Jonathan

Jonathan
chapter 08



Di ruang kamar yang terkesan maskulin dengan dominan warna putih dan hitam, ruangan itu bersih kecuali bagian atas meja karena masih ada botol minuman dan bungkus rokok yang berserakan. Bella duduk di bawah selimut sambil menatap Cowok tampan itu berdiri dengan memasukan kedua tanganya kedalam saku celana.


"Tidurlah..." kata Joe sebelum meninggalkan Bella, gadis cantik itu hanya menatap Joe menuju ke arah pintu kamar, ketika tangan kokoh Cowok itu hampir menyentuh saklar lampu.


"Jangan di matiin. Bella takut"


Dengan suara lirih dan khas manja Bella membuat Joe tersenyum tipis lalu menutup pintu itu dengan pelan.


Joe pergi ke dapur untuk mengambil minuman kaleng di dalam kulkas lalu menuju keruang tamu dimana Leo sudah menunggu nya


Joe meletakan minuman itu di atas meja dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan menghela nafas keras. Seolah tadi ia habis berperang habis habisan. Yaps mungkin bisa di bilang begitu karena meredakan tangis Bella bukanlah hal yang mudah menginggat jika seorang Jonathan yang melakukan. Pria dengan tingkat kepedulian paling tipis di dunia itu harus mengaup kata sabar dan peduli sebanyak banyaknya sejak mengenal Bella.


"Cewek lu ?" Tanya Leo.


"Belum!"


"Anak mana?"


"Sini"


Leo yang tak mengerti kata-kata Joe hanya mengernyitkan dahi. Dengan kembali fokus pada macbooknya sepertinya pria itu sedang sibuk mengerjakam sesuatu karena terlihat ada beberapa pria yang berpakaian hitam itu juga sedang sibuk menelfon seseorang.


"Dimana rumahnya" Ucap Leo penasaran tanpa mengalihkan tatapan pada macbook di atas meja.


"Depan"


Jawaban singkat padat Joe sukses merenggut perhatian Leo. Cowok itu menatap adiknya itu dengan tatapan penuh selidik.


"udah ada orang ?"


Ck! Itu pertanyaan macam apa? Bahkan kontaran itu sudah di tempati 1 tahun lebih dan Leo baru tahu jika rumah itu sudah ada penghuninya.


"Dah setahun" jawab Jo datar dengan sesekali meneguk minumanya.


"Oh"


Ok! Leo sadar adiknya bukanlah pria yang terlalu suka jika orang lain ikut campur urusannya bahkan Leo sekalipun. Leo memanggil anak buahnya untuk mendekat dan menujukan sesuatu di layar macbook dan terlihat pria dengan tubuh kekar dan wajah sangar itu menyalin sesuatu kedalam ponselnya.


"Buat aja kayak biasa" kata Leo pada salah satu anak buahnya.


"Tugas lu besok" ucap Leo sembari memberikan sebuah kertas pada Joe sepertinya bertuliskan sebuah alamat.


Joe mengambil kertas itu dengan sesekali menghembuskan kepulan asap di bagian samping. Joe tahu apa yang selalu Leo kerjakan hanya saja Leo tak mengizinkan untuknya masuk kedalam dunianya.


"Gimana ocha?" Tanya Jo


Leo menghela nafas pelan sebelum menyandaran kepalanya pada sandaran sofa "bukan urusan lu!"


"Kalau gitu jangan ikut campur urusan gue"


Leo hanya diam dan memandang tajam ke arah Jonathan.


"Yang itu jangan lu rusak" ucap Leo datar.


"Bukan urusan lu"


Leo hanya tertawa melihat tingkah adik nya yang tidak biasa. Lalu kembali fokus pada pekerjaanya.


****


Pagi ini saat matahari dengan lancangnya menerobos masuk di balik jendela membuat Bella sedikit mengernyit, sepertinya cahaya matahari itu sedikit menganggu tidur lelapnya.


Bella membuka matanya dan mendudukan diri di atas ranjang king size dengan sesekali menyentuh kepalanya seolah itu adalah cara yang ampuh untuk menetralisirkan rasa pusingnya. Bella baru tertidur saat hari hampir pagi karena kurang nyaman dengan situasi yang seperti ini.


Bella menurunkan kaki jenjangnya ke lantai dan berjalan mengitari ranjang untuk mencari seseorang. Siapa lagi jika bukan Cowok tampan itu.


