Jonathan

Jonathan
chapter 02



Pagi itu semua orang melakukan


Aktivitas mereka seperti biasa tanpa terkecuali, termasuk Jonathan wijaya. Cowok itu dengan santainya sudah standby di atas motor kesayangannya di depan pagar rumah Bella.


Dengan helm yang berada di tangki motor. Seolah sudah menjadi rutinitas Jonathan untuk menjemput gadisnya. Cowok itu sesekali melirik jam tangannya. Jam menunjukan angka 6.51 dan Bella belum juga menampakan batang hidungnya.


Joe sedikit terlihat kesal karena ponselnya juga tak henti-hentinya berbunyi. Seharusnya Jonathan sudah sampai di kantor karena ia harus berangkat ke luar kota. Dan ia mengabaikan itu hanya untuk mengantar Bella sekolah.


Jangan tanyakan kenapa Joe mau melakukan hal ini, Bahkan ia sendiri bingung.


"Damn, lama banget!... mana sih ni anak?" Joe mulai memetik api untuk menyalakan rokoknya.


Joe sangat kesal karena Bella tak kunjung keluar, tapi Cowok itu tetap menunggu gadisnya. Ia takkan membiarkan gadisnya berangkat menggunakan motornya sendiri atau apa pun itu.


Pasca kejadian 'itu' Jonathan memang benar-benar menjaga Bella. Rumahnya yang berada tepat di depan rumah Bella memudahkan pria itu untuk memantau gadisnya.


Larut dengan menyesap rokoknya membuat Jonathan bahkan tak menyadari bahwa Bella sudah berada di samping motornya.


"Is.. kok kamu ngerokok lagi sih? Katanya udah berhenti... bella ga suka cowok ngerokok"


Bella cemberut lalu meraih helm khusus untuknya di stang motor Cowok tampan itu. Joe tahu reaksi Bella akan seperti ini. Bella tak menyukai Cowok yang urakan, Mesum dan rokok. bella tak menyukai apa pun yang ada pada diri Jonathan. Joe cuek dan membuang puntung rokoknya secara asal.


Cowok itu memilih mengabaikan Bella, melirik pun tidak, cowok tampan itu memilih menyisir poninya ke Belakang dan memakai helm full face nya. Bella yang merasa terabaikan, cemberut.


"Apa lagi?"


"Is... kenapa sih kamu??" Ucap Bella yang mulai terabaikan


"Naik. Kamu mau pagar sekolahnya ditutup? Dan kamu bakal ngerengek ke aku dengan segala curhatan mu yang bisa membuatku tertidur" Joe melirik bella dari kaca helmnya yang terbuka sedikit.


"Tapi--"


"Jika kamu ingin aku berubah. Maka ubah aku. Dengan menjadi kekasihku, Bella!" ucap Jonathan dengan senyum jahilnya.


Bella yang mendengar penuturan joe hanya terdiam. Benar! tak seharusnya ia mengatur hidup cowok ini. Tak ada hubungan apa pun di antara mereka. Bukan tak ingin Bella hanya takut Joe akan merusaknya seperti yang sering kakaknya katakan. Tapi di satu sisi Bella merasa nyaman bersama Cowok tampan ini


"Mau sekolah gak? atau kita kemah aja disini ? Cepat! aku juga udah telat!" kata Joe yang sudah hampir melepaskan kopling motornya.


Hingga buru-buru tubuh mungil Bella menaiki motor itu. Tubuh bella yang hanya 155 centi sangat kontras bila disandingkan pada tubuh Jonathan yang bisa di bilang proporsional untuk ukuran seorang Pria dewasa.


"Jangan ngeb--"


Belum sempat Bella menyelesaikan kata-katanya Jonathan sudah tancap gas dengan kecepatan tinggi. Bahkan bentakan dari Bella tak pria itu hiraukan. Bagi Joe bentakan Bella hanya alarm yang akan berhenti dengan sendirinya.


Buktinya saat ini gadis mungil yang berada di Belakang tubuh kekarnya sudah diam dan memeluk pinggang cowok tampan itu, Kuncinya hanya sabar. Joe memang bukanlah orang yang sabar. Bahkan kata itu tak pernah ada dalam kamusnya. tapi nyatanya gadis bernama Bella mampu membuat Jonathan melakukan hal itu. Ck! Cinta memang luar biasa.


Tak butuh waktu lama, hanya 15 menit motor sport hitam milik Joe sudah berada di depan pagar sekolah Bella, Gadis itu turun dan melepaskan helmnya dengan buru-buru. Saat Bella hendak berbalik menuju pagar sekolah. Joe menarik tak sandang Bella bagai gadis itu hanyalah anak kucing.


"Apa ini" Tanya Bella


"Ambil"


"Tapi--"


"Ambil!" Tegas Joe. Ya, pria dengan tinggi yang tidak wajar ini bukanlah pria yang suka di tentang. Joe sesekali merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik Bella


"Nanti aku gak bisa jemput. karena aku harus keluar kota beberapa hari. Tunggu Reyhan di sini jangan kemana mana. Selalu hubungi aku jika kamu mau keluar. Jangan keluar malam selama aku tidak ada" jelas Joe dengan kalimat posesifnya.


