JOFENDLOTRUVE (Journey Of Four Friends Looking For True Love)

JOFENDLOTRUVE (Journey Of Four Friends Looking For True Love)
Bab 7 Masa Lalu Byron



"Mungkin karena aku gak ngajak ngobrol orang duluan, makanya mereka pikir aku sombong dan tidak bisa diajak bicara kali ya" ucap Dyta.


"Sepertinya begitu" Ucap Shyla.


"Tapi, aku ada pengecualian sih" Ucap Dyta.


"Pengecualian?" Ucap Retania yang berhenti makan sejenak karena bingung.


"Iya, kalau dia cogan dan sesuai dengan kriteriaku, aku yang ngajak mereka ngobrol duluan" Ucap Dyta.


"Bukannya kamu bilang gak bisa nyari topik? makanya kagak ngajak orang ngobrol duluan" ucap Retania.


"Yaaaa gimanaaa yaaa, soalnya kan kalau deketin cowok itu topiknya itu itu doang terus, kalau orang lain bingung mau bahas apaan" Ucap Shyla.


"Bener juga sih, kalau dekatin cowok pasti topikmu gombalan terussss kan" Ucap Byron yang selalu mengalaminya.


"Hahahaha, kamu tau aja" Ucap Dyta sambil tertawa malu-malu.


"Hmmm" ucap Retania dan Shyla.


"Kalau aku sih aku memang playboy, tapi aku pacaran sama cewek gak sembarangan, aku pacaran sama cewek yang good looking, dan bisa berhubungan badan sih, kalau gak bisa ya say goodbye" Ucap Byron dengan percaya dirinya.


"Berhubungan badan!!!?" ucap Dyta, Shyla dan Retania dengan kompaknya karena kaget mendengarnya.


"Iya, sudah jadi hobi kayaknya, mungkin karena kebiasaan sejak SMA kali ya" Ucap Byron tanpa malunya.


"Whattt" kompak mereka bertiga, yang makin kaget bahkan membuat Retania hampir keselek kuenya.


"Jadi dulu waktu SMA, Aku tidak sengaja melihat temanku berhubungan di kostnya. waktu itu temanku ngekost di depan sekolah karena rumahnya jauh, dia tidak tahu kalau aku ada di kostnya, saat itu aku istirahat bentar di kostnya Karena ngantuk banget, jemputanku juga belum datang" Byron menjelaskan


"Kau tidak bawa kendaraan sendiri? terus kok bisa masuk kostnya, kau punya kuncinya?" Tanya Dyta yang mewakili Retania dan Shyla yang kebingungan.


"Iya, aku dilarang bawa kendaraan sama ortu, kuliah baru di izinkan, aku punya kunci kamarnya, karena aku sering numpang istirahat di situ, tapi biasanya aku chat dia dulu sih, tapi karena ngantuk banget kelupaan chat dia" Ucap Byron


"Terus terus?" Ucap Retania yang sudah melupakan makanannya karena excited mendengar Byron bercerita tentang masa lalunya.


"Akukan matiin lampu biar bisa tidur, soalnya gak bisa tidur kalau lampu menyala, nah pas aku tidur, aku mendengar suara aneh dan itu membuatku terbangun dari tidurku, aku nyalakan lampu dan you knowlah, aku melihat mereka berdua anjirrr di sofa, untung bukan di renjang, bisa-bisa aku kelindes mereka, mereka kaget melihatku dan menghentikannya. Aku langsung keluar dari kost itu juga dong"


"Terussss"


"Setelah kejadian itu, aku selalu memikirkannya dan menjadi penasaran, kebetulan aku punya pacar, akhirnya aku mencoba mengajak pacar aku begitu"


"Dan pacarmu mau?"


"Iya, dia mau, awalnya aku pikir dia tidak mau, eh ternyata langsung mau"


"Bagaimana ceritanya dia mau? kamu maksa dia ya?" Tanya Dyta.


"Sebelum ketemuan, akukan belajar mandiri dengan menonton video tutorial gitukan. Terus ku ajak dia ketemuan di kost temanku itu, karena kebetulan temanku lagi tidak ada kerena ada acara keluarganya."


"Hmmm" ucap Dyta sambil mengangkat tangannya ke dagunya seperti orang sedang berpikir.


