkanya.
Makanlah. Dan segera tidur, ada yang harus aku lakukan. Jika kau perlu sesuatu aku ada di ruang tamu. Sebentar lagi temanku akan datang. Jika tidak ada hal yang penting jangan cari aku. Jika kamu takut kunci pintu kamar. Aku tidak mempunyai kunci duplikat karena ini rumah kakakku
"Jika tidak ada hal yang penting jangan cari aku? Memangnya apa yang di lakukan kak Joe di jam segini?"
Tapi rasa penasaranya terkalahkan oleh rasa laparnya saat ini. Mie bikinan Jo benar-benar membuat Bella menyerah akan rasa penasaran. Hell.. gadis ini memang jauh dari kata matang. Di saat umurnya hampir memasuki masa matang bagi seorang gadis. Tapi sikap dan pola fikiran Bella jauh dari kata itu.
Bela mulai memasukan makanan itu ke mulutnya. Ternyata Joe tak seburuk yang di fikirkan orang, pria yang terkenal keras dan kasar itu sebenarnya baik! Bella akui itu.
Pasalnya selama ini dari pada melecehkan, Joe lebih pantas menyandang gelar melindungi. Dan Cowok kasar itu bisa memasak seenak ini. Sekali lagi don't judge book by its cover kalimat itu harus di amalkan semua orang.
Sampai suara langkah kaki memenuhi indra pendengaran gadis cantik itu. Bella yang tengah memakan mienya menoleh kearah sumber suara. Seorang pria asing dengan prawakan seperti Joe, tinggi dan putih dua kata itu cukup untuk mengambarkan sosok yang ada berdiri tak jauh dari Bella.
Pria dengan rambut yang di kucir, baju dengan dominan hitam dan tato yang terlihat jelas di lengannya benar-benar meninggalkan kesan bad boy. Membuat Bella sedikit tercekat.
Apa Joe benar-benar jahat? Sampai membiarkan temanya melecehkannya??
TBC
ada yang sama kek bella gak sih??
takut kalo sendirian di rmh sendiri? 🤣🤣🤣
ayo jujur soalnya dlu ay gtu juga 🤣 bahkan 90% cew yang ay kenal juga mengatakan hal yang sama 🤧🤧🤧