Joe bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan ternama di kotanya. Hanya freelance, ia pria bebas dan tak ingin terikat. Bahkan dalam pekerjaan pun ia memilih ck! Bukan hanya tinggi yang di atas rata rata. Sepertinya otak pria itu juga di atas rata rata.


Bukan hanya sekali dua kali ia mengatur jadwal kerjanya. Sudah sangat sering tapi nyatanya perusahaan itu tak memecatnya. Bahkan banyak tawaran berdatangan. Tapi inilah hidup cowok tampan itu. Dan selama Joe bekerja Reyhan Lah yang bertugas untuk mengantar jemput bella ke sekolah.


"Kok baru bilang sih? Kapan pulangnya?"


"Lusa"


"Aku--"


Belum sempat Bella menyelesaikan ucapannya. Suara geseran pintu pagar merenggut habis perhatiannya. Lalu gadis itu berlari menuju pagar yang hampir di tutup. Dengan sesekali Bella menoleh ke Belakang ke arah Jonathan


"Hati-hati dan terimakasih" kata Bella dengan kembali berlari memasuki pagar sekolah. Joe hanya tersenyum tipis melihat kepolosan Bella. Lalu pria itu kembali memakai helmnya. Dan melajukan motor sport itu menuju kantor.


🍁🍁🍁🍁


"Bangs*t!"


"Mungkin dia ada halangan? Jam segini macet kali, yang jelas dia ngasi kabar akan datang"


"Alah ! Paling jadi tukang ojek cewek jal--"


Bukk!!


Satu bogem mentah mendarat di pipi Jeffrey hingga pria itu hampir tersungkur.


"Siapa yang j*lang?! Nyok*p lu ha?! ******?!"


"Udah udah Joe" Toni yang berada di dekat nya langsung melerai pertengkaran mereka dan menghalangi tubuh Jonathan yang masih berusaha menjangkau Jeffrey. Sedangkan Ridwan membantu Jeffrey untuk berdiri.


"Sekali lagi lu ngomongin gue di Belakang , hancur lu, ****** !"


"Udah-udah , kita udah telat ayok"


"****** lu !"


Reyhan yang melerai dan menahan Jonathan terlihat sedikit panik , sedikit takut dia yang akan menjadi korban selanjut nya , tapi untung pria yang di tahan nya memilih masuk ke mobil dan membanting pintu nya dengan keras


Jeffrey merasa sangat kesal. Tapi ia tak ingin cari masalah pada sosok Joe. Jonathan bukan pria yang baik. Sangat jauh dari kata baik. Sehingga tak ada yang berani bermain dengan emosinya. Ck! Berurusan dengan emosi pria itu sama dengan mengatakan 'please, i want to die' dan itu bukanlah perkara yang baik.


"Nunggu apa lagi GOBL*K ?! lu bilang tadi telat kan?!"


Toni yang sudah di dalam mobil dan duduk di samping Jonathan memberi kode ke arah Jeffrey untuk bergegas masuk , pria itu pun masuk tanpa berkata apa-apa lagi


Sondy mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi sejenak setelah memasuki jalanan.


Di dalam mobil keadaan begitu tegang , suasana begitu berat dan sedari tadi tidak satupun percakapan terlontar dari mulut mereka


"Sorry , gue tadi berlebihan"


Ucapan yang dilontarkan Jeffrey memecah keheningan dan dingin nya suasana di dalam mobil.


"Ha?! Ngomong apa lu ****** ?! Mau gue patahin gigi lo ?!"


Jawaban dari Jonathan menambah kekesalan Jeffrey dan tanpa sadar meluapkan emosi nya. Bagi Jonathan lebih baik Jeffrey diam. Ia benar-benar benci pada orang yang suka menghakimi orang lain dari Belakang.


Sementara bersikap manis di depan.


"Lo yang ****** !"


Ucap Jeffrey dengan nada emosi dan terlihat mengepal tinju nya , belum sempat Reyhan menenangkan kondisi , Jonathan sudah mengenepikan mobilnya ke pinggir jalan.


Pria itu bergegas keluar dan bergerak menuju pintu di seBelah Jeffrey


"Keluar lo!"


Jefrey yang termenung dengan aksi nekat Jonathan hanya terdiam dan setelah nya pria itu dengan gampang di seret oleh Jonathan keluar dari mobil dan satu pukulan kembali mendarat namun kali ini ke bagian perut nya


Jefrey yang masih kebingungan tersungkur akibat pukulan Joe yang benar-benar kuat


"Cih !" Joe langsung masuk kedalam mobil seperti tidak terjadi apa-apa


Reyhan yang terbangun baru sadar kalau mobil yang mereka kendarai sudah mulai menjauh dari Jeffrey


"Loh loh ! Joe ! Si Jefrey ko-"


"Bac*t ! Gue ga bisa kerja ama ****** !"


Mendengar apa yang Jonathan ucapkan Reyhan dan Ridwan hanya bisa menghela nafas dan memilih tidur daripada harus berdebat panjang lebar dengan orang gila yang ada di depanya , toh semua pekerjaan memang lebih ringan jika bersama Jonathan dari pada Jeffry.


TBC


maaf ya lama yang ini. semoga ketiganya bisa up tiap hari eh gak deng wkwkwk