
"Sama-sama" Ucap Shyla, Byron dan Retania.
"Btw, yuk ke kelas sekarang, kita sekelas semua kan, nanti telat masuk kelas lagi, katanya dosennya killer" Ucap Retania.
"Yuk" Ucap Dyta, Byron dan Shyla.
"Btw, kamu tau dari mana kalau dosennya killer?" Tanya Dyta.
"Dari senior sih, makanya hari ini kita kuliahnya di auditorium bukan dalam ruang kelas, gak cukup kursinya, efek kebanyakan yang mengulang mata kuliah dia" Jawab Retania.
"Dosennya cewek atau cowok? atau jgn jgn gabungan?" Tanya Byron.
"Cowok" Jawab Retania
"Hmmm, sulit nih" Byron hanya bisa menghela nafas karena dosen cowok yang akan mengajar, kalau dosen cewek bisa bebas dari hukuman dengan bekal wajah tampan dan gombalannya.
...****************...
Sesampainya mereka di auditorium
Kursi sudah hampir penuh, untungnya masih tersisa 4 kursi lagi, akhirnya mereka mengisi kursi itu dengan susunan Byron duduk di samping Shyla, Retania duduk di samping Dyta di belakang Shyla.
Setelah mereka berempat duduk, Dosen pun datang. Dosen yang memiliki kulit putih, Bahu lebar, kaki jenjang, Wajah tampan dengan alis tebal itu bernama Pak Denandra.
"Selamat Siang semuanya" Ucap Pak Denandra.
"Siang Pak" Ucap para mahasiswa/i.
"Perkenalkan nama saya Agung Denandra, kalian bisa panggil saya Pak Denandra"
"Pak Denandra cakep banget, dia udah punya pacar atau udah punya istri gak ya?" Ucap seseorang mahasiswi tanpa sadar karena terhipnotis oleh wajah tampan pak Denandra.
"Menurut kamu bagaimana?" Balas Pak Denandra.
"Semuanya sudah hadir kan, sudah tanda tangan absen semua?" Tanya Pak Denandra.
"Sudah pak" Jawab para mahasiswa/i.
"Kalau begitu saya mau mengabsen ulang, agar saya bisa mengenal kalian juga" Ucap Pak Denandra.
Sementara Pak Denandra mengabsen, ada seseorang yang resah dan gelisah.
"Duh, bagaimana ini, tadi aku tanda tangani si Rini" ucap Dinda.
"What?? serius?? Kamu ngapain juga tanda tangankan si Rini, harusnya nanti di akhir perkuliahan saja baru tanda tangani" ucap Kiki
"Serius, iya juga yah, duh kenapa bego banget sih aku, gimana dong"
"Emang si Rini kemana sih?"
"Entahlah, katanya ada urusan penting, jadi dia nitip absen di aku"
"Hmm, berdoa saja deh lu, semoga pak Denandra baik, kalau gak, kamu kan cantik, coba rayu rayu saja nanti"
"Bener juga, Ntar ku coba deh"
Tiba akhirnya nama Rini disebut.
"Rini Pratiwi" Ucap pak Denandra.
Karena tidak ada jawaban pak Denandra mengulanginya.
"Atas nama Rini Pratiwi, Mana orangnya?" Tanya Pak Denandra.
Tidak ada tanggapan lagi.
"Ini Rini Pratiwi orangnya ada atau tidak ada? dia Budeg atau bagaimana? Coba yang lagi bisik-bisik tetangga apalagi yang ngobrol diam dulu si Rini tidak mendengar" Ucap Pak Denandra dengan nada tinggi.
Karena mendengar suara pak Denandra meninggi, semuanya diam seketika. Suasana di ruang kuliah menjadi tegang.
"Rini Pratiwi, mana orangnya?" Teriak Pak Denandra.
"Tidak hadir? tapi di absen hadir? berarti ada yang tanda tangankan absennya. Siapa yang berani melakukan hal yang buruk ini?" Ucap Pak Denandra dengan nada yang semakin tinggi.
Semuanya diam membisu
"Tidak ada yang mengaku? berarti yang tanda tangan adalah setan?" Ucap Pak Denandra.
Masih suasana tegang dan tidak ada suara apapun.