"Pas kami ketemu, ku ajak dia duduk di sofa temanku, terus ku tanya ke dia, boleh aku cium tidak? tapi ciumnya di bibir"


"Terus dia jawab boleh?" Tanya Dyta yang semakin excited mendengar cerita Byron.


"Bener dia bilang boleh, Kami ciumanlah beradu mulut bertukar Saliva, lama lama aku turun ke leher, trus aku berhenti nanya lagi, boleh kah? gitu kan?"


"Iya, aku awalnya juga tidak percaya, terus aku lanjutin lah, aku menciumi lehernya berkali kali, tanpa sadar tangan ku memasuki bajunya dan tersadar saat memegang sesuatu yang kenyal"


"Terus dia gak marah? gak nampar kamu gitu?"


"Ekspresinya marah tapi, aku malah heran saat itu. Karena ketakutan aku berhenti menciumnya dan melepas tanganku. Dan bertanya ke dia apakah dia marah. aku juga sudah bilang ke diri sendiri kalau dia marah aku berhenti, karena aku orangnya tidak suka memaksa, karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak enak"


"Hilihhhh, Kutebak dia pasti marah, soalnya kau memegang barang berharganya"


"Tebakanmu salah. Bukan karena itu woi, dia marah karena katanya kenapa aku berhenti. terus ku tanya memangnya boleh melakukan itu? dia tidak menjawab, malahan dia membuka kancing bajunya sampai terlihat dua gunung yang berwarna putih dan pink."


"Gila, astaga"


"Gilanya lagi, dia duduk di atas ku, terus menarik tanganku, menaruhnya di gunungnya yang kenyal itu, dan meremas gunung nya sendiri menggunakan tanganku, itu berlalu beberapa menit dan membuatku tidak tahan, akhirnya aku meremasnya sendiri sambil melanjutkan ciuman panas kita"


"Sepertinya aku tau kelanjutannya"


"Wkwkwk, seperti pikiranmu, setelah mencium lehernya, aku mencium gundukan itu dan menghisapnya, tanganku sebelah kanan meremas gundukan sebelahnya sedangkan tanganku sebelah kiri masuk ke lubang hangat miliknya. Setelah puas menghisap sebelah kiri, aku berpindah ke sebelah kanan dan tangan kanan ku berpindah meremas sebelah kiri dan itu berlanjut beberapa menit juga"


"Shitttt, gue jadi ngebayangin, anjirrrr"


"Setelah beberapa menit melakukan itu, kami semakin menggebu gebu sehingga membuat kami membuka semua pakaian kami hingga tak tertinggal sehelai benang pun, dan melakukan hal itu di ranjang, setelah selesai melakukan itu aku jadi ketagihan anjirrrr"


"Kamukan pertama kali melakukan itu, kamu pakai pengaman tapikan?" Tanya Dyta.


"Ya enggaklah, kan itu pertama kali, aku mana tau kalau ada yang dibilang pengaman, aku baru tau setelah kami selesai melakukan itu, dia nyuruh aku memakai pengaman lain kali"


"Dia gak panik kalau dia nanti hamil? kmukan gak pakai pengaman"


"Enggak, sehabis melakukan itu dia meminum sebuah obat, katanya pil biar tidak hamil"


"Oalah"


"Makanya kalau mau bertahan pacaran sama aku harus mau begitu, kalau tidak mau, ya putus"


"Astaga, Dajjalll Dajjalll"


Obrolan Panas Dyta dan Byron di potong oleh Retania.


"Btw, kalian kenapa mau ceritain tentang kalian ke kami? terutama kau Byron, bisa bisa nya kamu ceritain kehidupan mu itu" Ucap Retania.


"Gak tau juga kenapa, apa kamu hipnotis aku ya, akutuh tidak pernah menceritakan tentang ini kesiapapun tau bahkan orang tuaku tidak tahu" Ucap Byron.


"Iya juga ya, aku baru menyadarinya juga, padahal kita baru ketemu tadi udah main bongkar bongkar" Ucap Shyla.


"Ho oh, berasa nyaman aja ngobrol ke kalian, beda gitu, tidak seperti kalau ngobrol sama yang lainnya" Ucap Dyta.


"Yakan, kayak ngalir aja gitu" Ucap Shyla.


"Mungkin sudah takdir kali ya" Ucap Retania.


"Maksudnya?" Tanya Byron.


"Mungkin kita akan ditakdirkan bersama" Ucap Retania.