Ketika Bella lewat di depan salah satu kamar yang terbuka. Bella melihat sesosok pria bertubuh besar sedang telungkup di atas ranjang king size, sepertinya pria itu sedang larut dalam mimpi indahnya. Dengan langkah takut Bella menghampiri pria itu, yang ia yakini adalah Jonathan. Karena dari rambutnya yang sedikit acak acakan khas cowok tampan itu membuat Bella yakin.



"Kak..."


"Kak Joe... is.. kak Joe bangun" ucap bella dengan nada sedikit manja.


Joe membuka matanya perlahan dan menatap jam yang di atas nakas menampilkam angka 7.15. Shit! Siapa yang berani membangunkan dia sepagi ini.


"D*mn!" Joe mengumpat kasar dan berbalik seolah hendak mencari siapa yang berani mengantarkan nyawanya pagi ini padanya.


Saat melihat siapa yang berada di depanya. Joe terdiam sesaat, sepertinya dia lupa jika semalam ada seorang gadis yang tinggal bersamanya. Dan Bella terlihat mengemaskam dengan celana pendek dan kaos kebesaran milik Cowok ini.


Apa lagi wajah khas bangun tidurnya membuat Joe bersiap untuk menerkam gadis ini saat ini juga. Ia sempat tercekat lalu berlari ke kamar mandi tanpa memperdulikan panggilan dari Bella.


"kakak gak pa pa kan?"


Bersiaplah. Terdengar suara singkat di balik pintu kamar mandi.


****


Bella menatap keluar di balik kaca mobil hitam milik Joe. Ia melihat rintik rintik hujan turun mulai membasahi bumi. Untuk pulang kerumah Bella, mereka harus berjalan jauh hanya untuk mengelabuhi tetangga. Bukankah CCTV indonesia lebih peka dari pada CCTV manca negara. Dan Joe tak ingin Bella menjadi bahan omongan ibu-ibu kompleks.


Setelah membeli sarapan yang tak jauh dari kediaman mereka Joe kembali mengantar Bella.


"Makasih" kata Bella sebelum membuka pintu mobil namun tertahan saat tangan di cekal oleh Jonathan.


"Mana ponsel?"


"Eh" Bella terkesiap mendengar perkataan Jonathan yang terlalu mendadak. Pasalnya dari tadi pria itu hanya diam bagai batu.


Joe mengambil ponsel yang ada di dalam genggaman Bella tanpa memperdulikan protes dari gadis itu. Je membuka ponsel Bella dengan membuat pola ya tak susah untuk ia tebak.


"Jangan pernah blok nomorku lagi. Paham!" Ucap Joe dengan intonasi tinggi, Dengan menyodorkan kembali ponsel itu pada bella


Bella yang Mendapatkan tatapan intimidasi dari Joe membuat gadis cantik itu mengangguk paham, Bella sangat sadar jika sikap Jo sering berubah-rubah. Ia bingung atas sikap Jo, apakah Cowok itu berakting atau memang sedang berusaha berubah menjadi baik.


"Tentang pertanyaan kamu tadi malam" Bella menjeda ucapanya dengan menatap Jo yang terlihat duduk santai di balik kemudi. Seolah pria itu memang sedang menunggu Bella untuk menjelaskan sesuatu.


"Bella tidak menjauh, Bella... cuma... Bella cuma mau fokus ama ujian akhir" kata Bella lirih, ini adalah cara Bella yang terbaik bahkan gadis ini telah memikirkan cara ini berkali-kali untuk mulai menjauhi Jo, Kakaknya benar bahwasanya Jo terlalu dewasa untuknya.


"Lalu"


"Is... Bella gak mau hubungan ini bikin Bella gak konsen" Bella terlihat kesal dengan sikap Joe yang kelewat santai menanggapinya.


Jonathan sebenarnya ingin tertawa keras pasalnya hubungan apa yang sedang mereka jalani? Bahkan Bella tak pernah menanggapi perasaan Jo selama ini.


"Hubungan ini?" Tanya Joe dengan senyum jahil di wajahnya.


"Is pokoknya itu " ucap Bella salah tinggah dan memilih keluar dari mobil untuk menahan malu.


Sementara Joe melihat Bella dari dalam mobil hanya terkekeh geli. Ia heran kenapa hatinya tertaut pada gadis belia seperti itu.


Sangat tidak wajar.


TBC



ayooo... dulu yang jaman labil kek Bella mana suaranya???


sayang tapi taku atau gengsi??


oke sampe sini dulu ya jan lupa like comen yg lucu n Vote supaya abg Jo bisa timbul di permukaan.


ay mau ke abg aga dlu 🤣 abis itu ke abg zayn


masyallah sekali rajinya ay sekarang 🤣🤣🤣


info tukang pijet otak ya... pegel ini 🤣🤣🤣🤣