"Yang menandatangani absen Rini siapa? Mengaku atau saya cari sendiri pelakunya? Dalam hitungan 10, Kalau saya yang dapat pelakunya, saya tidak akan membiarkan dia mengikuti perkuliahan saya selama saya masih mengajar, dan nilainya akan saya kasih nilai E terus" Ancam Pak Denandra kepada para Mahasiswa/i yang ada di ruangan itu.
"1"
"2"
"3"
Pak Denandra menghitung dengan lambat sambil memperhatikan warna tinta pulpen dan ketajaman tanda tangan.
"Dinda, mending kau ngaku sekarang deh, Pak Denandra nya serem banget, dari pada ntar kau mengulang terus sampai dia pensiun, lama lama kau di DO, jgn berani merayu, sepertinya dia tidak mudah dirayu" Bisik Kiki ke Dinda.
"Iya, aku mau mengaku, tpi rayu merayu saya tidak percaya kalau ada laki-laki yang tidak bisa dirayu" Ucap Dinda.
"Terserah kaulah, yang penting saya sudah ingatkan" Ucap Kiki dengan pasrah.
"8"
"9"
"Pak" Dinda mengangkat tangannya.
"Kenapa?" Tanya Pak Denandra, padahal pak Denandra sudah tau bahwa dia adalah pelakunya. Karena hanya Dinda dan Rini yang warna tinta hitamnya sama.
"Saya mau mengaku pak, saya pelakunya pak"
"Apa? sya tidak mendengarnya, coba kau maju ke sini lalu teriak"
"Saya yang menandatangi absen Rini pak" Teriak Dinda sambil menunduk ke bawah dan mengepalkan tangannya karena malu.
"Bagus, Lain kali kamu jangan ulangi lagi. Tetapiiiiii!!! Saya tidak suka dengan yang tidak jujur, sebagai hukumannya, semester ini kamu saya kasih nilai E di mata kuliah saya. Nanti semester depan kamu masuk kelas ini!!!" Ucap Pak Denandra.
"* - * - * - tapi pak"
"Tidak ada tapi tapian"
Pak Denandra mengusir keluar Dinda, ketika ingin menutup pintu, tiba-tiba Dinda membisikkan sesuatu ke Pak Denandra.
"Pak saya mohon, bapak jangan kasih saya nilai E pak, saya rela ngelakuin apapun itu pak, mau tubuh saya, saya akan kasih pak, mau malam ini juga saya akan kasih malam ini" Bisik Dinda sambil merayu Pak Denandra.
"Kamu masuk kembali ruangan" ucap Pak Denandra.
Shyla yang berada di belakang Pak Denandra mendengar hal tersebut menjadi terkejut dan merasa jijik dengan Pak Denandra.
Sementara Dinda menuju kembali ke tempat duduknya, Pak Denandra menanyai Shyla yang berdiam diri di sampingnya yang awalnya ada di belakangnya.
"Ckckck, Semua cowok sama saja, sama-sama mudah dibujuk oleh rayuan wanita" Ucap Shyla dalam hatinya.
"Kamu kenapa berdiri di sini?" Tanya Pak Denandra.
"Maaf pak, Saya mau izin ke toilet" Jawab Shyla dengan wajah datar.
"Terus kenapa kau diam di situ?" Ucap Pak Denandra.
"Tadi saya mau izin pak, tapi bapak lagi berbicara sama Dinda, karena tidak ingin mengganggu, jadi saya tungguin bapak selesai ngobrol dulu pak" Ucap Shyla.
"Ya sudah, kamu silahkan ke toilet, habis dari toilet jangan mampir ke kantin, biasanya banyak mahasiswa/i yang izin ke toilet ternyata dia ke kantin" Ucap Pak Denandra.
Shyla hanya diam dan berlalu melewati Pak Denandra dengan wajah datar.
"Baru kali ini ada perempuan yang memasang muka datar ke saya, biasanya memasang muka centil atau muka gatal" Ucap Pak Denandra dalam hatinya.
"Mungkinkah karena moodnya lagi tidak bagus, ataukah dia sengaja memasang muka datar buat menarik perhatianku, di bandingkan yang lainnya, trik dia berbeda dari yang lain. Kita lihat saja nanti, pasti benar seperti itu, palingan besok dia menjadi seperti perempuan lainnya"