
Lampu lab tiba-tiba berkedip-kedip, suasana nya menjadi mencekam.
Rans belari kemeja monitor..
Sesampai dimeja monitor, ia berusaha menstabilkan arus listrik, listrik pun kembali normal. Akan tetapi Rans menjadi heran saat menatap kembali layar monitor, tiba-tiba gaya gravitasi di ruangan lab menurun signifikan, Rans di buat mendadak panik, tidak butuh waktu lama gaya gravitasi di ruangan lab benar-benar hilang. Mereka mengambang di udara beserta barang-barang lain, keadaan seperti itu tidak berlangsung lama, tanpa ada tanda-tanda seketika mereka terjatuh semua.
"Auwww...!"
"Sakittttt...!"
Terdengar mereka merintih, belum sempat lagi mereka bereaksi, tiba-tiba ada hembusan angin berputar mengelilingi ruangan lab tersebut, semakin lama angin itu berputar makin kencang. Anehnya angin itu berputar berakhir dijantung yang tergeletak tadi, lama-lama angin yang berpusat dijantung tersebut berubah warna menjadi warna putih dan sepertinya membentuk sebuah kerangka manusia, kerangka itu bergerak mencoba berdiri dengan jantung sudah terpasang tepat didada kiri.
Saat kerangka manusia itu sudah tegak, lalu kerangka itu mengamati sekitar, juga mengamati tubuhnya yang hanya kerangka. Secara cepat kerangka itu seperti di aliri sesuatu benda cair berwarna merah dan benda cair itu membentuk seperti jaringan saraf, lambat laun membentuk sebuah daging yang menutupi kerangka manusia tersebut, terlihat merah seperti daging segar tanpa kulit.
Secara bersamaan perlahan terdengar pekikan suara kesakitan yang menyayat hati.
"Aakkhhhhhh.....!"
"Aarrgkkhhh.....!"
Kerangka yang sudah di balut daging segar itu, kemudian muncul kulit yang menutupi daging tersebut, kepala nya juga muncul rambut.
Telah sempurna lah kerangka tadi berbentuk manusia, namun tidak ada yang dapat melihat siapa manusia itu, karena angin begitu kencang berputar.
Manusia itu kemudian terjatuh menunduk, ia mengamati kedua tangan dan tubuhnya yang tidak mengenakkan sehelai benang pun. Secara ajaib juga robekan kain yang berterbangan seperti terhisap oleh tubuhnya, melekat dan membentuk pakaian yang menutupi sekujur tubuh.
Angin yang berputar dari tadi, perlahan-lahan semakin pelan dan beberapa saat kemudian angin itu benar-benar berhenti.
"Uhuk uhuk uhuk...!"
Terdengar batuk dari berbagai penjuru ruangan lab, pandangan mereka masih belum begitu jelas, karena masih banyak debu berterbangan.
"Arrgghh...!"
Samar-samar terdengar erangan pelan dari balik debu, Derry bangkit berjalan dengan senjata pistol ditangan perlahan dengan mengendap-endap penuh siaga mendekati manusia itu.
Debu pun hilang perlahan, telah jelas manusia itu adalah seorang wanita. Cely memperhatikan secara seksama dengan menyipitkan matanya.
"Jihan..? kamu kah itu?" Cely bangkit berjalan dengan hati-hati mengikuti langkah Derry, Derry mengangkat tangan kirinya untuk memberi tanda pada Cely untuk tetap di belakang Derry.
"Itu Jihan...!" Cely setengah berteriak, Cely berlari menghampiri Jihan, ia tidak perduli lagi larangan Derry untuk tetap di belakang dirinya.
Begitu Cely sampai menghampiri Jihan, Jihan langsung jatuh pingsan. Derry dan yang lainnya juga menghampiri Jihan, hampir saja mereka tidak mempercayai dengan apa yang mereka lihat, jika kejadian ini di ceritakan ke khalayak umum, pasti mereka menganggap ini cerita lelucon belaka.
Aletris membantu Cely memapah kepala Jihan ke pangkuan Cely, Aletris memeriksa denyut nadi dan jantung Jihan.
"Alhamdulillah.., stabil.., uhuzz..!" Aletris menghela nafas lega, Aletris melanjutkan memeriksa bagihan tubuh Jihan untuk memastikan tidak ada cedera lainnya.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, ini di luar batas kemampuan mesin Portal buatan kami," Rans tiba-tiba menyeloteh, heran, dan baginya sulit di terima akal sehatnya.
Mereka tidak tahu, bahkan Jihan sendiri juga tidak mengetahui tentang kemampuan yang di milikinya itu. Seandainya saja Rans dan Aletris melihat Jihan sedari kecil , mungkin mereka tidak seheran sekarang ini. Rans memandang istrinya Aletris, dia tersenyum penuh arti dan di balas juga senyuman oleh Aletris, entah apa di dalam benak mereka berdua, mungkin saja ada ide cemerlang yang berkaitan dengan Jihan.
Pintu baja..
'Triiitt..., triiiittt..., triiiitt..., ngeeenggg...!'
Suara gergaji mesin khusus memotong pintu baja lab, semuanya spontan menoleh ke arah pintu, mereka baru sadar kalau mereka sedang terjebak di ruang lab itu.
Pintu pun di dobrak setelah di potong-potong di bagihan tertentu untuk membuka kunci nya, tidak butuh waktu lama pintu baja tersebut terbuka.
Tim medis langsung bergegas masuk terlebih dahulu, mencari korban ke segala sudut ruangan.
"Semua korban ada di ruang bawah tanah, cepat tolong mereka," Aletris memberi tahu, tanpa banyak tanya lagi tim medis langsung berjalan terburu-buru menuju ruang bawah tanah.
Dalam waktu singkat, semua korban sudah terevakuasi ke rumah sakit termasuk Jihan, sedangkan Aletris luka nya di obati di tempat dan hanya butuh beberapa jahitan saja.
Raja Arthur, Komisaris, dan Seyla menghampiri Rans, Rans terlihat hancur, tidak bisa menjelaskan jika di tanya Sang Raja.
"Profesor kamu tidak perlu menjelaskan apa pun, saya sudah melihat semuanya!" Raja Arthur langsung to the point, Raja menghela nafas sepertinya ada sesuatu yang akan di katakan.
"Hemm..., negara ini membutuhkan mu beserta team yang telah engkau kumpul kan!" terlihat berat Raja mengatakan itu semua, Raja mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memperlihatkan sesuatu ke Profesor Rans.
"Apa ini maksudnya yang Mulia?" Rans tampak bingung
Raja kembali menghela nafas
"Makhluk-makhluk itu menyerang negara kita di berbagai kota, makhluk itu muncul entah dari mana, yang jelas nya bukan keluar dari Portal ini, banyak korban berjatuhan. Peluru senapan kita hampir tidak mempan melukai makhluk brengs*k itu!" Raja menjelaskan dengan emosional, terlihat netranya berkaca-kaca.
"Jadi yang Mulia Raja mau menugaskan kami?" Rans seakan tidak percaya, dia fikir Raja Arthur akan marah tentang kejadian di laboratorium Cely.
Raja Arthur cuma mengangguk dan menepuk pundak Rans,
"Saya percaya kan semua nya pada mu, tapi ingat..! saya tidak mau ada lagi korban!" Raja mewanti-wanti Rans.
"Bagaimana mungkin, pasti akan ada korban, soal nya makhluk itu menyerang di perkotaan," Rans menyelah
"Bisa..!" Raja menegaskan,
"Caranya?" Derry tiba-tiba menyahut,
Raja diam sejenak, dia tidak yakin memberikan ide yang dia fikirkan, semua yang hadir di ruangan itu saling pandang dan menebak-nebak rencana apa yang akan di ucapkan Sang Raja Arthur.
Raja berjalan menuju Portal, ia amati dengan seksama, wajahnya terlihat tegang.
"Jalan satu-satunya kalian harus membasmi ke sarang nya, kalian harus masuk ke Portal ini!" Raja Arthur berkata dengan optimis,
Derry tersenyum, berjalan menuju Raja Arthur dan berhenti tepat di depannya dengan posisi tegak lurus
"Saya siap bertugas yang Mulia, saya siap mengorbankan nyawa saya..!" Derry memberi hormat pada Sang Raja dan menawarkan diri secara sukarela,
Melihat Derry siap berkorban, Rafi pun tidak mau kalah.
"Saya juga yang Mulia..!" Rafi dengan mantap menimpali dan tersenyum sinis melirik Derry. Rafi ingin membuktikan walaupun dia bukan seorang militer, tapi dia bisa bertarung seperti Derry.
"Tak kan ku biarkan satu makhluk lagi pun keluar dari Portal ini," Cely bangkit berdiri dan menghunus kan pedang nya.
Rans dan Aletris saling pandang, tangan mereka bergandengan, mereka berdua tersenyum melihat jiwa-jiwa anak muda yang meronta-ronta.
Raja Arthur pun tersenyum puas.
***